Kepala Malachy pening, dia kehabisan nafas, tersengal-sengal, dan gigitan hawa dingin menyembur ke wajahnya. Dia takjub: apakah dia akan berjumpa Tuhan ataukah dia mendapatkan penglihatan ilahi lainnya?

Dia ingin beristirahat. Bernard, oh di manakah Bernard? Lalu dia ingat, kebingungan… begitu banyak yang membingungkan tentang kepausan. Kata-kata itu datang dengan cepat dan bertubi-tubi. Frase-frase kata dalam bahasa Latin liturgis menari-nari didalam pikirannya. Apakah Iblis telah mengambil alih kepausan?

Perpecahan Gereja, Paus dan anti-Paus, gila kekuasaan, sikap-sikap politis dalam rumah Allah. Ramalan-ramalan para Paus menggeliat dalam kegelisahan suara hatinya. Naga… oh sang Naga, Draco depreſſus lalu Anguinus uir inikah yang akan menjadi seorang Paus ular?

Baru tahun lalu, pada 25 Januari 1138, anti-Paus Anacletus wafat, yang akhirnya memungkinkan penunjukkan Paus Innocent II naik ke Tahta Suci. Ketika para kardinal yang berkonspirasi melancarkan kudeta mereka, Innocent II yang dilawan lari dari Roma di bawah nama yang diberikan kepadanya, Gregorio Papareschi, mencari tempat pengungsian dengan Bernard yang terkasih di biara.

Baru tahun ini Paus Innocent mendapatkan kembali Tahta Suci yang menggerakkan hati Malachy untuk melakukan ziarah dari Irlandia ke Roma.

Kelelahan itu mulai sirna dan Malachy mengingat kembali apa yang membawa dia ke sini dari Janiculum Hill pada hari ini. Setelah perjalanan beratnya dari Irlandia ke Roma, hanya istirahat sejenak di Biara Clairvaux di Vallée d’Absinthe telah memberinya harapan. Namun, meskipun kesukaannya pada Bernard, kepahitan yang dalam telah meracuni jiwanya.

Dia telah meminta ijin dari Yang Mulia untuk melewatkan malam ini dengan sahabat setianya Bernard dalam peristirahatan di biara. Namun sayangnya, Paus hanya menambahkan tanggung jawabnya, menjadikan dia Kuasa Kepausan untuk seluruh Irlandia. Namun Malachy lelah dengan semuanya itu – amat sangat lelah.

Apa yang mendorong Paus sedemikian kuat? Bukankah Kristus menasihatkan murid-murid-Nya,

“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu?” Matius 20:26

Binatang itu akan datang suatu hari dan Malachy mengetahuinya… Binatang yang tak terkalahkan.

Sesudah itu barulah dia tahu bahwa para Paus telah membuat persekutuan yang tidak terkatakan dan yang tidak dapat diambil kembali. Setelah kegenapan waktunya, Petrus Romanus akan menandai berakhirnya perjanjian Misteri Babylon Besar.

Orang yang Melihat Paus Terakhir?

Di pemukiman sederhana di Armagh, di wilayah Irlandia Utara yang indah, permai, dan hijau, pada tahun 1094, seorang bangsawan dan pemuka bernama Lector Ua Morgair dan istrinya yang berbudaya tinggi merayakan permulaan kelahiran putra mereka, Máel Máedóc Ua Morgair.

Tidak satu pun dari mereka tahu bagaimana bayi kecil yang baru dilahirkan ini akan menjadi figur utama di dalam nubuatan Akhir Zaman.

Máel Máedóc Ua Morgair kecil (yang diingriskan dengan nama modern “Malachy“) menjalani masa kanak-kanaknya di tengah-tengah kenyamanan suasana dan cahaya lilin Kathedral Armagh. Dia tetap dididik di bawah pengawasan pribadi ayahnya yang terpelajar, Lektor di Armagh, hingga waktunya tiba bagi Lektor untuk wafat pada tahun 1102.

Malachy dan saudaranya dan saudarinya kemudian dibesarkan sendiri oleh ibunya, seorang wanita yang digambarkan sebagai “wanita Kristen yang menjalankan tugasnya” oleh Santo Bernard de Clairvaux.

Sementara tahun-tahun berlalu, Malachy melanjutkan pendidikannya di bawah bimbingan Imar (juga dieja “Imhar”) O’Haglan, seorang laki-laki yang memusatkan pengajarannya untuk menolak kenikmatan duniawi untuk mempertahankan keselamatan jiwa. Mengikuti jejak O’Haglan, Malachy menunjukkan sikap yang bijak dalam dinding-dinding kathedral dan sel-sel lusuh di mana O’Haglan menghabiskan hari-harinya seperti seorang pertapa.

Meskipun protes-protes dari saudaranya dan kenalan sekolahnya ketika penyiksaan diri, penebusan dosa, dan praktek-praktek religius lainnya bertumbuh semakin penting dibandingkan menjadi seorang profesor yang terinspirasi seperti ayahnya, Malachy terus mencari kesempatan untuk mengekspresikan hasratnya bagi Gereja dan kehidupan yang dia percayai bahwa dia ditentukan untuk memimpin.

Semakin dekat setiap hari karena dampak otoritas dan visi dari O’Haglan, Malachy segera memperkenalkan nyanyian Gregorian kepada bawahannya, dan sebuah semangat untuk pembaharuan Gereja.

Pada umur dua puluh dua, Uskup Cellach dari Armagh (juga dieja “Ceollach” dan “Celsus”), kenalan baik O’Haglan, mendapati anak muda ini sangat menjanjikan dan dapat diharapkan sehingga dia mengesampingkan hukum kanonik dan menetapkan pemuda ini sebagai diakon selama tiga tahun mendahului kebiasaan. Pada tahun 1119, dia menyatakan Malachy sebagai vikaris jendral dan mempercayakan kepadanya tugas mereformasi keuskupan sementara dia pergi.

Perubahan cepat dijalankan di keuskupan dan itu luar biasa. Khotbah-khotbah penebusan dosa dari Malachy menyalakan hasrat di kalangan orang-orang biasa dan menggerakkan kaum awam untuk menghormati aturan-aturan kanonik Gereja.

Pada akhirnya Malachy mengarahkan pandangannya ke Lismore untuk memperbaharui dan mempertajam pengetahuannya akan kanon di bawah pengajaran dan nasihat seorang sarjana terkenal, Uskup Malchus.

Catatan: Santo Bernard menuliskan bahwa Uskup Malchus,

“orang tua, lanjut umur dan penuh kebajikan, dan hikmat Allah ada di dalamnya.”

Dia lalu melanjutkan dengan menjelaskan bahwa uskup ini belakangan diketahui melakukan dua mujizat, salah satunya ketika dia menyembuhkan seorang anak laki-laki dari gangguan mental yang akhirnya menjadi pembantunya, dan yang lainnya,

“ketika santo ini memasukkan jari-jarinya ke dalam satu telinganya dia melihat dua binatang seperti babi-babi kecil keluar dari padanya.”

Reputasi yang menonjolkan Uskup Malchus ini penting bagi Santo Bernard,

“supaya diketahui semua orang, pendidik seperti apa yang dimiliki Malachy dalam mengetahui hal-hal yang suci.”

Tak perlu dikatakan, Malachy bekerja dan belajar dengan guru yang namanya terkenal penting di tengah-tengah Gereja.

Meskipun perjalanannya ke Lismore bertujuan mendapatkan waktu pelajaran yang tenang, Malachy tidaklah berdiam diri di sana, mengambil kesempatan untuk mengutarakan masalah-masalah terkini di dalam Gereja yang menjadi perhatiannya, dan yang seringkali dikirim oleh Malchus sendiri,

“untuk mengajar Firman Allah kepada orang-orang dan meluruskan kebiasaan-kebiasaan buruk yang telah berkembang selama bertahun-tahun. Dia memperoleh keberhasilan yang berarti. Untuk mereformasi kependetaan, dia menetapkan aturan-aturan mengenai selibat dan disiplin gerejawi lainnya, dan memperkenalkan kembali jam-jam pembacaan kitab suci.

Yang terpenting, dia mengembalikan sakramen kepada orang-orang biasa, mengirimkan imam-imam yang baik ke antara mereka untuk mendidik yang bebal. Dia kembali ke Armagh pada 1123.”

Pada tahun yang sama, Malachy ditunjuk menjadi Kepala Biara Bangor dimana dia membantu pembangunan biara dan mendirikan seminari.

Yang terpenting, sejak waktu ini dan seterusnya, serangkaian mujizat dan karunia nubuat diberikan kepadanya. Satu nubuat yang penting, khususnya sulit dianggap kebetulan, terjadi penggenapannya pada abad ke-20:

Irlandia akan menderita penindasan Inggris selama tujuh abad (700 tahun), namun akan menjaga kemurniannya kepada Allah dan gereja-Nya.

Pada akhir waktu itu dia akan dilepaskan, dan Inggris sebaliknya akan menderita hukuman berat. Irlandia, nampaknya, akan menjadi alat untuk mengembalikan Inggris kepada kesatuan Iman.

Dominasi Anglo-Norman sepenuhnya terhadap Irlandia tercapai satu abad setelah ramalan Malachy. Kemerdekaan bagi Irlandia selatan terjadi 700 tahun kemudian pada awal abad ke-20.

Jika ucapannya ini tidak diragukan, maka itu mendahului terjadinya perpecahan antara Gereja Inggris dan iman Katholik selama empat abad dan menandai bahwa Gereja Anglikan akan goyah di masa depan kita ketika Paus terakhir selesai kekuasaannya.

Pada umur tiga puluh tahun, Malachy menjadi Uskup Malachy dari Down dan Connor.

malachy-400
Santo Malachy dari Irlandia (1095-1148)

Kira-kira pada waktu ini menurut penuturan, Malachy mendapatkan sebuah mimpi dimana seorang wanita menampakkan diri kepadanya dan menyatakan diri sebagai istri Uskup Cellach.

Dia menyerahkan kepada Malachy tongkat gembala, dan kemudian menghilang. Dia menceritakan hal ini dengan kawan-kawannya dan itu dianggap penting karena kira-kira lima belas generasi dari waktu itu di Armagh, orang-orang penting dalam politik sekuler dan Gereja mempertahankan kedudukan di dalam hierarki keluarga.

Akibatnya, adalah normal untuk mencalonkan pengganti kedudukan keuskupan melalui keturunan dibanding melalui prosedur Gereja. Uskup Cellach nampaknya terkesan dengan pelayanan Malachy, menolak harapan keluarganya mengenai hal ini. Berharap Malachy akan membawa kehidupan dan harapan baru di Gereja, dan ingin menghentikan suksesi kekuasaan keluarga, Cellach memerintahkan orang-orangnya dengan tugas menyebarkan berita bahwa Malachy akan diberikan kursinya sebagai Uskup Armagh.

Ketika berita itu sampai kepada Malachy, itu tidak mengejutkannya setelah mimpi yang dia peroleh, dan hanya beberapa hari setelah Cellach wafat, Malachy menerima tongkat Cellach (seperti dalam mimpinya), dan sebuah surat yang menyatakan berita pengangkatannya.

Keluarga Cellach murka. Merasa direbut kekuasaannya oleh keputusan Cellach menunjuk seseorang dari luar keluarga uskup, dan terjadi ketegangan antara mereka dengan Malachy. Keponakan Cellach, Murtagh (juga dieja “Murtough” dan “Muirchetrach”), menganggap dirinya layak untuk kedudukan itu, dan keluarganya berdiri di belakangnya dalam kampanye untuk menjadi uskup, siap bahkan untuk menggunakan kekerasan demi menduduki posisi itu jika perlu.

Orang-orang Gereja berdiri mendukung Malachy, sama-sama siap mengakhiri suksesi keturunan dari posisi keuskupan itu.

Tiga tahun telah berlalu sementara Malachy tetap berada di biara, tidak menolak keuskupan tapi tidak bersedia menjalankan perang antara Murtagh dan Gereja.

Kuasa Kepausan akhirnya berontak dari tirani Murtagh sehingga Gereja memerintahkan Malachy, dengan ancaman ekskomunikasi, untuk mengambil posisinya. Malachy akhirnya menyerah dan menanggapi perintah itu, menerima keuskupannya dari jauh untuk menghindari kekacauan politik atau perang agama.

Dia membuat kesepakatan dengan Kuasa Kepausan bahwa jika Gereja sudah sepenuhnya merdeka dalam hal suksesi, sebagai imbalannya dia ingin meninggalkan posisi kepemimpinannya supaya dia dapat memperoleh waktu sendirian dalam studinya dan menjauh dari tugas-tugas resminya.

Tetap aman di luar kota, dia menjalankan pemerintahan sebagai Uskup Armagh, tanpa terburu-buru mengambil kedudukan kursinya.

Ketika Murtagh wafat pada 1134, dia menyatakan bahwa Niall, saudara Cellach, akan menjadi penerusnya.

Pada waktu ini, orang-orang umumnya percaya bahwa siapa pun yang memiliki salib Santo Patrick (“Tongkat Yesus”) dan Kitab Injil (atau Kitab Suci) adalah uskup yang sebenarnya. Niall melihat kesempatan ini untuk menunjukkan legitimasinya sebagai uskup yang sebenarnya dengan mencuri dua benda ini dari kathedral Armagh.

Meskipun sejarah tidak mencatat jelas mengenai bagaimana benda-benda artefak curian ini bisa kembali, Malachy akhirnya mendapatkannya kembali dan mengambil posisi utamanya di kathedral kota Armagh.

Pada tahun 1138, dengan melanggar tradisi suksesi keturunan, menyelamatkan kota Armagh dari penindasan, mengembalikan disiplin gerejawi, mendirikan kembali moralitas Kristiani, dan melihat segala sesuatu telah menjadi tenang kembali, Malachy mengundurkan diri dari kedudukannya seperti yang sudah disepakati di awal.

Malachy mengundurkan diri ke Bangor untuk beristirahat sementara waktu, di antara rekan-rekan pendetanya, namun dengan sedikit permintaan terjadwal untuk belajar sendirian.

Nampaknya Malachy merasa perlu untuk bertemu Paus Innocent II di Roma untuk secara resmi mengakui keuskupan Armagh dan Cashel dengan sebuah pallium, jubah kekuasaan berbulu, untuk masing-masing yang menandakan keabsahan keuskupan atas daerah gerejawi dan untuk mendapatkan kemurahan dan berkat dari Paus bagi perkembangan di dalam Gereja.

Pada tahun 1139, dia mengumpulkan beberapa teman perjalanan dan sekawanan hewan dan berjalan menuju Roma melalui Skotlandia, Inggris, dan Perancis. Dalam perjalanannya dia tiba di Cistercian Abbey of Clairvaux, dimana dia berjumpa dengan ‘santo di masa depan’ Bernard (yang akhirnya menjadi tokoh sentral penulis biografinya). Beristirahat di sana sejenak, Malachy menjadi terpesona dengan Biara itu dan bersahabat karib dengan kepala biaranya.

Kepala Biara Bernard tidak biasa dalam pendekatan pelayanannya.

Dia mempertahankan kebugaran tubuhnya dengan berlatih bela diri dan siap sedia setiap saat untuk membela Gereja dengan cara apa pun. Dia terbukti menjadi mata air hasrat religius bagi Malachy sehingga ketika tiba waktunya bagi dia untuk meninggalkan biara dan melanjutkan ziarahnya ke Roma, Malachy membuat rencana rahasia untuk meminta pensiun dalam pengasingan di Clairvaux.

Enam belas bulan setelah perjalanan dimulai akhirnya Malachy tiba di Roma, hati dan pikirannya terangkat dan penuh harapan.

Segera, dia dibawa kepada Paus Innocent II untuk wawancara resmi. Paus Innocent mengabulkan permintaan Malachy bagi pallia namun dengan syarat ketat: Malachy harus memikul tanggung jawab baru.

Dia sekarang menjadi Kuasa Kepausan untuk Irlandia beserta seluruh intrik politik yang terjadi. Ini bukanlah yang dia inginkan; dia begitu menginginkan kedamaian dan ketenangan Biara. Saat meninggalkan kota tujuh bukit (Roma) dengan begitu frustrasi, dipenuhi pemandangan barat dari Janiculum Hill yang mengagumkan, penglihatan itu datang kepadanya.

Karena kefasikan para Paus, Roma akan terbakar.

Dan sementara legenda itu berlanjut, Malachy mengalami penglihatan yang sangat terkenal hingga hari ini, yang biasa disebut “Ramalan para Paus.” Ramalan tentang daftar ayat-ayat Latin yang memprediksi masing-masing Paus Roma Katholik mulai dari Paus Celestine II hingga Paus terakhir, “Petrus Romanus,” yang kekuasaannya akan berakhir dengan kehancuran Roma. Menurut ramalan kuno ini, Paus yang melanjutkan Benediktus XVI akan menjadi Paus terakhir, Petrus Romanus atau Petrus orang Roma.

Bagian terakhir ramalannya bertuliskan:

In persecutione extrema S. R. E. sedebit Petrus Romanus, qui pascet oves in multis tribulationibus: quibus transactis civitas septicollis deruetur et judex tremendus judicabit populum. Finis.

Yang artinya:

Dalam penganiayaan yang berat, tahta suci Gereja Roma akan diduduki Petrus Romanus, yang akan menggembalakan domba-dombanya melalui banyak penderitaan; ketika semuanya berakhir, kota tujuh bukit akan dihancurkan, dan Hakim yang menakutkan atau mengerikan akan menghakimi umatnya. Selesai.

Ramalan Suksesi para Paus

Santo Malachy pada tahun 1139 menerima penglihatan dari Tuhan yang mengungkapkan daftar panjang para Paus yang akan memerintah Gereja sampai kepada Akhir Zaman, totalnya ada 112 Paus. Penglihatan ini akhirnya menjadi terkenal dengan sebutan “Ramalan Suksesi para Paus,” yang akan selalu muncul pada saat pemilihan Paus baru.

Daftar 10 Paus terakhir menurut Malachy dalam “Ramalan Suksesi Paus

prophecy-600

Ramalan ini dimulai tahun 1143 dengan terpilihnya Paus Celestine II, yang disebutkan oleh Malachy dalam bahasa Latin “Ex caſtro Tiberis,” atau “Dari kastil di Tiber.” Celestine II lahir di Italia tengah di sebuah kota yang berada di tepi laut Tiber.

Daftar nomer 103: Paus Pius X (1903-1914) menerima gelar “Api yang Membakar,” dari ramalan Malachy. Paus ini menunjukkan hasratnya yang membara untuk pembaharuan rohani di Gereja.

Daftar nomer 104: Paus Benediktus XV (1914-1922) menerima gelar, “Agama yang ditinggalkan,” dari ramalan Malachy. Paus ini mencoba membawa perdamaian selama Perang Dunia I namun gagal, yang membawa kematian jutaan orang Kristen. Dia menyaksikan kebangkitan komunisme yang mengakhiri pengaruh Kristen di Rusia.

Daftar nomer 105: Paus Pius XI (1922-1939) menerima gelar, “Iman yang tak tergoyahkan,” dari ramalan Malachy. Paus ini menyaksikan kebangkitan Nazi Jerman, yang dalam zamannya, dia terang-terangan mengkritik komunisme dan fasisme. Dia memerintah ketika orang Kristen ada di bawah penganiayaan orang Eropa dan tetap setia hingga kematiannya.

Daftar nomer 106: Paus Pius XII (1939-1958) menerima gelar, “Gembala Malaikat.” Paus ini memiliki keterikatan yang kuat dengan dunia rohani dan dikenal sebagai pendeta Gembala bagi domba-dombanya.

Daftar nomer 107: Paus Yohanes XXIII (1958-1963) menerima gelar, “Pendeta dan Lautan.” Menjelang pemilihannya, dia adalah kepala keluarga di Venice, yang merupakan kota pelabuhan.

Daftar nomer 108: Paus Paulus VI (1963-1978), menerima gelar, “Bunga dari bunga-bunga.” Jubah pribadinya menampilkan simbol tiga bunga teratai.

Daftar nomer 109: Paus Yohanes Paulus I (1978-1978), menerima gelar, “Setengah Bulan.” Paus ini terpilih di paruh bulan dan memerintah hanya satu bulan karena dia wafat tanpa diduga dalam paruh bulan berikutnya.

Daftar nomer 110: Paus Yohanes Paulus II (1978-2005), menerima gelar, “Gerhana Matahari, atau Pekerja Matahari.” Paus ini dilahirkan ketika terjadi gerhana matahari dan dikuburkan di Roma juga pada saat terjadi gerhana matahari lainnya. Dia berasal dari Polandia dan dulunya Solidaritas Serikat Pekerja.

Daftar nomer 111: Joseph Ratzinger (2005-2013) menerima gelar, “Kemuliaan Zaitun.” Joseph memilih nama Paus Benediktus XVI. Menariknya, Ordo Benediktus merujuk diri mereka sebagai “Kaum Zaitun.” Bukan hanya itu, tetapi nama Benediktus artinya “berkat.” Jika kita gabungkan nama ini secara hurufiah artinya, “Berkat dari Zaitun.” Paus ini mengundurkan diri pada bulan Februari 2013, dan ini membawa kita kepada Paus selanjutnya, dan ramalan tentangnya dari Santo Malachy.

flash-600

Petir menyambar kubah Gereja Santo Petrus di Vatican pada 11 Februari 2013, beberapa jam setelah Paus Benediktus mengumumkan pengunduran dirinya. (Photo oleh FILIPPO MONTEFORTE/AFP/Getty Images)

Apakah Paus Fransiskus, Paus terakhir?

Menurut ramalan Malachy, Paus ke-112, akan disebut “Petrus Romanus,” Paus yang terakhir dan paling akhir. Inilah ramalannya…

Dalam penganiayaan yang berat, tahta suci Gereja Roma akan diduduki Petrus Romanus, yang akan menggembalakan domba-dombanya melalui banyak penderitaan; ketika semuanya berakhir, kota tujuh bukit akan dihancurkan, dan Hakim yang menakutkan atau mengerikan akan menghakimi umatnya. Selesai.

Paus yang sekarang ini adalah Jorge Mario Bergoglio, yang memilih nama bagi dirinya, Paus Fransiskus. Tidak ada Paus yang pernah memilih nama “Petrus,” jadi tidaklah mengherankan jika Jorge Mario juga tidak memilih nama itu. Yang mengagetkan adalah fakta bahwa Jorge memilih nama, Paus Fransiskus, yang mempunya nama asli Giovanni di Pietro (atau Petrus). Tidak hanya itu, namun kata “Romanus” (Roma) menunjukkan bahwa Paus ini haruslah keturunan Italia (Roma). Jorge berasal dari Buenos Aires, Argentina, dan merupakan salah satu dari lima anak-anak dari imigran Italia, sekaligus menjadikan dia keturunan Italia dan itu menggenapi ramalan “Petrus Romanus.” Paus Fransiskus merupakan Paus Jesuit pertama, Paus pertama yang berasal dari Amerika, dan Paus pertama yang berasal dari luar Eropa sejak Paus Gregorius III pada abad ke-8. Mungkinkah Paus ini merupakan penggenapan ramalan terakhir Malachy?

camar-600

dove-2-600

Dua ekor burung merpati yang dilepaskan oleh Paus Fransiskus pada acara doa Angelus, diserang oleh burung camar dan burung gagak di Lapangan Santo Petrus Vatican, hari Minggu, 26 Januari 2014 (AP Photo/Gregorio Borgia)

Petrus Romanus, Paus Terakhir

Ronald L. Conte Jr., seorang pria yang pada tahun 2002 secara tepat memprediksi Paus yang akan menggantikan Yohanes Paulus II akan bernama Benediktus XVI, dia percaya Paus berikutnya adalah seorang Kardinal dan dia akan mengambil nama Pius XIII.

Nama Pius ini mempunyai hubungan sejarah dengan Paus yang menegaskan kembali doktrin otoritas gereja selama masa pemerintahannya.

Dia mengatakan, Paus ini akan menggenapi gelar “Petrus Romanus” sebagai Paus yang “akan menegaskan kembali kekuasaan Paus atas Gereja. Otoritas ini berdasarkan posisinya sebagai Penerus Petrus” dan “akan menegaskan supremasi Iman Roma Katholik dan Gereja Roma Katholik di atas seluruh agama dan denominasi, dan kekuasaannya atas seluruh orang Kristen dan semua orang di dunia.”

Conte menambahkan, “Selama masa pemerintahan Paus Petrus Romanus, kemurtadan besar dimulai” dan Paus ini akan menandai “bagian pertama dari masa kesusahan, dalam generasi kita.”

Conte memandang penyingkapan ini dimulai pada 2012 ketika, seperti yang dia lihat, Paus Benediktus dengan tiba-tiba wafat atau turun tahta dan digantikan oleh Petrus Romanus.

Hal ini akan diikuti oleh serangkaian tahapan peristiwa yang akan berakibat Perang Dunia III, yang akan dipicu ketika teroris yang didukung Iran meledakkan sebuah bom nuklir di kota New York. Masa Kesusahan Besar dimulai, dan Roma akan hancur ketika dihantam peluru kendali nuklir.

Conte mendukung ramalannya mengenai nama “Pius” dengan mengungkapkan penglihatan menggemparkan dari seorang Paus lain yang bernama Pius – Paus Pius X yang menjalankan kepausan antara 1903-1914 dan yang melihat seorang penerus kepausan yang juga akan memakai nama gelar Pius, sedang melarikan diri dari Roma di atas mayat-mayat imam-imam yang mati pada suatu serbuan di Akhir Zaman. Paus Pius X, secara luas diberitakan bahwa dia mengatakan,

“Apa yang aku lihat sangat menakutkan! Apakah aku orangnya, atau akankah itu seorang penerus (kepausan)? Apa yang pasti adalah Paus ini akan meninggalkan Roma dan, ketika meninggalkan Vatican, dia harus melintasi mayat-mayat imam-imamnya! Jangan katakan ini kepada seorang pun selagi aku hidup.”

Dalam penglihatan kedua ketika sedang dalam pertemuan dengan Ordo Fransiskus di tahun 1909, Paus Pius X nampaknya masuk ke dalam keadaan tak sadarkan diri. Setelah beberapa saat, dia membuka matanya dan berdiri kembali, dan mengumumkan,

“Aku telah melihat seorang penerusku, yang bernama sama (seorang Paus yang akan datang dengan nama Pius), yang sedang melarikan diri di atas mayat-mayat saudara-saudaranya. Dia akan mengungsi ke suatu tempat persembunyian; tapi sesudah tertunda beberapa sesaat, dia akan mengalami kematian dengan cara kejam. Hormat kepada Allah telah hilang dari dalam hati manusia. Mereka akan menghapus ingatan akan Allah. Kejahatan ini bukan lain adalah permulaan hari-hari Akhir Dunia.”

Bagian Ketiga Rahasia Fatima

Bagian ketiga Rahasia Fatima, yang seharusnya dipublikasikan secara penuh oleh Vatican pada 26 Juni 2000, nampaknya menggemakan kembali penglihatan-penglihatan Paus Pius X. Sebuah bagian dari dokumen itu berbunyi:

… sebelum mencapai ke sana, Bapa Suci melewati separuh kota besar yang tinggal puing-puing dan setengah gemetar dengan langkah tertatih-tatih, menderita kesakitan dan dukacita, dia berdoa bagi jiwa-jiwa dari mayat-mayat yang dia jumpai dalam perjalanannya. Ketika mencapai puncak gunung itu, dengan berlutut di depan Salib besar, dia dibunuh oleh sekelompok tentara yang memuntahkan peluru dan anak panah kepadanya, dan dengan cara yang sama di sana matilah satu demi satu Uskup lainnya, imam-imam, laki-laki dan wanita-wanita Religius, dan berbagai orang dari tingkatan dan posisi yang berbeda-beda.

Katekismus Gereja Katholik yang disetujui oleh Gereja dan diajarkan oleh Paus Yohanes Paulus II (dirilis di Inggris pada tahun 1994, katekismus pertama dalam lebih dari 400 tahun), yang diambil dari Alkitab, Misa, Sakramen, tradisi, ajaran, dan kehidupan orang-orang suci, menyatakan di bawah bagian Pengujian Akhir Gereja:

Sebelum kedatangan Kristus, Gereja harus melewati sebuah pengujian akhir yang akan mengguncang iman banyak orang percaya.

Penganiayaan yang mengiringi ziarahnya di bumi akan mengungkapkan misteri kefasikan dalam bentuk penyesatan religius yang menawarkan kepada manusia solusi nyata atas masalah mereka dengan harga kemurtadan dari Kebenaran.

Penyesatan religius tertinggi itu adalah bahwa Anti-Kristus, messias palsu yang dengannya manusia memuliakan dirinya sendiri menggantikan Allah dan Messias-Nya yang telah datang dalam rupa daging.

Pemahaman Conte terhadap Akhir Zaman nampaknya berasal dari Kardinal Dr. Henry Edward Manning, seorang Uskup Westminster antara tahun 1865-1892.

Manning melihat jauh ke depan, krisis masa depan Gereja Katholik Roma dimulai dari ajaran fleksibel dan gerakan kesatuan yang dibenci banyak orang Katholik konservatif modern menyusul Konsili Vatican Kedua (Oktober 1962 sampai Desember 1965).

Manning percaya perubahan ini akan menurunkan otoritas Gereja dan berakibat pada akhirnya dengan ditinggalkannya pengakuan iman Katholik oleh bangsa-bangsa, bersamaan dengan penggantian Paus yang benar dengan seorang Nabi Palsu, sekaligus menghantarkan hadirnya Anti-Kristus dan kemurtadan global.

Manning juga percaya perkumpulan rahasia seperti Freemason adalah bagian dari konspirasi ini.

“Perkumpulan rahasia sejak waktu lama menggali dan melubangi komunitas-komunitas Kristen Eropa, dan pada saat ini sedang berjuang menuju Roma, pusat dari seluruh tatanan Kristen di dunia,” tulisnya.

Tapi ketika dia melihat pada nubuatan dalam Wahyu 18 mengenai kehancuran Akhir Zaman dari Misteri Babylon, Manning melihat itu adalah tangan penghakiman Allah atas kemurtadan seluruh dunia yang berasal dari Roma: 

Kita membaca dalam Kitab Wahyu, tentang kota Roma, bahwa dia berkata dalam kesombongan hatinya, “Aku bertakhta seperti ratu, aku bukan janda, dan aku tidak akan pernah berkabung. Sebab itulah bencana-bencananya akan datang dalam satu hari: kematian dan perkabungan dan kelaparan; dan dia akan dibakar dengan api, karena Allah yang kuat itulah yang menghakimi dia.”

Beberapa penulis terbesar Gereja mengatakan kepada kita bahwa… kota besar Tujuh Bukit… kota Roma mungkin akan menjadi murtad… dan bahwa Roma akan kembali dihukum, karena Dia akan meninggalkannya; dan penghakiman Allah akan menimpa…

Jadi, sama seperti Ramalan Suksesi para Paus dan sejumlah pernyataan visioner Katholik lainnya, Manning meramalkan kehancuran kota Roma sebagai akibat persekutuannya dengan Anti-Kristus.

Pengajaran ini tidak dikenal oleh sebagian besar orang Katholik pada waktu itu, sehingga Manning menjelaskan bagaimana para theolog terbesar Katholik setuju dengan pandangannya:

Kemurtadan kota Roma… dan kehancurannya oleh Anti-Kristus mungkin dipikir sangat baru bagi Katholik, sehingga aku pikir sangat baik untuk mengutip tulisan para theolog, orang-orang dengan reputasi terbesar.

Pertama, Malvenda, yang mengungkapkan hal ini, menyatakan seperti pendapat Ribera, Gaspar Melus, Viegas, Suarez, Bellarmine, dan Bosius, bahwa Roma akan murtad dari iman, meninggalkan Vicar Kristus, dan kembali kepada asal-usul paganisme (penyembahan ilah-ilah) kunonya.

Kata-kata Malvenda:

Namun Roma itu sendiri pada waktu-waktu terakhir dunia akan kembali kepada penyembahan berhala kuno, kekuasaan, dan kebesaran kekaisarannya. Dia akan membuang Pausnya, bersamaan dengan kemurtadan dari iman Kristen, menganiaya Gereja dengan hebat, mencurahkan darah para martir lebih kejam dari sebelumnya, dan akan memperoleh kembali kelimpahan hartanya, atau bahkan lebih besar dari yang ada di bawah para penguasa pertamanya.

Lessius berkata:

“Pada masa Anti-Kristus, Roma akan dihancurkan, seperti yang kita lihat secara terbuka dari pasal ke-13 Kitab Wahyu;” dan lagi: “Perempuan itu, yang telah engkau lihat, adalah kota besar yang mempunyai pemerintahan atas raja-raja di bumi, yang menandakan Roma yang tidak bertuhan, seperti pada zaman Santo Yohanes, dan akan menjadi seperti itu lagi pada Akhir Dunia.”

Bellarmine mengatakan:

“Pada zaman Anti-Kristus, Roma akan dihancurkan dan dibakar, seperti yang kita pelajari dari ayat ke-16 dari pasal ke-17 Kitab Wahyu.”

Yang dikomentari oleh Jesuit Erbermann dengan kata-kata sebagai berikut:

“Kami semua mengakui dengan Bellarmine bahwa orang-orang Roma, sesaat sebelum Akhir Dunia, akan kembali kepada paganisme (penyembahan ilah-ilah), dan mengusir Paus Roma.”

Viegas, berkata tentang pasal ke-18 dari Kitab Wahyu:

Roma, pada zaman terakhir dari dunia, setelah kemurtadannya dari iman, akan memperoleh kekuasaan besar dan kemegahan kekayaan, dan pengaruhnya akan tersebar luas ke seluruh dunia, dan bertumbuh besar.

Hidup dalam kemewahan dan kelimpahan segala sesuatu, dia akan menyembah ilah-ilah, dan akan mendalami segala jenis sihir dan akan menghormati ilah-ilah palsu.

Dan karena pencurahan banyak darah para martir yang ditumpahkan di bawah kaisar-kaisar, Allah akan membalas mereka dengan sangat dan adil, dan dia akan sepenuhnya dihancurkan, dan dibakar oleh penderitaan lautan api yang paling mengerikan.

Di sepanjang sejarah termasuk akhir-akhir ini, banyak imam-imam Katholik yang berdiri di atas dasar yang diletakkan Kardinal Manning dan yang sering secara mengejutkan berbicara terang-terangan mengenai kesamaan mereka tentang bahaya yang tak terelakkan tidak hanya dari Roma yang murtad tapi juga Nabi Palsu yang bangkit dari antara jajaran Katholik itu sendiri sebagai akibat pengaruh satanik rahasia “Illuminati-Masonic.”

(Istilah “Illuminati” yang digunakan di sini bukan secara khusus merujuk kepada pergerakan Bavaria yang didirikan pada 1 Mei 1776, oleh Adam Weishaupt yang dididik oleh Jesuit, namun Illuminati yang terdiri dari sekelompok penguasa elite multinasional modern, hierarki okultisme yang beroperasi di belakang intrik-intrik supernatural dan politik global.)

Menurut imam Katholik seperti,

Bapa E. Sylvester Berry, yang bukunya Wahyu Santo Yohanes meramalkan perebutan Kepausan oleh Nabi Palsu.

Bapa Herman Bernard Kramer, yang karyanya The Book of Destiny (Buku Nasib) menggambarkan skenario menakutkan yang di dalamnya Satan memasuki Gereja dan membunuh Paus yang benar (mungkin selama Konklaf) dengan tujuan supaya Paus palsunya dapat bangkit untuk memerintah dunia seperti kepercayaan yang sama oleh imam-imam seperti Bapa John F. O’Connor, Bapa Alfred Kunz, dan Bapa Malachi Martin,

…ini akan terjadi karena perkumpulan rahasia dan penyusup Katholik palsu memahami pengaruh geopolitik Roma di dunia sangat dibutuhkan untuk mengendalikan unsur-unsur global masa depan dalam urusan gereja dan negara.

Gereja Roma Katholik mewakili seperenam populasi dunia dan lebih dari separuh umat Kristiani, memiliki kedutaan besarnya sendiri yang menempati posisi di negara-negara industri global, dan lebih dari 108 bangsa di dunia mengirim duta besarnya ke ibu kota Vatican.

Dalam presentasi khotbah Bapa O’Connor berjudul “Pemerintahan Anti-Kristus,” dia menggambarkan bagaimana perubahan di dalam komunitas dan di dalam institusi sudah bekerja sebelum kematiannya untuk menyiapkan kedatangan Anti-Kristus.

Dalam khotbahnya di tempat lain, O’Connor menggambarkan rencana ini berkembang sebagai hasil dari “Konspirasi Masonic” di dalam organisasi yang rencana mereka, disebut “Alta Vendita,” pada dasarnya mengendalikan kepausan dan membantu Nabi Palsu menyesatkan orang percaya (termasuk Katholik) untuk menyembah Anti-Kristus.

Instruksi Permanen Alta Vendita adalah dokumen Italia abad ke-19, yang sepertinya ditulis oleh lembaga tertinggi Carbonari Italia – perkumpulan revolusioner rahasia yang berhubungan dengan Freemasonry – yang keduanya secara terbuka sudah dikutuk oleh Roma.

Dokumen ini secara jelas memetakan cetak biru penyusupan Gereja Katholik dalam rangka secara perlahan mengubahnya menjadi alat propaganda prinsip dan tujuan perkumpulan, yang finalnya berusaha menghasilkan kaum awam Katholik, para imam, dan akhirnya Paus untuk menerima ide tentang Iluminasi – pandangan filosofi abad ke-18 tentang manusia, yang dipegang oleh para naturalis, atheis, pemikir bebas, dan Freemason, yang ingin mengubah masyarakat dengan menempatkan ilmu pengetahuan dan intelektual di atas agama.

Pada abad ke-19, Paus Pius IX dan Paus Leo XII keduanya meminta Alta Vendita untuk dipublikasikan.

Ritual Sihir Seksual

Pada sebuah film horor tahun 1968 berjudul Rosemary’s Baby, disutradarai Roman Polanski, dikisahkan tentang seorang wanita muda yang bersedia untuk hamil, namun melalui serangkaian peristiwa menyeramkan dia akhirnya mempercayai bahwa suaminya telah membuat perjanjian dengan keluarga tetangganya, sepasang suami istri bernama Minnie dan Roman Castevet, untuk menggunakan bayinya dalam sebuah ritual okultisme.

Pada malam ketika mereka berencana untuk menjadi hamil, Ny. Castevet membawa beberapa piring berisi kue coklat kepada Rosemary dan suaminya, Guy.

Rosemary memakannya beberapa gigitan, tetapi dia tidak menyukainya dan diam-diam membuangnya. Beberapa menit kemudian, dia menjadi pusing dan pingsan. Kemudian dia mendapatkan apa yang dia pikir adalah mimpi buruk dimana Castevet dan beberapa tetangganya sedang ada di kamar tidurnya sedang menyaksikan ketika dia diperkosa oleh suatu kehadiran Iblis.

Ketika dia bangun, ada goresan-goresan di seluruh tubuhnya, dan suaminya berkata kepadanya bahwa supaya tidak kehilangan kesempatan menjadi hamil, dia menyetubuhinya ketika dia sedang tidur.

(Catatan: Roman Polanski, sang sutradara, menginginkan istrinya Sharon Tate untuk berperan sebagai Rosemary, dan disebutkan bahwa Tate yang menyampaikan ide tentang adegan kunci ketika Rosemary diperkosa dan dihamili. Tragisnya, dalam kehidupan nyata yang ironis, pada 9 Agustus 1969, Tate yang sedang hamil delapan setengah bulan dibunuh dengan brutal oleh Susan Atkins dan Tex Watson. Ketika penulis cerita Wojciech Frykowski, yang sedang ada di rumah Sharon Tate pada malam pembunuhan itu (dan juga ikut dibunuh) bertanya kepada Tex Watson, Watson menjawab, “Akulah Iblis, dan aku di sini untuk melakukan urusan Iblis.”)

Menyusul adegan “mimpi buruk” yang dialami Rosemary, akhirnya dia mengetahui dirinya sedang mengandung seorang bayi pada 28 Juni 1966 (666).

Keluarga Castevet merekomendasikan dokter kandungan bernama Dr. Abraham Sapirstein, yang meresepkan “minuman vitamin” baginya. Minni Castevet memberinya “jimat keberuntungan” berbau aneh untuk dipakai, yang juga berbau seperti minuman vitamin itu – akar tannis (permainan ucapan yang mirip dengan Satanas, Satan).

Penampilan Rosemary lambat laun menjadi semakin kurus kering dan sering mengeluh sakit perut, kehilangan berat badan, dan mempunyai keinginan aneh untuk memakan daging mentah dan hati ayam (resep untuk kehamilan dalam sihir kuno).

Melalui serangkaian peristiwa, dia akhirnya menemukan bahwa tetangganya adalah seorang pengikut Satan. Kecurigaannya semakin besar ketika dia akhirnya meyakini bahwa suami dan tetangganya sebenarnya sedang mempraktekkan ilmu sihir, dan entah bagaimana melibatkan bayinya yang belum lahir.

Dr. Sapirstein dan suami Rosemary, Guy, menyadari ketidakpercayaan Rosemary, dan berkata kepadanya bahwa baik dia maupun bayinya tidak akan dicelakai selama dia mau bekerjasama. Sesudah itu, dia melahirkan bayinya dan selanjutnya ditidurkan, dan ketika dia terbangun, bayinya sudah tidak ada. Dia diberitahu bahwa bayinya mati, namun dia mendengar tangisan bayi di ruang samping apartemennya. Berusaha mencari pintu rahasia yang menghubungkan rumahnya dengan tetangganya, dia mendapati sekumpulan orang sedang berkumpul di sekitar anak bayinya.

Mata bayi itu secara menakutkan berubah, dan dia diberitahu bahwa suaminya bukanlah ayah bayi itu, dan bayi itu adalah penjelmaan Satan.

Meskipun film Rosemary’s Baby didasarkan pada cerita novel, ritual sihir seksual adalah nyata dan rencana untuk menggunakannya untuk menginkarnasikan benih Iblis telah menjadi sejarah panjang di antara para pemuja Satan, perkumpulan rahasia, Freemason, dan bahkan, menurut pengakuan beberapa imam Katholik, juga di Vatican.

Buku manual petunjuk yang amat sangat dijaga kerahasiaannya oleh organisasi pemuja Satan seperti The Order of Nine Angels, Gereja Satan yang didirikan oleh Anton LaVey, dan anggota Ordo Templi Orientis, termasuk seorang Freemason derajat 33 (tertinggi), Aleister Crowley, menggambarkan bagaimana melalui ritual seks, suatu makhluk dapat dibawa ke dalam dunia nyata dan menghuni tubuh daging.

jack_parsons
Jack Parson, seorang okultis, pendiri NASA

Ilmuwan roket dan pendiri Jet Propulsion Laboratory (NASA), Jack Parson, dan rekannya L. Ron Hubbard (pendiri Gereja Scientology) adalah murid-murid Aleister Crowley dan mencatat peristiwa semacam ini yang disebut “Babalon Working,” yang mereka lakukan dengan harapan menginkarnasikan Pelacur Babylon – seorang anak iblis atau gibborim (raksasa nephilim) – melewati sebuah portal dalam ritual seks.

Parsons selanjutnya menuliskan bahwa upacara itu berhasil dan bahwa

“Babalon sudah berinkarnasi di atas Bumi hari ini menunggu saat yang tepat untuk manifestasinya.”

Ritual seks sihir dapat meliputi kanibalisme dan pengorbanan manusia.

Di antara para pakar Gereja yang menegaskan bahwa aktivitas semacam itu nyata dan bahkan terjadi di dalam dinding-dinding Tahta Suci antara lain:

  • Monsignor Luigi Marinelli (yang tahun 1999 bukunya Gone with the Wind in the Vatican terjual 100.000 eksemplar hanya dalam waktu tiga minggu pertama)
  • Pengusir setan dan Uskup Emmanuel Milingo, yang dalam pidato di Our Lady of Fatima 2000 International Conference on World Peace, menuduh anggota tingkat tinggi dari hierarki Gereja bersekutu dengan “Satan”
  • Seorang pengusir setan dan profesor Pontifical Biblical Institute, theolog terkemuka Katholik dan mantan Jesuit, Malachi Martin

Ketika majalah Manhatten “The Fatima Crusader” bertanya kepada Martin mengenai kekagetan publik atas ucapan Uskup Milingo bahwa jajaran tinggi Vatican adalah “pengikut Satan,” Martin menjawab,

“Setiap orang yang tahu kondisi di Vatican dalam 35 tahun sangat sadar bahwa pangeran kegelapan telah memiliki dan terus menempatkan wakil-wakilnya di Santo Petrus di Roma.”

Sebagai anggota Dewan Penasihat Vatican dan seorang polygot terkemuka yang dapat berbicara dalam 17 bahasa (tidak termasuk sekretaris pribadi Kardinal Jesuit Augustin Bea), Malachi Martin memiliki hak keistimewaan informasi mengenai kerahasiaan gereja dan masalah-masalah dunia, termasuk Rahasia Ketiga Fatima, yang oleh Martin diisyaratkan sebagai bagian dari rencana untuk menempatkan Nabi Palsu yang ditakuti pada “Konklaf (pemilihan Paus) Terakhir.”

Tentang ini, Martin menyatakan bahwa kelompok Illuminati-Masonic membuat orang berkuasa Barat yang disebut “The Assembly” atau “Superforce” menyusupi tingkatan tertinggi administrasi Vatican dan sedang bekerja untuk mendirikan New World Order.

Ini mungkin yang membawanya kepada kematian (yang dikatakan “mencurigakan” oleh beberapa orang) pada tahun 1999.

Ini juga menimbulkan pertanyaan tentang Paus Yohanes Paulus I, yang terpilih sebagai Paus pada tahun 1978 namun mati hanya dalam waktu tiga puluh tiga hari berikutnya (33 adalah tanda okultisme Masonic).

Tak lama setelah menjadi Paus, Yohanes Paulus I mengetahui para kardinal, uskup, dan wali gereja yang merupakan Freemason.  Dia kemungkinan terbunuh untuk menghindarkannya dari mengungkap rencana orang-orang ini atau untuk menghalangi penyelidikan yang dilancarkannya terhadap bank Vatican yang terhubung dengan seorang anggota Grand Orient Freemason.

Sepuluh tahun sebelum sesuatu “menarik kakinya” selagi dia sedang bersiap untuk mengusir setan, Malachi Martin jatuh dan akhirnya mati (pada waktu itu dia sedang mengerjakan apa yang dia janjikan akan menjadi bukunya yang paling meledak dengan judul:

Primacy: How the Institutional Roman Catholic Church became a Creature of The New World Order (Bagaimana Institusi Gereja Roma Katholik telah menjadi Kaki Tangan Tata Dunia Baru), dia mengungkap terang-terangan mengenai pedofilia Satanis di jantung Vatican di seluruh perguruan tinggi kardinal hingga mencapai paroki lokal, yang dia sebut bersekutu dengan perkumpulan rahasia iblisi Masonic rahasia yang terjadi menyusul “Pentahbisan Penghulu Malaikat yang Jatuh Lucifer” di tahta istana Roma Katholik pada tanggal 29 Juni 1963.

Ritual mengerikan ini, seperti disebut Martin, mempunyai dua tujuan: 1) mentahbiskan Lucifer sebagai Raja sebenarnya atas Roma; dan 2) untuk memastikan pembuahan sihir dan perwujudan lahiriah dari roh yang tidak kelihatan yang juga akan memenuhi “Paus yang juga disebut Petrus Romanus.”

Martin membuka lebih banyak detail mengenai “upacara pentahbisan Lucifer oleh pemuja Satan di Vatican” dalam bukunya, Windswept House:

Pentahbisan Penghulu Malaikat yang Jatuh Lucifer terjadi di dalam Istana Roma Katholik pada 29 Juni 1963; tanggal yang tepat bagi janji historis yang segera digenapi.

Martin menyatakan secara terbuka dalam beberapa kesempatan bahwa pentahbisan Lucifer di Roma berdasarkan fakta, dan untuk memfasilitasi black magic ini, upacara paralel dijalankan secara bersamaan di Amerika Serikat di Charleston, South Carolina.

Alasan tempat ini dipilih masih tidak jelas, tapi berdasarkan apa yang dikatakan Malachi mengenai hubungan dengan Masonic, menjadi masuk akal bahwa South Carolina dipilih. Ini adalah tempat Supreme Council of the Scottish Rite Freemasonry di Amerika Serikat, yang disebut “the Mother Lodge of the World,” dimana pada tahun 1859, pemimpin ajaran Lucifer untuk Masonic-Illuminatus, Albert Pike menjadi Panglima Besar dari Supreme Council, dimana dia melayani Order of the Quest hingga saat kematiannya di Washington DC pada 2 April 1892.

albert_pike
Albert Pike

Hari ini, jenazah Albert Pike dimakamkan dalam kemuliaan di House of the Temple, markas Southern Jurisdiction of the Scottish Rite Freemasonry di Washington DC.

Martin menambahkan alasan pemilihan lokasi South Carolina:

Elemen yang tidak mencolok seperti Pentagram dan lilin hitam dan gorden yang sesuai dapat dilakukan pada upacara di Roma. Tetapi peralatan upacara lain – seperti mangkuk dan tulang-belulang dan hiruk-pikuk ritual, contohnya, pengurbanan binatang dan korban manusia – akan terlalu mencolok.

Penggambaran yang mengerikan dari Martin dalam bukunya Windswept House mengenai metode penajisan segala sesuatu yang suci dan murni selama “Pentahbisan Paralel” antara Kapel Target dan Kapel yang Mentarget termasuk pengucapan doa-doa yang kotor, pengurbanan binatang secara sadistis, dan kekejaman berulang-ulang kepada “kurban ritual” muda di atas altar.

Malachy Martin memberikan detail mengenai “Roman Phalanx,” nama lain dari sekte satanik Vatican, dan tujuan akhir mereka:

Sebagai pribadi, mereka telah bersumpah “Ikrar Komitmen Suci” yang dijalankan oleh perwakilan. Lalu setiap orang mendekati Altar untuk memberikan “bukti” dedikasi pribadinya. Dengan darah yang dikeluarkan melalui jarum emas, setiap orang membubuhkan cap jempol di samping namanya di Surat Kuasa. Selanjutnya, hidup dan tindakan setiap anggota Phalanx di istana Roma berfokus untuk mentransformasi kepausan itu sendiri.

Akankah Paus Fransiskus menggenapi ramalan Petrus Romanus?

Adalah penting untuk tidak mendasarkan pemahaman profetik terhadap penglihatan-penglihatan di luar Alkitab, bahkan jika itu berasal dari orang saleh sekalipun. Pemahaman profetik kita haruslah berasal dari pernyataan nabi-nabi Alkitab. Namun, jika seorang percaya telah mendirikan reputasinya dengan berkata-kata nubuat yang selalu digenapi, maka informasi dari mereka seharusnya diperhatikan dan dianggap kemungkinan kata-kata nubuat.

Hal lain mengenai interpretasi yang benar dari masa depan bergantung sepenuhnya kepada Kitab Suci dan bukan dari prediksi luar.

Sementara Alkitab tidak secara jelas mengajar bahwa Paus Fransiskus adalah nabi palsu Akhir Zaman, namun waktu pemilihan Paus Fransiskus konsisten dengan waktu-waktu terakhir dari zaman ini dan kebangkitan final dari Anti-Kristus. Wahyu 13:11-15 (ILT)

  1. Dan aku melihat binatang buas lain yang muncul dari bumi (Nabi Palsu). Dan dia memiliki dua tanduk, serupa dengan seekor anak domba, tetapi dia berbicara seperti seekor naga.
  2. Dan dia menjalankan di hadapannya seluruh wewenang binatang buas yang pertama (Anti-Kristus). Dan dia membuat bumi dan orang-orang yang tinggal di dalamnya supaya menyembah binatang buas yang pertama, yang luka kematiannya telah disembuhkan.
  3. Dan dia melakukan tanda-tanda yang luar biasa, sehingga dia juga dapat membuat api turun dari langit ke bumi di hadapan orang-orang.
  4. Dan dia menyesatkan mereka yang tinggal di bumi melalui tanda-tanda yang diberikan kepadanya untuk melakukannya di hadapan binatang buas itu dengan berkata kepada mereka yang tinggal di bumi agar membuat ikon (Yunani: eikon; patung, figur, keserupaan) binatang buas yang mempunyai luka pedang tetapi dia hidup.
  5. Dan kepadanya telah ditetapkan untuk memberikan roh kepada ikon binatang buas itu, supaya ikon binatang buas itu pun dapat berbicara, dan dia membuat sebanyak orang yang tidak menyembah ikon binatang buas itu, agar mereka dapat dibunuh.

Adalah mungkin bahwa orang dengan dua tanduk seperti seekor anak domba itu akan menjadi Paus murtad yang akan melakukan mujizat-mujizat, memanggil api turun dari langit, dan menciptakan patung atau figur atau keserupaan yang hidup, memaksa orang-orang untuk menyembah keserupaan itu dan Anti-Kristus itu sendiri.

Paus Fransiskus atau orang lain sesudah dia MUNGKIN adalah Paus Terakhir dan Nabi Palsu yang disebutkan oleh Santo Malachy sebagai Petrus Romanus, namun lagi… hanya waktu yang akan membuktikannya…

Ulasan lengkap dapat Anda baca pada buku:

Petrus Romanus, The FINAL Pope is Here!

Referensi:

Is Pope Francis the FINAL Pope – Petrus Romanus?

Petrus Romanus, The False Prophet and The Antichrist are Here

Prophecy of the Popes

Popes Papacy To Be Shortened? Is or Isn’t He Malachy’s Prophesied Last Pope? Speculations Rise…

Pope’s ‘feeling’ about short papacy fuels speculation

Vatican makes history: Pope allows Islamic prayers, Koran readings

Islamic State Magazine Issue the Failed Crusade

Malachi Martin, The Keys of This Blood: The Struggle for World Dominion (New York, NY: Simon and Schuster, Sep 15, 1991)

Malachi Martin, Windswept House

Day Williams, “Masons and Mystery at the 33rd Parallel” Hidden Mysteries E-Magazine last accessed January 19, 2012

“The Catholic Church in Crisis,” The New American, June 9, 1997

Chuck Nowlen, “The Devil and Father Kunz: An Easter Tale about Murder, the Catholic Church and the Strange Paths of Good and Evil,” Las Vegas Weekly, April 12, 2001 (Radiant City Publications)

Ronald L. Conte Jr., “The Future and the Popes,” Catholic Planet (November 14, 2004)

René Thibaut, La Mystérieuse

Ketchum, The Evidence for End Time Prophecy, (Bloomington, IN: iUniverse, 2003)

Our Lady of Fátima

Catechism of the Catholic Church: Second Edition, Catholic Church, Random House Digital, Inc. (2003)

Alexander Mitchell, “SCIENTOLOGY: Revealed for the First Time…The Odd Beginning of Ron Hubbard’s Career,” The Sunday Times, October 5, 1969

Aleister Crowley et al, Magick Book 4 part III (Chapter 12: Of the Bloody Sacrifice and Matters Cognate) Second one-volume edition (York Beach, ME: Red Wheel/Weiser, LLC, 1997 [2004])

Judi McLeod, “Scouting Out Satan,” Canada Free Press, February 23, 2005

John Daniel, Scarlet and the Beast, Vol 1, 3rd edition (Longview, TX: Day Publishing, 2007)

Malachi Martin, Windswept House: A Vatican Novel (Doubleday, 1996)

Malachi Martin, The Keys of This Blood: The Struggle for World Dominion (New York, NY: Simon and Schuster, Sep 15, 1991)

“The Catholic Church in Crisis,” The New American, June 9, 1997, 6-8.

Iklan