Bukti-bukti arkeologi yang ditemukan kini membuktikan kebenaran Injil Yohanes.

Meskipun telah ditemukan lebih dari satu dekade yang lalu, Kolam Siloam terus menjadi perbincangan hangat, yang terbaru adalah analisis dari pengarang dan pembicara Eric Metaxas.

Dalam kisah di Injil Yohanes pasal 9, Yesus meludah ke tanah, mengoleskan tanah itu ke mata orang buta dan memerintahkan dia membasuh dirinya di Kolam Siloam.

denah-siloam-700

Para pekerja menemukan kolam ini pada tahun 2005 ketika sedang memperbaiki pipa pembuangan limbah.

“Para sarjana sebelumnya mengatakan bahwa Kolam Siloam itu sebenarnya tidak ada dan bahwa Yohanes hanyalah menggunakan perumpamaan untuk menggambarkan maksudnya,” kata sarjana Perjanjian Baru James H. Charlesworth kepada Los Angeles Times, “Dan sekarang kita telah menemukan Kolam Siloam itu … persis berada di mana Yohanes telah mengatakannya.”

Situs tempat mujizat Yesus ini hanyalah satu dari banyak penemuan-penemuan arkeologi yang mengkonfirmasi otentisitas Alkitab.

“Berita terpentingnya bukan penemuan itu sendiri, tapi arti dari keberadaan situs itu,” kata Metaxas.

“Maksudnya adalah, ini akan memperjelas bahwa posisi keilmuan untuk tidak mempercayai Alkitab, tidak dapat dipertahankan,” tulis Metaxas. “Tentu saja, orang Kristen sudah tahu Alkitab itu benar. Tapi tetap menyenangkan untuk melihat orang lain yang tidak percaya dapat melihat kebenarannya itu juga. Meskipun mereka harus pergi ke Kolam Siloam untuk mempercayainya.”

Penemuan Kolam Siloam

Nilai historis Injil Yohanes

Injil Yohanes pasal 9 menceritakan kisah Yesus menyembuhkan orang yang buta sejak lahirnya. Setelah mengatakan kepada murid-murid-Nya bahwa kebutaan orang itu tidak ada hubungannya dengan dosanya atau dosa orang tuanya, Yesus mengoleskan lumpur ke mata orang itu dan memerintahkan dia membasuh dirinya di Kolam Siloam.

Setelah Ia mengatakan semuanya itu, Ia meludah ke tanah, dan mengaduk ludahnya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi dan berkata kepadanya: “Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam.” Siloam artinya: “Yang diutus.” Maka pergilah orang itu, ia membasuh dirinya lalu kembali dengan matanya sudah melek. Yohanes 9:6,7 (TB)

Sejak setidaknya abad ke-5, orang Kristen telah mengidentifikasi suatu lokasi di Yerusalem sebagai Kolam Siloam dan situs tempat mujizat itu terjadi. Namun baru hingga satu dekade lalu para arkeolog menemukan apa yang mereka pastikan sebagai kolam kuno Siloam.

Sama seperti banyak penemuan lainnya, ini semua terjadi secara tidak disengaja. Selama pekerjaan konstruksi untuk memperbaiki pipa di dekat Bukit Bait Suci, arkeolog Israel, Ronny Reich dan Eli Shukron menemukan “dua batu kuno bertingkat.”

Menurut ulasan Biblical Archaeology, “Penggalian lebih lanjut mengungkap bahwa itu adalah bagian dari kolam monumental yang berasal dari periode Bait Suci kedua, periode di saat Yesus hidup.” Kolam itu bentuknya trapezoid dan panjangnya 225 kaki (68,58 meter).

siloam-700

Injil Yohanes bukan satu-satunya buku di dalam Alkitab yang secara arkeologis diteguhkan dengan penemuan situs tersebut. Dalam ulasan tersebut dikatakan, “Kolam Siloam berasal dari era yang jauh lebih terdahulu setidaknya 7 abad sebelum zaman Yesus.”

Kolam ini adalah bagian dari persiapan yang dilakukan Raja Hizkia – sebagai subyek acuan – untuk melakukan antisipasi terhadap pengepungan yang dilakukan oleh Raja Sancherib dari Assyria. Menurut 2 Tawarikh 32:

Hizkia ini juga telah membendung aliran Gihon di atas dan menyalurkannya ke bawah, ke sebelah barat kota Daud. 2 Tawarikh 32:30

Meskipun keberadaan saluran itu telah diketahui sejak akhir abad ke-19, namun banyak ahli yang enggan untuk menghubungkannya dengan apa yang tertulis di dalam 2 Tawarikh. Penggalian ekstensif yang dilakukan Reich dan Shukron di area itu membawa mereka untuk menyimpulkan bahwa kisah 2 Tawarikh tentang Hizkia itu fakta yang benar.

Menurut suatu inskripsi (ukiran tulisan) di salah satu saluran itu, yang disebut “Inskripsi Siloam,” dua kelompok menggali dalam dua arah berlawanan – yang satu dari utara dan satunya dari selatan – dan bertemu di tengah-tengah. Hasilnya adalah bangunan saluran untuk sumber air yang dapat diandalkan yang memungkinkan Kerajaan Yehuda dapat bertahan dalam pengepungan tentara Assyria.

Untuk melindungi suplai air di kota Yerusalem selama pengepungan, Hizkia melakukan proyek penggalian strategis yang sangat mengagumkan di sepanjang sejarah zaman itu: Dia memerintahkan penggalian terowongan sepanjang 1.750 kaki (530 meter) di bawah Kota Daud untuk membawa air dari mata air Gihon, yang ada di luar tembok kota, masuk ke dalam kota ke dalam sebuah kolam di balik bukit. Dalam tahun-tahun sesudahnya, “Terowongan Hizkia” terus mengalirkan air bersih ke bagian Yerusalem tersebut, dan berbagai kolam dibangun di sini sepanjang waktu berabad-abad, termasuk kolam era Bait Suci kedua yang dikenal Yesus.

denah-hizkia-400

terowongan-hizkia-400
Bagian dalam Terowongan Hizkia

Seperti digambarkan dalam Inskripsi Siloam, Terowongan Hizkia digali oleh dua kelompok, yang bekerja dalam arah yang berlawanan dan bertemu di tengah-tengah, sebagai persiapan untuk menghadapi invasi raja Sancherib. Dalam Alkitab, kisah yang mengagumkan ini ditulis secara detail dalam 2 Tawarikh 32:2-4.

Kisah penemuan Kolam Siloam juga menegaskan apresiasi keilmuan terhadap kualitas historis Injil Yohanes. Secara umum, para ahli liberal tidak hanya meragukan nilai historis Injil Yohanes, tapi mereka juga mempersalahkannya, setidaknya dalam sedikit bagian, untuk kebangkitan rasa anti-Semitisme (kebencian terhadap bangsa Yahudi, keturunan Sem). Mereka menunjuk kepada perulangan penggunakan kata “orang Yahudi.”

Namun seperti yang ditulis oleh Paus Benediktus XVI dalam “Yesus dari Nazareth,” Injil Yohanes “dibangun dari pengetahuan yang akurat tentang zaman dan tempat, sehingga hanya dapat dihasilkan oleh seseorang yang punya pengetahuan langsung yang baik sekali tentang Palestina pada zaman Yesus.” Lebih lanjut, menjadi jelas “bahwa Injil ini berpikir dan berpendapat seluruhnya dalam istilah-istilah Perjanjian Lama dan seluruh isinya berakar secara kuat di dalam Yudaisme pada zaman Yesus.”

Referensi:

Finding the Pool of Siloam

The Siloam Pool: Where Jesus Healed the Blind Man – A sacred Christian site identified by archaeologists

Biblical Pool Uncovered in Jerusalem

Pool Where Jesus Healed a Blind Man Discovered, Proves Gospel of John Is True

Hezekiah’s Tunnel Reexamined

Iklan