Arkeolog Israel, matematikawan dan fisikawan bergabung bersama-sama untuk mengungkap arti di balik ukiran-ukiran yang ditemukan pada pecahan-pecahan tembikar yang diduga berusia lebih dari 2500 tahun.

Surat kabar Israel Haaretz melaporkan bahwa sebuah tim Universitas Tel Aviv sedang memeriksa kepingan-kepingan tembikar era Bait Suci Pertama dan bejana-bejana yang terdapat tulisan-tulisan kuno yang digoreskan di atasnya. Fragmen-fragmen tembikar kuno ini dikenal sebagai ostrakon.

Menteri Luar Negeri Israel menyatakan bahwa lebih dari 100 ostraka dengan tulisan Paleo-Ibrani telah ditemukan di Arad di Israel Selatan, dan menyebutnya “kumpulan tulisan paling banyak dan paling beragam dari zaman Alkitab yang pernah ditemukan di Israel.” Alfabet Paleo-Ibrani digunakan pada zaman kerajaan-kerajaan Yehuda dan Israel.

Beberapa dari tulisan itu ditujukan kepada komandan Benteng Arad, Eliashiv ben Ashiyahu, dan membicarakan tentang memperoleh roti, anggur dan minyak bagi prajurit yang bertugas di Padang Gurun Negev. “Kutipan lain berisi informasi tentang ancaman keamanan di wilayah itu, memperingatkan keadaan darurat dan meminta bantuan pasukan,” demikian dijelaskan Menteri Luar Negeri Israel.

Penemuan-penemuan baru yang nampaknya mendukung teks-teks kuno Alkitab ini memberikan bukti baru tentang keberadaan hubungan bangsa Yahudi dengan Tanah Israel, termasuk Yudea dan Samaria. Selama ini Otoritas Palestina selalu berusaha untuk mengecilkan setiap hubungan historis yang dimiliki bangsa Yahudi terhadap Tanah Israel dan seringkali mengkritik keras dengan apa yang mereka sebut sebagai “Yudaisasi Yerusalem.”

Petualangan Teknologi Tinggi untuk Mengungkap Rahasia Huruf-huruf Israel Kuno

Apa hubungannya antara dokumen-dokumen administrasi kuno berusia 2600 tahun yang ditulis pada kepingan-kepingan tembikar dengan algoritma komputer? Dan dari daftar permintaan rutin dan permintaan mendesak bantuan prajurit dari pasukan militer yang sudah lama musnah, apa yang dapat diceritakan semuanya itu bagi kita mengenai asal-usul Alkitab?

Sebuah tim matematikawan, fisikawan dan arkeologi di Universitas Tel Aviv sedang menjalankan petualangan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan mengungkap rahasia-rahasia dari sebagian dokumen-dokumen tertulis yang berasal dari periode Bait Suci Pertama yang masih tersisa sampai hari ini.

Teknik-teknik baru yang dikembangkan para peneliti tidak hanya akan merevolusi cara ilmuwan mempelajari tulisan-tulisan kuno, tapi juga memberikan gambaran tingginya tingkat modernitas dan literatur di Kerajaan Israel dan Yehuda kuno. Dan pada akhirnya, pekerjaan mereka akan memberikan penerangan terhadap pertanyaan-pertanyaan besar mengenai kapan teks-teks Alkitab pertama kali dituliskan.

Ratusan Tahun Sebelum Gulungan Kitab Laut Mati

Usaha untuk mengungkap arti di belakang tulisan-tulisan kuno itu dimulai enam tahun lalu oleh arkeolog Israel Finkelstein dan fisikawan Eli Piasetsky.

Dua ahli ini berusaha mengaplikasikan metode ilmiah modern terhadap teks-teks yang ditulis sebelum kehancuran Bait Suci Pertama di tahun 586 SM, ratusan tahun sebelum adanya Gulungan-gulungan Kitab Laut Mati yang terkenal itu.

Dalam periode Bait Suci Pertama, kebanyakan dokumen mungkin ditulis pada papirus yang rapuh, dan sudah lama musnah. Tapi selama abad terakhir, di situs-situs di seluruh Tanah Suci, para arkeolog telah menggali setidaknya empat kumpulan besar harta karun berupa kepingan-kepingan tembikar dengan tulisan-tulisan alfabet Paleo-Ibrani yang digunakan pada masa Yehuda dan Israel kuno.

Kepingan-kepingan pecahan tembikar sangat mudah didapat di seluruh dunia kuno dan seringkali digunakan di dalam urusan militer maupun birokrasi umum: pesan-pesan itu ditulis di atas keramik keras dengan menggunakan tinta.

Fragmen-fragment semacam itu juga dikenal sebagai ostraka (tunggal: ostrakon), yang berasal dari nama pecahan-pecahan tembikar yang digunakan bangsa Athena kuno untuk menuliskan nama-nama mereka yang divoting untuk diasingkan dari dalam kota – dari situ juga muncul istilah ostrakisme.

ostrakon-mesir-7
Contoh ostrakon dari Mesir Kuno, era Kerajaan Baru (550-1307 SM)

Teks-teks Tak Dikenal Muncul

Koleksi terbesar ostraka Bait Suci Pertama ditemukan di Samaria, ibukota Kerajaan Israel Kuno, dan berasal dari penanggalan paruh pertama abad ke-8 SM, beberapa dekade sebelum kerajaan itu ditaklukkan oleh Kerajaan Assyria. Tiga kelompok kepingan-kepingan tembikar lainnya berasal dari benteng-benteng Yehuda dan memiliki penanggalan akhir abad ke-7 SM atau awal abad ke-6 SM, pada masa ketika Babel dan sekutu-sekutu mereka mulai menggerogoti perbatasan-perbatasan Kerajaan Yehuda.

Langkah pertama penyelidikan dimulai dengan menangkap gambar-gambar digital dari koleksi ostraka itu untuk menyimpan teksnya. “Sesudah kepingan-kepingan itu digali dan terkena cahaya, tintanya menjadi memburuk dan memudar,” demikian dijelaskan Finkelstein.

Proyek ini diserahkan ke tangan tiga orang doktor bidang studi matematika: Arie Shaus, Shira Faigenbaum-Golovin dan Barak Sober. Ketiganya meninggalkan karir cemerlang di bidang teknologi tinggi dan industri pertahanan untuk menyelami penyelidikan ostraka era Bait Suci Pertama.

matematikawan-israel-700
Dari kanan: Matematikawan Arie Shaus, Shira Faigenbaum-Golovin dan Barak Sober berpose dengan ostrakon periode Bait Suci Pertama. Foto: Ariel David

“Ini kedengarannya aneh, tapi ini rasanya lebih penting daripada apa yang aku lakukan sebelumnya,” kata Faigenbaum-Golovin, yang dulunya bekerja sebagai programer software perusahaan raksasa Amdocs. “Kamu merasa bahwa kamu benar-benar memberikan kontribusi yang meskipun kecil tetapi penting untuk pengetahuan umat manusia.”

Tantangan pertama dari ketiga orang ini adalah membuat suatu kamera yang akan menangkap gambar-gambar multi-spektral dari ostraka, gambar-gambar kualitas tinggi yang menangkap frekuensi cahaya yang tidak terlihat oleh mata manusia, termasuk rentang infra merah dari spektrum. Peneliti di Yerusalem telah menggunakan metode sejenis untuk mendigitalisasi Gulungan-gulungan Kitab Laut Mati, sebagian dengan dukungan Google dan menggunakan peralatan ultra modern. Untuk ostraka ini, ketiga matematikawan ini harus sedikit kreatif.

“Kami meminjam kamera mahal dan menemukan cara untuk mereproduksinya sehingga murah,” kata Sober, salah satu matematikawan. “Kami mengkanibalisasi kamera Canon dan menciptakan suatu sistem yang sebelumnya menelan biaya puluhan ribu dollar menjadi hanya beberapa ribu dollar.”

Namun tetap, sistem rakitan ini hasilnya luar biasa. Tidak hanya tinta gelap pada kepingan tembikar itu nampak lebih jelas dan terbaca: dalam beberapa kasus, gambar-gambar itu mengungkap teks-teks yang tidak terlihat mata telanjang.

“Suatu kali, teknisi secara keliru memfoto sisi balik ostrakon, yang terlihat kosong, dan gambar yang didapat mengungkap ada empat baris teks yang jelas di situ,” Arie Shaus matematikawan ketiga dari tim itu menjelaskan selama tour di laboratorium mereka. “Itu sudah dipajang di museum selama 50 tahun dan tidak ada yang pernah memperhatikannya.”

Hari-hari Terakhir Kerajaan Yehuda

Teks terbaru masih sedang diuraikan, tapi “tentu saja sekarang kami akan kembali memfoto seluruh ostraka yang mungkin memiliki tulisan di bagian belakangnya,” katanya.

Menggunakan gambar-gambar itu, tim juga mengembangkan algoritma yang memungkinkan software untuk mengenali karakter tulisan tangan alfabet Paleo-Ibrani dan menghasilkan faksimili teks itu secara otomatis, untuk menurunkan tingkat kesalahan penterjemahan oleh para ilmuwan antara satu huruf dengan huruf lainnya.

“Sebelumnya, epigrafis (ahli tulisan prasasti) secara manual akan menterjemahkan tulisan, dan itu suatu proses interpretasi yang subyektif,” dijelaskan Shaus.

Dokumen-dokumen itu sendiri, diterjemahkan oleh para ahli selama lebih dari beberapa dekade terakhir, kebanyakan isinya datar-datar saja.

Daftar ostraka Samaria dibawa ke dalam kota dan berasal dari daerah luar kota sekelilingnya.

Banyak dari kepingan-kepingan tembikar yang ditemukan di benteng-benteng terpencil Arad Yehuda, di padang gurun Negev, ditujukan kepada perwira militer yang memimpin pos garis depan, Eliashiv, dan memerintahkan dia untuk mendistribusikan anggur, minyak dan roti kepada tentara bayaran dan prajurit-prajurit yang ditugaskan di wilayah itu.

Salah satu kepingan tembikar dari Arad, nampaknya dikirimkan kepada salah satu perwira atasan Eliashiv, berisi catatan kepanikan Raja di Yerusalem dengan sebuah perintah “kewajiban di atas nyawamu sendiri” untuk mengirim bantuan pasukan ke dekat Ramat Negev untuk untuk menahan ancaman dari bangsa tetangga Edom.

Kita tidak tahu bagaimana respon dari pesan tersebut, tapi segera sesudah perintah itu diterima, bani Edom, yang bersekutu dengan bangsa Babel, menyerbu seluruh wilayah itu dan menghancurkan benteng Arad.

Lebih dari 100 tulisan di ostraka di dalam bahasa Ibrani Alkitab (tulisan Paleo-Ibrani) ditemukan di dalam benteng Arad. Ini merupakan koleksi inskripsi terbesar dan paling lengkap dari masa Alkitab yang pernah ditemukan di Israel. Huruf-hurufnya berasal dari seluruh periode keberadaan benteng itu, tapi sebagian besar penanggalan berasal dari dekade-dekade terakhir Kerajaan Yehuda. Tanggal-tanggal dan beberapa nama tempat di Negev disebutkan, termasuk Be’er Sheva.

Di antara nama-nama pribadi ada dari keluarga imam Pashur dan Meremoth, keduanya di sebutkan di dalam Alkitab (Yeremia 20:1; Ezra 8:33).

Yeremia 20:1 Ketika Pashur, anak Imam Immer, ia juga pejabat pemimpin di bait YAHWEH, mendengarkan Yeremia menubuatkan perkara-perkara ini..

Ezra 8:33 Dan pada hari yang keempat, perak, dan emas serta perkakas-perkakas itu ditimbang di bait Elohim kami, di bawah pengawasan Meremot anak Imam Uria. Dan bersama dia Eleazar anak Pinehas, dan bersama mereka Yozabad anak Yesua, dan Noaja anak Binui, orang-orang Lewi.

Beberapa dari pesan-pesan itu ditujukan kepada komandan benteng Arad, Eliashiv ben Ashiyahu, dan berhubungan dengan pendistribusian roti (tepung), anggur dan minyak kepada para prajurit yang bertugas di benteng-benteng Negev. Meterai-meterai (bulla) yang mencantumkan inskripsi “Eliashiv ben Ashiyahu” juga ditemukan.

bula-eliashiv-300
Bulla Eliashiv ben Ashiyahu

Beberapa dari surat-surat komandan (kemungkinan “dokumen” salinan) ditujukan kepada pimpinan atasannya dan berhubungan dengan memburuknya situasi keamanan di Negev. Dalam salah satunya, dia memberikan peringatan kondisi darurat dan meminta bantuan pasukan dikirimkan ke benteng lainnya di wilayah itu untuk menghalau invasi bangsa Edom. Juga, di salah satu surat itu, “Beit YHWH” (Bait Elohim) juga disebutkan.

Inskripsi 1

Kepada Eliashib: Dan sekarang, berikan kepada orang Kittiym 3 bath anggur, dan tuliskan nama hari. Dan dari sisa tepung yang pertama, kirim satu homer untuk membuat roti bagi mereka. Berikan kepada mereka anggur dari bejana-bejana aganoth.

Inskripsi 24

Dari Arad 5 dan dari Kin[ah]…

dan kamu harus mengirim mereka ke Ramat-Negev melalui tangan Malkiyahu ben Kerab’ur dan dia harus menyerahkan mereka kepada Elisha ben Yirmiyahu di Ramat-Negev, supaya jangan sesuatu terjadi kepada kota itu. Dan perintah raja merupakan kewajiban atasmu demi nyawamu sendiri! Lihat, aku telah mengirim pesan untuk memperingatkan kamu hari ini: [Bawalah] orang-orang kepada Elisha: jika tidak Edom akan datang ke sana.

Inskripsi 40

Putramu Gemar[yahu] dan Nehemyahu menyam[but] Malkiyahu; Aku telah memberkati [engkau kepada Eloh]im dan sekarang: hambamu telah mendengar apa yang [engkau] telah katakan, dan aku [telah menuliskan] kepada tuanku [segala sesuatu yang] orang-orang [ing]inkan, [dan Eshiyahu da]tang dari padamu dan [tidak] seorang pun [memberikan itu kepada] mereka. Dan lihatlah engkau tahu [tentang surat-surat dari] Edom (yang) telah aku berikan kepada tuan[ku] [sebelum matahari] terbenam. Dan [E]shi[yah]u tidur [di rumahku], dan dia menanyakan surat itu [tapi aku tidak membe]rikan [itu]. Raja Yehuda harus tahu [bahwa ka]mi tidak dapat mengirimkan […, dan i]ni adalah kekejaman yang Edo[m telah lakukan].

Mengkonfirmasi Nabi Yeremia?

Bahkan lebih meyakinkan adalah kisah yang diceritakan oleh mungkin kebanyakan ostrakon yang dikenal dari periode itu, yang ditemukan di Lachish, kota Yehuda terbesar sesudah Yerusalem. Di dalam catatan tertulis, seorang perwira yang ditempatkan di luar kota melaporkan kepada komandannya mengenai kejatuhan benteng terdekat, dengan mengatakan, “Kami dapat melihat tanda-tanda dari Lakish, tapi kami tidak dapat lagi melihat Azekah.”

Para ahli menganggap ini sebagai konfirmasi dari kisah Alkitab di dalam Kitab Yeremia, yang menceritakan bahwa Azekah dan Lakish adalah benteng-benteng terakhir Yehuda yang jatuh sebelum Yerusalem dikepung dan dihancurkan oleh Raja Babel, Nebukadnezzar II.

Yeremia 34:7  ketika tentara raja Babel berperang melawan Yerusalem dan segala kota Yehuda yang masih tinggal, yaitu Lakhis dan Aseka, sebab kota-kota itulah yang masih tinggal di antara kota-kota Yehuda sebagai kota-kota yang berkubu. (TB)

lakish-ramp-700
Sisa-sisa timbunan yang digunakan untuk menaklukkan kota Yehuda, Lakish.

Tapi bagian yang paling signifikan dari proyek Universitas Tel Aviv lebih dari sekedar isi ostraka itu, dan berusaha mempelajari lebih jauh orang-orang yang menuliskannya. Ini dilakukan dengan analisa statistik yang dikembangkan oleh ketiga matematikawan yang tidak kenal lelah ini.

Untuk sekarang, eksperimen sedang dikerjakan terhadap huruf-huruf Arad: itu ditujukan untuk menentukan berapa banyak tangan berbeda yang menuliskan huruf-huruf yang dikirim ke pos garis depan kecil itu, yang kira-kira berisikan 50 prajurit.

Para peneliti memilih 17 dari sekitar 100 ostraka yang ditemukan di sana dan menulis software yang membandingkan tulisan tangan dari huruf-huruf alfabet yang paling sering digunakan.

“Apakah di sana ada seorang juru tulis yang menuliskan semua perintah-perintah untuk Eliashiv dan kawan-kawannya di dalam benteng itu, atau apakah ada banyak orang yang bisa membaca dan menulis? Apakah keahlian menulis sudah tersebar luas ataukah itu hanyalah alat untuk para elit?” Finkelstein bertanya-tanya.

Hasil analisa ini tertutup sebelum dipublikasikan dalam jurnal ilmiah. Tapi Finkelstein percaya ada cukup banyak bukti untuk menunjukkan bahwa pada akhir abad ke-7 SM, Yehuda merupakan kerajaan yang maju dengan tingkat kemampuan membaca yang tinggi.

“Medianya tersebar di mana-mana, hingga bahkan perwira militer di pos kecil garis depan terpencil menggunakannya,” kata Finkelstein. “Pasti ada sistem pendidikan yang luas untuk mendukung hal tersebut.”

“Lebih dari sekedar memberikan kita gambaran mengenai struktur Kerajaan Yehuda akhir, analisa ini adalah petunjuk bahwa karya-karya jenis literatur lain mungkin sedang berlangsung,” tambah Finkelstein.

Para ilmuwan masih memperdebatkan apakah teks Alkitab ditulis terlebih dahulu sebelum penghancuran Yerusalem atau sesudah Yehuda dideportasi kembali dari pengasingan mereka di Babel, di Persia atau bahkan mungkin pada periode Hellenistik akhir.

“Masalahnya adalah sejak 586 SM hingga periode Hasmonean kita hanya memiliki sangat sedikit, atau hampir tidak ada tulisan Ibrani di Yehuda,” kata Finkelstein kepada Haaretz. “Di sisi lain kita melihat aktivitas tulis-menulis yang sangat luas sebelum pembuangan, pada periode kerajaan akhir.”

Ini menunjukkan bahwa setidaknya sebagian dari Kitab Suci sudah ditulis sebelum pembuangan, kata Finkelstein. Dia sejak lama mendukung teori bahwa sebagian inti awal teks Alkitab kemungkinan telah dituliskan beberapa waktu sesudah penaklukan Assyria terhadap Kerajaan Israel, kira-kira tahun 720 SM, sementara wilayah kecil Yehuda berjuang untuk menerima pengungsi dari Kerajaan Utara yang dulunya makmur.

Dalam konteks ini, bagian dari kisah Alkitab berfungsi untuk menggabungkan tradisi yang berbeda dari dua Kerajaan ini dan menciptakan suatu landasan yang sama,” kata Finkelstein, “Tujuannya untuk menciptakan satu kesatuan, satu bangsa, satu Israel.”

lakish-7
Lakish

Referensi:

Ancient Pottery Shards Analyzed by Israeli Scientists Seem to Support Biblical Narrative

A High-tech Quest to Unlock the Secrets of Ancient Israelite Letters

Massive Ancient Discovery in Israel Confirms the Bible… Media Ignores

Israeli Scientist Says Ancient Pottery Shard Supports History Stated in the Bible

First Temple Era Pottery, Ostracon, Confirms Bible, Book Of Jeremiah

Intriguing Ancient Pottery That Could Confirm Biblical Story

Arad-Canaanite city and Israelite citadel in the Negev

Iklan