Kesaksian Kuno Tentang Penyaliban Yesus Kristus

Peristiwa penyaliban Yeshua haMashiach (Yesus Kristus) secara khusus memang didokumentasikan dengan sangat baik dan diterima sebagai sebuah fakta. Ada banyak sumber-sumber sejarah kuno yang memberi kesaksian tentang penyaliban Yesus Kristus termasuk empat Injil Perjanjian Baru (kurang lebih tahun 50-100 M), surat-surat Paulus (kurang lebih tahun 48-62 M), dan surat-surat non-Paulus (kurang lebih tahun 48-90 M). Peristiwa penyaliban Yesus tidak hanya dicatat dalam Perjanjian Baru, tetapi juga oleh sejumlah besar penulis-penulis sekuler. Itu juga disahkan kebenarannya oleh berbagai sejarawan non-Kristen dan penulis-penulis termasuk sejarawan Yahudi-Romawi Josephus (kurang lebih tahun 90-95 M), sejarawan Romawi Tacitus (kurang lebih 115 M), Lucian dari Samosota (kurang lebih abad ke-2 M), Mara Bar-Serapion (kurang lebih akhir abad ke-1 hingga awal abad ke-3 M), dan bahkan Talmud Yahudi (kurang lebih tahun 70-200 M). Ini kesaksian sejarah yang luar biasa untuk suatu peristiwa kuno, khususnya dari sumber-sumber yang berasal dari kurun waktu 20 tahun sesudah kematian Yeshua haMashiach (Yesus Kristus). Secara kontras, dapat dibandingkan dengan biografi pertama Alexander Agung yang baru ditulis 400 tahun sesudah kehidupannya.

Pertanyaan penting selanjutnya adalah, “Apakah Yesus bangkit dari kematian, membuktikan Diri-Nya sebagai Anak Elohim? Atau apakah terjadi sesuatu hal yang lain terhadap tubuh-Nya? Atau apakah Dia memang sebenarnya tidak pernah mati di salib?

Apakah Yeshua haMashiach (Yesus Kristus) benar-benar bangkit dari kematian pada hari pertama minggu itu, ataukah Kekristenan itu hanya berdasarkan kepercayaan kepada mitos saja?

Sangat menarik, ternyata banyak alasan-alasan sejarah yang kuat untuk mempercayai fakta bahwa Yesus Kristus benar-benar bangkit dari kematian.

Kunci terhadap jawaban ini ada pada kepentingan lokal yang dijalankan untuk melaksanakan eksekusi ini. Perkataan-perkataan Yesus yang berkuasa dan membuka wawasan banyak orang, dan banyaknya mujizat yang diperbuat-Nya telah membuat bangsa Yahudi mendesak dan meminta Dia menjadi raja mereka. Ini mulai mengancam stabilitas politik lokal pemerintahan Romawi dan kekuasaan religius para penatua Yahudi yang secara terang-terangan dikecam oleh Yesus. Bagi mereka, kematian Yesus secara mutlak dan alasan untuk menghadapi penyebaran berita-berita selanjutnya sangatlah penting, karena Yesus pernah menyatakan bahwa Dia akan bangkit dari kematian. Lebih jauh, Dia sudah pernah membangkitkan orang-orang lain dari kematian. Sebagai akibatnya, semua rencana dan antisipasi dijalankan untuk mengamankan mayat-Nya. Matius 27:62-66 (TB)

  1. Keesokan harinya, yaitu sesudah hari persiapan, datanglah imam-imam kepala dan orang-orang Farisi bersama-sama menghadap Pilatus,
  2. dan mereka berkata: “Tuan, kami ingat, bahwa si penyesat itu sewaktu hidup-Nya berkata: Sesudah tiga hari Aku akan bangkit.
  3. Karena itu perintahkanlah untuk menjaga kubur itu sampai hari yang ketiga; jikalau tidak, murid-murid-Nya mungkin datang untuk mencuri Dia, lalu mengatakan kepada rakyat: Ia telah bangkit dari antara orang mati, sehingga penyesatan yang terakhir akan lebih buruk akibatnya dari pada yang pertama.”
  4. Kata Pilatus kepada mereka: “Ini penjaga-penjaga bagimu, pergi dan jagalah kubur itu sebaik-baiknya.”
  5. Maka pergilah mereka dan dengan bantuan penjaga-penjaga itu mereka memeterai kubur itu dan menjaganya.

Alkitab menyatakan secara tidak langsung bahwa penyebab terakhir kematian Yesus adalah serangan jantung, ditandai oleh keluarnya air dan darah pada saat lambung Yesus ditikam tombak (hal ini dikonfirmasi oleh para ahli medis).

Untuk mengamankan mayat-Nya, penjaga Romawi ditempatkan di luar makam. Penjagaan Romawi seperti ini terdiri dari 16 prajurit, dimana mereka ada pergantian shift, dengan bergiliran tidur di malam hari (setiap empat jam, empat penjaga saling bergantian). Prajurit-prajurit ini semuanya menghadapi hukuman Romawi yang berat, yaitu hukuman mati dengan disalibkan, apabila mereka tertidur pada waktu jaga atau meninggalkan tempat tugas mereka. Jadi pernyataan bahwa semua penjaga itu tertidur, dengan pertimbangan adanya ancaman hukuman mati, sangatlah tidak masuk akal.

Untuk lebih memastikan lagi keamanan, batu seberat dua ton itu digulingkan di depan makam dan dipasangi meterai Pontius Pilatus di atasnya. Merusakkan meterai itu tanpa ijin resmi dari prajurit penjaga Romawi, akan berhadapan dengan hukuman disalib secara terbalik.

Masalah besar yang tidak dapat dijelaskan oleh para pemimpin Yahudi, meskipun sudah diantisipasi sedemikian rupa adalah:

Apa yang sebenarnya terjadi dengan mayat Yesus jika Dia tidak bangkit dari kematian, seperti yang dikisahkan di dalam Kitab Injil?

Musuh-musuh orang Kristen mula-mula, tidak pernah berdebat bahwa kuburan itu kosong. Mereka mengeluarkan pernyataan resmi bahwa murid-murid Yesus mencuri mayat-Nya ketika para penjaga sedang tertidur (dan imam-imam melindungi para penjaga itu dari gubernur). Ini tertulis juga di dalam tulisan sejarah yang dicatat oleh Justin Martyr, Trypho 108 dan Tertullian, De Spectaculis 30.

Cerita karangan ini dibutuhkan karena tidak ada seorang pun yang bisa memperlihatkan mayat Yesus, yang akan menghentikan penyebaran cerita kebangkitan-Nya untuk selamanya. Mencuri mayat Yesus adalah benar-benar tindakan yang tidak mungkin dilakukan, karena beberapa alasan:

  1. Keseluruhan 16 penjaga itu menghadapi resiko hukuman salib jika tertidur ketika sedang bertugas jaga atau meninggalkan tugas. Pastilah setidak-tidaknya satu orang penjaga masih berjaga-jaga.
  2. Murid-murid ada dalam keadaan shock, ketakutan, dan tercerai-berai, setelah melihat Guru mereka disiksa, dihujat, dan akhirnya mati disalibkan. Apakah masuk akal untuk berpikir bahwa mereka dengan cepat merancang suatu rencana brilian dan sempurna yang akan mereka laksanakan pada malam hari Shabbat itu, hari dimana semua orang Yahudi harus beristirahat dan segala kegiatan dibatasi?
  3. Apa motif yang ada di benak pikiran murid-murid? Jika Yesus bukanlah Anak Elohim seperti yang Dia katakan, mencuri mayat-Nya hanya akan menimbulkan kebohongan yang sama sekali tidak ada gunanya, dan murid-murid akan mati tanpa tujuan, mati konyol.

Analisa Penjelasan-penjelasan Lain

Apakah Yesus benar-benar mati? Penyaliban sering dilakukan pada zaman itu, dengan mempertontonkan kematian yang sangat menyakitkan yang dapat dilihat dengan jelas oleh banyak orang dengan penderitaan yang lama. Apakah mungkin para eksekutor profesional itu tidak tahu apakah seseorang sudah mati atau belum?

Fakta Realitas

Romawi sangat terkenal dengan keahliannya membunuh dan menyiksa korban-korban mereka. Pemikiran bahwa seseorang dapat selamat dari penyiksaan penyaliban, apalagi seperti yang dialami oleh Yesus, sangatlah tidak masuk akal. Lebih jauh lagi, jika Yesus masih bertahan hidup dari penyaliban dengan tubuh hancur lebur, sangatlah sulit untuk untuk memotivasi murid-murid-Nya untuk memulai kepercayaan yang baru. Yesus muncul di tengah-tengah mereka dengan tubuh berdarah-darah dan berkata, “Aku bangkit!” Yesus sudah pasti akan membutuhkan perawatan medis, dan tidak akan dipandang sebagai Penguasa Kehidupan yang bangkit dari kematian.

Tikaman tombak di jantung Yesus adalah untuk memastikan bahwa Dia benar-benar mati. Untuk seseorang yang merupakan ancaman politik seperti Yesus, mereka harus benar-benar yakin bahwa Dia sudah mati. Lalu jika Yesus tidak benar-benar mati, bagaimana mungkin orang yang sekarat itu bisa menggulingkan batu seberat dua ton dari dalam kuburan dan melarikan diri dari penjagaan sepasukan prajurit Romawi yang terlatih itu tanpa diketahui?

Apakah mayat-Nya dicuri di waktu malam? Mengingat bahwa belum ada senter dan night vision goggle atau kacamata dengan sensor infra merah pada zaman itu, mungkinkah segerombolan murid-murid yang ketakutan akan membawa obor dan melewati penjagaan ketat prajurit Romawi, menggulingkan batu dua ton, lalu keluar dengan menggotong mayat Yesus tanpa diketahui? Lagipula, itu hari Shabbat dan mereka tidak boleh melakukan pekerjaan berat. Dan lagi, dengan motif apa mereka mau melakukan itu?

Saksi Mata Kebenaran, Bersedia Mati untuk Menceritakan Kisah itu

Mati sebagai martir karena suatu keyakinan bukanlah hal yang khusus. Tapi manusia mana yang bersedia mati untuk suatu kebohongan? Orang-orang yang gila? Jika Yesus tidak benar-benar bangkit dari kematian dan murid-murid itu tidak berjumpa dengan Dia sesudah kebangkitan-Nya, apakah semua murid-murid rela menghadapi penderitaan dan kematian untuk sebuah kebohongan?

Murid-murid ada bersama Yesus secara terus-menerus selama tiga tahun. Mereka pasti tahu kebenaran tentang kebangkitan. Bohong tidak akan menghasilkan apa-apa karena pelayanan Yesus menjadi tidak ada gunanya, dan tidak ada yang dapat diharapkan lagi. Namun, catatan sejarah dan laporan-laporan mengenai keberanian murid-murid mengindikasikan bahwa mereka semuanya mati dengan cara kejam karena kepercayaan mereka (kecuali Yohanes). Yakobus dirajam, Petrus disalib secara terbalik, Paulus dipenggal, Tadeus dibunuh dengan ditembaki panah-panah, Matius dan Yakobus (anak Zebedeus) mati ditikam pedang dan orang-orang percaya lainnya disalibkan.

Kesaksian Katakombe

Di bawah kota Roma, terbentang 900 mil gua-gua pahatan (katakombe) dimana lebih dari tujuh juta orang Kristen, yang dibunuh karena iman mereka, dikuburkan. Orang-orang percaya lainnya bersembunyi dan beribadah di dalam gua-gua ini selama puncak penganiayaan orang Kristen. Inskripsi (tulisan ukiran) yang paling awal yang ada di dinding-dinding berasal dari tahun 70 M. Beberapa penghuni yang paling awal kemungkinan berkomunikasi secara langsung dengan para saksi mata kehidupan, kematian dan kebangkitan Yesus. Sejak kira-kira tahun 400 M, Katakombe dikubur dan ditutup dan “dilupakan” selama lebih dari 1000 tahun. Pada tahun 1578, mereka ditemukan kembali secara tidak sengaja. Hari ini, mereka dapat disaksikan sebagai monumen bisu atas begitu banyaknya orang yang bersedia mati daripada mengutuki Yesus atau bersujud di hadapan patung kaisar. Para martir Kristen sangat berbeda dari martir dunia lainnya karena fakta sejarah adalah dasar iman mereka – fakta-fakta yang dapat dibuktikan pada waktu itu – dan bukan hanya sekedar gagasan atau angan-angan.

catacombs-of-st-callixtus

Saksi-saksi yang Memusuhi Berbalik Menjadi Orang Kristen

Paulus, seorang pemimpin eksekutor terhadap orang-orang Kristen, meninggalkan kekayaan, kekuasaan dan kenyamanan sesudah melihat kebangkitan Kristus, kemudian menjadi penulis bagian besar Perjanjian Baru. Dua orang anggota Sanhedrin (yang tidak hadir saat Sanhedrin menjatuhi Yesus hukuman mati) menjadi murid-murid-Nya secara rahasia. Saudara kandung Yesus yang tidak percaya akhirnya menjadi orang percaya sesudah kebangkitan.

Bukti Arkeologi Tidak Langsung

Bukti bahwa orang-orang pada zaman Yesus percaya akan kebangkitan ditemukan pada peti mati yang terbuat dari tulang-belulang (osuarium) yang ditemukan di dalam sebuah kuburan termeterai di luar Yerusalem pada tahun 1945. Cetakan uang logam dari kira-kira tahun 50 M ditemukan di dalam peti mati-peti mati itu, menandakan bahwa penguburan terjadi pada kira-kira 20 tahun sesudah penyaliban Yesus. Tanda-tandanya dapat terbaca jelas, termasuk beberapa pernyataan yang mengungkapkan pengertian mereka akan kesanggupan Yesus untuk mengalahkan kematian.

Contoh-contoh tulisan (dalam bahasa Yunani) mengenai harapan bagi orang-orang terkasih yang sudah mati, antara lain: “Yesus, tolong” dan “Yesus, biarlah dia bangkit.” Peti mati-peti mati ini juga terdapat beberapa salib, yang dengan jelas ditandai dengan arang. Ini bukti kuat bahwa orang Kristen mula-mula percaya akan kesanggupan Yesus untuk mengalahkan kematian. Itu juga berhubungan dengan pemahaman akan kemenangan atas kematian terhadap salib.

Sebelum peristiwa kebangkitan, “merampok kuburan” tidak dianggap pelanggaran hukum berat. Peristiwa kebangkitan Yesus mengubah itu semuanya. Suatu inskripsi yang ditemukan di sebuah kuburan di Nazareth memperingatkan bahwa siapa pun yang kedapatan mencuri dari kuburan itu akan menerima hukuman mati. Para ilmuwan percaya inskripsi ini ditulis paling awal tahun 37 SM pada zaman Tiberius hingga paling akhir pada zaman Claudius (41 – 54 M). Yang terakhir, itu artinya tidak lama sesudah peristiwa penyaliban Yesus. Dan secara khusus, kampung halaman asal Yesus, Nazareth, jelas menjadi kota “yang dimaksud” oleh para pejabat dimana hukum ini diterapkan.

Bukti Kebangkitan: Pengorbanan Total Murid-murid

Tidak seorang pun dapat membantah bahwa kebangkitan menyebabkan perubahan dramatis dalam kehidupan para pengikut Yesus.

Mungkin perubahan terbesar yang disebabkan oleh kebangkitan Yesus adalah terhadap karakter murid-murid. Mereka sebelumnya malu-malu, ketakutan, dan depresi setelah menyaksikan penangkapan, penganiayaan, penderitaan dan penyaliban Yesus. Tapi sesudah kebangkitan-Nya, mereka menjadi giat, sangat berani dan penuh sukacita.

Petrus adalah contoh jelas. Dia sebelumnya menyangkal Yesus di hadapan seorang hamba perempuan rendahan. Tapi sesudah kebangkitan Yesus, dia berdiri di pelataran Bait Suci berhadapan dengan para pemimpin Yahudi yang menjatuhi Yesus hukuman mati di salib (Kisah 4:20). Kisah 4:18-20 (ILT)

  1. Dan setelah memanggil keduanya, mereka (para pemimpin Yahudi, penatua dan ahli Torah) memberi perintah kepadanya agar sama sekali tidak berbicara ataupun mengajar dalam Nama Yesus.
  2. Namun sambil menanggapi, Petrus dan Yohanes berkata kepada mereka, “Putuskanlah, apakah benar di hadapan Elohim untuk mendengarkan kamu lebih daripada Elohim?
  3. Sebab kami tidak mungkin untuk tidak mengatakan apa yang telah kami lihat dan dengar.”

Jika kita mengamati murid-muris pasca kebangkitan Yesus, dapat terlihat mereka memiliki kehidupan. Situasi yang mereka hadapi bukanlah rintangan bagi mereka. Mereka memiliki sukacita di tengah-tengah penderitaan dan damai sejahtera di tengah-tengah kekacauan. Tidak ada yang dapat menyingkirkan gairah mereka yang berkobar-kobar yang berasal dari hidup kekal yang mereka terima dari Kristus.

Murid-murid begitu percaya akan kebangkitan sehingga mereka menyerahkan nyawa mereka untuk menceritakan berita itu. Yang pertama mati adalah Yakobus saudara Yohanes, yang dibunuh dengan pedang oleh perintah Raja Herodes. Kisah 12:1-2 (ILT)

  1. Dan pada saat itu, Raja Herodes menjatuhkan tangan untuk menyiksa beberapa orang dari gereja.
  2. Dan dia membunuh Yakobus, saudara Yohanes, dengan pedang.

Tradisi di gereja menceritakan bahwa Yohanes secara ajaib selamat sesudah dimasukkan ke dalam kuali berisi air mendidih, kemudian selanjutnya diasingkan ke pulau Patmos; Petrus disalibkan di Romawi secara terbalik; Matius dibunuh dengan pedang di sebuah kota yang jauh di Ethiopia; Yakobus anak Alfeus dilemparkan dari puncak bumbungan Bait Suci, lalu dipukuli hingga mati dengan peralatan tukang besi; Filipus digantung di pilar di Hierapolis di Phrygia; Bartolomeus dikuliti hidup-hidup; Andreas diikat pada kayu salib – dan berkhotbah kepada para penganiayanya hingga dia mati; Thomas dilempar tombak hingga tembus di India Timur; Yudas ditembak sampai mati dengan anak-anak panah; Matias pertama-tama dirajam kemudian dipenggal; Markus mati di Alexandria Mesir sesudah diseret dengan kejam di sepanjang kota.

Pertanyaannya: Apakah seseorang bersedia mati demi sebuah kebohongan? Apakah murid-murid mau menderita penganiayaan seperti ini demi orang yang mati?

Tidak. Mereka menyaksikan Tuhan Yesus yang bangkit – mereka menyerahkan nyawa mereka untuk melayani Dia. Mereka tidak lagi ketakutan akan kematian karena mereka telah menemukan arti kehidupan yang sebenarnya. Mereka diubahkan, karena mereka hidup di dalam kehidupan yang dibangkitkan. 

Bukti Petrus

Bagaimana Petrus menjelaskan mengenai kebangkitan Yesus pada Hari Raya Pentakosta? Dia adalah salah seorang murid yang paling dekat dengan Yesus, dan dia ada di sana menyaksikan penyaliban-Nya dan dia berbincang-bincang dengan Yesus sesudah Dia bangkit dari kematian.

Tapi di dalam khotbah Pentakostanya, Petrus tidak hanya sekedar mengatakan, “Aku tahu Elohim membangkitkan Dia kembali karena aku sudah melihat Dia.” Sebaliknya dia menyatakan, “Aku tahu Elohim telah membangkitkan-Nya karena tidak mungkin bagi Dia untuk ada di dalam cengkeraman maut.” Ini dicatat dalam kata-kata Petrus dalam Kisah 2:24, dimana Yesus disebutkan sebagai Dia…

“…yang telah Elohim bangkitkan dengan menyingkirkan penderitaan maut, karena tidaklah mungkin Dia dicengkeram olehnya.” Kisah 2:24 (ILT)

Kata-kata Petrus mewakili pernyataan rasuli pertama tentang kebangkitan. Petrus menyatakan dengan kepastian absolut, “Elohim membangkitkan Yesus – orang yang kamu pakukan di kayu salib.”

Ingatlah bahwa Petrus berbicara di hadapan rakyat di Yerusalem, kota dimana Yesus mati. Banyak dari rakyat itu yang menjadi saksi mata penyaliban Yesus, yang terjadi di sana kurang dari dua bulan sebelumnya. Eksekusi-Nya menjadi peristiwa penting di kota itu, yang tidak diragukan lagi telah menjadi topik utama pembicaraan orang banyak untuk waktu yang lama. Petrus berbicara kepada orang-orang yang dengan penuh perhatian mendengarkan apa yang dia bicarakan.

Dalam kata-kata Petrus kepada mereka, kebangkitan Yesus adalah fakta sejarah yang sama nilainya dengan penyaliban – suatu fakta dengan dampak langsung yang sangat besar: Tidak mungkin bahwa Yesus dapat dicengkeram oleh kematian.

Dunia berkata, “Tidak mungkin Yesus bangkit dari kematian.” Tapi Petrus berkata, “Tidak mungkin bagi Yesus untuk tidak dibangkitkan dari kematian.”

Bagaimana Petrus dapat membuat pernyataan seperti itu? Argumennya didasarkan bukan sekedar atas bukti nyata yang dia lihat, tapi atas dua hal lainnya.

Pertama, Petrus mendasarkan pernyataannya itu atas nubuat Alkitab. Dengan menyatakan bahwa tidak mungkin kematian mencengkeram Yesus, Petrus mengungkapkan bahwa Daud telah berkata “mengenai Dia” (Kisah 2:25). Kebangkitan Yesus sudah dinubuatkan. Dan satu kali Elohim berfirman, maka itu jadi. Yesus harus bangkit kembali karena Firman Elohim adalah kebenaran; Dia tidak bisa salah. Satu kali firman nubuat diucapkan, adalah sifat Elohim bahwa Dia tidak dapat gagal menggenapinya.

Yesaya 55:11 (ILT) Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku, ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, melainkan akan menggenapi apa yang Aku perkenan, dan akan berhasil dalam apa yang Aku perintahkan. (ILT)

Petrus mengutip Mazmur 16 dan berkata bahwa Daud berbicara tentang Messias ketika dia berkata, “Karena Engkau tidak akan meninggalkan jiwa-Ku di dalam alam maut (Yunani: hades), ataupun mengizinkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. Kisah 2:27 (ILT)

Petrus sedang berbisik ke dalam jiwa-jiwa orang Yahudi yang berdiri di hadapannya, karena orang Yahudi tahu bahwa satu kali Elohim telah berfirman melalui seorang nabi, itu sama artinya dengan sudah terjadi.

Tentu saja, kebangkitan Kristus tidak hanya dinubuatkan hanya oleh nabi-nabi Perjanjian Lama, tapi oleh Tuhan Yesus sendiri.

Matius 16:21 (ILT) Sejak saat itu, Yeshua mulai menunjukkan kepada para murid-Nya bahwa seharusnyalah Dia pergi ke Yerusalem dan menderita banyak hal dari para tua-tua dan imam-imam kepala dan para ahli kitab, dan dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.

Nubuat ilahi adalah jaminan bahwa kematian lahiriah tidak dapat menahan Yesus di dalam kuburan.

Ada alasan lain Petrus menyampaikan bahwa kebangkitan itu sebagai fakta. Petrus sedang berbicara tentang arti sebenarnya dari “kehidupan” itu sendiri. Dia mendasarkan pernyataannya atas sifat Kristus. Karena “siapakah” Kristus itu, tidak mungkin kematian dapat menahan-Nya di dalam kuburan.

Petrus sedang meyakinkan bahwa kehidupan adalah sifat alami Yesus. Petrus selanjutnya berbicara kepada mereka bahwa Yesus adalah “Yang Kudus dan Benar” dan “Penguasa Kehidupan.” Kisah 3:14-15 (ILT)

  1. Dan kamu telah menyangkal Yang Kudus dan Benar itu, bahkan kamu meminta seseorang, seorang pembunuh, dibebaskan bagi kamu.
  2. Dan kamu telah membunuh Penguasa kehidupan, Dia yang telah Elohim bangkitkan dari antara orang mati. Tentang Dia, kami adalah saksi-saksi.

Yesus adalah Penguasa Kehidupan, dan tanpa Dia, tidak ada kehidupan – tidak bagi siapa pun. Tidak mungkin Yesus tetap ada di dalam kematian, karena Dialah kehidupan itu. Dia pasti keluar dari kubur atau menyangkali sifat alami-Nya sebagai Penguasa Kehidupan.

Pengertian Petrus akan sifat Kristus dimiliki juga oleh murid-murid lain yang mengenal Yesus. Rasul Yohanes, mengawali Injilnya dengan menyatakan,

Yohanes 1:4 (ILT) Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.

Yesus sendiri mengajarkan ini dengan sangat jelas. Yesus berkata kepada Maria dan Marta, “Akulah kebangkitan dan hidup. Siapa yang percaya kepada-Ku, walaupun sudah mati, dia akan hidup. Yohanes 11:25 (ILT)

Dan kepada murid-murid-Nya…

Yohanes 14:6 (ILT) Yeshua berkata kepadanya, “Akulah jalan, dan kebenaran, dan hidup. Tidak seorang pun datang kepada Bapa jika tidak melalui Aku.”

Yesus berkata lagi tentang “kehidupan yang ada di dalam Diri-Nya” dengan kata-kata ini: Yohanes 5:26-29 (ILT)

  1. Sebab, sama seperti Bapa mempunyai hidup di dalam diri-Nya, demikian pula Dia memberikan kepada Putra (Yeshua) untuk memiliki hidup di dalam diri-Nya.
  2. Dan Dia pun memberikan otoritas kepada-Nya untuk melaksanakan penghakiman, karena Dia adalah Anak Manusia.
  3. Janganlah heran akan hal itu, sebab saatnya tiba ketika semua orang yang berada di dalam kubur akan mendengarkan suara-Nya.
  4. Dan mereka akan keluar, yaitu mereka yang telah melakukan hal-hal yang baik, menuju kebangkitan bagi kehidupan; sedangkan mereka yang telah melakukan hal-hal yang jahat, menuju kebangkitan bagi penghakiman.”

Yesus berkata bahwa Bapa – yang memiliki “hidup di dalam Diri-Nya sendiri” – juga telah memberikan kepada Yesus “hidup di dalam Diri-Nya sendiri.” Dan hidup ini bukanlah sesuatu yang dapat dirampas oleh siapa pun dari pada-Nya, karena Yesus adalah kehidupan. Dia memiliki hidup di dalam Diri-Nya sendiri dan “ada di atas” kematian. Dia hidup selamanya karena Dia adalah kehidupan dan telah menjadi sumber kehidupan bagi semua orang yang percaya di dalam Dia.

Di awal kita melihat bagaimana Satan berusaha menahan kita dari melihat kebenaran. Kebenaran Elohim adalah: satu-satunya yang dapat memisahkan kita dan menyingkirkan kita dari kehidupan yang kekal adalah dosa yang tidak terampuni. Satan dapat mencobai kita, mencela kita, dan mencemooh kita dengan dosa, tapi dia tidak dapat membinasakan orang yang percaya kepada Yesus. Ketika Kristus mati demi dosa-dosa kita dan bangkit kembali, Dia mengambil satu-satunya hal yang memisahkan kita dari Elohim – dosa yang tidak terampuni. Kebangkitan-Nya membuktikan bahwa Dia adalah kehidupan, dan itu membuktikan keaslian hidup kekal yang Dia tawarkan kepada kita, jika kita datang kepada-Nya untuk menerima keselamatan.

Yohanes 6:40 (ILT) Dan inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu bahwa setiap orang yang melihat Putra (Yeshua) dan percaya kepada-Nya, dia akan memperoleh hidup kekal, dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.”

Dan satu kali kita mengerti bahwa di mata Yesus, kematian bukanlah soal mati lahiriah, maka kita juga dapat menyimpulkan bahwa kehidupan bukanlah hanya soal lahiriah. Kebangkitan kepada hidup yang baru bukan sekedar hal-hal lahiriah. Ada transaksi spiritual yang terjadi, yang memberikan kehidupan yang baru kepada orang yang percaya. Dan kuasa yang membangkitkan Kristus dari kematian itu benar-benar kuasa yang sama yang kita alami sementara kita berjalan di dalam Kristus, pemberi hidup kekal itu.

Seperti yang dikatakan Rasul Paulus,

Roma 6:5 (ILT) Sebab, jika kita telah menjadi satu dengan keserupaan kematian-Nya, demikian pula kita akan disatukan oleh kebangkitan. (ILT)

Esensi dari keselamatan adalah – kehidupan baru di dalam Messias Yeshua (Kristus Yesus).

Referensi:

Did the Resurrection Really Happen?

Resurrection Proof: The Disciples’ Sacrifice

Crucifixion Death Like Jesus Experienced is ‘Medical Catastrophe,’ Says Physician

Roman Crucifixion Methods Reveal the History of Crucifixion

Iklan