Foto di atas adalah jejak kaki raksasa 6 jari, di Mpuluzi, Afrika Selatan. Image: Steve Quayle & Wendy Selvig

[Bab 1] [Bab 2] [Bab 3]

Dalam Kitab Kejadian 6:4, Alkitab menuliskan tentang keberadaan ras raksasa di bumi pada zaman purbakala, yang disebut Nephilim. Mereka ini adalah hasil perkawinan antara anak-anak Elohim (benei ha’Elohim: para malaikat) yang jatuh dengan anak-anak perempuan manusia (benot haAdam).

Kejadian 6:4 Pada hari-hari itu, para raksasa (Nephilim) telah ada di bumi, bahkan juga sesudahnya, ketika anak-anak Elohim (bene ha-Elohim; para malaikat) menghampiri anak-anak perempuan manusia (benoth Adam) dan mereka telah melahirkan baginya; mereka adalah orang-orang perkasa (gibborim) yang ada sejak lama, orang-orang yang ternama. (ILT)

Catatan Alkitab tentang keberadaan para raksasa ini juga didukung oleh literatur-literatur Yahudi kuno lainnya, seperti Kitab HenokhKitab Yobel dan Kitab Para Raksasa. Keempat kitab-kitab ini kesemuanya juga ditemukan di antara naskah-naskah kuno Gulungan-gulungan Kitab di Laut Mati, di dalam gua-gua wadi Qumran.

Kitab Henokh 6:1-6

  1. Dan terjadilah, setelah anak-anak manusia bertambah banyak pada hari-hari itu, anak-anak perempuan yang cantik dan rupawan telah lahir bagi mereka.
  2. Dan para malaikat, anak-anak surgawi, memandangi dan bernafsu kepada mereka, dan berkata satu sama lain, “Lihatlah, kita akan memilih bagi diri kita sendiri istri dari antara anak-anak manusia, dan akan melahirkan anak-anak bagi kita.”
  3. Dan Semjâzâ, pemimpin mereka, berkata kepada mereka, “Aku takut bahwa mungkin kamu tidak bersedia melakukan perbuatan ini, dan aku sendiri akan menderita karena dosa besar ini.”
  4. Kemudian semua menjawab dia dan berkata, “Kita semua akan bersumpah, dan mengikatkan diri bersama-sama dengan kutukan, bahwa kita tidak akan membatalkan rencana ini, tapi akan menjalankan rencana ini.”
  5. Kemudian mereka semua bersumpah bersama-sama, dan mengikatkan diri satu sama lain dengan kutukan; mereka semuanya ada dua ratus malaikat.
  6. Dan mereka turun di Ardîs, yaitu puncak Gunung Hermon; dan mereka menyebutnya Gunung Hermon, karena mereka telah bersumpah di atasnya dan mengikatkan diri bersama-sama dengan kutukan.

Kitab Henokh 7:1-6

  1. Dan mereka mengambil bagi diri mereka sendiri istri, dan masing-masing memilih untuk dirinya sendiri seseorang, dan mereka mulai mendekati perempuan-perempuan itu, dan bersetubuh dengan mereka, dan mengajari mereka mantera dan ilmu sihir, dan memperkenalkan mereka cara pemotongan akar-akaran dan kayu-kayuan.
  2. Dan mereka mengandung dan melahirkan raksasa besar yang tingginya tiga ribu ells.
  3. Mereka ini melahap semua hasil jerih payah manusia sampai-sampai manusia tidak dapat bertahan lagi.
  4. Kemudian para raksasa berbalik menyerang manusia untuk memakan mereka.
  5. Dan mereka mulai berbuat dosa kepada burung-burung dan binatang-binatang, kepada binatang-binatang yang merayap, dan ikan-ikan, dan saling memakan daging mereka sendiri, dan meminum darahnya.
  6. Dan bumi mengeluh karena kejahatan mereka.

Hal yang sama juga dituliskan oleh Kitab Yobel:

Kitab Yobel 5:1 Dan terjadilah ketika anak-anak manusia mulai bertambah banyak di muka bumi dan anak-anak perempuan lahir bagi mereka, anak-anak Elohim memandang mereka pada suatu tahun dalam yobel ini, bahwa mereka itu cantik-cantik untuk dipandang, dan mereka semuanya mengambil bagi diri mereka sendiri istri-istri sesuai pilihan mereka, dan mereka melahirkan bagi mereka anak-anak lelaki dan mereka itu raksasa-raksasa.

Fragmen-fragmen Kitab Para Raksasa yang ditemukan di Gua Qumran, juga menggambarkan hal yang sama:

1Q23 Frag. 9 + 14 + 15 2[ . . . ] mereka tahu rahasia-rahasia dari [ . . . ] 3[ . . . do]sa sangat besar di bumi [ . . . ] 4[ . . . ] dan mereka membunuh banyak [ . . ] 5[ . . . mereka memperanakkan] raksasa-raksasa [ . . . ]

4Q531 Frag. 2 [ . . . ] mereka mencemarkan [ . . . ] 2[ . . . mereka memperanakkan] raksasa-raksasa dan monster-monster [ . . . ] 3[ . . . ] mereka memperanakkan, dan, lihatlah, seluruh [bumi menjadi rusak . . . ] 4[ . . . ] dengan darahnya dan oleh tangan para [ . . . ] 5[raksasa] yang tidak mencukupi bagi mereka dan [ . . . ] 6[ . . . ] dan mereka berusaha untuk memangsa banyak [ . . . ] 7[ . . . ] 8[ . . . ] monster-monster menyerangnya.

Kitab Para Raksasa memang ditemukan dalam kondisi hancur dan sudah tidak utuh lagi. Namun dari potongan-potongan itu, kita bisa mendapatkan gambaran mengenai apa yang terjadi pada masa itu: keberadaan para raksasa dan adanya makhluk lain yang disebut/diterjemahkan sebagai monster-monster. Mereka ini merusak seluruh bumi.

Selain tulisan-tulisan Ibrani kuno ini, kita juga sering mendengar cerita-cerita tentang para raksasa pada zaman purbakala, demikian juga dengan penemuan-penemuan kerangka raksasa dari seluruh dunia. Namun sekarang ini nampaknya agak sulit untuk mendapatkan gambar-gambar kerangka manusia raksasa yang asli, dan membedakannya dengan yang palsu, karena mayoritas orang-orang sekarang ini bergantung kepada institusi-institusi atau perusahaan-perusahaan yang dikendalikan oleh para elite (okultis), yang mengendalikan seluruh informasi-informasi yang beredar di dunia: mana yang boleh diketahui dan sejauh mana itu dibuka, dan mana yang disensor dan mana yang dipalsukan atau disinformasi. Orang-orang ini menyisipkan gambar-gambar palsu ke dalam network supaya kita tidak bisa mendapatkan kepastian yang benar dari semuanya ini dan akan meragukan semuanya.

Hal ini tidak hanya terjadi dalam kasus keberadaan kerangka-kerangka raksasa saja, namun terhadap semua hal yang berhubungan dengan kehidupan manusia di dunia. Sebagai contoh, 90% media massa di Amerika Serikat dikuasai oleh 5 perusahaan konglomerat raksasa: Time Warner (a.l. CNN, HBO, Time, Warner Bros), Disney (a.l. ABC, ESPN, Pixar, Miramax, Marvel Studio), Murdoch’s News Corporation (a.l. Fox, Wall Street Journal, New York Post), Bertelsmann of Germany (a.l. Comcast, NBC, Universal Picture, Focus Features), dan Viacom/CBS (a.l. MTV, Nick JR, Bet, CMT, Paramount Pictures, Showtime, Smithsonian Channel, NFL, Jeopardy, 60 Minutes). Kekuasaan mereka meliputi media surat kabar, majalah, buku, radio, stasiun TV, studio film, dan sebagian besar berita-berita di internet. Konglomerat-konglomerat media ini bertanggung jawab besar dalam menanamkan dan membentuk nilai-nilai sosial, politik, ekonomi, dan moral baik untuk orang dewasa maupun anak-anak di Amerika Serikat dan seluruh dunia.

media-infographic-copy

Dalam artikel Arsitektur Cyclopean: Bangunan Peninggalan Raksasa Nephilim Pra-Banjir Besar dan Koneksi Roswell dan Gunung Hermon: Alien adalah Iblis, Anda akan dapat menemukan benang merah yang menghubungkan keberadaan para elite dunia ini dengan nenek moyang mereka dari zaman Pra-Banjir Besar.

Berikut ini beberapa gambar yang menunjukkan jejak-jejak kaki peninggalan para raksasa yang ditemukan di seluruh dunia. Beberapa di antaranya kemungkinan palsu, dan yang lainnya membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan kebenarannya. Namun semuanya ini cukup menarik untuk dipelajari dan diperhatikan.

Jejak-jejak Kaki di Batu

Di India, ini dipercayai sebagai jejak kaki dewa Hanuman:

Banyak orang yang sudah mengetahui kisah tentang dewa Hanuman, pengikut setia dewa Rama yang disebutkan dalam Kitab Ramayana. Sisa-sisa keberadaan Hanuman pada zaman purbakala di bumi ada dalam bentuk jejak-jejak kaki raksasa yang tercetak pada batu, tempat di mana dia melompat dan mendarat di beberapa negeri. Berikut ini empat tempat di mana jejak kaki Hanuman dapat dilihat.

footprint-01
Jejak kaki dewa Hanuman di Thailand

Gambar di atas ini dipercayai adalah jejak kaki Hanuman di Thailand. Di Thailand ada buku yang dinamai “Ramakien” yang artinya “Kemuliaan Rama“. Ini merupakan versi Thailand dari kitab epik Sanskrit kuno Ramayana. Ibukota kuno Thailand dulunya bernama “Ayutthaya“, yang dinamai menurut ibukota dewa Ramachandra di Ayodhya di India. Ibukota Bangkok sekarang ini dulunya merupakan pos perdagangan kecil dari Ayutthaya, yang berjarak 40 kilometer jauhnya.

footprint-02
Jejak kaki raksasa di Lepakshi, Andhra Pradesh

Tiga gambar berikut ini menunjukkan jejak kaki di Lepakshi di Andhra Pradesh. Beberapa legenda mengatakan jejak kaki ini milik dewa Hanuman, dan lainnya mengatakan itu jejak kaki dewi Sita.

Kota historis Lepakshi memiliki hubungan dengan peristiwa yang tertulis dalam epik Ramayana India. Ketika raksasa Ravana menculik Sita Devi (Dewi Sita) dan membawanya pergi ke Lanka, seekor burung yang bernama Jatayu berperang melawannya. Dia tidak dapat bertarung lama dan akhirnya jatuh di tempat ini. Menurut Valmiki Ramayana, dewa Rama yang ditemani oleh Lakshmana menjumpai burung Jatayu yang sekarat di tempat ini. Mereka menolongnya mencapai moksha dengan mengucapkan kata-kata “Le Pakshi,” yang dalam bahasa Telugu artinya “Bangkitlah, burung.” Karena itu nama tempat ini menjadi Lepakshi.

footprint-03
Jejak kaki raksasa di Lepakshi, Andhra Pradesh
footprint-04
Jejak kaki raksasa di Lepakshi, Andhra Pradesh

Gambar berikut ini adalah jejak kaki dewa Hanuman di Sri Lanka. Dipercayai bahwa ketika Hanuman melompat terbang dari India ke Sri Lanka, dia mendarat di titik ini dengan tenaganya yang begitu besar sehingga jejak kakinya meninggalkan bekas di batu yang keras.

footprint-05
Jejak kaki dewa Hanuman di Sri Lanka

Di Penang, Malaysia juga ada jejak kaki dewa Hanuman, yang dipelihara di dalam sebuah kuil kecil. Para peziarah melemparkan koin-koin pada jejak kaki ini untuk mendapatkan berkat keberuntungan.

footprint-10
Jejak kaki dewa Hanuman di Malaysia

Rama setu

rama-setu-3

rama-setu-4

Foto angkasa NASA: diduga ini merupakan lokasi sisa-sisa jembatan Rama Setu (Jembatan Rama), yang menghubungkan India dengan Sri Lanka. Dari tulisan-tulisan kuno dan beberapa peta kuno lainnya menguatkan kepercayaan Hindu dan geografis bahwa ini merupakan jembatan purbakala. Dalam epik Ramayana, jembatan ini dibangun oleh Rama dan Lakshmana dengan bantuan Hanuman dan pasukan Vanara untuk mencapai Lanka dengan maksud untuk membebaskan istri dewa Rama, Sita, yang diculik oleh dewa raksasa Ravana. Vanara merupakan ras setengah manusia-setengah kera yang tinggal di hutan-hutan. Dalam Ramayana dikatakan, Indrajit membunuh 670 juta pasukan Vanara dalam satu hari saja, hampir memusnahkan seluruh ras manusia kera ini.

Indrajit atau Meghanada adalah pangeran Langka dan seorang penakluk Indra Loka (surga). Dia disebutkan dalam epik Ramayana sebagai putra raja iblis Ravana. Ravana menginginkan putranya menjadi pengikut besar Deva Shiva dan menjadi setara dengan Shiva dalam kemampuan berperang. Sesuai permohonan Ravana, Indrajit dilimpahi kekuasaan menjadi seorang pejuang yang setara Deva Shiva.

Dia adalah seorang Mahamaharathi yang perkasa. Dalam epik Hindu, seorang Maharathi adalah seorang pejuang yang menguasai segala jenis senjata dan keahlian berperang. Dia dianggap pejuang yang paling berkuasa dan satu-satunya yang menguasai tiga senjata pamungkas Trimurti, yaitu Brahmanda astraVaishnava astra, dan Pashupatastra. Dia mendapatkan segala jenis senjata-senjata surgawi dari Gurunya: Shukra, Deva Brahma, Vishnu dan Shiva. Dengan mengalahkan deva-deva di surga, dia mengambil seluruh senjata-senjata mereka dan menjadi pemilik segala jenis senjata ilahi dari Deva, Asura dan Trimurti. Dia bahkan dua kali mengalahkan Rama dan Lakshmana, yang merupakan jelmaan Deva Vishnu.

Senjata Brahmanda astra, dikatakan memiliki energi untuk menghancurkan alam semesta atau Brahmand (14 dunia) menurut kosmologi Hindu. Dalam Mahabharata tertulis: Parasurama, Bhisma, Drona dan Karna mempunyai pengetahuan untuk menggunakan senjata ini. Selama perang Mahabharata, Guru Drona hendak menggunakan senjata ini untuk melawan pasukan Pandawa, namun karena permintaan para Deva dan leluhur, Drona menarik kembali senjata ini karena itu akan memusnahkan sama sekali pasukan Pandawa yang berperang di pihak yang benar. Seperti dicatat dalam purana Hindu, ketika senjata ini digunakan, itu akan menyebabkan “samudera akan mendidih karena panasnya dan bumi dan pegunungan akan melayang ke udara dan segala sesuatu akan terbakar tanpa meninggalkan abu.”

rama-setu-1
Rama Setu

Pashupatastra adalah senjata paling menghancurkan, dahsyat, dan yang tidak dapat ditangkal dari seluruh senjata-senjata yang disebutkan dalam mitologi Hindu. Senjata ini merupakan senjata pribadi Deva Shiva, Kali, dan Adi Para Shakti. Pashupatastra sanggup menghancurkan ciptaan dan memusnahkan segala makhluk. Dalam perang Mahabharata, Arjuna memperoleh senjata ini dari Deva Shiva. Dalam Mahabharata dituliskan, dengan senjata Pashupatastra inilah Mahadeva yang termashyur pada zaman dahulu kala, membakar dan memusnahkan dalam sekejap mata tiga kota Asura. Senjata itu, yang ditembakkan oleh tangan Mahadeva, dan tanpa diragukan, dalam separuh waktu yang dibutuhkan untuk mengedipkan mata, dapat memusnahkan seluruh alam semesta bersama-sama seluruh makhluk yang bergerak maupun tidak bergerak. Di dalam alam semesta tidak ada makhluk, bahkan deva, yang tidak dapat dibunuh oleh senjata ini.

Sigiriya, Gunung Batu Singa

Gambar-gambar berikut ini dipercayai sebagai istana raja Iblis Ravana di Sri Lanka: gunung Batu Karang Singa Sigiriya.

sigiriya-1
Gunung Batu Sigiriya

Ravana adalah anak seorang Brahmana, bernama ‘Vishrava’ yang kawin dengan seorang putri bernama “Kaikesi”. Kaikesi adalah anak perempuan dari “Sumali” raja Daitya (Iblis). Ravana adalah anak sulung mereka. Dia diberi julukan “Dasagriva” atau “Dashanana” karena dipercayai bahwa dia mempunyai sepuluh kepala, dan punya kekuasaan dan kekuatan sepuluh orang. Ravana mempunyai dua orang saudara, Vibhishana dan Kumbhakarna, dan seorang saudari, Meenakshi.

sigiriya-5
Gunung Batu Sigiriya

Dalam mitologi Hindu, Daitya adalah ras Asura yang merupakan anak-anak keturunan dari dewi Diti dan Kashyapa. Mereka adalah ras raksasa-raksasa jahat yang berperang melawan Deva-deva karena mereka iri hati terhadap saudara-saudara tiri Deva mereka.

sigiriya-3
Gunung Batu Sigiriya

Menurut buku “Ravana, Raja Lanka”, Ravana tidak kalah perang melawan dewa Rama, tetapi karena “pengkhianatan” istrinya Mandodari dan saudara tirinya, Vibhishana “yang memberikan rahasia-rahasia perang kepada musuh-musuhnya.”

sigiriya-4
Gunung Batu Sigiriya

Kerajaan Ravana membentang di wilayah yang sangat luas meliputi Nuwara Eliya, Badulla, Palonnaruwa, Anuradhapura, Kandy. Peradaban Ravana merupakan peradaban yang sangat maju. Kebudayaan ini dihancurkan oleh kebangkitan ras Arya yang dipimpin oleh Rama.

sigiriya-2
Gunung Batu Sigiriya

Ravana sendiri dikatakan tinggal di Sigiriya, yang sekarang merupakan tempat warisan budaya UNESCO, yang terletak 170 kilometer dari kota Colombo, Sri Lanka. Dia adalah anggota dari ras Yaksha “yang sangat maju dan cerdas.”

Raja Ravana digambarkan sebagai seorang ahli di antara para pejuang, seorang spesialis di antara tabib-tabib, seorang Rishi di antara para astrolog, dan negarawan yang superior di antara para pemimpin, dan seorang maestro di antara para pemusik, menguasai teknologi dan strategi perang. Menurut mitologi Hindu, Ravana juga dikatakan memiliki “Pushpaka Vimana“, mesin terbang yang diperlengkapi persenjataan perang.

sigiriya-6
Gunung Batu Sigiriya

Selain jejak-jejak kaki dewa Hanuman, ada banyak lagi jejak-jejak kaki raksasa yang ditemukan di seluruh dunia, yang menunjukkan keberadaan makhluk-makhluk super power di bumi pada zaman purbakala. Dalam kitab suci Hindu, ada sangat banyak referensi tentang makhluk-makhluk yang sangat berkuasa pada zaman-zaman sebelumnya. Selain keberadaan para Deva (Demigod, Dewa) yang mengunjungi Bumi, ada banyak lagi spesies-spesies yang lebih tinggi dari manusia seperti Yaksha, Rakshasha, Vanara, dan Gandharva. Deskripsi tentang makhluk-makhluk ini dapat ditemukan dalam Purana bagaimana mereka digambarkan berukuran raksasa, terbang menggunakan pesawat ruang angkasa (Vimana ~ alias UFO) yang dapat menjelajah dari planet ke planet, dan memiliki senjata-senjata maha dahsyat yang lebih menyilaukan dari Matahari.

Bahkan, J.R. Oppenheimer, bapak pencipta bom atom, sesudah uji coba sukses yang pertama, mengutip dari kitab suci Hindu kuno Bhagavad Gita untuk menggambarkan senjata yang barusan dia temukan. Dia juga menyinggung kemungkinan bahwa senjata-senjata yang setara dengan bom nuklir yang sedang dia kerjakan, dulunya digunakan pada zaman purbakala, khususnya yang dituliskan dalam Ramayana dan Mahabharata.

Mahabharata dengan jelas menggambarkan suatu ledakan dahsyat yang mengguncang benua:

“Satu peluru yang dipenuhi dengan segala kekuatan di alam semesta… Suatu kolom asap berpijar dan api seterang 10.000 matahari, muncul dalam segala kemegahannya… Itu suatu senjata asing, suatu halilintar besi, suatu raksasa pembawa kabar kematian yang membuat seluruh ras menjadi abu. Mayat-mayat terbakar hebat hingga tidak dapat dikenali. Rambut dan kuku-kuku mereka berjatuhan, tembikar pecah tanpa sebab jelas, dan burung-burung berubah menjadi putih. Sesudah beberapa jam, seluruh bahan makanan menjadi beracun. Untuk melarikan diri dari api ini, prajurit-prajurit melemparkan diri mereka ke dalam sungai.”

Baca: Senjata Hari Kiamat: Efek 300 Kiloton Bom Nuklir Bila Diledakkan di Atas Kota Anda

Oppenheimer juga mengklaim bahwa “mempelajari Veda merupakan kehormatan terbesar abad ini yang dapat diklaim dari seluruh abad-abad sebelumnya.” Jadi sementara banyak orang dengan cepat menyimpulkan bahwa kitab-kitab kuno ini hanyalah sebagai mitologi atau dongeng belaka, mereka yang secara ilmiah mempelajari hal-hal ini, justru lebih percaya dengan mengatakan bahwa itu merupakan sejarah-sejarah purbakala sesungguhnya dari dunia ini.

Kitab Henokh mencatat, para malaikat yang turun ke Bumi ini mengajar anak-anak manusia cara membuat senjata-senjata perangbaju zirah, dan seni berperang:

Henokh 8:1 Dan Azâzêl mengajari manusia membuat pedang dan pisau dan perisai dan baju zirah, dan memperkenalkan logam-logam di bumi dan mengajari mereka seni melakukan pekerjaan logam…

Henokh 69:6 Dan [malaikat] yang ketiga disebut Gâdreêl; dia adalah yang mengajarkan anak-anak manusia semua pukulan yang mematikan, dan yang menyesatkan Hawa, dan yang menunjukkan kepada anak-anak manusia senjata-senjata yang mematikan, baju zirah dan perisai dan pedang untuk berperang, dan semua senjata-senjata kematian kepada anak-anak manusia.

Yahweh Elohim akhirnya menghukum para raksasa, Nephilim, anak-anak keturunan malaikat pengawas yang jatuh ini dengan mengirimkan pedang ke antara mereka, sehingga mereka saling membunuh hingga musnah, dalam kurun waktu 500 tahun sesudah mereka dilahirkan:

Kitab Henokh 10:9-15

  1. Dan Allah berfirman kepada Gabriel, “Pergilah kepada anak-anak haram dan kepada anak-anak terkutuk dan kepada anak-anak perzinahan, dan hancurkan anak-anak perzinahan dan anak-anak para malaikat pengawas dari antara manusia; kirimkan mereka keluar, dan biarkan mereka saling menghancurkan dan saling membunuh; karena hari-hari mereka tidak akan lama.
  2. Dan mereka semua akan memohon kepadamu, tetapi ayah mereka [para malaikat pengawas] tidak akan mendapat apa-apa bagi mereka, meskipun mereka [Nephilim] mengharapkan hidup yang kekal, tetapi masing-masing dari mereka akan hidup lima ratus tahun.”
  3. Dan Allah berkata kepada Michael, “Umumkan kepada Semjâzâ dan yang ada bersamanya, yang telah mengikatkan diri dengan perempuan, akan dihancurkan bersama mereka dalam semua kecemaran mereka.
  4. Setelah semua anak-anak mereka saling membunuh satu sama lain, dan mereka melihat kehancuran orang-orang yang dikasihinya, ikat mereka [para malaikat pengawas] di bawah bukit bumi untuk tujuh puluh generasi, sampai hari penghakiman mereka dan akhir kesudahan mereka, sampai penghakiman yang terakhir telah dilaksanakan untuk selama-lamanya.
  5. Dan pada hari-hari itu mereka akan dibawa ke dalam jurang api, dalam siksaan dan penjara, mereka akan terkunci selama-lamanya.
  6. Dan dia akan terbakar dan dimusnahkan; mereka akan dibakar bersama-sama dari sekarang sampai akhir dari semua generasi.
  7. Dan hancurkan semua roh-roh hawa nafsu dan anak-anak dari para malaikat penjaga, karena mereka telah menindas umat manusia.

Kitab Henokh 12:4-6

  1. “Henokh, engkau juru tulis keadilan, pergi, beritahukan kepada malaikat penjaga surga, yang telah meninggalkan tempat tinggi di surga dan tempat kudus yang kekal, dan telah mencemarkan dirinya dengan perempuan, dan telah melakukan apa yang dilakukan anak-anak manusia, dan telah mengambil istri bagi diri mereka sendiri, dan telah melakukan pencemaran dan kerusakan yang besar di atas bumi.
  2. Di atas bumi mereka tidak akan mendapatkan damai sejahtera ataupun pengampunan dosa; dan mereka tidak akan mendapat kebahagiaan dari anak-anak mereka [Nephilim].
  3. Mereka akan melihat pembunuhan orang-orang yang dicintainya, dan mereka akan meratapi kehancuran anak-anak mereka, dan akan memohon di sepanjang kekekalan, tapi belas kasihan dan damai sejahtera tidak akan diberikan kepada mereka.”

Kitab Henokh 14:6-7

  1. Tapi sebelum ini kamu [para malaikat pengawas] akan melihat kehancuran anak-anakmu [Nephilim] yang kamu kasihi, dan kamu tidak akan dapat memiliki mereka, tetapi mereka akan mati di depan matamu oleh pedang.
  2. Permohonanmu bagi mereka tidak akan dikabulkan bagimu, maupun bagi dirimu sendiri; dan selama kamu meratap dan berdoa, kamu tidak akan dapat berbicara satu patah kata pun dari tulisan yang aku tuliskan.”

Hal yang sama juga dituliskan di dalam Kitab Yobel:

Kitab Yobel 5:6-11

  1. Dan terhadap para malaikat yang Dia kirimkan ke bumi, Dia amat sangat murka, dan Dia memberi perintah untuk mencabut mereka semuanya dari wilayah kekuasaan mereka, dan Dia memerintahkan kami [malaikat Elohim; Gabriel, Michael] untuk mengikat mereka [para malaikat pengawas] di dalam kedalaman bumi, dan lihatlah, mereka diikat di dalamnya, dan dipisahkan.
  2. Dan terhadap anak-anak mereka [Nephilim], keluar suatu perintah dari hadapan-Nya supaya mereka dipukul dengan pedang dan disingkirkan dari bawah langit.
  3. Dia berfirman, “Roh-Ku tidak akan selamanya tinggal di dalam manusia, karena mereka adalah daging dan hari-hari mereka hanya akan seratus dua puluh tahun saja.”
  4. Dan Dia mengirimkan pedang-Nya ke tengah-tengah mereka agar setiap orang membunuh sesamanya, dan mereka mulai membunuh satu sama lain sampai mereka semuanya mati karena pedang dan dihancurkan dari bumi.
  5. Dan ayah-ayah mereka menyaksikan (kehancuran mereka; Nephilim), dan setelah itu mereka diikat di dalam kedalaman bumi untuk selamanya, sampai hari penghukuman besar, ketika penghakiman dilaksanakan kepada mereka semua yang rusak jalan-jalannya dan pekerjaan-pekerjaannya di hadapan Yahweh.
  6. Dan Dia menghancurkan semuanya dari tempat mereka, dan tidak ada seorang pun yang tertinggal dari antara mereka yang Dia hakimi sesuai dengan segala kejahatan mereka.

Dalam pasal 20 dari Kitab Yobel, kita membaca kembali ketika Abraham memberikan nasihat kepada anak-anaknya, Ishak, Ishmael dan anak-anaknya yang berasal dari Keturah. Abraham mengingatkan anak-anaknya tentang penghakiman yang dilakukan Elohim terhadap para raksasa:

Kitab Yobel 20:5 Dan dia [Abraham] mengatakan kepada mereka penghakiman terhadap para raksasa, dan penghakiman atas orang-orang Sodom, bagaimana mereka telah dihakimi karena kefasikan mereka, dan telah mati karena percabulan mereka, dan kenajisan, dan kerusakan bersama-sama melalui percabulan.

Dalam Kitab Yobel 7 dijelaskan alasan mengapa Elohim harus mengirimkan Air Bah untuk memusnahkan seluruh Bumi:

Kitab Yobel 7:21-23

  1. Karena tiga hal inilah datang air bah di atas bumi, yaitu, karena percabulan dimana para Malaikat Pengawas bertentangan dengan ketetapan bagi mereka pergi melacurkan diri dengan anak-anak perempuan manusia, dan mengambil bagi mereka istri-istri dari semua yang mereka pilih, dan mereka mengawali permulaan kenajisan.
  2. Mereka melahirkan anak-anak lelaki, Naphidim, dan mereka semuanya tidak sama, dan mereka saling melahap satu sama lain: para raksasa membunuh Naphil, dan Naphil membunuh Eljo, dan Eljo [membunuh] manusia, dan manusia [membunuh] seorang akan yang lain.
  3. Dan setiap orang menjual dirinya untuk melakukan kejahatan dan untuk menumpahkan banyak darah, dan bumi penuh dengan kejahatan.

Kitab Yobel memberikan deskripsi tentang beberapa spesies keturunan anak-anak malaikat yang jatuh: NaphidimNaphil, dan Eljo. Hal ini ditegaskan juga oleh Kitab Para Raksasa, yang mencatat keberadaan makhluk Nephilim dan monster-monster. Kitab Para Raksasa memberikan sekilas gambaran tentang eksperimen genetika dimana para malaikat pengawas melakukan perkawinan campur antara spesies yang satu dengan spesies yang lain. Seperti sudah disebutkan di atas, Kitab Veda juga memberikan gambaran yang sama: Deva-deva yang mengunjungi Bumi, ini mungkin sama tingkatannya dengan para malaikat pengawas. Kemudian ada spesies-spesies lainnya yang dikatakan mempunyai tingkatan lebih tinggi dari manusia seperti Yaksha, Rakshasha, Vanara dan Gandharva, yang kesemuanya memiliki perawakan raksasa, dan menguasai teknologi tinggi.

Dari peninggalan tulisan-tulisan mitologi Yunani kuno, kita dapat menemukan hal yang sama, dimana disebutkan adanya tingkatan dewa-dewa.

Secara umum ada 4 tingkatan: Ultimate Source TierTop TierMiddle Tier, dan Final Tier.

Dewa-dewa Golongan Ultimate Source Tier adalah Gaia dan Uranus. Mereka memperanakkan dewa-dewa Golongan Top Tier yang dikenal sebagai Titan, yang memperanakkan dewa-dewa Golongan Middle Tier yang dikenal sebagai Olympian. Dewa-dewa Golongan Middle Tier memberontak melawan Golongan Top Tier dan Dewa Zeus mengalahkan para Titan dan kemudian menjadi penguasa para dewa sejak saat itu.

Zeus sangat dikenal karena gairah birahinya, petualangan seksual baik dengan saudari kandungnya, para dewi, juga dengan para perempuan manusia, dan memperanakkan dewa-dewa Golongan Final Tier seperti Apollo dan Artemis. Perkawinan Zeus dengan perempuan manusia mortal, menghasilkan keturunan berupa manusia setengah dewa/Demigod hybrid (mortal) seperti Hercules dan Perseus.

Dari daftar tingkatan dewa-dewa di atas, bisa dibuat perspektif perbandingan dengan Kitab Suci Ibrani:

  • Golongan Ultimate Source Tier = Elohim (seperti Tritunggal) yang menciptakan Surga dan Bumi
  • Golongan Top Tier (Titan) = kemungkinan Malaikat Pengawas sebagai bapak dari generasi pertama, dewa-dewa Nephilim Pra-Banjir Besar

Menurut Henokh, mereka dihukum Elohim dan ditimbun di bawah bukit bumi sampai batas waktu yang ditetapkan di masa yang akan datang ketika mereka akan dilepaskan kembali (setelah 70 generasi).

Dalam mitologi Yunani, mereka dibuang oleh Zeus ke dalam penjara Hades (neraka) di bawah bumi yang dikenal dengan sebutan Tartarus.

Dalam 2 kasus ini, kita dapat menggunakan istilah “dipenjarakan di dalam belenggu abadi di dalam dunia kegelapan”, seperti yang ada tertulis dalam Kitab Yudas dan Surat Petrus:

Yudas 1:6 Dan bahwa Ia menahan malaikat-malaikat yang tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka, tetapi yang meninggalkan tempat kediaman mereka, dengan belenggu abadi di dalam dunia kekelaman sampai penghakiman pada hari besar, (TB)

2Petrus 2:4 Sebab, jika Elohim tidak berbelaskasihan atas malaikat-malaikat yang telah berdosa, sebaliknya, Dia malah menyerahkan ke dalam belenggu kegelapan dengan melemparkannya ke dalam tartarus untuk ditahan sampai penghakiman; (ILT)

  • Golongan Middle Tier (Olympian) = dewa-dewa Nephilim yang muncul baik pada masa Pra-Banjir Besar maupun Pasca-Banjir Besar (Kejadian 6:1-4).
    1. Dalam kasus Nephilim Pra-Banjir Besar, tubuh lahiriah mereka binasa karena air bah. Namun karena mereka tidak berasal dari Surga sebagai roh malaikat, dan mereka adalah roh campuran malaikat-manusia yang rusak (tidak dikehendaki Elohim untuk ada), mereka inilah yang menjadi Raphaim – roh tanpa tubuh dari para Nephilim yang ditulis oleh Henokh sebagai “roh-roh najis” atau “roh-roh jahat” yang dikenal di dalam Alkitab (dan hari-hari ini).
    2. Mereka inilah yang selalu mencari tubuh lahiriah untuk didiami atau “dirasuk.”
    3. Sedangkan kemunculan kembali Nephilim Pasca-Banjir Besar nampaknya berasal dari garis keturunan cucu Ham, Kaftor yang merupakan anak Mizraim (Mesir) dan bapak dari (ras raksasa Kaftorim) Filistin (Lihat Kejadian 10:14, Yeremia 47:4, Amos 9:7). Kaftor juga tinggal di Pulau Kreta – tempat asal seluruh mitologi Yunani.
  • Golongan Final Tier/Demigod = Dionysus, Apollo, Artemis, Hercules, Perseus, dan sebagainya.

Mitologi Sumeria kuno dan Mesir kuno juga menyebutkan hal-hal yang kurang lebih sama mengenai tingkatan-tingkatan para dewa:

  • Dalam kelompok dewa-dewa Sumeria, yang disebut Anunnaki, ada Tiamat dan Apsu (juga Anshar dan Kishar) dalam kelompok dewa Ultimate Source Tier.
  • Antu, Anu dan Ki sebagai kelompok dewa Top Tier yang memperanakkan Enki, Nin-khursag dan Enlil sebagai dewa Middle Tier.
  • Pada Final/Demigod Tier, kita melihat ada Marduk, Ninurta dan Gilgamesh.

Mitologi Mesir kuno menuliskan hal-hal yang serupa:

  • Atum sebagai dewa paling utama – Ultimate Source Tier.
  • Shu dan Tefnut adalah dewa-dewa Top Tier.
  • Geb dan Nut sebagai dewa Middle Tier.
  • Osiris ada pada Final Tier (pada tingkatan yang sama kita temui dewa Dionysus, Apollo, Marduk, Ninurta dan Gilgamesh).

Sama seperti Marduk dalam silsilah keluarga dewa-dewa Anunnaki Sumeria, Osiris yang berasal dari kelompok Final Tier, naik menjadi penguasa tertinggi yang paling utama dalam mitologi dewa-dewa Mesir.

[Bab 1] [Bab 2] [Bab 3]

Iklan