[Bab 1] [Bab 2] [Bab 3] [Bab 4]


Bab 3 – Reruntuhan Bangunan Nephilim, Atlantis, Ras Cyclops dan Mata Ketiga

Salah satu tujuan-tujuan utama para ilmuwan dan universitas-universitas dunia adalah untuk mempelajari sejarah umat manusia. Namun, ketika puing-puing futuristik seperti bangunan-bangunan megalitik Cyclopean muncul di era di mana itu seharusnya tidak ada – yaitu, di zaman purbakala – itu membuat para ilmuwan menjadi kehilangan akal. Mereka tidak punya penjelasan mengenai keberadaan puing-puing ini. Jadi mereka mengabaikannya dan menganggapnya tidak ada.

Ini artinya, bukannya mendiskusikan dan mencoba mengumpulkan bukti-bukti bagaimana puing-puing ini bisa ada di dalam kronologi sejarah mereka – dan bukannya memiliki keberanian untuk mengakui bahwa mereka tidak tahu bagaimana puing-puing futuristik ini bisa ada di zaman purbakala – mereka lebih memilih untuk mengabaikannya. Ini benar. Dan ini merupakan tragedi.

Hasilnya adalah, lulusan mahasiswa-mahasiswa universitas dan para doktor tidak diberikan kesempatan untuk mendalami misteri besar puing-puing ini; program-program tayangan televisi sangat jarang menayangkan bangunan megalitik Cyclopean; dan puing-puing bangunan ini tidak masuk di dalam daftar program lokasi-lokasi wisata yang dikunjungi perusahaan tourisme. Seakan-akan monumen-monumen megalitik ini dihapuskan keberadaannya.

Monumen-monumen Cyclopean Italia dan seluruh dunia menuntut jawaban dari para arkeolog: Siapa yang mendirikan bangunan-bangunan raksasa ini? Untuk tujuan apa itu didirikan? Apakah ada “jenis ras manusia lain” yang hidup di zaman purbakala?  Jenis manusia seperti apa yang hidup, apakah sejenis Manusia Neanderthal tetapi yang ‘sangat maju’ dan bukannya ‘primitif’?

Apakah ada bukti-bukti yang mendukung pemikiran bahwa ada manusia raksasa yang sangat maju di zaman purbakala?

Monumen-monumen raksasa ini dibangun dalam satu garis lurus melingkari bumi, dengan jarak tertentu antara satu situs megalitik dengan situs megalitik lainnya, yang disebut rasio Phi atau “golden number” (Fibonacci). Diperkirakan, garis ini merupakan garis khatulistiwa purba. Garis lurus melingkari Bumi ini melintasi situs-situs kuno antara lain: Paracas – Nazca – Ollantaytambo – Machu Picchu – Cuzco – Sachsayhuaman – Paratoari – Dogon – Tassili N’ajjer – Siwa – Giza – Petra – Ur – Persepolis – Mohenjo Daro – Khajuraho – Pyay – Sukhothai – Angkor Wat – Preah Vihear – dan berakhir di Pulau Easter, Samudera Pasifik.

world-ancient-sites

Apakah manusia kera primitif yang tinggal di gua-gua itu memiliki kemampuan untuk mengukur jarak-jarak keliling Bumi dan mempunyai teknologi GPS untuk menentukan dengan persis dimana mereka akan mendirikan bangunan monumentalnya? Rasanya tidak. Lalu siapa yang mendirikan bangunan-bangunan megalitik ini? Monumen-monumen megalitik ini tidak dibangun secara sembarangan, tetapi memiliki keselarasan dengan rasi bintang-bintang (Orion), Matahari, Bulan dan musim-musim: titik balik matahari musim dingin dan titik balik matahari musim panas. Ras yang mendirikan bangunan-bangunan monumental ini mempunyai pengetahuan navigasi, geometri bumi dan angkasa.

Baca:

Tentu saja Alkitab dan dokumen-dokumen kuno sudah memberikan jawabannya. Ataukah para ilmuwan ini “ketakutan” untuk mengakui bahwa Alkitab itu benar?

Alkitab, Kitab Henokh, Kitab Yobel, Kitab Para Raksasa mencatat peristiwa pemberontakan para malaikat. Mereka ini turun ke Bumi, dan mengawini anak-anak perempuan manusia. Hasil dari perkawinan campuran ini adalah kelahiran makhluk hybrid raksasa Nephilim: 

Kejadian 6:4 (ILT) Pada hari-hari itu, para raksasa (Ibrani: Nephilim) telah ada di bumi, bahkan juga sesudahnya, ketika anak-anak Elohim (Ibrani: benei ha’Elohim; malaikat) menghampiri anak-anak perempuan manusia (Ibrani: benot ha’Adam) dan mereka telah melahirkan baginya; mereka adalah orang-orang perkasa yang ada sejak lama, orang-orang yang ternama.

Kitab Henokh 6:1-8

  1. Dan terjadilah, setelah anak-anak manusia bertambah banyak pada hari-hari itu, anak-anak perempuan yang cantik dan rupawan telah lahir bagi mereka.
  2. Dan para malaikat, anak-anak surgawi, memandangi dan bernafsu kepada mereka, dan berkata satu sama lain, “Lihatlah, kita akan memilih bagi diri kita sendiri istri dari antara anak-anak manusia, dan akan melahirkan anak-anak bagi kita.”
  3. Dan Semjâzâ, pemimpin mereka, berkata kepada mereka, “Aku takut bahwa mungkin kamu tidak bersedia melakukan perbuatan ini, dan aku sendiri akan menderita karena dosa besar ini.”
  4. Kemudian semua menjawab dia dan berkata, “Kita semua akan bersumpah, dan mengikatkan diri bersama-sama dengan kutukan, bahwa kita tidak akan membatalkan rencana ini, tapi akan menjalankan rencana ini.”
  5. Kemudian mereka semua bersumpah bersama-sama, dan mengikatkan diri satu sama lain dengan kutukan; mereka semuanya ada dua ratus malaikat.
  6. Dan mereka turun di Ardîs, yaitu puncak Gunung Hermon; dan mereka menyebutnya Gunung Hermon, karena mereka telah bersumpah di atasnya dan mengikatkan diri bersama-sama dengan kutukan.
  7. Dan ini adalah nama-nama pemimpin mereka: Semjâzâ, yang adalah pemimpin mereka, Urâkibarâmêêl, Akibêêl, Tâmiêl, Râmuêl, Danel, Ezêqêêl, Sarâqujâl, Asâêl, Armers, Batraal, Anânî, Zaqêbê, Samsâvêêl, Sartaêl, Turêl, Jomjâêl, Arâzjâl.
  8. Ini adalah pemimpin dua ratus malaikat, dan semua yang lainnya ada bersama mereka.

Kitab Henokh 7:1-2

  1. Dan mereka mengambil bagi diri mereka sendiri istri, dan masing-masing memilih untuk dirinya sendiri seseorang, dan mereka mulai mendekati perempuan-perempuan itu, dan bersetubuh dengan mereka, dan mengajari mereka mantera dan ilmu sihir, dan memperkenalkan mereka cara pemotongan akar-akaran dan kayu-kayuan.
  2. Dan mereka mengandung dan melahirkan raksasa besar yang tingginya tiga ribu ells (~135 meter).

Kitab Yobel 5:1 Dan terjadilah ketika anak-anak manusia mulai berlipat ganda di muka bumi dan anak-anak perempuan dilahirkan bagi mereka, bahwa malaikat-malaikat Elohim memandang mereka pada suatu tahun dalam Yobel ini, bahwa mereka itu cantik-cantik untuk dipandang. Dan mereka mengambil bagi diri mereka sendiri istri-istri dari semua yang mereka pilih, dan mereka melahirkan bagi mereka anak-anak lelaki dan mereka itu raksasa-raksasa.

Kitab Henokh memberitahukan kepada kita bahwa para malaikat yang jatuh ini mengajarkan “pengetahuan Surgawi yang terlarang” dan menyebabkan banyak terjadinya dosa dan kerusakan di Bumi:

Kitab Henokh 8:1-3

  1. Dan Azâzêl mengajari manusia membuat pedang dan pisau dan perisai dan baju zirah, dan memperkenalkan logam-logam di bumi dan mengajari mereka seni melakukan pekerjaan logam: gelang dan ornamen, cara menggunakan antimoni , dan cara mempercantik alis mata, dan segala jenis batu-batu berharga dan semua zat pewarna. 
  2. Dan ada kejahatan yang besar dan banyak percabulan, dan mereka berdosa, dan semua jalan hidup mereka rusak. 
  3. Amêzârâk mengajarkan semua ilmu sihir dan cara memotong akar-akaran, Armârôs cara melepaskan mantera sihir, Baraq’âl astrologi, Kôkâbêl pengetahuan akan tanda-tanda, dan Temêl mengajarkan cara melihat bintang-bintang, dan Asrâdêl mengajarkan lintasan bulan serta tipu muslihat manusia.

Kitab Henokh 9:6-9

  1. Lihat apa yang telah dilakukan Azâzêl, bagaimana dia telah mengajarkan segala hal yang jahat di bumi dan telah menyingkapkan rahasia kekal yang tersimpan di surga.
  2. Dan Semjâzâ yang kepadanya telah Engkau berikan kuasa untuk menjadi kepala rekan-rekannya telah memperkenalkan ilmu sihir.
  3. Dan mereka telah pergi bersama-sama kepada anak-anak perempuan manusia dan telah tidur dengan mereka, dengan wanita-wanita itu, dan telah mencemarkan diri mereka, dan telah menyingkapkan kepada mereka segala jenis dosa.
  4. Dan wanita-wanita itu telah melahirkan raksasa, dan dengan demikian seluruh bumi telah penuh dengan darah dan kejahatan.

Kitab Henokh 69:3-12

  1. Dan ini adalah kepala para malaikat, nama-nama kepala seratus dan kepala lima puluh dan kepala sepuluh.
  2. Nama yang pertama Jeqûn; dia adalah yang telah menyesatkan semua anak-anak malaikat kudus, dan yang memimpin mereka turun ke bumi, dan yang menyesatkan mereka melalui anak-anak perempuan manusia.
  3. Dan yang kedua disebut Asbeêl; dia adalah yang telah mengajarkan anak-anak malaikat kudus rencana jahat, dan telah menyesatkan mereka dengan mencemarkan tubuh mereka melalui anak-anak perempuan manusia.
  4. Dan yang ketiga disebut Gâdreêl; dia adalah yang mengajarkan anak-anak manusia semua pukulan yang mematikan, dan yang menyesatkan Hawa, dan yang menunjukkan kepada anak-anak manusia senjata-senjata yang mematikan, baju zirah dan perisai dan pedang untuk berperang, dan semua senjata-senjata kematian kepada anak-anak manusia.
  5. Dan dari tangannya, mereka telah pergi untuk melawan mereka yang diam di bumi, dari waktu itu dan untuk selamanya,
  6. Dan yang keempat disebut Pênêmû; dia telah mengajarkan anak-anak manusia hal-hal yang pahit dan manis, dan mengajarkan mereka semua rahasia kebijaksanaan mereka.
  7. Dia mengajarkan manusia menulis dengan tinta dan kertas, dan karenanya banyak terjadi dosa dari kekekalan sampai kekekalan dan sampai hari ini.
  8. Karena manusia tidak dilahirkan untuk tujuan bahwa mereka harus memperkuat iman mereka dengan pena dan dengan tinta.
  9. Karena manusia tidak diciptakan berbeda dari para malaikat, bahwa mereka harus tetap benar dan murni, dan kematian, yang menghancurkan segala sesuatu, tidak akan menyentuh mereka, tetapi melalui pengetahuan ini mereka hancur, dan melalui kuasa ini kematian menghabiskan mereka.
  10. Dan yang kelima bernama Kasdejâ; dia telah mengajarkan anak-anak manusia semua pukulan jahat oleh roh dan setan-setan, pukulan terhadap janin di dalam rahim, sehingga keguguran, dan pukulan untuk menyerang jiwa, gigitan ular, dan pukulan yang dilakukan pada siang hari, dan anak ular yang namanya Tabâ’t.

Filsuf Yunani Plato, dalam tulisannya Critias dan Timaeus, menggambarkan dengan tepat adanya semacam ras manusia ‘sangat maju’ yang hidup di sebuah pulau benua ‘Atlantis.’ Dia menyebutkan Atlantis itu sebuah kerajaan sangat maju pada zaman Pra-Banjir Besar yang tumbuh subur selama ribuan tahun di sebuah benua yang sekarang sudah tenggelam ke dalam Lautan Atlantik, yang dari padanya nama itu diambil. Plato menuliskan bahwa ras Atlantis memiliki kepercayaan-kebijaksanaan yang sangat spiritual, yang memungkinkan mereka dapat ‘berhubungan’ dengan keilahian mereka sendiri dan kekekalan ‘jiwa’ di dalam tubuh fisik mereka. Menurut Plato, melihat ‘ke dalam keilahan’ memungkinkan ras Atlantis memanfaatkan ‘kuasa’ yang lebih tinggi.

Orang Mesir kuno, mengutip Plato, mengatakan bahwa bangsa Atlantis memiliki teknologi spiritual kuno yang sangat maju dan hikmat, yang oleh orang Yunani disebut Gnosis (pengetahuan).

Hal ini juga didukung dengan kitab-kitab suci Ibrani kuno, yang menyebutkan bahwa para raksasa Nephilim ini menerima “pengetahuan surgawi terlarang” yang diajarkan oleh ayah-ayah mereka (para Malaikat yang Jatuh).

Plato mengindikasikan bahwa ingatan akan kekuatan-kekuatan ini diabadikan di dalam kemampuan-kemampuan fantastis yang dimiliki oleh ‘dewa-dewa‘ dari mitologi kuno; mereka adalah makhluk-makhluk mortal yang dipenuhi dengan indera-indera yang diperkuat, keahlian-keahlian dan kemampuan-kemampuan khusus karena hubungan mereka dengan jiwa kekekalan mereka. Seiring waktu, kerajaan Atlantis semakin lemah karena kecenderungan mereka akan hal-hal materialisme, cukup lemah sehingga mereka mulai kehilangan sentuhan keilahian yang memberikan mereka kekuasaan seperti itu. Plato menuliskan: 

“Selama banyak generasi… mereka mematuhi hukum-hukum dan mencintai keilahian yang merupakan asal-usul kekerabatan mereka… mereka mengenali kualitas karakter adalah jauh lebih penting daripada kemakmuran mereka waktu itu. Jadi mereka menganggap kemakmuran dan harta-kekayaan mereka dengan enteng, dan tidak membiarkan standar tinggi hidup mereka memabukkan mereka atau membuat mereka kehilangan kendali diri…

Namun ketika unsur ilahi di dalam mereka menjadi lemah… dan sifat-sifat kemanusiawian mereka menjadi dominan, mereka tidak dapat lagi menanggung kemakmuran mereka sewajarnya.” – Plato, Timaeus

Plato melanjutkan penjelasannya bahwa akhir dari Atlantis terjadi beberapa ribu tahun lalu, ketika serangkaian malapetaka alam menenggelamkan benua mereka ke dalam lautan. Sedikit yang selamat meloloskan diri dari kehancuran, melarikan diri, dan menetap di berbagai belahan dunia.

Baca: Planet X: Siklus Bencana Atlantis, Banjir Besar, Tulah-tulah Eksodus, Naga Merah dan Penggenapan Kitab Wahyu

Alkitab, Kitab Henokh, Kitab Yobel, Kitab Yashar mencatat, makhluk-makhluk raksasa Nephilim ini sangat ganas dan merusak seluruh Bumi. Itu juga yang akhirnya membuat Tuhan harus memusnahkan seluruh Bumi dengan Air Bah.

Kitab Yobel 7:21-24

  1. Karena tiga hal inilah datang Air Bah di atas bumi, yaitu, karena percabulan di mana para Malaikat Pengawas bertentangan dengan hukum ketetapan-ketetapan mereka, pergi melacurkan diri dengan anak-anak perempuan manusia, dan mengambil bagi diri mereka istri-istri dari semua yang mereka pilih. Dan mereka mengawali permulaan kenajisan. [Yudas 1:6 (ILT) Juga para malaikat, mereka yang tidak menjaga asal-usul mereka sendiri, malah telah meninggalkan kediamannya sendiri, Dia telah menahan mereka dengan belenggu abadi di bawah kekelaman, sampai pada penghakiman pada hari yang besar.]
  2. Dan mereka melahirkan anak-anak lelaki, Nâphîdîm, dan mereka semuanya tidak sama, dan mereka saling memangsa satu sama lain: dan raksasa-raksasa membunuh Nâphîl, dan Nâphîl membunuh Eljô, dan Eljô umat manusia, dan manusia seorang akan yang lain.
  3. Dan setiap orang menjual dirinya untuk berbuat kejahatan dan untuk menumpahkan banyak darah, dan bumi dipenuhi dengan kejahatan.
  4. Dan sesudah ini mereka berdosa terhadap binatang-binatang dan burung-burung, dan segala yang bergerak dan berjalan di atas bumi. Dan banyak darah ditumpahkan di bumi, dan setiap imajinasi dan keinginan manusia memikirkan kesia-siaan dan kejahatan senantiasa.

Sesuatu yang aneh terjadi pada masa ini, yaitu pada fajar permulaan sejarah Pasca-Banjir Besar. Kita melihat catatan-catatan, di setiap peradaban kuno di Bumi, yang menggambarkan keberadaan makhluk manusia raksasa.

Tidak diragukan lagi. Mitologi di seluruh dunia berbicara mengenai ras raksasa purba yang memiliki kekuatan manusia super, tinggi badan, dan umur panjang.

  • Cerita rakyat India menggambarkan keberadaan Danava dan Daitya
  • Rakyat Srilangka berbicara tentang adanya Rakshasa
  • Mesir bercerita tentang pahlawan-pahlawan raksasa
  • Kaldea menyebutkan nama Izdubar
  • Yahudi menuliskan bangsa EmimRephaimZamzummim, dan Anakim (Enak), Og dan Goliath
  • Hesiod berbicara tentang Gigantes
  • Homer menulis kisah Ulysses bertemu raksasa Cyclops dengan satu mata di dahinya
  • Titan Yunani adalah para raksasa
  • Di Jerman, Islandia dan Norwegia, ada legenda raksasa JotnarÆgirMimir and Skaði
  • Legenda Basque menceritakan tentang raksasa yang disebut Jentilak dan Mairuak
  • Santo Christopher adalah seorang raksasa
  • Cerita rakyat Inggris tentang raksasa Gog dan Magog
  • Rübezahl adalah raksasa dari hutan Bohemia di dalam cerita rakyat Jerman
  • Patung-patung raksasa ditemukan di Pulau Easter (Paskah) di Pasifik
easter-statue
Patung raksasa di Pulau Easter

Menurut peneliti abad ke-19, seperti mistisis Russia H.P. Blavatsky, mitos-mitos raksasa ini bukanlah mitos sama sekali, tetapi silsilah dari ras raksasa terdahulu yang ada di Bumi, penduduk Atlantis yang selamat dari Banjir Besar.

Apakah ini menjelaskan kecanggihan dan nilai futuristik puing-puing Cyclopean, tidak hanya di Italia,  tetapi seluruh monumen-monumen megalitik prasejarah di Bumi?

700-stonehenge

Tidak ada yang tahu pasti siapa yang membangun Stonehenge di Inggris dan untuk alasan apa. Stonehenge adalah salah satu puing-puing futuristik yang dibangun di masa prasejarah.

700-image-merlin-stonehenge

Legenda yang sangat tua dan masih bertahan sampai sekarang mengatakan bahwa seorang raksasa membantu Merlin mendirikan Stonehenge.

“Seorang raksasa membantu Merlin mendirikan Stonehenge. Dari sebuah manuskrip Roman de Brut oleh Wace di Museum Inggris (Egerton 3028). Ini adalah penggambaran paling awal yang dikenal mengenai Stonehenge.” – Wikipedia

Menurut Blavatsky, penduduk asli Atlantis beberapa kaki lebih tinggi daripada manusia modern, tapi mengalami penyusutan tinggi badan mereka sesudah Banjir Besar.

Kitab Yobel juga mencatat ras raksasa Pasca Banjir-Besar memiliki tinggi badan yang semakin menyusut.

Kitab Yobel 29:9-10

  1. Namun sebelumnya mereka biasa menyebut tanah Gil’ad itu negeri Rephaim, karena itu adalah negeri Rephaim, dan Rephaim dilahirkan (di sana), raksasa-raksasa yang tingginya sepuluh, sembilan, delapan turun hingga tujuh hasta.
  2. Dan tempat kediaman mereka mulai dari negeri bani Ammon hingga Gunung Chermon, dan pusat kerajaan-kerajaan mereka adalah Qarnayim dan Ashteroth, dan Edrei, dan Mîsûr, dan Beon.

Blavatsky percaya ras Atlantis dulunya memiliki kemampuan misterius yang bisa “melihat” ke dalam jiwanya, mengenali keilahiannya, karena memiliki organ “penerang/mata” yang penuh teka-teki, yang berada di dahi yang akhirnya dikenal sebagai “Mata Cyclops” atau “Mata Ketiga.”

Anggota badan yang aneh dan menarik ini, Mata Cyclops atau Mata Ketiga berada di dahi, di atas dan di antara kedua mata. Dari sinilah muncul istilah “Cyclops.”

700-cyclops-1

700-cyclops-2

Raksasa Cyclops dengan Mata Ketiga. Mosaik di Villa Romana, Sisilia (Villa Romana di Piazza Armerina).

700-cyclops-baby
Bayi cyclops

Video bayi Cyclops dengan 6 jari tangan dan 6 jari kaki. Mereka menyebut ini sebagai “kelainan genetika”, tanpa memahami bahwa makhluk-makhluk seperti ini dahulu kala memang ada di Bumi. Apakah tidak mungkin bahwa memang DNA Cyclops itu masih diturunkan sampai hari ini? Perhatikan jumlah jari tangan dan kakinya: masing-masing 6 jari!

2 Esdras 5:9 …perempuan-perempuan akan melahirkan monster-monster…

Baca: Kembalinya Nephilim: Raksasa Kandahar, Afganistan

Dalam mitologi Yunani, Cyclops adalah suku raksasa kanibal bermata satu yang menggembalakan kawanan domba di pulau Sisilia. Salah satunya bernama Polyphemus yang menangkap Odysseus dan anak buahnya, namun akhirnya dibutakan dan dikelabuhi oleh pahlawan ini.

cyclops-600
Polyphemus

Polyphemus adalah anak dewa laut, Poseidon dengan istrinya, peri laut Thoosa. Dia adalah seorang Cyclops dan dianggap hidup di pulau Sisilia. Seorang penjelajah Yunani, Odysseus, yang dikenal karena kecerdikan dan “lidah-peraknya,” sedang dalam perjalanan pulang dari Troy ketika dia berlabuh di Sisilia, tempat tinggal ras raksasa bermata satu yang tidak beradab. Dia meminta kebaikan mereka dan memperkenalkan dirinya sebagai “Bukan Siapa-siapa.”

Polyphemus terbukti sebagai tuan rumah yang sangat berbahaya dan memperlakukan orang Yunani ini sebagai hewan piaraannya, memenjarakan mereka di dalam guanya dan melahap mereka satu demi satu untuk makan malamnya. Odysseus tidak berani membunuh Cyclops itu pada waktu malam karena orang-orangnya kekurangan tenaga untuk memindahkan batu yang menutupi pintu gua. Maka Odysseus memikirkan rencana tipu daya untuk meloloskan diri. Dengan membuat Polyphemus mabuk, Odysseus membutakan raksasa bermata satu itu dengan tusukan sebatang kayu. Polyphemus yang kesakitan berteriak, tetapi ketika ditanya kawan-kawan Cyclops yang lain siapa yang melukai dia, Polyphemus berkata, “Aku diserang oleh Bukan Siapa-siapa.” Maka mereka pergi, dan menganggapnya mabuk atau gila. Pagi harinya Polyphemus membuka pintu gua untuk mengeluarkan hewan ternaknya dan meraba punggung tiap-tiap hewan yang lewat untuk memastikan tidak ada orang yang meloloskan diri. Tapi Odysseus dan orang-orangnya mengikatkan diri mereka di samping tubuh domba-domba itu dan berhasil keluar tanpa diketahui. Karena kejahatan terhadap puteranya, Poseidon berjanji untuk membalas Odysseus.

Menurut Wikipedia: “Cyclops… dalam mitologi Yunani dan mitologi Romawi akhir, merupakan anggota ras raksasa purba, masing-masing dengan sebuah mata di tengah-tengah dahinya. Nama ini secara luas diartikan “mata bulat”… Hesiod menyebutkan tentang sekelompok Cyclops dan puisi epik Homer menggambarkan kelompok lainnya, meskipun cerita-cerita lainnya juga sudah ditulis oleh dramawan Euripedes, penyair Theocritus dan penyair epik Romawi Virgil.”

Sementara dua mata yang tampak secara fisik memandang hal-hal material yang ada di luar, Mata Tunggal memandang ke dalam, melihat kepada hal-hal spiritual – seperti jiwa. Menurut Blavatsky, ketika ras Atlantis berkembang biak seiring waktu, Mata Ketiga berhenti bertumbuh dan akhirnya tertutup oleh daging. Blavatsky menuliskan:

“… ‘mata ketiga‘ dulunya organ fisiologi, dan … akhirnya, karena semakin hilangnya spiritualisme dan bertambahnya materialisme (sifat spiritual dipadamkan oleh lahiriah), itu menjadi organ yang berhenti bertumbuh .” – H.P. Blavatsky, The Secret Doctrine

Meskipun berhenti bertumbuh, Blavatsky percaya bahwa manusia modern, seperti ras Atlantis, masih dapat mengakses organ yang dilupakan ini. Sekitar abad ke-19 dan awal abad-20, para ilmuwan mengidentifikasi organ ini sebagai kelenjar Pineal. Terletak di sepanjang garis tengah geometris tempurung kepala, kelenjar Pineal didefinisikan oleh Kamus Webster sebagai:

“Suatu organ kecil yang biasanya berbentuk kerucut dari otak, dari semua makhluk bertulang belakang yang memiliki tengkorak, yang pada sebagian kecil reptil memiliki struktur seperti sebuah mata, yang berfungsi pada sebagian burung-burung sebagai bagian sistem pengukuran waktu, dan secara teori dianggap sebagai sisa-sisa (dulunya) mata ketiga, suatu organ endokrin, atau tempat keberadaan jiwa manusia (kursi tempat kedudukan jiwa)…” – Webster’s Ninth New Collegiate Dictionary

Tempat kedudukan jiwa” adalah nama yang paling banyak disebutkan oleh ilmuwan dan filsuf, termasuk filsuf abad ke-17 René Descartes (1596-1650). Descartes bahkan menyebutkan bahwa kelenjar Pineal adalah jembatan yang menghubungkan antara roh manusia dengan tubuhnya.

500-polyphemus-head
Marmer kepala Polyphemus, dari abad ke-1 atau 2 M, Museum of Fine Arts, Boston
700-cyclops-sicily-statue
Potongan patung Cyclops kuno ditemukan di Sisilia, asal-usulnya tidak jelas.

Kanselir Jerman Adolf Hitler percaya dengan Mata Cyclops atau Mata Ketiga. Ini dikonfirmasi oleh Hermann Rauschning, mantan Presiden Senat Nasional Sosialis Danzig. Dalam bukunya “Hitler Speaks” (London, 1939), Rauschning menuliskan:

“Dalam semua tradisi manusia… disebutkan adanya suatu malapetaka kosmis yang sangat besar… Dalam pandanganku hal tersebut dapat diterangkan hanya oleh hipotesa adanya suatu malapetaka yang menghancurkan umat manusia yang sudah memiliki peradaban tingkat tinggi secara menyeluruh. Kepingan-kepingan prasejarah kita mungkin hanyalah reproduksi hal-hal yang berasal dari masa lalu yang jauh, dan semua itu artinya, tidak diragukan lagi, bahwa jalan menuju peradaban telah ditemukan kembali seperti semula…” – Adolf Hitler, Hitler’s Secret Conversations

Dalam buku Hitler’s Secret Conversation, transkrip dari dialog rahasia dan diskusi yang terjadi di markasnya mulai Juli 1941 hingga November 1944, yang direkam untuk penerusnya, Hitler mengekspresikan kepercayaannya akan semacam peradaban tinggi seperti Atlantis di zaman purbakala. Hitler mengatakan:

“Dalam semua tradisi manusia… disebutkan adanya suatu malapetaka kosmis yang sangat besar… Dalam pandanganku hal tersebut dapat diterangkan hanya oleh hipotesa adanya suatu malapetaka yang menghancurkan umat manusia yang sudah memiliki peradaban tingkat tinggi secara menyeluruh. Kepingan-kepingan prasejarah kita mungkin hanyalah reproduksi hal-hal yang berasal dari masa lalu yang jauh, dan semua itu artinya, tidak diragukan lagi, bahwa jalan menuju peradaban telah ditemukan kembali seperti semula…” – Adolf Hitler, Hitler’s Secret Conversations

Gambaran sebuah “Mata Tunggal” – Mata Cyclops – sebenarnya, merupakan hal mendasar yang sudah terbentang selama ribuan tahun sepanjang sejarah manusia, dan itu muncul lagi dan lagi di dalam mitologi-mitologi, patung-patung, ukiran-ukiran, dan lukisan-lukisan di dalam peradaban-peradaban kuno di seluruh dunia.

Pembaca yang mengenal agama-agama Timur akan mengingat bahwa Mata Cyclops atau Mata Ketiga telah mempunya sejarah yang panjang di India, China dan Asia Tenggara, dimana tradisi-tradisi agama Hindu, Buddha dan Tao berkembang. Lebih dari sekedar pemikiran “religius”, Mata Ketiga adalah sebuah adat-istiadat “spiritual” yang tidak dipakai lagi yang melebihi sekedar kepercayaan. Mata Ketiga dikenal di seluruh sub-benua India sebagai “urna” atau “trinetra,” dan sering ditandai dengan sebuah titik di tengah-tengah dahi, di atas dan di antara kedua mata. Meskipun mistisisme dan penganutnya seringkali berbicara mengenai kuasa okultisme yang misterius, itu sebenarnya menunjukkan pengetahuan spiritual, penglihatan akan dimensi rohani dan kedalaman jiwanya – makhluk kekekalan yang sebenarnya.

buddha

Patung Buddha ini ditunjukkan sedang menutup kedua matanya dan membuka Mata Cyclops atau Mata Ketiganya – disimbolkan dengan satu titik di dahi.

Letak kelenjar Pineal di dalam otak manusia, berbentuk seperti mata. Itu juga digunakan sebagai simbol Mata Ketiga atau Eye of Horus (dewa Mesir/Satan).

700-pineal

700-pineal-bentuk

Kelenjar Pineal, berbentuk seperti buah Pinus (Pine cone). Itu juga sebabnya kelenjar Pineal (atau Mata Ketiga) seringkali disimbolkan sebagai buah Pinus (Pine cone). Itu ada di seluruh peradaban-peradaban kuno di seluruh dunia, mulai dari Sumeria, Babylon, Yunani, Romawi hingga ke Vatican di Roma.

900-pine-cone-civilization

Buddha dengan kepala Pinus, tongkat Masonic dengan buah Pinus, buah Pinus di Vatican, dewa Anunnaki Sumeria memegang buah Pinus.

700-pine-cone-anunnaki

Dewa Anunnaki – Sumeria kuno, memegang buah Pinus.

700-marduk-bacchus-pine

Dewa Marduk (Babylon) memegang buah Pinus dan dewa Bacchus (Romawi) memegang tongkat buah Pinus.

700-staff-osiris-pope

Tongkat dewa Osiris dengan buah Pinus dan tongkat Paus dengan buah Pinus.

700-pine-cone-pope

Tongkat Paus dengan buah Pinus.

700-pine-cone-vatican-city

Patung buah Pinus terbesar ada di Pelataran Pine Cone Vatican, Roma.

500-vatican-sarcophagus

Di belakang patung buah Pinus di Vatican ini ada Sarkofagus (peti mati) Mesir Kuno, yang melambangkan “Kebangkitan.”

Dari simbol-simbol ini, kita bisa melihat benang merah yang menghubungkan semua peradaban dan kepercayaan, dengan asal-usul mereka yang berasal dari zaman Pra-Banjir Besar.

Apakah ini juga yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus, ketika Dia berbicara tentang “Mata Tunggal”, yang melaluinya kita memiliki “hubungan” dengan dimensi spiritual? Kepada siapa kita terhubung?

Lukas 11:34 Matamu adalah pelita tubuhmu. Jika matamu baik (Yunani: haplous; tunggal), teranglah seluruh tubuhmu, tetapi jika matamu jahat (Yunani: poneros; sakit, buta, buruk, jahat), gelaplah tubuhmu.

Matius 6:22-23 Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik (Yunani: haplous; tunggal), teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat (Yunani: poneros; sakit, buta, buruk, jahat), gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.

Next: Freemasons dan Mata Ketiga Cyclops


[Bab 1] [Bab 2] [Bab 3] [Bab 4]

Iklan