[Bab 1] [Bab 2] [Bab 3] [Bab 4]


Bab 2 – Sejarah Tersembunyi Italia, Reruntuhan Bangunan Nephilim yang Terlarang

Istilah Cyclopean berasal dari Cyclops, ras raksasa mata satu yang berasal dari tanah Italia kuno. Bermil-mil tembok batu poligonal prasejarah masih bertahan sampai hari ini di seluruh Italia – puing-puing kuno yang mengagumkan, misterius, dan futuristik sehingga para ahli, sejarawan, filsuf dulunya percaya semua itu dibangun oleh ras manusia raksasa yang sekarang sudah punah, yang disebut “Cyclops.” Sangat sedikit yang diketahui tentang para ahli bangunan prasejarah ini dan mahakarya megalitik misterius mereka. Teknik bangunan mereka menyerupai bangunan pra-Inca di Peru: potongan-potongan batu raksasa dengan sudut saling mengunci, disusun tanpa mortar (semen). Seperti di Peru, batu-batu ini bertahan selama ribuan tahun dan akhirnya digali oleh peradaban-peradaban terkemudian seperti bangsa Etruscan dan Romawi. Sangat disayangkan, para sarjana modern mengabaikan puing-puing ini sementara masyarakat dunia pada umumnya tidak menyadari keberadaannya. Para sarjana zaman Victoria mempercayai bahwa itu dibangun oleh orang-orang yang selamat dari Atlantis.

700-image-arpino
Pintu gerbang prasejarah Cyclopean di Arpino, dibangun dari batu-batu megalitik. Arpino, Italia.

Tersebar di seluruh Latium kuno (wilayah Italia tempat berdirinya Romawi) terdapat puing-puing megalitik yang dibangun dari tembok batu poligon misterius yang sangat mengagumkan, aneh, dan futuristik sehingga selama ribuan tahun dipercaya itu semua didirikan oleh ras para raksasa purbakala, yang sekarang dilupakan.

Ras raksasa yang hilang ini – dikatakan lebih tinggi, lebih cerdas, lebih superior secara umum dibandingkan manusia modern – telah dikenal di sepanjang zaman sebagai “Cyclops,” dan bangunan yang mereka ciptakan disebut “Cyclopean.”

700-image-norba-italia

Pengarang dan peneliti Gary Biltcliffe mempelajari tembok Cyclopean yang dibangun dengan gaya poligonal dengan batu-batu megalitik di Norba, Italia.

Banyak penulis klasik dan sejarawan, termasuk Homer, Hesiod, Plutarch, Thucydides, dan Diodorus Siculus, menyebutkan pemikiran dalam tulisan-tulisan mereka bahwa puing-puing Cyclopean Italia (dan di wilayah Eropa secara umum) didirikan oleh ras Cyclops yang kini telah punah.

700-image-3-tiryns

Puing-puing Cycloepan kuno ini bukan di Italia, tetapi wilayah tetangganya, di Tiryns, Yunani.

700-lion-gate-mycenae
Pintu Gerbang Singa, Mycenae

“Zaman-zaman sebelum bangsa Romawi ada, tanah permai Italia dihuni oleh bangsa-bangsa yang meninggalkan monumen tak terhancurkan sebagai satu-satunya catatan sejarah mereka. Kota-kota Italia awal yang mengagumkan yang dinamai Cyclopean, tersebar di distrik-distrik tertentu, dan seringkali bertengger seperti sarang rajawali, di puncak-puncak pegunungan, di suatu ketinggian tertentu yang mengundang kekaguman bagi para penjelajah yang kini mengunjungi tempat-tempat itu, dan membingungkan mereka dengan spekulasi mengenai peradaban seperti apa yang telah membangun tempat-tempat yang sulit dijangkau itu sebagai tempat kediaman, dan yang membentengi diri mereka sendiri dengan benteng pertahanan yang luar biasa.”Louisa Caroline Tuthill, History of Architecture (1848)

Meskipun melimpahnya bukti-bukti puing-puing Cyclopean yang ada dan para sejarawan klasik yang menuliskan bahwa manusia raksasa Cyclops yang mendirikan itu, namun hanya sedikit sarjana modern yang mempelajari misteri ini secara serius.

Bahkan, tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa selama berabad-abad ini di Italia (dan Eropa dan Amerika) nampaknya ada usaha secara halus untuk menutup-nutupi situs-situs arkeologi yang hilang ini – dengan jalan mengabaikannya sehingga menjadi tidak jelas – dan itu terus berlangsung sampai hari ini, sehingga nampaknya seperti para “penguasa Elite pemerintah dunia” ini tidak ingin misteri puing-puing ini dikenal secara luas.

700-image-4-alatri
Tembok megalitik, Alatri, Italia. Photo Gary Biltcliffe.

Bukti pertama dari usaha mengaburkan fakta ini adalah bahwa kebanyakan orang – bahkan sebagian besar orang Italia – tidak menyadari keberadaan puing-puing Cyclopean ini. Banyak orang Italia yang tinggal bersebelahan, atau di kota yang sama dengan puing-puing ini berada tidak memahami pentingnya nilai bangunan-bangunan itu, demikian juga mereka tidak mengenal teknologi, keajaiban dan mistisisme ras manusia prasejarah yang membangunnya. Ini sangat aneh, dengan melihat betapa canggihnya puing-puing prasejarah ini.

700-image-5-pigra

600-image-6-pigra

Tembok poligonal prasejarah, Pigra, Italia. Graffiti ini menunjukkan ketidakperdulian sebagian besar orang-orang di kota ini akan peninggalan prasejarah para raksasa yang mereka miliki di tengah-tengahnya.

Keanehan lainnya adalah bahwa para pembangunnya, meskipun digambarkan oleh sejarawan kuno sebagai raksasa Cyclops yang memiliki kemampuan fisik, teknologi dan mistis supernatural, namun oleh para sarjana modern, mereka dianggap tidak pernah ada.

Bicaralah dengan para sarjana modern hari-hari ini dan katakanlah bahwa Cyclops adalah ras raksasa yang sesungguhnya membangun monumen-monumen ini – mereka akan mentertawakan Anda, dan menganggap Anda mempercayai dongeng. Mereka lebih percaya bahwa nenek moyang manusia adalah manusia kera. Namun, para sarjana di era Victoria tidak akan mentertawakannya; mereka – kebanyakan para sarjana wanita – punya pikiran yang lebih terbuka dan lebih cerdas. Sarjana-sarjana era Victoria tidak dibodohkan oleh sekolah-sekolah umum, tayangan televisi mainstream dan media massa seperti kita hari-hari ini.

700-image-saracena

Pintu gerbang Saracena, sebuah mahakarya Cyclopean. Batu-batu raksasa disusun bersama-sama menggunakan teknik poligonal, jauh sebelum keberadaan bangsa Romawi dan Etruscan.

Pada era Victoria, tulang-belulang “raksasa” dan “manusia raksasa” ditemukan di seluruh dunia – dan para sarjana Victoria mengetahuinya. Orang-orang membaca beritanya hampir setiap hari. Surat kabar The New York Times melaporkan ratusan penemuan-penemuan ini, termasuk sisa-sisa kerangka raksasa di Amerika, dengan tinggi kerangka mencapai 2,74 meter. Kebanyakan penemuan-penemuan ini ada di dalam gundukan-gundukan piramida tanah.

700-image-piramid-ohio
Gundukan piramida di Ohio, salah satu dari banyak “gundukan tanah Indian” yang ditemukan di seluruh Amerika Serikat.

Baca: 100 Bukti Raksasa Nephilim Ada di Bumi

Para ahli arkeologi dan antropologi hari ini tidak mengekspresikan ketertarikan yang sama seperti para sarjana abad ke-18, 19 dan bahkan 20 mengenai penemuan kerangka raksasa; sebagian besar karena sudah tidak ada lagi bukti-bukti yang tersisa untuk diteliti. Sangat mengherankan, semua bukti-bukti tulang-belulang raksasa ini entah bagaimana telah menghilang – atau mungkin lebih tepat dengan sengaja dihilangkan – semuanya!

Penjelasan yang umumnya diberikan para ahli atas hal-hal seperti ini rata-rata bertujuan untuk mengaburkan, mengalihkan perhatian atau menolak keberadaan misteri ras raksasa. Contohnya, para ilmuwan menyebutnya “abnormalitas fisik” atau yang disebut “gigantisme”, yang mereka katakan menimpa sebagian orang Indian Amerika Utara. Orang Amerika tertinggi yang tercatat menderita karena “penyakit” ini adalah Robert Wadlow (1918 – 1940) yang punya tinggi badan 2,64 meter.

raksasa-kashmir-2

Manusia raksasa, seperti dua orang di foto ini, dikatakan menderita “abnormalitas fisik” yang disebut gigantisme.

Dongeng memang bisa dibesar-besarkan, dan memang tidak boleh diterima sebagai fakta tanpa adanya bukti. Namun, puing-puing Cyclopean di Italia, dan seluruh dunia, yang semuanya mendemonstrasikan keahlian, kecerdasan, teknologi dan ketepatan yang tak tertandingi, dan semua ukuran-ukuran yang secara proporsi nampaknya “sesuai” dengan manusia raksasa; dikombinasikan dengan legenda-legenda keberadaan ras raksasa yang ada di seluruh kebudayaan-kebudayaan di dunia ini, termasuk yang dijelaskan di dalam Alkitab, seharusnya membuat seseorang menyimpulkan bahwa memang ada kebenaran di dalam dongeng-dongeng dan legenda-legenda ini.

Kejadian 6:4 (TB) Pada waktu itu orang-orang raksasa (Ibrani: Nephilim) ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Elohim (Ibrani: benei ha’Elohim) menghampiri anak-anak perempuan manusia (Ibrani: benot ha’Adam), dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa (Ibrani: gibborim) di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan.

Sebenarnya, kita punya sangat banyak bukti-bukti bagi para ilmuwan sekarang ini untuk melakukan penelitian serius dalam usaha untuk mempelajari raksasa Cyclops prasejarah ini. Tetapi mereka tidak melakukannya. Kenapa tidak? Nampak sangat jelas bahwa pemerintah-pemerintah dan universitas-universitas dunia tidak ingin informasi ini menjadi “kebenaran” yang diketahui umum. Keberadaan bangunan-bangunan megalitik teknologi tinggi ini mereka dalilkan sebagai sisa-sisa peninggalan dari ras manusia Pasca-Banjir Besar. Segala teori dan usaha penelitian untuk menghubungkan bangunan-bangunan megalitik ini dengan ras (raksasa) purbakala Pra-Banjir Besar akan ditolak mentah-mentah dan ditutup. Memang benar, informasi ini sepertinya ditindas, ditutup, dimusnahkan dan dinyatakan terlarang untuk dipelajari… dengan sengaja.

Ini akan dibahas pada bagian akhir, namun untuk sekarang kita akan melihat lebih dekat puing-puing Cyclopean. Itu semua nampaknya didirikan oleh para pembangun yang sama. Jika melihat kepada puing-puing yang berserakan di seluruh Italia kuno ini, jelas terlihat bahwa selama zaman prasejarah itu, ras Cyclops (atau istilah manusia raksasa apa pun) memang ada dan mereka mendirikan bangunan-bangunan yang luar biasa – bangunan yang lebih tepat dikatakan berasal dari masa depan yang jauh, bukan berasal dari zaman prasejarah yang primitif. Ini adalah informasi yang disampaikan oleh sejarawan kuno, yang diceritakan kembali dan kembali oleh para filsuf, penulis klasik, arkeolog dan sejarawan.

Harap diingat, bahwa bangunan-bangunan batu di foto-foto ini umurnya telah mencapai beberapa ribu tahun. Ini semua bukan didirikan oleh orang Romawi, bahkan bukan oleh bangsa Etruscan, yang adalah leluhur kuno orang Romawi. Namun monumen-monumen ini masih berdiri kokoh sampai hari ini, membawa kesaksian bisu mengenai kekuatan dan keahlian para pendirinya, dan telah melewati sejarah panjang umat manusia.

San Felice Circeo

700-san-felice-circeo-1

700-san-felice-circeo-2

700-san-felice-circeo-3

San Felice Circeo adalah sebuah kota di provinsi Latina, di wilayah Lazio, Italia tengah.

Assini

700-assini-1

Batu-batu yang nampak seperti dipotong menggunakan laser, terpasang sempurna satu dengan yang lainnya, membentuk pola geometris.

Norba

700-norba-12

700-norba-3-2

700-norba-2

700-norba-3

Tembok-tembok yang didirikan di bawah bangunan Romawi tidak menggunakan mortar, hanya dengan menyusun balok-balok batu, sebagian di antaranya memiliki bobot beberapa ratus ton. Bangsa Romawi kemudian mendirikan bangunan mereka di atas reruntuhan fondasi-fondasi bangunan Cyclopean ini.

Alatri

700-alatri-1

700-alatri-3

700-alatri-4

Kota akropolis Alatri, dibangun pada bagian dalamnya dengan dua cincin tembok batu poligonal, dengan lima pintu gerbang yang dua di antaranya masih berfungsi, disebutkan sebagai kompleks Cyclopean paling baru dan paling terpelihara di seluruh Italia.

Arpino

700-arpino-0

700-arpino-1

700-arpino-2

Pietrabbondante

700-pietrabbondante-1

700-pietrabbondante-2

Segni

700-segni-1

Bagian dari tembok benteng keliling Signia (Segni). Tembok ini dibangun dengan blok-blok batu poligonal. Pintu gerbangnya merupakan “lengkung tipuan” dari batu penopang, dengan balok ambang yang berat.

700-segni-2
Pemandangan podium (panggung) dan Capitolium Signia (Segni) kuno.

Alba Fucens

700-alba-fucens-1

700-alba-fucens-2

700-alba-fucens-3

700-alba-fucens-4

700-alba-fucens-5

Cosa

700-cosa-1

700-cosa-2

700-cosa-3

“Mereka yang belum pernah melihat apa yang disebut kota-kota Cyclopean Latium… keajaiban-keajaiban seni prasejarah itu, yang mengagumkan pikiran dengan kehebatan mereka, memenuhinya dengan kekaguman, atau kehebohan yang memancing spekulasi atas kekunoan mereka, ras yang membangun itu, dan kedudukan sosial mereka yang membutuhkan benteng yang begitu masif di tempat-tempat yang tidak terjangkau kecuali oleh mereka, sebagai tempat kediamannya; – mereka yang belum memandang kemuliaan mahkota peradaban Italia purba – benteng dan menara lengkung Norba – pintu-pintu gerbang Segni dan Arpino – benteng Alatri – teras-teras Cosa – penutup jalan Praeneste, dan karya-karya kolosal bangunan batu yang sama di pegunungan Latium, Sabina, dan Samnium, akan takjub pada pandangan pertama akan tembok-tembok Cosa.

Tidak, mereka yang tidak asing dengan gaya bangunan batu ini, akan keheranan saat memandangnya di lokasi, begitu terpencil di daerah yang nampak dari lokasi khususnya. Dia akan memandang pada tembok-tembok balok-balok batu raksasa ini, dalam bentuk poligon tak beraturan, tidak diikat menjadi satu dengan semen, tetapi saling mengunci satu sama lain dengan kerapian yang mengagumkan, sehingga sendi-sendinya hanya berupa garis-garis, yang sia-sia saja bila mencoba memasukkan pisau lipat ke dalamnya: permukaannya begitu halus seperti meja bilyar; dan keseluruhannya menyerupai, pada jarak sedikit jauh, seperti tembok yang baru diplester, yang nampak seperti digaris-garis oleh penggaris dengan pola-pola misterius.” George Dennis, Kota-kota dan Kuburan-kuburan Etruria, London, 1848

700-cosa-4

700-cosa-5
Tembok benteng batu kapur bangunan batu poligonal dari koloni Romawi di Cosa, Tuscany, Italia.

Next: Reruntuhan Bangunan Nephilim, Atlantis, Ras Cyclops dan Mata Ketiga


[Bab 1] [Bab 2] [Bab 3] [Bab 4]

Iklan