[Bab 1] [Bab 2] [Bab 3] [Bab 4]


Bab 4 -Freemasons dan Mata Ketiga Cyclops

Gambar simbol “Mata Satu” sangat umum di kalangan “Perkumpulan Rahasia” di Barat, yang anggota-anggotanya memiliki filosofi yang luar biasa, aktif, kreatif dengan pemikiran yang spiritual. Mata Satu merupakan simbol paling tinggi dan sakral di dalam Freemansonry. Itu ada di “Papan Simbol” Masonic, suatu desain ilustrasi yang dicetak atau berupa lukisan yang menggambarkan lambang-lambang dan simbol-simbol Freemasonry, instruksi kuno yang ada di seluruh “lodge” (pondok organisasi) Freemasons yang digunakan untuk mengajar calon anggota. “Papan Simbol” merupakan peninggalan dari hikmat Masonic yang asli.

700-tracing-board

500-tracing-board-2
Papan Simbol Masonic menampilkan Mata Cyclops.

“Tiga” benda angkasa ditunjukkan: Matahari, Bulan, dan Mata Satu. Matahari dan Bulan memahkotai dua pilar tinggi yang paralel, membentuk segitiga sama sisi, yang puncaknya adalah Mata yang memancarkan sinar cahaya ke bawah.

Mata Satu itu melebihi simbol-simbol lainnya karena ukurannya, posisinya, dan cahayanya yang terang; bahkan itu melampaui Matahari, dan pada kenyataannya itu merupakan sumber cahaya di dalam gambar itu. Karena alasan ini, beberapa anggota Masons menyebutnya “All-Seeing Eye” (Mata Serba Melihat). Yang lainnya mengatakan itu adalah “Mata Elohim”.

Dalam bukunya The Wonders of the Human Body (1918), Dr. George Washington Carey menuliskan:

“…Mata Serba Melihat… Ini adalah mata FreemasonryMata Ketiga. Sementara aku mendapatkan informasi yang kredibel bahwa hanya sedikit Masons yang memahami simbol mereka sendiri, kenyataannya tetap bahwa mereka menggunakannya…” – Dr. George Washington Carey, The Wonders of the Human Body, 1918

ecuador-pyramid-600
All Seeing Eye di Piramida Hitam.

Artefak ini ditemukan di hutan pegunungan La Maná, Ecuador pada tahun 1980. Piramida ini bertingkat 13 [sama seperti The Great Seal di uang Dollar Amerika Serikat] dan ada ukiran simbol All Seeing Eye di bagian atas. Bila terkena sinar ultraviolet, batu piramid ini akan berpendar dan mata tersebut akan menyala. Bagian mata tersebut bersifat magnetik. Di bagian bawahnya ada ukiran emas berbentuk simbol rasi bintang Orion (rasi Pemburu Besar – simbol dari Nimrod), dan ada tulisan Pre-Sanskrit. Jadi bisa dipastikan artefak ini usianya sudah ribuan tahun. Menurut Profesor Kurt Schildmann, Presiden Asosiasi Linguistik Jerman, tulisan dibawah itu diterjemahkan “anak sang Pencipta berasal dari sini” [maksudnya Orion]. (Baca: Pesan Tersembunyi Konstelasi Orion, Cetak Biru Bangunan-bangunan Purbakala Peninggalan Nephilim)

Mungkinkah bahwa gambar ini, Mata Serba Melihat Masonry, adalah “Mata Cyclops” atau “Mata Ketiga” – yang ada pada diri manusia, yang menunggu untuk distimulasi/dicelikkan? Freemasonry seringkali disebut “Ilmu Pengetahuan Jiwa”. Maka ada kemungkinan, bahwa suatu “Tata Cara” atau instruksi-instruksi khusus digunakan mereka untuk membangunkan Mata Cyclops atau Mata Ketiga yang tersembunyi di dalam dahi mereka, yang akan menghubungkan calon anggotanya dengan kuasa yang berasal dari dimensi spiritual – dengan hikmat dan kuasa yang sama yang dimiliki oleh leluhur nenek moyang mereka – para raksasa Cyclops.

Menurut Blavatsky, ras raksasa-raksasa purba mengalami kematian, namun mereka tidak mati sebelum meneruskan pengetahuan “spiritual” mereka dan “kepercayaan akan Mata Ketiga” kepada keturunan-keturunan mereka, kepada peradaban-peradaban paling awal dari manusia:

“…Cyclops… adalah mereka yang telah mendirikan apa yang disebut bangunan-bangunan ‘Cyclopean‘ yang pengerjaannya membutuhkan beberapa resimen Raksasa… Mereka disebut “Ras Pembangun,” dan para Okultis menyebut mereka Inistiator, yang sekaligus meletakkan batu fondasi untuk Masonry yang sesungguhnya.” – H.P. Blavatsky, The Secret Doctrine

Seorang penjelajah dunia abad ke-19, Charles Boileau Elliott, menuliskan:

“Dalam seluruh reruntuhan bangunan arsitektur Cyclopean yang masih ada… ada kemiripan tunggal yang sulit untuk diceritakan. Diduga bahwa Cyclopean adalah sekelompok Freemasons yang dipekerjakan untuk mendirikan bangunan-bangunan mercusuar, benteng-benteng, dan sebagainya, yang menurunkan seni misterius mereka dari generasi ke generasi; dan bahwa bangunan-bangunan besar mereka yang menakjubkan itu menimbulkan mitos yang dengan namanya itu mereka dihubungkan.” – Charles Boileau Elliott, Perjalanan di tiga kerajaan besar di Austria, Russia, dan Turkey, Volume 2 (1838)

Dari bukunya “Freemasonry dan The Illuminati,” Peter Farley menuliskan:

“Teks-teks sejarah populer dan ensiklopedia biasanya menggambarkan Illuminati berasal dari Bavaria pada tahun 1776. Namun, asal usulnya sebenarnya jauh mundur sampai ke belakang. Illuminati berhubungan langsung melalui Masonry kepada Matahari dan sekte Isis dari Mesir kuno.

“Istilah ‘Illuminati’ digunakan oleh seorang penulis awal, Menendez Pelayo, kira-kira sejak tahun 1492 dan disematkan kepada suatu kelompok yang dikenal sebagai “Alumbrados” dari Spanyol. Kelompok Alumbrados ini dikatakan menerima pengetahuan rahasia dari sumber tak dikenal tingkat tinggi, yang berdampak terhadap kecerdasan superior manusia. Kelompok ini akhirnya dikutuk oleh dekrit Inkuisisi Besar pada tahun 1623, yang menyebabkan peperangan panjang antara Gereja Roma Katholik dengan serikat-serikat rahasia.

“Beberapa penulis mengklaim bahwa ada suatu kelompok yang dikenal sebagai “Illuminated Ones” (Yang Tercerahkan) didirikan oleh Joachim dari Floris pada abad ke-11 dan mengajarkan doktrin Kristen “kemiskinan dan kesetaraan.” Taktik ini untuk menyamarkan Illuminisme di belakang selubung tipis Kekristenan.

“Penulis lain melacak Illuminati hingga kepada kelompok Ishmaelean yang menakutkan, sekte Islam, yang juga dikenal sebagai “Hassassins” (Pembunuh). Didirikan tahun 1090 oleh Hassan Sabah, kelompok ini menggabungkan penggunaan obat bius hashish dengan pembunuhan sebagai jalan utama mereka mencapai Illuminasi (Pencerahan).

“Pembunuhan merupakan pengalaman mistis dari cabang Sekolah Misteri ini. Mereka tidak hanya mempertahankan kontrol mereka dengan pembunuhan dan ancaman pembunuhan, mereka percaya bahwa seorang pembunuh dapat memperoleh gnosis, atau energi jiwa dari korbannya. Ini adalah teori di belakang pengorbanan-pengorbanan hewan dan manusia yang dijalankan para Satanis di sepanjang sejarah (termasuk ritual penyiksaan dan pelecehan anak-anak kecil – pedofilia).

“Agama-agama primitif mendapatkan efek yang sama melalui ritual tari-tarian dan pukulan-pukulan tambur atau hentakan-hentakan drum. Mencari bentuk iluminasi seperti ini menjadi daya tarik utama dari obat-obat bius seperti marijuana, hashish, LSD. Sekte Buddha tertentu dapat memperoleh iluminasi melalui ritual-ritual seksual yang dikenal sebagai Tantra Yoga, atau melalui berbagai bentuk meditasi berbeda. Perkumpulan-perkumpulan para penyihir masih menjalankan perhimpunan mereka dalam keadaan telanjang bulat dan berpartisipasi dalam ritual-ritual seksual berkelompok untuk mendapatkan efek yang sama. Partisipasi massa dalam kurban-kurban binatang – bahkan manusia – merupakan jalan lain untuk memperoleh gnosis.

“Fakta yang menyedihkan adalah meskipun seks, obat bius, tari-tarian, dan hentakan-hentakan drum dipercayai melepaskan banyak gnosis, para Satanis percaya bahwa pengurbanan-pengurbanan manusia memberikan lebih banyak gnosis dibandingkan hal-hal lainnya.

Seperti demikianlah intrik gelap dan kotor dari jiwa-jiwa terdelusi yang berpikir pengumpulan gnosis dan pencerahan mereka akan memberikan kepada mereka semacam keilahian atau immortalitas (kekekalan). . . “

Dalam bukunya pada tahun 1929 yang berjudul Magick In Theory, Aleister Crowley, bapak Satanisme dunia menjelaskan mengapa kanak-kanak sering dipilih sebagai korban-korban okultisme:

“Merupakan teori dari penyihir-penyihir kuno bahwa setiap makhluk hidup merupakan gudang energi yang bervariasi kuantitasnya menurut ukuran dan kesehatan binatang itu, dan dalam kualitasnya sesuai mental dan karakter moralnya. Pada waktu kematian binatang ini, energi tersebut dilepaskan secara tiba-tiba. Untuk tenaga spiritual tertinggi, seseorang harus memilih korban yang memiliki energi yang paling besar dan paling murni. Seorang anak laki-laki murni yang tak berdosa dengan intelektualitas tinggi adalah korban yang paling memuaskan dan sesuai.”

Peter Farley melanjutkan:

“Setiap Mason mengucapkan sumpah berupa serangkaian ikrar yang sangat kuno, sehingga istilah khusus diberikan untuk menggambarkannya. Ini disebut “ikrar-ikrar darah.”

Masonry, yang dikenal sekarang ini di Amerika, dianggap memiliki tingkatan atau derajat sampai 33.”

Derajat 33 ini berhubungan langsung dengan koordinat titik lokasi turunnya Tuhan mereka, yakni para Malaikat Pengawas – Malaikat Pemberontak – di puncak Gunung Hermon. Gunung Hermon di Phoenicia, lokasi pertama pengaruh “Dewa-dewa” dengan manusia, berada tepat pada 33,33° Lintang Utara dan 33,33° Bujur Timur… 2012 mil dari garis Ekuator dan 2012 mil dari meridian utama. (Lokasi garis bujur Gunung Hermon berdasarkan meridian Paris 0°, 2,20° sebelah timur Greenwich). Baca: Georgrafi Paranormal Tanah Israel.

Peter Farley melanjutkan:

“Banyak cabang organisasi berkembang selama bertahun-tahun yang berusaha menambahkan derajat-derajat lain di atas tiga puluh tiga seperti yang dikenal publik. Mormonisme adalah salah satu cabang tersebut. Pendirinya Mormonisme, Joseph Smith, dan sebagian besar, jika bukan semua anggota lingkaran dalam pendukungnya merupakan Mason. Dia memakai banyak ritual-ritual Masonic untuk sekte baru Mormon yang diciptakannya.”

“Melewati masing-masing tingkatan, Mason harus bersumpah ikrar yang lebih kejam. Detail-detail ikrar inisiasi untuk tiga derajat pertama Mason merupakan rahasia Masonic yang dijaga sangat ketat. Bahkan, setiap Mason harus bersumpah membunuh rekan Mason mana pun yang berani mengungkapkannya. Namun, beberapa anggota Mason yang berani dalam 200 tahun terakhir, merasa terdorong untuk berbicara, mempublikasikan “pekerjaan rahasia” supaya diketahui umat manusia. Karena orang-orang seperti inilah kata-kata ikrar dan ritual-ritual dari setidaknya tiga derajat Mason pertama dapat terungkap.”

“Pengalaman pribadi akan kehadiran Lucifer seringkali tidak digambarkan dalam literatur. Bagaimana seperti Hitler yang hidup dalam tubuh fisik, sementara mengalir energi inkarnasi Luciferian di dalam dirinya hanya disinggung sekilas dalam biografinya.”

Monumen-monumen Cyclopean di Italia dan Eropa nampaknya berhubungan dengan Atlantis, Mata Ketiga, dan Freemasonry.

Apakah karena ini maka pemerintah-pemerintah “Elite” dunia dan universitas-universitas terkemuka berusaha menindas dan menyembunyikan segala sesuatu yang berhubungan dengan puing-puing misterius yang mengagumkan ini?

Jika kita membandingkan deskripsi Plato tentang Atlantis dengan monumen-monumen dunia yang paling purba sekarang ini – seperti Stonehenge, Piramida, bangunan-bangunan megalitik Peru dan Bolivia – ditambah lagi perbandingan dari tulisan-tulisan Kitab Suci yang ada, kita akan sampai pada satu kesimpulan, sejarah yang selama ini diajarkan di sekolah-sekolah (yaitu: manusia berasal dari nenek moyang kera; dari manusia primitif yang tinggal di gua-gua dan akhirnya menjadi manusia modern penjelajah luar angkasa) adalah kebohongan.

Apakah umat manusia dijadikan bodoh oleh pemerintah-pemerintah “Elite” dunia dan perusaahan-perusahaan korup supaya bisa diperbudak dan dikendalikan di dalam suatu sistem dunia yang mereka ciptakan?

Tembok-tembok Cyclopean Italia dan di seluruh dunia telah mengancam pandangan sejarah evolusi “dari manusia gua berubah menjadi manusia modern penjelajah angkasa”, yang merupakan agenda mayoritas besar yang dipaksakan oleh pemerintah-pemerintah “Elite” dunia, universitas-universitas, dan media massa. Monumen-monumen megalitik di Italia dan tempat-tempat lain di dunia menunjukkan adanya keberadaan suatu peradaban super canggih yang ada di zaman purbakala di semenanjung Italia (dan semenanjung Yunani), suatu peradaban yang mungkin beberapa tahun cahaya lebih maju dibandingkan bangsa Estruscan dan Romawi, dan peradaban manusia kuno lainnya di seluruh dunia.

Dengan kata lain, bukannya berasal dari kera, manusia sesungguhnya adalah makhluk Ilahi yang diciptakan oleh Elohim. Setiap manusia memiliki elemen Ilahi di dalamnya, yang menjadikan kita roh yang kekal yang hanya sementara saja tinggal di dalam dunia material. Dan bahwa ada suatu bentuk peradaban tinggi di Bumi, yang tidak terlalu jauh di masa lampau, yang memahami hukum-hukum surgawi dan alam semesta dengan lebih baik daripada manusia sekarang ini. Suatu bentuk ras yang lebih maju dibandingkan kita sekarang ini…

Mengapa ada usaha untuk menutup-nutupi dan menyingkirkan bukti-bukti aktivitas para Malaikat yang Jatuh dan keturunan raksasa mereka (Nephilim) pada masa Pra-Banjir Besar? Apakah ini juga yang menyebabkan semua tulisan yang berhubungan hal tersebut, seperti halnya Kitab Henokh disensor, karena kitab ini mengungkapkan dengan gamblang aktivitas para malaikat yang jatuh dan keturunan raksasa mereka? Kitab Henokh akhirnya dinyatakan sebagai kitab yang sesat, dilarang untuk dibaca, dibakar dan dimusnahkan oleh Vatican – Gereja Roma Katholik. Selanjutnya mereka “menciptakan” teori Seth yang menyesatkan bahwa para raksasa ini sebenarnya adalah anak-anak Seth yang hidup dalam kebenaran, yang mengawini anak-anak perempuan Kain yang hidup dalam kefasikan. Namun, mungkinkah perkawinan antar manusia normal akan menghasilkan ras raksasa-raksasa yang tingginya – menurut Kitab Henokh – mencapai 3000 ells? Yang kecerdasan, hikmat, keahlian dan pengetahuan mereka tercermin dari sisa-sisa bangunan peninggalan mereka yang ditemukan di berbagai tempat di seluruh dunia?

Bolehkah kita berspekulasi, bahwa sebenarnya para “Elite” penguasa dunia ini sebenarnya adalah keturunan para Malaikat yang Jatuh itu?


[Bab 1] [Bab 2] [Bab 3] [Bab 4]


Baca:

Darah Rhesus (RH) Negatif? Anda Mungkin Keturunan Nephilim

Kitab Henokh: Kisah Nyata Malaikat dan Asal-usul Setan

100 Bukti Raksasa Nephilim Ada di Bumi

Jejak Kaki Raksasa yang Ditemukan di Seluruh Dunia

Referensi:

Megalithic Cyclopean Masonry

Hidden Italy: The Forbidden Cyclopean Ruins (Of Giants From Atlantis?)

Cyclopean masonry

Cyclopean Masonry: A Mystery of the Ancient World

Cyclopean Masonry in Greece and South America

Mysteries of Ancient Greece

Massive Megalithic Stone Ruins Discovered in Russia

Monolithic Madness – Shoria or not Shoria? Russian Giants

Freemasonry and Illuminati

Iklan