Prinsip bahwa para malaikat surgawi tidak kawin dan tidak dikawini, terdapat dalam perkataan Tuhan Yesus ketika Dia menjawab pertanyaan orang-orang Saduki tentang kebangkitan, “Sebab, pada waktu kebangkitan, mereka tidak kawin maupun dikawini, tetapi menjadi seperti malaikat-malaikat Elohim di surga.” Matius 22:30 (ILT)

Hal ini menimbulkan tanda tanya dari banyak orang ketika membaca dari Kitab Kejadian pasal 6, bahwa Anak-anak Elohim (para malaikat) mengawini anak-anak perempuan manusia. Bukankah malaikat itu makhluk rohani? Bagaimana mereka bisa mengawini anak-anak perempuan manusia itu secara seksual, sehingga mereka memiliki anak-anak hybrid raksasa yang terkenal itu, yang disebut Nephilim?

Kejadian 6:4 (TB) Pada waktu itu orang-orang raksasa (Ibrani: Nephilim) ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Elohim (Ibrani: benei ha’Elohim; para malaikat) menghampiri anak-anak perempuan manusia (Ibrani: benot ha’Adam), dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan.

Pertanyaan yang sering muncul adalah:

  1. Jika para malaikat tidak perlu bereproduksi dan jika mereka hanya ada malaikat laki-laki, bagaimana mereka bereproduksi dengan perempuan manusia?
  2. Apakah itu berarti mereka punya organ-organ reproduksi laki-laki, dan jika punya, kenapa? Jika mereka tidak perlu untuk bereproduksi di surga.

Di dalam keseluruhan Alkitab memang hanya disebutkan malaikat laki-laki saja, dan itu membuat orang menyimpulkan bahwa tidak ada malaikat perempuan.

Pertanyaan tentang bagaimana mereka mengeluarkan benih (Yunani: sperma) mereka bisa ditemukan dalam beberapa ayat Alkitab. Pertama-tama, yang harus dipahami adalah bahwa malaikat dapat mengubah wujud mereka, nampaknya menurut keinginan mereka. Istilah populernya adalah berubah wujud (shape-shifting).

2Korintus 11:14 (ILT) Dan tidak heran, karena Satan sendiri pun menyamar (Yunani: metaschematizo) sebagai malaikat terang.

Kata “menyamar” menggunakan bahasa Yunani “metaschematizo” (G3345), yang artinya: mengubah bentuk, transformasi, transfigur, merubah rupa.

Satan, atau malaikat, bisa mengubah bentuk fisiknya (shape-shifting) seperti yang mereka kehendaki.

Dalam 2 Korintus 5:2, kita menemukan kata “oiketerion” (artinya tempat kediaman), yang digunakan untuk menggambarkan perubahan tubuh manusia dari tubuh yang fana (mortal; dapat binasa) berubah menjadi tubuh “surgawi” (immortal; tidak dapat binasa) yang akan dikenakan orang-orang percaya di masa depan, pada waktu peristiwa kebangkitan orang mati.

2Korintus 5:2 (ILT) Sebab juga, di sini kita mengeluh karena rindu mengenakan tempat kediaman (Yunani: oiketerion) kita yang dari surga (yaitu: tubuh surgawi)…

Kata “tempat kediaman” menggunakan bahasa Yunani “oiketerion” (G3613), yang artinya: tempat kediaman, tempat tinggal, rumah, tubuh (yang baru) sebagai tempat kediaman roh.

Kata yang sama (oiketerion) digunakan dalam hubungan dengan malaikat-malaikat yang berbuat dosa dengan mengambil istri-istri (perempuan manusia) dalam Kejadian 6.

Dari Kitab Yudas kita membaca bahwa ada sebagian malaikat yang “tidak menjaga asal-usul mereka, namun meninggalkan “tempat kediaman” [oiketerion] mereka.” Ini artinya, mereka menanggalkan tubuh surgawi (immortal) mereka, dan mengenakan tubuh lahiriah (mortal).

Yudas 1:6 (ILT) Juga para malaikat, mereka yang tidak menjaga asal-usul mereka sendiri, malah telah meninggalkan tempat kediamannya (Yunani: oiketerion) sendiri, Dia telah menahan mereka dengan belenggu abadi di bawah kekelaman, sampai pada penghakiman pada hari yang besar.

Dari sini, dapat dipahami bahwa adalah mungkin bagi malaikat-malaikat dan para Malaikat yang Jatuh untuk mentransformasi diri mereka sendiri dari tubuh-tubuh rohani menjadi semacam tubuh-tubuh lahiriah.

Hal lain lagi adalah bagaimana “benih” (Yunani: sperma) itu tidak ditentukan oleh “hardware” (fisiknya), tetapi oleh “software“, yaitu informasi yang terkandung di dalam benih itu (DNA). Karena benih/DNA itu sesuatu yang bukan merupakan entitas material, maka tidak ada halangan bagi makhluk-makhluk yang berasal dari dimensi spiritual untuk mengambil bentuk dalam wujud lahiriah.

Ini semua diteguhkan dengan kutipan dari Kitab Henokh:

Henokh 15:3. Mengapa kamu (para Malaikat Pengawas) meninggalkan tempat tinggi yang kudus, dan kekal di surga, dan tidur dengan wanita, dan mencemarkan dirimu dengan anak-anak perempuan manusia, dan mengambil istri bagi dirimu sendiri, dan bertindak seperti anak-anak manusia di bumi, dan memperanakkan para raksasa? 4. Sementara kamu yang adalah roh, kudus, memiliki hidup yang kekal (immortal; tidak dapat binasa), kamu mencemarkan dirimu dengan wanita, dan memperanakkan anak-anak darah dan daging, dan mengejar nafsu akan anak-anak manusia, dan telah menghasilkan daging dan darah sebagaimana manusia yang akan mati dan hancur (mortal; dapat binasa). 6. Kamu tadinya roh, menjalani hidup yang kekal (immortal) tanpa kematian sepanjang seluruh generasi dunia. 7. Oleh karena itulah Aku tidak menetapkan bagimu istri-istri, karena makhluk rohani bertempat kediaman di surga.

Incubi, Succubi, Daemon, dan Makhluk-makhluk Elemental

succubi

Penculikan Alien

Berdasarkan fakta-fakta di atas, kita mulai penyelidikan ini bukan dengan apakah manusia telah, bisa, atau sedang dihybridisasi, tapi apakah agen-agen Alien/Iblis terlibat dalam proses ini.

Dewasa ini, apa yang oleh sebagian orang disebut “penculikan Alien,” di mana diduga terjadi program pembiakan yang menghasilkan bayi-bayi hybrid alien-manusia, tampaknya merupakan perulangan kembali pada zaman modern ini, pengumpulan DNA dan manipulasi genetika oleh makhluk-makhluk misterius yang disebut “Malaikat Pengawas” yang melakukan kegiatan modifikasi genetika.

Dalam bukunya, “Confrontations – A Scientist’s Search for Alien Contact“, seorang peneliti UFO yang sangat dihormati, Dr. Jacques F. Vallée, berpendapat:

“Kontak dengan [Alien-alien] hanyalah perpanjangan modern dari tradisi kuno tentang hubungan dengan entitas-entitas non-manusia dalam berbentuk malaikat-malaikat, iblis-iblis, elves, dan sylph.” [i]

Belakangan, Vallée mengidentifikasi lebih dekat kekuasaan yang beroperasi di balik para “Alien” ini sama dengan para Malaikat Pengawas yang jatuh dalam hari-hari Zaman Nuh:

Apakah ras-ras ini hanyalah semi-manusia, sehingga untuk mempertahankan kontak dengan kita, mereka perlu melakukan perkawinan silang dengan laki-laki dan perempuan dari planet bumi?

Apakah ini asal-usul dari banyak cerita dan legenda di mana genetika memainkan peranan besar: simbolisme Perawan di dalam okultisme dan kepercayaan, dongeng-dongeng yang berhubungan dengan bidan-bidan manusia dan “changeling“, nuansa-nuansa seksual dari laporan-laporan tentang piring terbang, cerita-cerita Alkitab tentang perkawinan antara malaikat Tuhan, dengan wanita bumi, yang melahirkan keturunan ras raksasa? [ii]

Changeling” adalah makhluk yang diceritakan dalam kisah-kisah rakyat dan dongeng, dimana anak “changeling” dipercayai merupakan anak “fairy” (peri) yang ditinggalkan sebagai pengganti bayi manusia yang diculik oleh fairy. Cerita tentang anak yang ditukar ini umum di dalam literatur abad pertengahan dan menggambarkan kekhawatiran atas bayi-bayi yang dianggap ditimpa penyakit-penyakit, kelainan-kelainan atau kecacatan yang tidak dapat dijelaskan.

Seorang peneliti UFO terkemuka lainnya yang sangat dihormati dan sering dikutip tulisannya, John Keel, mengemukakan hal yang sama ketika ia menyatakan dalam bukunya “Operation Trojan Horse“:

Demonologi bukan sekedar kegilaan. Ini adalah studi kuno dan ilmiah dari monster-monster dan setan-setan yang tampaknya telah hidup berdampingan dengan manusia di sepanjang sejarah…

Manifestasi-manifestasi dan kejadian-kejadian yang dijelaskan dalam literatur ini mengesankan kemiripan, jika bukan identik sepenuhnya, dengan fenomena UFO itu sendiri. Korban demonomania [kerasukan] menderita gejala-gejala medis dan emosional yang sama seperti orang-orang yang mengalami kontak dengan UFO…

Menurut literatur, Satan dan iblis-iblisnya dapat menampakkan diri dalam hampir segala bentuk, dan secara fisik bisa mengimitasi/menirukan segala sesuatu mulai dari malaikat-malaikat sampai monster-monster mengerikan dengan mata bersinar.

Benda-benda dan entitas-entitas aneh bermaterialisasi dan dematerialisasi dalam cerita-cerita ini, sama seperti UFO dan penumpang-penumpangnya yang bisa muncul dan menghilang, berjalan menembus tembok-tembok, dan melakukan perbuatan-perbuatan supernatural lainnya. [iii]

Profesor psikologi Elizabeth L. Hillstrom bahkan lebih tegas dalam membandingkan antara pengalaman-pengalaman-pengalaman penculikan “Alien” dengan aktivitas Iblisi secara historis, mengutip dari bukunya “Testing the Spirits“, mengungkapkan daftar panjang para sarjana yang berasal dari berbagai disiplin ilmu yang menyimpulkan bahwa: persamaan-persamaan antara ET (makhluk luar angkasa; Alien) dengan Iblis-iblis nampaknya bukan sekedar kebetulan.

Hillstrom mengutip pendapat dari otoritas tingkat pertama, antara lain Pierre Guerin, seorang ilmuwan yang berhubungan dengan French National Council for Scientific Research, yang mempercayai bahwa,

“UFOnauts modern dan setan-setan pada zaman lampau kemungkinan identik,” [iv]

…dan peneliti veteran John Keel, yang menemukan bahwa,

“Manifestasi-manifestasi UFO tampaknya, besar atau kecil, hanyalah variasi-variasi minor dari fenomena demonologi kuno.” [v]

Psikiater Harvard dan pemenang Hadiah Pulitzer, John Mack, mempertaruhkan karirnya ketika ia mengumumkan bahwa fenomena penculikan Alien sangatlah nyata, meskipun berupa serangan yang bersifat quasi-spiritual.

Berikut ini adalah kutipan menakutkan dari buku Mack “Passport to the Cosmos“:

Beberapa korban penculikan merasa bahwa makhluk-makhluk tertentu tampaknya ingin mengambil jiwa mereka dari tubuh mereka. Greg mengatakan kepadaku bahwa teror pertemuannya dengan makhluk reptilian tertentu begitu intens sehingga ia takut dipisahkan dari jiwanya.

“Jika aku harus dipisahkan dari jiwaku,” katanya, “Aku tidak akan memiliki rasa keberadaan. Aku pikir seluruh kesadaranku akan pergi. Aku akan berhenti untuk ada. Itu adalah hal terburuk yang bisa diperbuat seseorang kepadaku.” [vi]

Mack mencatat halaman demi halaman fenomena Iblisi yang begitu jelas tersebut. Korban lain menggambarkan kengeriannya dengan mengatakan,

“Aku tahu secara naluriah bahwa makhluk apa pun yang ada di sampingku ingin masuk ke dalamku. Ia hanya menunggu untuk memasuki aku.” [vii]

Tentu saja, ini jeritan-jeritan kerasukan setan, tetapi, terhadap bukti, sudut pandang dunia naturalistik Mack mengarahkan dia ke arah hipotesis makhluk luar angkasa.

Sebaliknya, Vallée menghubungkan poin-poin ini dan menyimpulkan:

“‘Pemeriksaan medis‘ dimana korban-korban penculikan mengatakan diri mereka ditaklukkan, seringkali disertai  manipulasi seksual sadis, mengingatkan pada kisah-kisah abad pertengahan tentang perjumpaan dengan setan-setan.” [viii]

Dengan karakteristik-karakteristik seperti ini diutarakan para ahli sekuler, tidak mengherankan bahwa kita juga menghubungkan fenomena UFO/ET (makhluk luar angkasa; Alien) dengan aktivitas Iblisi.

Incubi, Succubi, Daemon, dan Makhluk-makhluk Elemental

Berbeda dengan “setan-setan” di dalam kepercayaan Yudeo-Kristiani, peneliti UFO Perancis, Aimé Michel (1919-1992), lebih suka menganggap makhluk “daemon” di dalam sejarah Yunani kuno sebagai para aktor dari berbagai aktivitas UFO dan ET/Alien.

materialize

Perbedaan antara setan (roh tidak berwujud, yang jahat, yang dapat menggoda, menindas (perasaan), atau merasuki manusia) dengan “daemon” di dalam kepercayaan dan filsafat Helenistik Yunani kuno adalah bahwa daemon berbentuk lahiriah (meskipun seringkali tidak kelihatan dan terdiri dari material genetika yang bukan seperti manusia atau hewan) dan bisa bersifat baik (eudoaemons) atau jahat (cacodaemons).

Eudoaemons (juga disebut agathodaemons) kadang-kadang dihubungkan dengan malaikat-malaikat yang baik, roh-roh/hantu dari para pahlawan yang mati, atau makhluk-makhluk supernatural yang ada di antara makhluk-makhluk mortal dan dewa-dewa (seperti dalam ajaran pendeta-pendeta wanita Diotima kepada Socrates dalam “Plato’s Symposium“), sementara cacodaemons adalah roh-roh jahat yang penuh kebencian yang bisa menindas manusia dengan penyakit-penyakit atau kelemahan mental, fisik, dan spiritual.

(Dalam psikologi, cacodemonia atau cacodemomania adalah kepercayaan patologis di mana si pasien mempercayai dia dihuni, atau dirasuki oleh entitas jahat atau roh jahat.)

Gambaran dari potensi konsekuensi spiritual dan fisik terhadap manusia ini, tercermin dalam tulisan-tulisan seorang theolog Fransiskan Italia, pengusir setan dan penasihat dari Supreme Sacred Congregation of the Roman and Universal Inquisition di Roma, Ludovico Maria Sinistrari (1622-1701).

Sinistrari, yang dianggap sebagai seorang pakar mengenai dosa-dosa seksual, menulis panjang lebar tentang individu-individu yang dituduh melakukan hubungan cinta dengan setan-setan.

Karyanya, “De daemonialitate, et incubis et succubis“, dapat dianggap hari ini sebagai catatan-catatan paling awal dari apa yang sebenarnya dapat disebut “penculikan Alien” yang menghasilkan keturunan hybrid, karena Incubi dan Succubi yang diutarakan dalam pendapat Sinistrari ini bukanlah roh-roh jahat atau pun malaikat yang jatuh, tetapi makhluk-makhluk jasmani. Sinistrari menuliskannya,

“diciptakan di tengah-tengah antara manusia dan malaikat.” [ix]

Sinistrari mendapati bahwa para biarawan dan biarawati memiliki ketertarikan khusus kepada Incubi/Succubi, kemungkinan disebabkan karena mengalami frustrasi seksual terpendam akibat sumpah selibat yang menjadikan mereka target yang empuk (yang membuat orang bertanya-tanya apa sesungguhnya maksud Santa Cecilia yang dihormati, ketika ia berkata kepada Valerian, “Ada sebuah rahasia, Valerian, aku ingin memberitahumu. Aku memiliki seorang kekasih, seorang malaikat Allah yang dengan cemburu menjagai tubuhku”). [x]

Bukti fisik, termasuk sperma, yang tersisa di tempat kejadian menyusul hubungan intim dengan makhluk-makhluk setan itu seringkali berlebihan, menolak kemungkinan dalam setidaknya beberapa kasus bahwa peristiwa itu hanya terjadi secara psikologis. Salah satu insiden semacam itu antara seorang biarawati yang sedang tidur dengan seorang Incubus yang berwujud seorang “pemuda” spektral, disaksikan oleh banyak saksi mata dan dicatat oleh Sinistrari dalam bukunya, “Demoniality“.

Pastor Katolik itu menulis:

Dalam sebuah biara (aku tidak menyebutkan namanya dan juga kota di mana itu berada, supaya tidak mengingatkan memori tentang skandal masa lalu itu), ada seorang biarawati, yang karena hal-hal sepele yang biasa terjadi dengan perempuan dan khususnya dengan para biarawati, bertengkar dengan salah seorang rivalnya yang menempati sebuah bilik yang bersebelahan dengan miliknya.

Dengan cepat mengamati semua tingkah laku seterunya, tetangga ini melihat, beberapa hari berturut-turut, bahwa ketimbang berjalan-jalan dengan teman-temannya di taman sesudah makan malam, dia bersegera mengundurkan diri ke biliknya, di mana dia mengunci diri di dalamnya. Gelisah untuk mengetahui apa yang dia bisa lakukan di sana sepanjang waktu itu, biarawati yang ingin tahu ini pergi juga ke biliknya.

Tidak lama ia mendengar suara, seperti ada dua suara berbicara dengan nada ditahan-tahan, yang dengan mudah bisa ia dengarkan, karena dua bilik itu dipisahkan dengan partisi tipis. [Di situ ia mendengar] suara gesekan aneh, suara tempat tidur berderik, erangan dan desahan, rasa ingin tahunya menjadi sangat tinggi, dan ia memusatkan perhatian dan pendengarannya untuk memastikan siapa yang berada di dalam bilik.

Tetapi sesudah tiga kali kejadian, melihat tidak ada biarawati lain yang keluar kecuali seterunya, ia menduga bahwa ada seorang pria secara diam-diam telah diselundupkan dan disembunyikan di sana. Ia pergi dan melaporkan hal itu kepada Kepala Biarawati, yang sesudah berkonsultasi dengan orang-orang bijaksana, memutuskan untuk mengamati dan mendengarkan suara-suara dan indikasi-indikasi yang terjadi kepadanya, supaya menghindari tindakan yang terburu-buru dan tidak pantas.

Karena itu, Kepala Biarawati dan rekannya pergi ke bilik untuk memata-matai, dan mendengar suara-suara dan bunyi-bunyi lainnya seperti yang sudah digambarkan. Sebuah penyelidikan dilakukan dengan berjalan kaki untuk memastikan apakah ada biarawati lain mungkin mengunci pintu bersama yang lain itu; dan karena hasilnya negatif, Kepala Biarawati dan pembantu-pembantunya pergi ke pintu bilik tertutup, dan mengetuk berulang-ulang kali, tetapi tidak berhasil: Biarawati itu tidak menjawab, ataupun membuka pintu.

Kepala Biarawati mengancam untuk mendobrak pintu, dan bahkan memerintahkan seseorang membuka paksa pintu dengan linggis. Biarawati itu kemudian membuka pintunya: pencarian dilakukan dan tidak ada seorang pun yang ditemukan.

Ketika ditanya dengan siapa dia berbicara, dan kenapa dan bagaimana ranjang berderik, suara desahan, dan sebagainya, dia membantah semuanya.

Tapi, peristiwa-peristiwa itu terjadi lagi sama seperti sebelumnya, biarawati rivalnya, menjadi semakin penuh perhatian dan lebih ingin tahu daripada sebelumnya, berusaha membuat lubang melalui partisi, supaya bisa melihat apa yang sedang terjadi di dalam bilik; dan apa yang ia lihat, seorang pemuda rupawan sedang meniduri sang biarawati, dan melihat siapa yang dia layani untuk membuat pasangannya menikmati dengan cara yang sama.

Tuduhan segera dibawa ke hadapan uskup: biarawati yang bersalah tetap berusaha menyangkal semuanya; tetapi, diancam akan disiksa, ia mengakui telah melakukan hubungan intim dengan seorang Incubus. [xi]

Entitas-entitas ini dihubungan dengan para sylvan hutan dan faun oleh Santo Augustine di dalam buku klasiknya, “De Civiatate Dei” (Kota Allah):

Ada juga rumor yang sangat umum, yang sudah banyak diverifikasi oleh mereka yang mengalami sendiri, atau orang-orang lain yang dapat dipercaya yang telah mendengar pengalaman orang lain yang meneguhkan, bahwa sylvans dan fauns, yang biasa disebut “Incubi,” seringkali melakukan serangan jahat kepada kaum perempuan, dan memuaskan hawa nafsu mereka atas mereka (perempuan); dan bahwa iblis-iblis tertentu, yang disebut Duses oleh orang-orang Galia, secara terus-menerus berusaha dan mempengaruhi pencemaran ini sehingga secara umum dipastikan, bahwa tidak pantas untuk menyangkalinya. [xii]

Incubus dalam lukisan cat minyak terkenal Henry Fuseli, 1781, berjudul “The Nightmare

Iblis-iblis ini biasanya muncul pada waktu malam hari, baik sebagai setan penggoda berwujud manusia laki-laki (Incubi, berasal dari bahasa Latin “incubo“, artinya “meniduri“) melakukan hubungan intim phantasmagoric (fantasi) dengan perempuan, atau di tempat lain muncul sebagai seorang perempuan sensual (Succubi) yang mengumpulkan sperma dari laki-laki melalui kopulasi (hubungan intim) dalam kondisi mimpi.

Beberapa orang mempercayai bahwa entitas-entitas ini adalah tunggal dan sama. Artinya, roh yang sama mungkin muncul sebagai seorang perempuan dalam satu kejadian untuk mengumpulkan sperma laki-laki, lalu muncul lagi di tempat lain sebagai laki-laki untuk mentransfer air mani ke dalam rahim.

Etimologi (studi historis kata-kata, asal-usul, bentuk, dan makna mereka) dari kata “nightmare” (mimpi buruk) sebenarnya berasal dari kata Inggris Kuno “maere” untuk “goblin” atau “Incubus” dan seringkali disebut roh perempuan jahat yang menindih orang-orang tidur dengan perasaan tercekik/sesak nafas dan mimpi-mimpi buruk dan/atau di tempat lain, sebagai seorang penggoda.

Note:

  • Sylvan: sejenis makhluk peri hutan.
  • Faun: atau satyr, makhluk setengah manusia setengah kambing (dari pinggang ke atas berbentuk manusia, bertanduk, dan pinggang ke bawah berbentuk kambing).
  • Incubi atau Incubus adalah iblis dalam bentuk tubuh laki-laki, yang suka meniduri wanita dengan tujuan melakukan aktivitas seksual dengan mereka.
  • Pasangannya, Sucubi atau Succubus, adalah iblis dalam bentuk tubuh wanita, yang melakukan aktivitas seksual dengan manusia laki-laki.
  • Goblin adalah makhluk monster dari cerita rakyat Eropa, yang muncul dalam kisah-kisah Abad Pertengahan.

Meskipun pengakuan kepercayaan yang melibatkan Incubi dan Succubi tersebar luas dalam tradisi-tradisi mitologi dan legenda, Sinistrari menolak theologia Gereja yang ada mengenai topik ini ketika ia menulis:

“Tunduk untuk dikoreksi oleh Ibu Gereja Suci kita, dan hanya sebagai ekspresi dari pendapat pribadi, aku berkata bahwa Incubus, ketika melakukan hubungan seksual dengan perempuan, melahirkan janin-janin manusia yang berasal dari spermanya sendiri”. [xiii]

Ironisnya, Sinistrari menganggap bagian terburuk dari dosa hubungan seksual ini adalah bahwa Incubus – makhluk yang secara moral dianggap lebih superior di dalam pemikiran Sinistrari (seperti yang saat ini dipercayai para theolog Vatican mengenai ET/Alien) – telah merendahkan derajatnya sendiri dengan mengambil perempuan manusia!

“Namun Incubus, (atau Succuba), ia (Sinistrari) berpendapat, melakukan dosa yang sangat besar mengingat bahwa kita (manusia) adalah termasuk dalam golongan spesies yang lebih rendah,” kata seorang penulis abad ke-20 William Butler Yeats, mengomentari tentang tulisan Sinistrari. [xiv]

Dalam hal ini, interpretasi Sinistrari mengenai Incubi dan Succubi mirip dengan para Alien penculik dalam tradisi modern, dan daemon dari kepercayaan Helenistik Yunani.

Mereka ini juga mencerminkan kepercayaan dari para alchemist yang mendahului Sinistrari, terutama okultis Jerman-Swiss, Paracelsus, yang percaya pada konsep Aristotelian mengenai empat elemen (tanah, api, air, dan udara), [xv] demikian juga tiga bahan metafisika – merkuri, sulfur, dan garam – yang paling murni yang dipakai oleh entitas-entitas untuk mewujudkan “tubuh-tubuh” yang lebih agung dari makhluk-makhluk elemental itu.

Makhluk-makhluk Elemental sering disebut dengan berbagai nama.

Dalam tradisi berbahasa Inggris, ini termasuk di dalamnya antara lain: fairy (peri), elves, deva (dewa), brownies, leprechaun, gnome, sprite, pixies, banshee, goblin, dryad, mermaid (putri duyung), troll, dragon (naga), griffin, dan banyak lagi lainnya.

Referensi modern awal dari makhluk-makhluk elemental muncul dalam tulisan-tulisan alchemy abad ke-16 dari Paracelsus.

Tulisan-tulisannya mengelompokkan makhluk-makhluk elemental menjadi empat unsur Aristoteles:

  1. gnome, elemental tanah
  2. undines (juga dikenal sebagai nymph), elemental air
  3. sylph, elemental udara (juga dikenal sebagai elemental angin)
  4. salamander, elemental api

Referensi paling awal yang dikenal untuk istilah “sylph” berasal dari tulisan-tulisan Paracelsus. Dia memperingatkan bahwa adalah berbahaya untuk mencoba berhubungan dengan makhluk-makhluk ini, namun menawarkan pemikiran rasional dalam tulisannya, “Why These Beings Appear to Us” (Kenapa Makhluk-makhluk Ini Muncul Kepada Kita):

Semua yang diciptakan Allah memanifestasikan dirinya sendiri kepada manusia, cepat atau lambat. Kadang-kadang Allah memperhadapkan dia dengan iblis dan roh-roh untuk meyakinkan dia akan keberadaan mereka. Dari Surga atas, Dia juga mengirimkan para malaikat, hamba-hamba-Nya.

Jadi makhluk-makhluk ini muncul kepada kita, bukan dengan tujuan untuk tinggal di antara kita atau menjadi sekutu kita, tapi dengan tujuan agar kita bisa memahami mereka. Penampakan-penampakan seperti ini langka, dikatakan sejujurnya.

Tapi mengapa harus sebaliknya? Tidakkah cukup bagi seseorang dari antara kita untuk menyaksikan seorang Malaikat, agar kita semua juga percaya dengan Malaikat-malaikat lainnya? [xvi]

Buku yang mempopulerkan pemahaman ini pada akhir abad ke-16 adalah “Le Comte de Gabalis, ou entretiens sur les sciences secrete” (Count Gabalis, atau Rahasia Perbincangan Ilmu Pengetahuan), yang membantu kebangkitan filsafat mistik abad ke-3 berdasarkan pada ajaran Plato dan Platonis awal, yang dikenal sebagai Neoplatonisme.

Itu menjelaskan:

Angkasa luas yang terletak di antara Bumi dan Surga memiliki penghuni yang jauh lebih mulia daripada burung-burung dan kawanan serangga. Lautan-lautan yang luas ini memiliki jauh lebih banyak kawanan penghuni selain dari lumba-lumba dan ikan paus; kedalaman-kedalaman bumi tidak hanya untuk tikus-tikus liang saja; dan Elemen Api, lebih mulia daripada tiga lainnya, tidak diciptakan supaya tetap tidak berguna dan kosong.

Udara ini penuh dengan jumlah yang tak terhitung dari kerumunan orang-orang, yang wajahnya adalah manusia, yang nampaknya agak angkuh, tapi dalam kenyataannya penurut, pecinta besar ilmu pengetahuan, licik, menurut kepada orang-orang bijak, dan musuh dari orang-orang bodoh dan bebal. [xvii]

“Menurut Count Gabalis,” Robert Pearson Flaherty menjelaskan, “elemental-elemental ini adalah – seperti Incubi Sinistrari dan ET/Alien dari cerita modern dewasa ini – berwujud lahiriah dan mampu memperanakkan anak-anak dengan manusia” [xviii]

Konsep okultisme ini mengandung potensi penyesatan besar dan kejahatan masa depan, karena, menurut doktrin itu disebutkan,

“tujuan asli dari Allah yang Maha Kuasa adalah bahwa manusia harus menyatu dalam perkawinan dengan ras-ras elemental ketimbang satu dengan yang lainnya, dan ‘kejatuhan manusia’ terjadi ketika Adam dan Hawa mengandung anak-anak dengan berhubungan satu sama lain ketimbang dengan makhluk-makhluk elemental. Tidak seperti manusia, makhluk elemental memiliki jiwa-jiwa mortal/fana; oleh karena itu, mereka hanya punya satu harapan untuk immortalitas/keabadian – perkawinan campur dengan manusia “[xix]

Flaherty membandingkan ini dengan cerita-cerita modern tentang penculikan ET/Alien dan pesan-pesan yang diterima oleh mereka yang menjadi bagian dari program pembiakan “Alien”:

Melalui hybridisasi dengan manusia, ET/Alien yang dikenal dalam pengetahuan sekarang ini tidak mencari immortalitas/keabadian, melainkan untuk menghindari kepunahan. Sejarawan agama Christopher Partridge menggambarkan bagaimana konsep ET/Alien yang jahat berakar di dalam demonologi Kristen (kepercayaan akan roh-roh jahat).

Di sini, “agama ET/Alien” digunakan untuk merujuk kepada peningkatakan positif dari ET/Alien, yang digambarkan bukan sebagai Malaikat yang Jatuh dan setan-setan yang licik, tetapi sebagai [seperti yang diperdebatkan para theolog Vatican] juru selamat, pencipta, dan (dalam mitos hybridisasi) mitra di dalam evolusi dan kelangsungan hidup yang berkesinambungan. [xx]

Bersambung:

Peperangan Satan untuk Menghancurkan Gambar Elohim

Baca:

Alien dan UFO di Dalam Alkitab | Bersiaplah Untuk Penyesatan Besar Akhir Zaman

Kitab Henokh: Asal-usul Roh-roh Jahat

UFO, Alien dan Anti-Kristus: Konspirasi Malaikat dan Penyesatan Akhir Zaman

Vatican dan Proyek LUCIFER

Kitab Henokh: Kisah Nyata Malaikat dan Asal-usul Setan

Referensi:

Exo-Vaticana: The Vatican’s Astonishing Exo-Theological Plan for The Arrival of An Alien “Savior”

Can Angels Sexually Reproduce?

How did fallen angels reproduce?

How Do Angels Reproduce?

[i] Jacques Vallée, Confrontations – A Scientist’s Search for Alien Contact (New York, NY: Ballantine Books, 1990), 159. [ii] Jacques Vallée, Dimensions: A Casebook of Alien Contact (New York, NY: Ballantine Books, 1988), 143–144. [iii] John A. Keel, UFOs: Operation Trojan Horse (Atlanta, GA: Illuminet Press, 1996), 192. [iv] Elizabeth L. Hillstrom, Testing the Spirits (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1995), 207–207. [v] John A. Keel, UFOs: Operation Trojan Horse, 299.

[vi] John E. Mack, Passport to the Cosmos: Human Transformation and Alien Encounters (New York: Crown, 1999), 209. [vii] John E. Mack, Passport to the Cosmos, 209.

[viii] Jacques Vallée, Confrontations, Reprint ed. (New York, NY: Ballantine Books, 1991), 13. [ix] Ibid., 86.

[x] “St. Cecilia,” Catholic Culture, last accessed January 14, 2013,

http://www.catholicculture.org/culture/liturgicalyear/calendar/day.cfm?date=2012-11-22. [xi] Ludovico Maria Sinistrari, Demoniality: Or Incubi and Succubi (Isidore Liseux, 1879), 235–241.

[xii]Philip Schaff, The Nicene and Post-Nicene Fathers Vol. II – St. Augustin’s City of God and Christian Doctrine (Oak Harbor: Logos Research Systems, 1997), 303.

[xiii] Ludovico Maria Sinistrari, (Whitefish, MT: Kessinger, 2003), 27.

[xiv] “Notes (W. B. Yeats),” Sacred-Texts.com, last accessed January 14, 2013, sacredtexts.com/neu/celt/vbwi/vbwi19.htm.

[xv] “Paracelsus,” Wikipedia, The Free Encyclopedia, last modified December 20, 2012, http://en.wikipedia.org/wiki/Paracelsus. [xvi] Jacques Vallée, Dimensions, 15.

[xvii] Abbé N. de Montfaucon de Villars, Comte de Gabalis, ou entretiens sur les sciences secrete (London: The Brothers/Old Bourne Press, 1913), 29.

[xviii] Robert Pearson Flaherty, “These Are They,” ET-Human Hybridization and the New Daemonology, Nova Religio: The Journal of Alternative & Emergenct Religion (Nov 2012, Vol. 14 Issue 2), 86.

[xix] Ibid., 87.

[xx] Ibid.

Iklan