Teknologi modern yang kini memungkinkan para ilmuwan memanipulasi genetika, mencampur gen manusia dan organ-organ tubuh dengan binatang, merupakan tren ilmu pengetahuan yang mengulang kembali dosa-dosa yang menyebabkan kehancuran global dari generasi Nuh.

Pertengahan Februari 2017 lalu, National Academies of Sciences and Medicine merilis laporan baru berisi antara lain rekomendasi untuk memastikan penelitian genetika yang dilakukan di Amerika Serikat dilakukan secara bertanggung jawab dan etis. Pada dasarnya, laporan ini memberikan lampu hijau terhadap penelitian genetika, meskipun pendanaan untuk penelitian tersebut saat ini dilarang oleh pemerintah karena menimbulkan dilema etis.

Teknologi baru ini mengandung resiko. Penelitian genetika terbagi dalam dua bidang: mengedit gen untuk penyembuhan atau pencegahan penyakit, dan mengedit gen untuk meningkatkan ras manusia (transhumanisme). Genetika merupakan wilayah yang belum dipetakan dan ilmuwan bisa tanpa sengaja memperkenalkan mutasi berbahaya yang akan membahayakan generasi-generasi mendatang, atau, dalam upaya menciptakan vaksin, bisa secara tidak sengaja menciptakan penyakit baru dalam bentuk superior yang bisa memusnahkan umat manusia.

Rabbi Moshe Avraham Halperin dari Machon Mada’i Technology Al Pi Halacha (Institut Sains dan Teknologi Menurut Hukum Yahudi) membuat pernyataan dalam menanggapi laporan bahwa ada aturan Torah yang jelas bagi teknologi baru ini. Rabbi Halperin menyebutkan hukum Alkitab mengenai pencampuran spesies.

Imamat 19:19 (ILT) Kamu harus berpegang pada ketetapan-ketetapan-Ku. Janganlah engkau mengawinkan dua jenis ternakmu, janganlah menaburi ladangmu dengan dua jenis benih, dan janganlah mengenakan atasmu pakaian dari dua jenis bahan yang dicampur.

“Adalah dilarang untuk menciptakan makhluk yang merupakan campuran dari spesies-spesies, tapi selama mereka tidak menghasilkan makhluk baru yang memiliki bentuk yang berbeda, itu diperbolehkan,” Rabbi Halperin menjelaskan.

Namun, ia berpendapat, “Meningkatkan spesies, bahkan ras manusia, tidak dilarang oleh hukum Yahudi. Mengubah warna kulit atau rambut diizinkan, bahkan lebih lagi jika menyangkut menyingkirkan penyakit genetika. Tetapi prosesnya tentunya perlu pengawasan.”

Rabbi Yosef Berger, rabbi Makam Raja Daud di Gunung Zion, menekankan bahwa isu pencampuran spesies memiliki konsekuensi Alkitab yang serius, menunjukkan bahwa ayat yang melarang pencampuran pembiakan hewan secara langsung mendahului bagian Torah yang berurusan dengan imoralitas seksual.

Imamat 19:20 (ILT) Dan ketika seorang pria berbaring dengan seorang wanita dengan air mani persetubuhan, dan dia adalah hamba perempuan yang dijanjikan kepada seorang pria tetapi belum sungguh-sungguh ditebus, atau kepadanya belum diberikan pembebasan; haruslah hukuman tetap berlaku, tetapi mereka tidak dapat dihukum mati, karena dia belum dibebaskan.

Rabbi menjelaskan hubungan di antara kedua perintah yang berbeda ini, “Hal ini juga diekspresikan dalam dosa-dosa generasi Nuh, yang menurut tradisi Yahudi adalah pencampuran terlarang antara binatang dengan manusia,” kata Rabbi Berger mengutip kitab Kejadian.

Kejadian 6:7 (ILT) Dan YAHWEH berfirman, “Aku akan melenyapkan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, dari manusia sampai hewan, sampai yang merayap dan sampai burung-burung di udara, karena Aku menyesal bahwa Aku telah menjadikan mereka.”

“Generasi Nuh berdosa seksual, tapi hal itu diekspresikan dalam hal pencampuran spesies,” jelas Rabbi.

“Dosa seksual bisa menghambat kedatangan era Messianik karena hubungan antara pria dan wanita adalah bagian kudus dari proses mendatangkan Geula (pembebasan). Ini adalah persyaratan dasar untuk berkembang biak dan berlipat ganda: untuk mendatangkan Mashiach (Messias).”

Rabbi Berger menekankan bahwa mitzvah (perintah Torah) ini membutuhkan tingkat kemurnian yang layak. Pencampuran spesies merupakan tindakan prokreasi yang tidak pantas yang menyebabkan kehancuran generasi Nuh.

“Jadi, bahkan dalam hal menyelamatkan nyawa, salah satu mitzvot yang terpenting, kita harus sadar bahaya-bahaya dan batas-batasnya,” Rabbi Berger memperingatkan.

Batas-batas ilmu pengetahuan dan etika memang sedang diperluas dan diuji secara luar biasa hari-hari ini. Pada tahun 2015, beberapa eksperimen mendasar terjadi dalam bidang rekayasa genetika. Sekawanan ternak hasil kloning, rekayasa genetika terhadap DNA manusia, yang digunakan untuk menginkubasi antibodi melawan virus Ebola. Pada tahun yang sama, para ilmuwan di Duke University mengumumkan bahwa mereka telah berhasil meningkatkan ukuran otak tikus dengan menggunakan DNA manusia sebagai katalis.

Juga di Duke University, ginjal-ginjal dari janin bayi-bayi yang diaborsi ditransplantasikan ke dalam tikus-tikus untuk mengetahui apakah organ-organ tubuh manusia dapat ditumbuhkan pada binatang, untuk memecahkan masalah kelangkaan donor organ.

Dalam satu kasus, ahli genetika di China memodifikasi DNA embrio-embrio manusia, berkonsentrasi kepada gen yang bertanggung jawab terhadap β-thalassemia, penyakit kelainan darah yang berpotensi kematian. Namun, dalam laporan akhir mereka, para peneliti mengatakan bahwa mereka menemukan sejumlah mutasi-mutasi mengejutkan yang tidak diinginkan.

Eksperimen-eksperimen ini menggambarkan hanya beberapa wilayah mencengangkan yang dieksplorasi para peneliti. Ilmu pengetahuan yang dilibatkan sangat luar biasa, tetapi pertimbangan etisnya jauh lebih membingungkan, dan cenderung tidak mendapatkan jawaban yang jelas.

Wilayah-wilayah penelitian tertentu di Amerika Serikat dihentikan sampai isu aborsi diatasi, memberikan status hukum terhadap janin-janin dan embrio-embrio. Memanipulasi gen di dalam rahim untuk memusnahkan penyakit genetik memang dapat meringankan penderitaan besar, tapi mengulangi kembali eugenics, usaha meningkatkan ras manusia. Eugenics negatif pertama kali dijalankan oleh Nazi Jerman dan ideologi rasis lainnya sebagai metode untuk menciptakan ras superior.

eugenics-600

Penelitian ini masuk ke dalam wilayah spiritual kegelapan dalam konteks bertumbuhnya pergerakan transhumanisme, yang mempercayai bahwa ras manusia dapat berevolusi melampaui keterbatasan fisik dan mentalnya saat ini dengan penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Baca: Misteri Batu Penjuru Georgia: 10 Perintah Anti-Kristus

Eksperimen Genetika Dalam Alkitab

Alkitab mencatat bahwa eksperimen genetika seperti ini sudah dijalankan sejak hari-hari zaman Nuh, ketika anak-anak Elohim (para Malaikat yang Jatuh) pergi mengawini anak-anak perempuan manusia. Mereka memperanakkan anak-anak hybrid najis, yang terkenal dengan sebutan “Nephilim” (H5303), yang artinya: raksasa, jatuh, tirani, kejam, pengganggu. Mereka ini ras raksasa yang sangat ganas.

Kejadian 6:1-4 (TB) Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan, 2. maka anak-anak Elohim melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka. 4. Pada waktu itu orang-orang raksasa (Ibrani: Nephilim) ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Elohim menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa (Ibrani: gibborim) di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan.

Nephilim berasal dari akar kata Ibrani “naphal” (H5307), yang artinya: jatuh, dicampakkan (ke bawah), gagal, buangan, tidak memenuhi standar, inferior; figuratif: sampah. Makhluk-makhluk buangan yang dipandang menjijikkan di mata Elohim.

Kitab-kitab Ibrani kuno seperti Kitab HenokhKitab YobelKitab Yashar , dan Kitab Para Raksasa lebih jauh mencatat, bahwa mereka ini melakukan eksperimen genetika dengan mencampur binatang antara satu jenis dengan jenis lainnya. Hal ini memancing murka Elohim, karena seluruh makhluk hidup (Ibrani: basar; daging, makhluk hidup, tubuh) menjadi rusak jalan-jalannya (tatanannya).

Kitab Henokh 7:5 Dan mereka mulai berbuat dosa (melanggar batas) kepada burung-burung dan binatang-binatang, kepada binatang-binatang yang merayap, dan ikan-ikan, dan saling memakan daging mereka sendiri, dan meminum darahnya.

Kitab Yobel 7:24 Dan sesudah ini mereka berdosa (melanggar batas) terhadap binatang-binatang dan burung-burung, dan segala yang bergerak dan berjalan di atas bumi. Dan banyak darah ditumpahkan di bumi, dan setiap imajinasi dan keinginan manusia memikirkan kesia-siaan dan kejahatan senantiasa.

Kitab Yashar 4:18 Dan para hakim dan penguasa mereka pergi kepada anak-anak perempuan manusia dan mengambil istri-istri mereka dengan kekerasan dari suami mereka sesuai pilihan mereka. Anak-anak manusia pada waktu itu mengambil kawanan ternak di bumi, binatang-binatang di padang dan burung-burung di udara, dan mengajarkan mencampur hewan antara satu jenis dengan jenis lainnya, dengan maksud untuk memancing murka YAHWEH. Elohim melihat seluruh bumi dan semuanya rusak, karena semua makhluk telah rusak jalan hidupnya di bumi, semua manusia maupun semua hewan.

Lebih jauh, Elohim dengan keras melarang bangsa Israel untuk melakukan hal-hal seperti demikian:

Imamat 19:19 (ILT) Kamu harus berpegang pada ketetapan-ketetapan-Ku. Janganlah engkau mengawinkan dua jenis ternakmu (Ibrani: kil’ayim), janganlah menaburi ladangmu dengan dua jenis benih (kil’ayim), dan janganlah mengenakan atasmu pakaian dari dua jenis bahan yang dicampur (kil’ayim).

Ulangan 22:9 (ILT) Janganlah engkau taburi kebun anggurmu dengan berbagai jenis benih (Ibrani: kil’ayim), supaya buah-buah dari benih yang telah engkau taburkan dan hasil dari kebun anggur tidak tercemar.

Berbagai jenis benih” atau “dua jenis benih” atau “dicampur“, menggunakan kata Ibrani “kil’ayim” (H3610), yang artinya: dua jenis, campuran, jenis yang berbeda, menyatukan/mencampur benih, perbuatan perkawinan silang yang terlarang antara binatang atau benih.

Terulangnya Kembali Hari-hari Zaman Nuh

Hal ini mungkin kedengaran sangat aneh, tetapi Yeshua haMashiach (Tuhan Yesus) sendiri mengatakan dengan jelas bahwa apa yang terjadi pada zaman Nuh ini akan terulang kembali pada hari-hari menjelang kedatangan-Nya yang Kedua.

Lukas 17:26-27 (TB) Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua.

Messias Yeshua mengatakan bahwa jika waktunya tidak dipersingkat, seluruh makhluk hidup (Ibrani: basar; daging, makhluk hidup yang mempunyai darah dan daging) di bumi ini tidak ada yang akan selamat, sama seperti yang terjadi pada hari-hari Zaman Nuh.

Kejadian 6:12-13 Maka Elohim menilik bumi, dan lihatlah, itu telah rusak, karena segala makhluk (Ibrani: basar; daging, makhluk hidup) telah rusak jalannya di bumi. 13. Lalu Elohim berfirman kepada Nuh, “Kesudahan segala makhluk (Ibrani: basar; daging, makhluk hidup) telah tiba di hadapan-Ku, karena bumi telah dipenuhi kekerasan dari pihak mereka. Dan lihatlah, Aku menghancurkan mereka.

Messias Yeshua memperingatkan tentang hari-hari terakhir dari Akhir Zaman:

Matius 24:22 (TB) Dan sekiranya waktunya tidak dipersingkat, maka dari segala yang hidup (Yunani: sarx; daging, makhluk hidup) tidak akan ada yang selamat; akan tetapi oleh karena orang-orang pilihan waktu itu akan dipersingkat.

Jika pada zaman Nuh, seluruh bumi telah menjadi rusak, sehingga hanya tersisa Nuh dan keluarganya, 8 orang saja yang diselamatkan, maka pada Akhir Zaman ini pun situasi yang serupa nampaknya akan terulang kembali.

Baca:

Hari-hari pada Zaman Nuh adalah Hari-hari pada Zaman Nephilim: Itu Akan Terjadi Kembali

Kembalinya Nephilim, Tanda Khusus Kedatangan Yesus

Era Hybrid Manusia-Binatang Telah Dimulai

Hari-hari Zaman Nuh Telah Tiba: Hybrid Manusia-Babi Diciptakan di Laboratorium

Misteri Batu Penjuru Georgia: 10 Perintah Anti-Kristus

100 Bukti Raksasa Nephilim Ada di Bumi

Referensi:

The major concern about a controversial new gene-editing technique that most people don’t want to talk about

National Academies

Were Angels and Giants the True Cause of the Biblical Flood?

Scientists Make History By Genetically Modifying Human Embryos

What is Transhumanism?

Is Genetic Engineering Recreating the Sin of Noah’s Generation?

Iklan