Karena tiga hal inilah datang Air Bah di atas bumi, yaitu, karena percabulan di mana para Malaikat Pengawas bertentangan dengan hukum ketetapan-ketetapan mereka, pergi melacurkan diri dengan anak-anak perempuan manusia, dan mengambil bagi diri mereka istri-istri dari semua yang mereka pilih. Dan mereka mengawali permulaan kenajisan. Dan mereka melahirkan anak-anak lelaki, Nâphîdîm, dan mereka semuanya tidak sama, dan mereka saling memangsa satu sama lain: dan raksasa-raksasa membunuh Nâphîl, dan Nâphîl membunuh Eljô, dan Eljô umat manusia, dan manusia seorang akan yang lain. Dan setiap orang menjual dirinya untuk berbuat kejahatan dan untuk menumpahkan banyak darah, dan bumi dipenuhi dengan kejahatan. Kitab Yobel 7:21-22

Bab 2 – Menyelidiki Kejadian Pasal 6

[Bab 1] [Bab 2] [Bab 3]

Pada hari-hari itu, para raksasa (Ibrani: Nephilim) telah ada di bumi, bahkan juga sesudahnya, ketika anak-anak Elohim menghampiri anak-anak perempuan manusia dan mereka telah melahirkan baginya; mereka adalah orang-orang perkasa yang ada sejak lama, orang-orang yang ternama. Kejadian 6:4 ILT

Perhatikan, dikatakan bahwa “Nephilim” ada di bumi sebagai akibat “anak-anak Elohim” menghampiri anak-anak perempuan manusia. Kalimat ini menunjukkan perbedaan antara anak-anak Elohim (dalam hal ini Malaikat yang Jatuh dari kelompok “Malaikat Pengawas”) dan keturunan mereka disebut Nephilim (atau dalam terjemahan lain “raksasa“).

Catatan samping:

Peristiwa Kejadian 6 merupakan respon langsung Satan terhadap nubuatan YAHWEH Elohim dalam Kejadian 3:15.

Kejadian 3:15 (ILT) Dan Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dengan wanita ini, dan antara keturunanmu (Ibrani: zera’; benih, keturunan) dengan keturunannya (Ibrani: zera’; benih, keturunan). Dia akan meremukkan kepalamu dan engkau akan meremukkan tumitnya.”

Sejak saat itu, Satan berusaha merusakkan benih perempuan itu, yang menurut Kitab Henokh, terjadi karena 200 Malaikat Pengawas datang dan mencemarkan seluruh dunia. Dia gagal melakukannya karena YAHWEH Elohim menyelamatkan Nuh dan keluarganya, dan akhirnya Messias dilahirkan dari garis keturunan Shem. Dia datang dan melaksanakan tujuan kedatangan-Nya. Jadi rencana hybridisasi tahap pertama Satan gagal. Para Malaikat yang Jatuh tidak mendapatkan pengampunan sampai kepada kekekalan. Mereka tahu Penghakiman Akhir Zaman yang menantikan mereka. Karena itu, roh-roh jahat, yang menurut Alkitab, Kitab Henokh dan Kitab Yobel adalah roh-roh dari Nephilim yang sudah mati, nampaknya berusaha mendapatkan pengampunan dan penebusan dengan cara mencoba menjadi manusia. Telah terjadi program pembiakan antara Alien (Nephilim modern) dengan manusia, yang tujuannya, menurut para peneliti fenomena UFO dan Alien seperti Dr. David Jacobs, adalah untuk menciptakan makhluk-makhluk hybrid yang persis sama seperti manusia. Lihat bab sebelumnya: Serbuan Malaikat Secara Bertubi-tubi?

Meneguhkan apa yang tertulis dalam Kitab Suci kanonik untuk Kejadian 6:4, baik Kitab Yobel maupun Kitab Henokh mendukung hal ini:

Kitab Henokh 7:1-3 Dan mereka (Malaikat Pengawas) mengambil bagi diri mereka sendiri istri, dan masing-masing memilih untuk dirinya sendiri seseorang, dan mereka mulai mendekati perempuan-perempuan itu, dan bersetubuh dengan mereka, dan mengajari mereka mantera dan ilmu sihir, dan memperkenalkan mereka cara pemotongan akar-akaran dan kayu-kayuan. 2. Dan mereka mengandung dan melahirkan raksasa besar yang tingginya tiga ribu ells. (Kitab Henokh terjemahan Ethiopia)

Menurut catatan kaki dalam Edisi Kitab Henokh dari Dr. A. Nyland, ada tambahan keterangan sebagai berikut:

Di sini teks Yunani berbeda dengan teks Ethiopia. Salah satu manuskrip Kitab Henokh terjemahan Yunani ada tambahan kata-kata ini, “Dan para perempuan itu melahirkan bagi para Malaikat Pengawas tiga jenis ras: pertama, raksasa-raksasa besar yang memperanakkan Nephilim, dan Nephilim memperanakkan Elioud. Dan mereka semakin kuat dan kekuasaan dan kebesaran mereka bertambah-tambah.”

Kitab Yobel memberikan keterangan yang sama:

Kitab Yobel 7:21-25 Karena tiga hal inilah datang Air Bah di atas bumi, yaitu, karena percabulan di mana para Malaikat Pengawas bertentangan dengan hukum ketetapan-ketetapan mereka, pergi melacurkan diri dengan anak-anak perempuan manusia, dan mengambil bagi diri mereka istri-istri dari semua yang mereka pilih. Dan mereka mengawali permulaan kenajisan. 22. Dan mereka melahirkan anak-anak lelaki, Nâphîdîm, dan mereka semuanya tidak sama, dan mereka saling memangsa satu sama lain: dan raksasa-raksasa membunuh Nâphîl, dan Nâphîl membunuh Eljô, dan Eljô [membunuh] umat manusia, dan manusia seorang akan yang lain. 23. Dan setiap orang menjual dirinya untuk berbuat kejahatan dan untuk menumpahkan banyak darah, dan bumi dipenuhi dengan kejahatan. 24. Dan sesudah ini mereka berdosa terhadap binatang-binatang dan burung-burung, dan segala yang bergerak dan berjalan di atas bumi. Dan banyak darah ditumpahkan di bumi, dan setiap imajinasi dan keinginan manusia memikirkan kesia-siaan dan kejahatan senantiasa. 25. Dan YAHWEH menghancurkan segala sesuatu dari atas muka bumi; karena kejahatan perbuatan-perbuatan mereka, dan karena darah yang mereka tumpahkan di tengah-tengah bumi, Dia menghancurkan segala sesuatunya.

Di sini Kitab Henokh maupun Kitab Yobel menunjukkan kepada kita beberapa jenis raksasa. Nampaknya generasi pertama raksasa ini benar-benar besar, menurut Kitab Henokh tingginya mencapai 3000 ells atau sekitar 135 meter, yang oleh orang-orang Yunani disebut Titan. Menurut mitologi Yunani, dewa-dewa Titan digulingkan oleh dewa-dewa Olympian yang memberontak, dan mereka dipenjarakan di dalam Tartarus. Jadi, seperti beberapa kebudayaan kuno lain yang ada sebelum mereka, orang-orang Yunani jelas-jelas mengenal beberapa “kelas” dewa-dewa. Perhatikan apa yang dikatakan sejarawan Romawi-Yahudi abad pertama, Flavius Josephus:

Karena banyak malaikat-malaikat Tuhan berkumpul dengan kaum perempuan, dan memperanakkan anak-anak yang terbukti bertindak tidak adil, memandang hina segala sesuatu yang baik, karena mereka percaya kekuatan diri mereka sendiri; karena menurut tradisi, orang-orang ini melakukan apa yang menyerupai perbuatan-perbuatan mereka yang oleh orang-orang Yunani disebut para raksasa atau Titan. – Josephus, Antiquities of the Jews 1.3.1

Atlas-Titan
Atlas, salah satu dewa Titan Yunani
chronos
Chronos, dewa Titan

Kata Ibrani “Nephilim” berasal dari kata Ibrani “naphal” yang punya banyak makna selain “yang jatuh“. Kata “naphal” juga mempunya arti kata lain seperti: “ditinggalkan“, “dilahirkan“, “dicampakkan ke bawah“, “rusak“, “cacat“, “jatuh“, “inferior“, “dibunuh“, “binasa“, “buangan“, “dibuang.”

Kata “jatuh” benar-benar menggambarkan tentang “Nephilim.” Mereka ini “dilahirkan” dan “ditinggalkan” – yang dengan jelas menggambarkan “Nephilim” sebagai keturunan para Malaikat Pengawas, yang bertumbuh besar sebagai anak-anak yatim tanpa orang tua. Orang-orang yang “jatuh” ini juga “dibunuh” dan “binasa” dan “dibuang” oleh Elohim, sebagai makhluk-makhluk “yang jatuh” karena “inferior, lebih rendah,” dan merupakan anak-anak hasil perbuatan percabulan yang lahir “cacat” dan tidak pernah dikehendaki Elohim untuk diciptakan sejak permulaan.

Kitab Henokh mencatat generasi pertama makhluk hybrid (campuran) malaikat-manusia ini dibinasakan dalam kurun waktu 500 tahun sejak kelahiran mereka:

Kitab Henokh 10:9-10 Dan Elohim berfirman kepada Gabriel, “Pergilah kepada anak-anak haram dan kepada para buangan dan kepada anak-anak percabulan, dan hancurkan anak-anak percabulan dan anak-anak para malaikat pengawas dari antara manusia; kirimkan mereka keluar, dan biarkan mereka saling menghancurkan dan saling membunuh; karena hari-hari mereka tidak akan lama. 10. Dan mereka semua (Malaikat Pengawas) akan memohon kepadamu, tetapi ayah mereka tidak akan mendapat apa-apa bagi mereka, meskipun mereka mengharapkan hidup yang kekal (imortalitas), tetapi masing-masing dari mereka akan hidup lima ratus tahun.”

Jadi sepertinya, jika mereka punya usia hidup 500 tahun untuk bertarung, mereka juga punya waktu 500 tahun untuk menghasilkan keturunan seperti yang diperbuat ayah-ayah mereka. Ini akan menghasilkan anak-anak generasi kedua, ketiga, keempat,… generasi makhluk hybrid campuran dari benih mereka dengan benih manusia. Karena itu, ada jenis-jenis raksasa lain dengan berbagai nama, ukuran dan karakteristik seperti disebutkan di atas dalam Kitab Yobel dan Kitab Henokh terjemahan Yunani. Ini semuanya hidup di dalam dunia Pra-Banjir Besar.

Dalam tulisan-tulisan kuno Sumeria, generasi pertama dari Nephilim disebut dewa-dewa Anunnaki dan generasi selanjutnya disebut dengan Igigi. Hal ini penting untuk dipahami dalam perspektif hari-hari Akhir Zaman ini.

Ada alasan penting kenapa serial Ancient Aliens di History Channel dan banyak-banyak film Hollywood (seperti: Prometheus) maupun buku-buku mempromosikan konsep tentang dewa-dewa Anunnaki dan kemungkinan kedatangan mereka kembali pada Akhir Zaman ini. Dewa-dewa yang turun dari langit, “orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan” ini benar-benar mungkin datang kembali dalam masa depan yang tidak terlalu jauh.

Prometheus
The Engineer, Prometheus

Akhir tahun 2015, Pepsi merilis film pendek advertensi “aneh” yang menampilkan satelit “Black Knight” (Ksatria Hitam) yang pertama kali ditemukan oleh ilmuwan terkenal Nikola Tesla.

Black Knight adalah satelit purbakala yang diperkirakan berumur 13.000 tahun, yang diduga dibuat oleh Alien Anunnaki. Satelit Black Knight ditemukan oleh Nikola Tesla pada tahun 1899. Lalu dilaporkan lagi keberadaannya oleh operator radio amatir, Jorgen Hals di Oslo, Norwegia pada tahun 1928. Berbeda dengan satelit modern yang mengorbit di khatulistiwa, satelit Black Knight mengorbit mengitari kutub-kutub Bumi. Satelit buatan manusia yang pertama kali diluncurkan ke orbit adalah Sputnik I yang diluncurkan oleh Soviet pada tahun 1957.

Film pendek produksi Pepsi berjudul “Black Knight Decoded” ini nampaknya memberikan perlambang akan kedatangan Anunnaki, dan penduduk Bumi digambarkan bersukacita dan berkumpul bersama-sama sebagai “Satu Dunia” dan “Dunia Baru” untuk meminta Anunnaki datang kembali. Namun, peristiwa kedatangan kembali Anunnaki ini tidak akan menjadi peristiwa bahagia yang sesungguhnya.

Orang-orang Sumeria kuno menyebut mereka Anunnaki, ras dewa-dewa yang arti namanya adalah “Pangeran dari Benih Kerajaan,” atau beberapa ahli menterjemahkan sebagai “Mereka yang dari Surga datang ke bumi.” Dewa-dewa Sumeria ini adalah keturunan “anak-anak Elohim” yang sama dengan dewa-dewa Titan Yunani, anak-anak dari Malaikat Pengawas yang disebutkan dalam Kitab Suci Ibrani, Kitab Henokh dan Kitab Yobel. Mereka juga adalah Nephilim Pra-Banjir Besar, yaitu ras super maju generasi pertama dan keturunan hybrid yang berjalan-jalan di atas muka bumi.

Igigi-Sumeria
Igigi

Selain itu juga ada Igigi, sebutan untuk dewa-dewa langit di dalam mitologi Sumeria. Walaupun kadang disebut sebagai nama lain dari Anunnaki, ada salah satu mitologi yang menyebutkan Igigi adalah dewa-dewa yang lebih muda yang bekerja sebagai pelayan Anunnaki.

Dalam mitologi Sumeria disebutkan, Anunnaki purbakala menciptakan ras manusia dengan jalan melakukan modifikasi genetika terhadap manusia purbakala dengan tujuan mempekerjakan mereka sebagai budak. Namun sebelum manusia diciptakan, Anunnaki purbakala memakai Igigi sebagai pekerja utama mereka.

Arti nama “Igigi” adalah “mereka yang berpaling dan melihat.” Dalam bahasa Sumeria dan Akkadian, “igi” artinya “mata“, sedangkan “gi” artinya “penetrasi seksual.” Beberapa penterjemah kuno mengartikan “Igigi” sebagai “Mata di langit, Pengawas, yang memerawani.”

Istilah-istilah yang digunakan untuk menggambarkan dewa-dewa ini sangat rumit dan masih membutuhkan studi lebih lanjut. Para peneliti meyakini istilah “Igigi” memiliki asal-usul Semitik dan mengindikasikan dewa-dewa dalam Pantheon Mesopotamia. Masih belum jelas dewa-dewa kuno mana yang termasuk golongan Igigi, tapi banyak ahli berpendapat Marduk, dewa utama Babel, adalah seorang Igigi.

Kebanyakan para ahli menggunakan istilah Igigi sebagai referensi untuk dewa-dewa mitologi Sumeria. Menurut mereka, Igigi adalah dewa-dewa muda yang melayani Anunnaki, yang melakukan pemberontakan terhadap tuan-tuan mereka dan kediktatoran Enlil. Akhirnya, Anunnaki mengganti Igigi dengan manusia.

Dalam mitologi Atrahasis, kisah Babilonia tentang Air Bah dan pendahulu kisah Air Bah dalam Epik Gilgamesh, surga Sumeria digambarkan sebagai sebuah taman dimana dewa-dewa inferior (Igigi) ditugaskan menambang emas dan menggali saluran-saluran air oleh tuan-tuan mereka, Anunnaki:

“Ketika dewa-dewa, seperti manusia,
Menanggung kerja berat, mengangkut beban,
Beban dewa-dewa sangat besar,
Kerja paksa menyakitkan, kesukaran terlalu banyak.
Anunnaku besar, Tujuh,
Membuat Igigi menjalankan kerja keras.”

Lambert dan Millard dalam bukunya “Atra-ḫasīs. The Babylonian Story of the Flood“, menterjemahkan baris-baris ini menjadi:

“Ketika dewa-dewa seperti manusia menanggung pekerjaan dan menderita kerja berat, kerja keras dari dewa-dewa sangat besar, pekerjaannya berat; penderitaannya banyak.”
“Tujuh Anunnaki besar membuat Igigi menderita dengan pekerjaan.” (baris 5-6)

Dalam hipotesa teori Astronot Purbakala, diyakini Igigi yang mirip dengan Anunnaki, berada dalam orbit konstan di sekitar planet Bumi. Igigi dianggap sebagai perantara antara planet Bumi dengan planet Nibiru, tempat tinggal Anunnaki. Mereka menetap di angkasa dalam sebuah landasan raksasa yang mengorbit Bumi, dimana bijih logam yang sudah diproses dikirim dari Bumi menggunakan shuttle. Sesudah mineral diproses, material dipindahkan ke pesawat-pesawat lain yang akhirnya dikirimkan ke planet kediaman Anunnaki, Nibiru.

Igigi nampaknya tidak pernah bertemu dengan umat manusia. Beberapa teks kuno menyebutkan bahwa Igigi “terlalu tinggi bagi umat Manusia,” dan akibatnya “mereka tidak perduli dengan orang-orang.” Sesudah waktu yang sangat lama, Igigi lelah dengan pekerjaan yang tidak menyenangkan bagi Anunnaki ini. Tidak ada fasilitas di Bumi untuk beristirahat dan berekreasi bagi Igigi, dimana mereka bisa melepas lelah dari kerja keras angkasa dan keadaan tanpa bobot, sehingga mereka memutuskan memberontak melawan kediktatoran Enlil. Mereka membakar peralatan-peralatan mereka dan mengepung rumah besar Enlil pada malam hari dan memaksa pada Anunnaki purbakala (“mafia dewa-dewa pemimpin Nibiru”) mencari sumber tenaga kerja lainnya.

Menurut catatan Sumeria, Igigi kemudian digantikan oleh penciptaan manusia. Ras budak diciptakan dengan menggabungkan gen Anunnaki dengan gen primata paling maju di planet Bumi saat itu, 440.000 tahun lalu, dan terciptalah manusia pertama yang diberi nama “Adamu.”

Mitologi Sumeria juga menyebutkan planet Nibiru datang kembali ke Bumi setiap 3600 tahun sekali, dan setiap kali kedatangannya akan mendatangkan kehancuran total atas bumi.

Ada amat sangat banyak pendapat tentang hal ini, namun satu hal yang pasti adalah: orang-orang kuno (Nephilim) Pra-Banjir Besar dan Pasca-Banjir Besar meninggalkan begitu banyak monumen, bangunan, artefak yang perlu kita pertimbangkan. Perhatikan baik-baik, bagaimana banyak bangunan-bangunan megalitik (raksasa) dibangun dalam satu garis lurus mengitari Bumi dalam perbandingan jarak yang membentuk “proporsi Ilahi.” (Baca: Peninggalan Nephilim: Kesejajaran Situs-situs Purbakala Dalam Satu Garis Lurus Mengelilingi Bumi ini Akan Menakjubkan Anda)

Monumen-monumen raksasa peninggalan Nephilim dibangun memakai batu-batu raksasa dengan berat hingga mencapai ribuan ton, dalam satu garis lurus melingkari bumi, dengan jarak tertentu antara satu situs megalitik dengan situs megalitik lainnya, dengan rasio perbandingan PI (3.14159265) dan “golden number” (Fibonacci). Diperkirakan, garis ini merupakan garis khatulistiwa purba.

Garis lurus melingkari Bumi ini melintasi situs-situs purbakala kuno antara lain: Paracas – Nazca – Ollantaytambo – Machu Picchu – Cuzco – Sachsayhuaman – Paratoari – Dogon – Tassili N’ajjer – Siwa – Giza – Petra – Ur – Persepolis – Mohenjo Daro – Khajuraho – Pyay – Sukhothai – Angkor Wat – Preah Vihear – dan berakhir di Pulau Easter, Samudera Pasifik.

Maoi-Statue-Rapa-Nui
Patung monolit Maoi, Pulau Easter

Semua bangunan ini tidak akan dapat terwujud jika mereka tidak mempunyai teknologi penentuan lokasi yang sangat akurat. Selain itu juga ditemukan bahwa di bawah situs-situs megalitik ini terdapat lorong-lorong raksasa di bawah bumi yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya.

Sama seperti yang terjadi dalam dunia Pra-Banjir Besar, manusia sekali lagi akan mencari cara untuk menjadi seperti “Elohim.” Ini adalah salah satu dari 3 janji si Ular Tua di Taman Eden:

Kejadian 3:4-5 (ILT) Namun ular (Ibrani: nachas) itu berkata kepada wanita itu, “Kamu sekali-kali tidak akan mati (janji imortalitas: tidak bisa mati), 5. karena Elohim mengetahui bahwa pada saat kamu makan buah itu, matamu akan terbuka (janji iluminasi: pengetahuan yang besar) dan kamu akan menjadi seperti Elohim (janji keilahian: menjadi elohim atau dewa-dewa), yaitu mengetahui yang baik dan yang jahat.”

Ular” dalam bahasa Ibrani “nachas” (H5172) memiliki akar kata yang artinya: mendesis, membisikkan mantera (sihir), meramal, mempesonakan, ilahi, penyihir, pemikat, melakukan ramalan, mengamati tanda-tanda, sebagai pertanda.

Satan benar-benar adalah “Bapa segala dusta.” Adam dan Hawa sebenarnya sudah “imortal“, mereka sudah memiliki hidup yang kekal. Kematian tidak terjadi sampai mereka makan Buah Terlarang. Mata mereka sebenarnya sudah terbuka! Mereka berjalan bersama-sama Elohim dan memandang Dia sebagaimana Dia adanya – dalam semua kemuliaan-Nya. Jika mereka merasa kurang pengetahuan, yang perlu mereka lakukan hanyalah memintanya kepada Elohim dalam pertemuan dan perbincangan dalam waktu-waktu persekutuan mereka. Dan sesungguhnya mereka sudah “sama seperti Elohim” karena Adam dijadikan menurut gambar dan keserupaan dengan Elohim. Jadi kenyataannya, Ular menjanjikan kepada mereka apa yang sudah mereka miliki, sekaligus mencuri semuanya itu dari mereka! Dan Satan masih mencekoki umat manusia dengan kebohongan yang sama hari-hari ini, dengan janji-janji “transhumanisme” untuk menciptakan “masyarakat pasca-manusia.”

Modifikasi genetik manusia dan binatang telah menjadi bagian dari tren besar yang sedang kita saksikan. Dalam komunitas ilmiah, ada kegembiraan besar tentang fakta bahwa manusia pada akhirnya bisa “mengendalikan evolusi mereka sendiri.” Banyak ilmuwan percaya kita dapat menggunakan berbagai macam teknologi untuk memberikan kepada diri sendiri kekuatan super (menjadi seperti Elohim, dewa-dewa) dan secara radikal dapat memperpanjang usia hidup kita (imortalitas; hidup kekal). Dan sementara teknologi terus berkembang dalam tingkat eksponensial, para ilmuwan ini percaya umat manusia pada akhirnya akan menjadi “masyarakat pasca-manusia” di mana segala jenis penyakit, kelemahan tubuh, kemiskinan dan perang akan dimusnahkan. Dengan kata lain, mereka percaya manusia tidak lagi membutuhkan “Elohim” karena kita sendiri akan menjadi “elohim” (dewa-dewa) bagi diri kita sendiri.

Foto: Sacsayhuaman, Cuzco Peru

Kejadian 6:4 (ILT) Pada hari-hari itu, para raksasa telah ada di bumi, bahkan juga sesudahnya, ketika anak-anak Elohim menghampiri anak-anak perempuan manusia dan mereka telah melahirkan baginya; mereka adalah orang-orang perkasa yang ada sejak purbakala, orang-orang yang ternama.

Dalam artikel Eksperimen Kejadian 6, kita telah membahas bahwa frase kata “anak-anak Elohim” itu berasal dari kata-kata Ibrani “benei ha’Elohim” yang sama persis dengan kata-kata yang digunakan dalam Kitab Ayub sebagai referensi kepada para malaikat:

Ayub 1:6 (ILT) Pada suatu hari, ketika anak-anak Elohim (benei ha’Elohim) datang menghadap YAHWEH, dan Satan pun datang di antara mereka.

Ayub 2:1 (ILT) Dan suatu hari, ketika anak-anak Elohim (benei ha’Elohim) datang menghadap YAHWEH, dan Satan pun datang di antara mereka menghadap YAHWEH.

Seperti Anda lihat , Kitab Suci sendiri menjelaskan tentang arti frase kata “anak-anak Elohim.” Mereka itu adalah para malaikat.

Apa yang dilakukan Satan dan para Malaikat yang Jatuh dalam peristiwa Kejadian 6, adalah selain berusaha untuk memusnahkan benih wanita yang suatu hari akan meremukkan kepala Iblis (Kejadian 3:15), mereka juga menawarkan keselamatan palsu.

Ketika Adam dan Hawa makan buah itu, mereka jatuh dari kedudukan semula yang sempurna kepada kondisi kejatuhan. Iblis melalui “dialek Luciferian” menciptakan suatu masalah, yang menyebabkan terjadi kerusakan, dan kemudian dia menawarkan solusi. Ketika manusia yang jatuh kawin dengan Malaikat yang Jatuh, hasilnya adalah “anak-anak elohim” tiruan, yang disebut Nephilim, mereka yang jatuh, buangan. Ini adalah kebalikan dari apa yang dilakukan Tuhan Yeshua bagi kita:

Yohanes 1:12 (ILT) Namun, berapa banyak orang yang telah menerima Dia, kepada mereka Dia telah memberikan otoritas untuk menjadi anak-anak Elohim (benei ha’Elohim), yaitu kepada mereka yang percaya dalam Nama-Nya,

Galatia 3:26 (ILT2) karena kamu semua adalah anak-anak Elohim (benei ha’Elohim) melalui iman di dalam Kristus Yesus.

Lukas 20:34-36 (ILT) Dan sambil menjawab, YESHUA berkata kepada mereka, “anak-anak zaman ini kawin dan dikawini, 35. tetapi mereka yang dianggap layak mencapai zaman itu dan kebangkitan dari antara orang mati, mereka tidak kawin ataupun dikawini. 36. Sebab mereka tidak dapat mati lagi, karena mereka itu seperti malaikat, dan mereka adalah anak-anak Elohim (benei ha’Elohim), karena menjadi anak-anak kebangkitan.

Melalui Yeshua, Anak Tunggal Elohim, orang-orang percaya diberikan kuasa untuk menjadi anak-anak Elohim (benei ha’Elohim). Satan dan para Malaikat yang Jatuh benar-benar memalsukannya. Perhatikan dalam perikop Lukas, Tuhan Yeshua berkata bahwa orang-orang percaya itu nantinya sama “seperti malaikat dan adalah anak-anak Elohim (benei ha’Elohim).” Tuhan Yeshua berkata bahwa para malaikat adalah anak-anak Elohim (benei ha’Elohim) dan kita akan menjadi seperti mereka – jika kita berjalan melalui jalan-Nya. Ketika kita menerima Yeshua sebagai Juruselamat kita, kita “dilahirkan kembali” dari benih yang tidak fana (imortal) – dalam hal ini, benih-Nya.

1Petrus 1:23 (ILT) karena telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang dapat binasa, melainkan yang tidak dapat binasa, melalui firman Elohim yang hidup dan yang tinggal tetap sepanjang masa.

Namun bila berjalan melewati jalan alternatif, yang akan dihasilkan bukanlah “anak-anak Elohim,” melainkan Nephilim (mereka yang jatuh, yang berasal dari benih yang jatuh) yang menjadi “orang-orang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan.”

Kejadian 6:4 (TB) Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa (Ibrani: gibborim) di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan.

Kata “orang-orang yang gagah perkasa” dalam kalimat di atas berasal dari kata Ibrani “gibbor” (H1368). Dalam artikel Manusia Dengan Banyak Nama, kata Ibrani “gibbor” ini punya banyak arti, sehingga harus diartikan sesuai konteksnya, antara lain: berkuasa, tiran, jawara, pemenang, pemimpin, terkemuka, raksasa, manusia, manusia perkasa, orang kuat, gagah perkasa, mempunyai kekuasaan, pejuang, kuat, orang pemberani, pahlawan.

Kata “gibbor” digunakan untuk mendeskripsikan para pahlawan raja Daud, maupun mendeskripsikan para raksasa. Jadi perlu melihat konteks untuk mengetahui apakah teks Alkitab sedang berbicara tentang manusia yang gagah berani atau manusia raksasa. Dalam konteks Kejadian 6:4, teksnya secara jelas menunjukkan bahwa mereka itu “raksasa“, khususnya bila dibandingkan dengan tulisan-tulisan Ibrani kuno di luar Alkitab sebagai pertimbangan.

Kejadian 6:4 dalam terjemahan LXX (Septuaginta; PL bahasa Yunani) juga menyebutkan bahwa mereka ini adalah para raksasa:

Genesis 6:5 (LXX) Now the giants (Yunani: gigantes) were upon the earth in those days; and after that when the sons of God were wont to go in to the daughters of men, they bore children to them, those were the giants (Yunani: gigantes) of old, the men of renown.

Kejadian 6:4 (LXX) Dan para raksasa (Yunani: gigantes) ada di atas bumi pada hari-hari itu; dan juga sesudahnya ketika anak-anak Elohim biasa menghampiri anak-anak perempuan manusia, mereka melahirkan anak-anak bagi mereka, mereka adalah para raksasa (Yunani: gigantes) dari zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan.

Meskipun Kitab Suci lebih sering menggunakan kata “raphaim” untuk mendefinisikan tentang “raksasa“, Alkitab mencatat kata “gibbor” juga digunakan 3 kali untuk mendeskripsikan tentang “raksasa“, antara lain:

1Samuel 17:51 (ILT) Lalu Daud berlari dan berdiri di atas orang Filistin itu, serta mengambil pedangnya; lalu ia mengeluarkannya dari sarungnya dan membunuhnya. Dan dia memenggal lehernya dengan pedang itu. Dan orang-orang Filistin melihat bahwa pahlawan (Ibrani: gibbor) mereka telah mati, dan mereka pun melarikan diri.

Kita sudah tahu Goliath itu manusia raksasa. Di sini kata “gibbor” diterjemahkan sebagai “pahlawan” dan itu digunakan sebagai referensi kepada raksasa Goliath.

Ayat lainnya terdapat dalam Kitab Ayub,

Ayub 16:14 (ILT) Dia merobek-robek aku menjadi robekan demi robekan, Dia berlari ke arahku seperti seorang yang gagah perkasa (Ibrani: gibbor; terjemahan lain: raksasa).

Ayat lainnya terdapat dalam Kitab Kejadian, dikatakan bahwa Nimrod berubah menjadi seorang raksasa (Ibrani: gibbor). Kita lihat terjemahan LXX:

Genesis 10:8-9 (LXX) And Chus begot Nebrod: he began to be a giant upon the earth. 9. He was a giant hunter before the Lord God; therefore they say, As Nebrod the giant hunter before the Lord.

Kejadian 10:8-9 (LXX) Dan Chus memperanakkan Nebrod: dia mulai menjadi seorang raksasa (Ibrani: gibbor) di bumi. 9. Dia seorang pemburu raksasa (Ibrani: gibbor) di hadapan YAHWEH Elohim; karena itu mereka mengatakan, Seperti Nebrod pemburu raksasa (Ibrani: gibbor) di hadapan YAHWEH.

Perbandingan: Kejadian 10:8-9 (ILT) Kush memperanakkan Nimrod; ia mulai menjadi perkasa (Ibrani: gibbor) di bumi. 9. Ia seorang pemburu yang perkasa (Ibrani: gibbor) di hadapan YAHWEH. Sebab itu dikatakan, “Seperti Nimrod, seorang pemburu yang perkasa (Ibrani: gibbor) di hadapan YAHWEH.”

Dalam artikel Manusia Dengan Banyak Nama, sudah kita bahas tentang Nimrod, bahwa nampaknya karena oleh semacam “pencemaran seksual“, Nimrod berubah menjadi seorang raksasa (gibbor).

gilgamesh

Ayat Kejadian 10:8-9 tentang Nimrod ini bisa dipandang dengan 3 cara:

  1. Nimrod menjadi orang yang kuat dan berkuasa (walaupun semua tradisi kebudayaan kuno menyebutkan bahwa Nimrod bukan sekedar menjadi orang perkasa, namun dia menjadi patron dewa-dewa kebudayaan kuno)
  2. Nimrod berubah menjadi seorang raksasa (melalui suatu metode ritual pencemaran seksual terhadap tubuhnya)
  3. Nimrod berubah menjadi seorang pemburu yang raksasa – atau seorang pemburu para raksasa

Sebelum masuk lebih dalam, kita akan membahas kalimat, “mulai menjadi perkasa“.

Kejadian 10:8 (ILT) Kush memperanakkan Nimrod; ia mulai (Ibrani: chalal) menjadi (Ibrani: hayah) perkasa (Ibrani: gibbor) di bumi.

Kata “mulai” di sini menggunakan kata Ibrani “chalal” (H2490), yang artinya: mencemarkan, menajiskan, mengotori, merusakkan (diri sendiri) secara ritual maupun seksual, melanggar kehormatan, melukai, menusuk, melubangi.

Kata “chalal” digunakan 143 kali di dalam Perjanjian Lama, antara lain mengacu kepada hal menajiskan, mencemarkan, melacurkan, yang bisa dilihat pada ayat-ayat berikut:

Kejadian 49:4 (ILT) Seperti air yang berbual-bual engkau (Ruben) tidak berhemat, karena engkau telah menaiki tempat tidur ayahmu, pada waktu itu engkau telah mencemarinya (Ibrani: chalal). Dia telah menaiki tempat tidurku!

Imamat 18:21 (ILT) Dan dari benihmu, engkau tidak boleh menyerahkan untuk mengurbankannya kepada Molokh, dan engkau tidak boleh mencemarkan (Ibrani: chalal) Nama Elohimmu; Akulah YAHWEH!

Imamat 19:29 (ILT) Hendaklah engkau tidak mencemari (Ibrani: chalal) anak perempuanmu dengan membuatnya bersundal, agar negeri itu tidak berbuat sundal sehingga negeri itu penuh dengan kejahatan.

Dengan beberapa definisi dari kata “chalal” di atas, tiga kemungkinan mengenai Nimrod itu benar. Terjemahan LXX yang menyatakan bahwa Nimrod itu menjadi seorang raksasa itu benar.

Dalam artikel Manusia Dengan Banyak Nama, Nimrod benar-benar telah menjadi inspirasi dari begitu banyak tokoh dewa-dewa mitologi di sepanjang sejarah kebudayaan kuno. Nimrod bisa dipastikan adalah seorang pejuang yang perkasa, raksasa dan mungkin juga seorang pemburu dan penakluk raksasa. Bahkan kenyataannya, menurut beberapa sumber, dikatakan bahwa para raksasa membantu Nimrod membangun Menara Babel. Legenda Arab kuno menceritakan tentang ras raksasa yang tersebar ke seluruh dunia bersamaan dengan orang-orang yang bahasanya kacau-balau, contohnya tulisan Berossus, Eupolemus, Alexander Polyhistor dan The Sibylline Oracles, seperti dikutip oleh Cory.

Dan menurut manuskrip Arab yang ditemukan di Baalbek dan dikutip oleh Michael Alouf dalam tulisannya, “Sejarah Baalbek“, tertulis:

Sesudah Banjir Besar, ketika Nimrod memerintah atas Libanon, dia mengirimkan para raksasa untuk membangun benteng Baalbek, dinamakan demikian untuk menghormati Baal, dewa orang Moab dan para penyembah matahari.

Baalbek merupakan reruntuhan situs megalitik yang asal-usulnya berasal dari era Pra-Banjir Besar, terletak di Libanon. Legenda lokal Baalbek menyebutkan,

“Orang-orang Romawi meninggalkan bagi kita banyak tulisan, tapi tidak satupun menggambarkan bagaimana mereka mendirikan bangunan ini. Namun, penduduk lokal Lembah Beqa’a memiliki pengetahuan mengenai asal-usulnya. Mereka mengatakan Kain, anak Adam, mendirikan sebuah kota di sana sebelum Banjir Besar. Tempat ini musnah ketika Air Bah, namun kemudian ras raksasa mendirikannya lagi. Pemimpin proyek ini adalah Nimrod, Raja Sinear yang disebutkan di Kitab Kejadian.”

Colossal_Hewn_Block,_Ancien

The Stone of The Pregnant Woman (Arab: Hadjar el Hibla; Batu Wanita Hamil), beratnya sekitar 1200 ton. Baalbek tidak didirikan dengan mesin derek Romawi. Legenda lokal mengatakan para raksasa yang melakukannya.

Baalbek-Stone-Pregnant-Wome
Foto: The Stone of Pregnant Woman

Di atas reruntuhan kuil Baal di Baalbek, orang-orang Romawi mendirikan kuil Dewa Yupiter.

Baalbek-Temple-Jupiter
Foto: Kuil Yupiter, Baalbek
Baalbek-BacchusTemple
Foto: Kuil Bacchus, Baalbek

Nama lain Baalbek adalah Heliopolis (Kota Matahari). Sepertinya, sampai hari ini tradisi lokal mempercayai bahwa Menara Babel terletak di Baalbek, karena ada “hubungan dengan Nimrod” terhadap daerah itu. Sedangkan menurut para ahli arkeologi, Menara Babel terletak di ziggurat Etemenanki di Babilonia kuno. Satu lagi situs yang berhubungan dengan Nimrod terletak di sebelah tenggara kaki Gunung Hermon (di dataran tinggi Golan), dimana terdapat reruntuhan yang dikenal sebagai “Benteng Nimrod.”

Nimrod-Fortress
Foto: Benteng Nimrod, Dataran Tinggi Golan

Dengan asumsi bahwa salah satu legenda dari Arab itu benar, kita telah menemukan bukti-bukti keberadaan para raksasa yang hidup tidak lama sesudah peristiwa Banjir-Besar.

Video tentang Baalbek ini menunjukkan batu fondasi terbesar yang masih ada di penggalian itu beratnya mencapai 1200 ton, dinamakan ‘Stone of Pregnant Woman.’

Teknologi mereka begitu maju, bisa memoles batu granit dengan sangat halus. Batu granit memiliki tingkat kekerasan 7 (intan 10). Di atas reruntuhan kuil Baalbek ini orang-orang Romawi mendirikan kuil Yupiter.

Foto bawah: Ollantaytambo, Peru. Perhatikan kehalusan dan ketepatan susunan potongan-potongan batu megalitiknya. Bahkan sehelai kertas tidak bisa disisipkan di antara celah-celah batunya.

Perhatikan juga kenop-kenop tonjolan pada batu-batu itu. Fitur-fitur karakteristik batu-batu seperti ini ditemukan di hampir seluruh situs-situs megalitik peninggalan Nephilim Pra-Banjir Besar.

Dalam bab selanjutnya kita akan membahas berbagai jenis makhluk hybrid Nephilim yang hidup dalam zaman Pra-Banjir Besar.

Next: Kembalinya Nephilim | Ketika Nephilim Berkuasa di Bumi

[Bab 1] [Bab 2] [Bab 3]

Baca:

Peninggalan Nephilim: Bukti Teknologi Canggih di Peru Purbakala?

Peninggalan Nephilim: Kesejajaran Situs-situs Purbakala Dalam Satu Garis Lurus Mengelilingi Bumi ini Akan Menakjubkan Anda

Peninggalan Nephilim: 10 Bukti Puma Punku Dibangun oleh Peradaban Canggih Purbakala

Arsitektur Cyclopean | Bangunan Peninggalan Raksasa Nephilim Pra-Banjir Besar

Jejak Kaki Raksasa Yang Ditemukan di Seluruh Dunia

100 Bukti Raksasa Nephilim Ada di Bumi

Literatur:

Kitab-kitab Ibrani Kuno Pendukung Alkitab: Kitab Henokh – Yashar – Yobel

Beli

Referensi:

Meet the Igigi –The Ancient Astronauts who rebelled against the Anunnaki

Igigi

The Igigi – 300 Astronauts Who Served The Annunaki – Revolt Against Enlil

Gigantomachy

Giants (Greek mythology)

Baalbek

Nimrod Fortress

Lambert, W.G. and Millard, A.R. 1999 [1969]. Atra-ḫasīs. The Babylonian Story of the Flood. Reprinted 1999 by Eisenbrauns from the 1969 Oxford University Press Edition. Winona Lake: Eisenbrauns.

Iklan