Kitab Henokh 68:4. Dan saat dia berdiri di hadapan TUHAN segala Roh, Mikhael yang kudus berbicara kepada Raphael, “Aku tidak akan mengambil bagian atas mereka (Malaikat yang Jatuh) di hadapan mata Tuhan, karena TUHAN segala Roh murka kepada mereka, karena mereka bertindak seolah-olah mereka adalah dewa-dewa.

Kota India Kuno Berumur 8000 Tahun Terradiasi oleh Ledakan Atom

Radiasi masih begitu kuat, daerah ini sangat berbahaya. Lapisan tebal abu radioaktif di Rajasthan, India, mencakup area seluas tiga mil persegi, sepuluh mil sebelah barat Jodhpur. Para ilmuwan menyelidiki area tersebut, dimana pembangunan perumahan sedang dikerjakan.

mohenjodaro-07-ruin
Mohenjo-Daro

Selama beberapa lama telah diketahui bahwa terjadi tingkat kelahiran cacat dan kanker yang sangat tinggi di dalam area pembangunan. Tingkat radiasi di sana tercatat begitu tinggi pada alat pengukur Geiger sehingga pemerintah India kini menutup wilayah tersebut. Para ilmuwan telah menggali sebuah kota kuno di mana bukti-bukti menunjukkan terjadinya ledakan atom yang berasal dari ribuan tahun lalu, antara 8.000 sampai 12.000 tahun, menghancurkan sebagian besar bangunan-bangunan dan mungkin sekitar setengah juta orang. Salah seorang peneliti memperkirakan bahwa bom nuklir yang digunakan kira-kira seukuran bom atom yang dijatuhkan di Jepang pada tahun 1945.

Kitab Mahabharata jelas-jelas menggambarkan malapetaka ledakan yang mengguncang benua.

“Sebuah proyektil tunggal berisi semua kekuatan di alam semesta … Kolom asap pijar dan api seterang 10.000 matahari, muncul dalam segala kemegahannya … Itu senjata yang tidak dikenal, sebuah halilintar besi, utusan raksasa kematian yang memusnahkan menjadi abu seluruh ras. Mayat-mayat itu terbakar hebat sehingga tak bisa dikenali. Rambut dan kuku-kuku mereka berjatuhan, tembikar pecah tanpa penyebab yang jelas, dan burung-burung berubah menjadi putih. Setelah beberapa jam, semua bahan makanan tercemar. Untuk menyelamatkan diri dari api ini, para prajurit menceburkan diri ke dalam sungai.”

Komentar Sejarawan

Sejarawan Kishan Mohan Ganguli mengatakan bahwa tulisan-tulisan kuno India penuh deskripsi-deskripsi seperti demikian, yang kedengaran seperti ledakan atom seperti yang dialami Hiroshima dan Nagasaki. Dia mengatakan referensi-referensi yang menyebutkan kereta-kereta perang udara (Vimana, mesin terbang; UFO purbakala) dan senjata pamungkas. Sebuah perang purbakala dijelaskan dalam Drona Parva, bagian dari Mahabharata.

“Bagian ini menceritakan tentang pertempuran di mana ledakan senjata-senjata pamungkas memusnahkan seluruh tentara, menyebabkan banyak kerumunan prajurit berikut kuda-kuda tunggangan dan gajah-gajah serta senjata-senjata dihempaskan seolah-olah mereka itu daun-daun kering di pepohonan,” kata Ganguli.

“Alih-alih menyebut awan jamur, penulis Mahabharata menggambarkan ledakan tegak lurus dengan awan-awan asap mengepul sebagai urutan pembuka dari payung-payung raksasa. Ada kutipan-kutipan tentang kontaminasi makanan dan rambut-rambut manusia berguguran.”

mohenjodaro-08-ruin
Situs Arkeologi Mohenjo-Daro

Investigasi Arkeologi Mengungkap Informasi

Arkeolog Francis Taylor mengatakan bahwa tulisan-tulisan di beberapa kuil di dekatnya yang telah berhasil ia terjemahkan menunjukkan bahwa mereka berdoa supaya diselamatkan dari cahaya besar yang datang untuk meruntuhkan kota.

“Sangat menakjubkan untuk membayangkan bahwa beberapa peradaban purbakala memiliki teknologi nuklir sebelum kita memilikinya. Abu radioaktif menambah kredibilitas tulisan India kuno yang menggambarkan peperangan atom.”

Pembangunan telah dihentikan sementara lima anggota tim melakukan penyelidikan. Mandor dari proyek ini adalah Lee Hundley, yang memimpin penyelidikan setelah tingkat radiasi tinggi ditemukan.

Ada bukti bahwa kerajaan Rama (sekarang India) hancur karena perang nuklir. Lembah Indus sekarang menjadi gurun Thar, dan situs abu radioaktif yang ditemukan di sebelah barat Jodhpur ada di sekitar sana.

Perhatikan ayat-ayat kuno dari Mahabharata ini:

“Gurkha, menerbangkan vimana yang cepat dan kuat.
Melontarkan sebuah proyektil tunggal
Berisi semua kekuatan alam semesta.
Kolom asap pijar dan api
Seterang sepuluh ribu matahari
Muncul dalam segala kemegahannya …
ledakan tegak lurus
dengan kepulan awan-awan asapnya …
… awan asap
naik sesudah ledakan pertamanya
membentuk lingkaran-lingkaran bulat yang meluas
seperti pembukaan payung-payung raksasa …
.. itu senjata yang tidak dikenal,
Sebuah halilintar besi,
Seorang utusan raksasa kematian,
Yang menjadikan abu
Seluruh ras Vrishnis dan Andhakas.
… Mayat-mayat itu terbakar hebat
Untuk bisa dikenali.
Rambut dan kuku-kuku berguguran;
Tembikar pecah tanpa sebab yang jelas,
Dan burung-burung berubah menjadi putih.
Setelah beberapa jam
Seluruh bahan makanan tercemar…
… untuk menyelamatkan diri dari api ini
Para prajurit mencampakkan diri mereka ke dalam aliran-aliran sungai
Untuk membasuh diri mereka dan peralatan mereka.

Bagian kedua:

“Panah-panah api yang rapat,
seperti hujan besar,
dilontarkan ke atas ciptaan,
meliputi musuh.
Kesuraman tebal dengan cepat menyudahi pasukan Pandava.
Semua titik-titik kompas hilang dalam kegelapan.
Angin ribut mulai bertiup
Awan-awan menderu ke atas,
menghujani debu dan kerikil.
Burung berkoar-koar menggila …
Elemen-elemen dasar tampak terguncang.
Matahari tampak goyah di langit
Bumi berguncang,
terbakar hangus oleh kejamnya panas mengerikan dari senjata ini.
Gajah-gajah terbakar menjadi api
dan berlari ke sana kemari dalam kegilaan
mencari perlindungan dari kengerian ini.
Di wilayah yang sangat luas,
binatang-binatang lain rebah ke tanah dan mati.
Air mendidih
dan binatang-binatang yang tinggal di dalamnya juga mati.
Dari semua titik-titik kompas
panah-panah api menghujani terus-menerus dan ganas.“ – Mahabharata

Hingga pemboman Hiroshima dan Nagasaki, manusia modern tidak bisa membayangkan senjata manapun yang begitu mengerikan dan menghancurkan seperti yang digambarkan dalam teks-teks India kuno. Namun mereka sangat akurat menggambarkan efek dari ledakan atom. Keracunan radioaktif akan membuat rambut dan kuku-kuku rontok. Membenamkan diri ke dalam air memberikan sedikit kelegaan, meskipun itu tidak menyembuhkan.

Ketika penggalian Harappa dan Mohenjo-Daro sampai ke jalanan, mereka menemukan kerangka-kerangka berserakan di seluruh kota-kota, banyak yang berpegangan tangan dan tergeletak di jalan-jalan seolah-olah kehancuran instan yang mengerikan telah terjadi. Orang-orang hanya tergeletak, tidak dikuburkan, di jalan-jalan kota itu. Dan kerangka-kerangka ini umurnya ribuan tahun, bahkan dalam standar arkeologi tradisional. Apa yang bisa menyebabkan hal seperti ini? Mengapa mayat-mayat ini tidak membusuk atau dimakan binatang buas? Selain itu, tidak ada penyebab jelas terjadinya kematian karena kekerasan fisik.

mohenjodaro-09-skeleton
Kerangka-kerangka di Mohenjo-Daro terserak di jalan-jalan.

Kerangka-kerangka ini termasuk yang paling radioaktif dari yang pernah ditemukan, setara dengan orang-orang yang di Hiroshima dan Nagasaki. Di satu situs, para ilmuwan Soviet menemukan kerangka yang memiliki tingkat radioaktif 50 kali lebih besar dari normal.

Arkeolog Russia, A. Gorbovsky menyebutkan tingginya insiden radiasi yang berhubungan dengan kerangka-kerangka itu dalam bukunya pada tahun 1966, Riddles of Ancient History. Selanjutnya, ribuan gumpalan-gumpalan yang menyatu, “batu-batu hitam” yang “dibaptiskan,” telah ditemukan di Mohenjo-Daro. Ini tampaknya adalah pecahan-pecahan tembikar tanah liat yang meleleh bersama-sama dalam panas yang ekstrim.

mohenjodaro-10-lump

Kota-kota lainnya telah ditemukan di India utara yang menunjukkan indikasi ledakan-ledakan besar. Salah satu kota tersebut, ditemukan di antara Sungai Gangga dan pegunungan Rajmahal, tampaknya seperti terkena panas yang hebat. Material-material dinding-dinding besar dan fondasi-fondasi kota kuno melebur bersama-sama, secara fisik mengalami vitrifikasi (menjadi kaca)! Dan karena tidak ada indikasi terjadinya letusan gunung berapi di Mohenjo-Daro atau di kota-kota lain, panas yang hebat yang mampu mencairkan bejana-benaja tanah liat hanya bisa dijelaskan oleh ledakan atom atau semacam senjata plasma lain yang tidak dikenal. Kota-kota tersapu hancur seluruhnya.

Sementara kerangka-kerangka memiliki penanggalan karbon dari sekitar tahun 2500 SM, harus diingat bahwa penanggalan karbon melibatkan pengukuran jumlah radiasi sisa. Ketika terjadi ledakan atom, itu menjadikan kelihatan jauh lebih muda.

Menariknya, ilmuwan kepala Proyek Manhattan Dr. J. Robert Oppenheimer dikenal sangat akrab dengan literatur Sansekerta kuno. Dalam sebuah wawancara yang dilakukan setelah ia menyaksikan tes bom atom pertama, ia mengutip dari Bhagavad Gita:

“‘Sekarang aku menjadi Kematian, Penghancur Dunia-dunia.’ Aku kira kita semua merasa seperti itu.”

Ketika ditanya dalam sebuah wawancara di Universitas Rochester tujuh tahun setelah uji coba nuklir Alamogordo, apakah itu bom atom pertama yang pernah diledakkan, Oppenheimer menjawab,

“Kota-kota kuno yang batu-bata dan dinding-dinding batunya benar-benar telah tervitrifikasi (menjadi kaca), yakni, melebur bersama-sama, bisa ditemukan di India, Irlandia, Skotlandia, Perancis, Turki dan tempat-tempat lain. Tidak ada penjelasan logis untuk vitrifikasi benteng-benteng batu dan kota-kota, kecuali dari ledakan atom.”

Oppenheimer Mengutip Kitab Suci Hindu Sesudah Ledakan Nuklir Pertama

J.R. Oppenheimer sering disebut sebagai bapak bom atom karena perannya dalam Proyek Manhattan, proyek Perang Dunia II yang mengembangkan senjata nuklir pertama. Bom atom pertama diledakkan pada tanggal 16 Juli 1945, dalam uji coba Trinity di New Mexico. Oppenheimer mengatakan kemudian bahwa peristiwa itu mengingatkannya akan kata-kata dari Bhagavad Gita:

“Sekarang aku menjadi Kematian, penghancur dunia-dunia.”

Video berikut menunjukkan dia mengutip dari Bhagavad Gita tentang uji coba bom atom.

Dua hari sebelum tes Trinity, Oppenheimer mengungkapkan harapan dan ketakutannya dari sebuah kutipan Bhagavad Gita:

“Dalam pertempuran, di hutan, di tebing di pegunungan,
Di lautan besar yang gelap, di tengah-tengah lembing dan anak-anak panah,
Dalam tidur, dalam kebingungan, di kedalaman rasa malu,
Perbuatan-perbuatan baik yang telah diperbuat seseorang sebelumnya, membelanya.”

Oppenheimer, meskipun dibesarkan di lingkungan Yahudi, sangat terpengaruh oleh filsafat Veda. Kakaknya mengatakan bahwa Oppenheimer mendapati Bhagavad Gita “sangat mudah dan cukup mengagumkan … (dan) benar-benar terpengaruh pesona dan kebijaksanaan Bhagavad Gita”.

Oppenheimer juga mengklaim bahwa, “membaca Veda merupakan hak istimewa terbesar abad ini dibandingkan semua abad-abad sebelumnya.”

bomb-02
Oppenheimer bersama Albert Einstein

Oppenheimer bahkan pernah mengisyaratkan kemungkinan digunakannya senjata-senjata setara bom nuklir yang dia kerjakan pada zaman-zaman purbakala, khususnya dalam kisah Ramayana dan Mahabharata. Sementara ia memberikan kuliah di Rochester University, selama sesi tanya jawab seorang siswa mengajukan pertanyaan yang membuat Oppenheimer memberikan jawaban yang menggemparkan:

Mahasiswa: “Apakah bom yang meledak di Alamogordo pada Proyek Manhattan adalah yang pertama kali diledakkan?”

Dr Oppenheimer menjawab: “Yah – Iya. Di zaman modern, tentu saja.”

Beberapa orang berpendapat Oppenheimer mengacu pada senjata Brahmastra yang disebutkan dalam Mahabharata. Brahmastra atau Brahmanda astra adalah salah satu dari tiga senjata pamungkas Trimurti.

Senjata Brahmanda astra, dikatakan memiliki energi untuk menghancurkan alam semesta atau Brahmand (14 dunia) menurut kosmologi Hindu. Dalam Mahabharata tertulis: Parasurama, Bhisma, Drona dan Karna mempunyai pengetahuan untuk menggunakan senjata ini. Selama perang Mahabharata, Guru Drona hendak menggunakan senjata ini untuk melawan pasukan Pandava, namun karena permintaan para Deva dan leluhur, Drona menarik kembali senjata ini karena itu akan memusnahkan sama sekali pasukan Pandava yang berperang di pihak yang benar. Seperti dicatat dalam purana Hindu, ketika senjata ini digunakan, itu akan menyebabkan “samudera akan mendidih karena panasnya dan bumi dan pegunungan akan melayang ke udara dan segala sesuatu akan terbakar tanpa meninggalkan abu.”

“Kami menyalakan saklar, melihat kilatan, menyaksikan selama sepuluh menit, kemudian mematikan semuanya dan pulang ke rumah. Malam itu aku tahu dunia sedang menuju kepada kesusahan” – Fisikawan Leo Szilard, pembuat bom atom

Perang Nuklir Purbakala

Selama “perang piramida” Mesir yang pertama, antara Horus dan Seth, Horus menyerang:

“… (dan dia) melepaskan terhadap mereka badai yang tidak bisa mereka lihat dengan mata mereka, atau dengar dengan telinga mereka. Ini membawa kematian bagi mereka semua dalam sekejap …” (Sitchin, 1985)

Ini nampaknya mirip seperti sinar gamma dan pulsa neutron dari senjata nuklir sub-kiloton, yang tidak memiliki bola api dan radiasi nuklirnya meluas jauh melampaui gelombang ledakan.

Zeus berperang melawan dewa-dewa Titan:

“Asap panas meliputi para Titan, yang dilahirkan Gaea, api yang tak terkatakan muncul terang ke langit atas. Silau kilatan dari Batu-Guntur, halilintarnya, membutakan mata mereka – begitu kuatnya. Panas yang menakjubkan menguasai Kekacauan… Nampaknya sepertinya Bumi dan Langit luas di atas telah menyatu bersama-sama, tumbukan yang luar biasa, seolah-olah Bumi dilemparkan menjadi reruntuhan. Demikian juga angin membawa gemuruh, gempa dan badai debu, guntur dan halilintar.” (Sitchin, 1985).

Ini mirip seperti senjata nuklir besar yang diledakkan pada atau dekat dengan tanah, sehingga menghasilkan awan jamur besar.

Zeus menaklukkan Thyphon:

“Api ditembakkan dari dewa terluka di dalam lembah Gunung yang redup, kasar, dan terpencil, ketika ia terpukul. Bagian besar dari bumi besar hangus oleh asap yang mengerikan, mencair seperti timah mencair ketika dipanaskan oleh kepiawaian manusia … dalam pijaran api yang berkobar-kobar itu bumi mencair.” (Sitchin, 1985).

Ada banyak petunjuk lain mengenai perang nuklir purbakala. David Hatcher Childress (2000) membahas tentang perang atom purbakala di Hattusas (Bogazkoy) di Turki di mana “bagian-bagian kota itu mengalami vitrifikasi (menjadi kaca), dan dinding-dinding batu sebagian meleleh.” Dia kemudian membahas Sodom dan Gomora dan membandingkan mereka dengan Hiroshima dan Nagasaki.

Dan dia mengutip dari Mahabharata tentang deskripsi yang sangat bagus tentang peperangan atom di mana kepada Arjuna diberikan “senjata surgawi” yang tidak dapat ia gunakan terhadap manusia “karena itu dapat menghancurkan dunia”, tapi ia bisa menggunakannya untuk melawan “setiap musuh yang bukan manusia.”

Kutipan Mahabharata:

Drona memanggil Arjuna dan berkata, “Terimalah dari padaku senjata yang tak terkalahkan ini, yang disebut Brahmastra. Tapi kamu harus berjanji untuk tidak pernah menggunakannya untuk melawan musuh manusia, karena jika kamu melakukannya, itu mungkin akan menghancurkan dunia. Jika ada musuh yang bukan manusia menyerang kamu, kamu boleh memakainya untuk melawan dia dalam pertempuran. Tidak ada selain kamu yang layak menerima senjata surgawi yang aku berikan kepadamu.”

“Arjuna dan Krishna berkendara ke sana kemari dengan kereta-kereta mereka di kedua sisi hutan dan menghalau kembali makhluk-makhluk yang mencoba melarikan diri. Ribuan binatang terbakar, kolam-kolam dan danau-danau mulai mendidih … Nyala apinya bahkan mencapai Langit … Indra tanpa kehilangan waktu bergegas ke Khandava dan menutupi langit dengan awan-awan; hujan tercurah turun tapi itu mengering di udara oleh karena panasnya.”

Kerajaan Rama, yang digambarkan dalam Mahabharata dan Ramayana, diperkirakan sezaman dengan kebudayaan besar Atlantis dan Osiris di Barat.

Atlantis, yang terkenal dari tulisan-tulisan Plato dan catatan-catatan Mesir kuno, tampaknya ada di tengah-tengah Samudera Atlantik dan merupakan peradaban yang sangat canggih teknologinya.

Peradaban Osirian berada di cekungan Mediterania dan Afrika utara, menurut doktrin esoteris dan bukti-bukti arkeologi, dan umumnya dikenal sebagai pra-dinasti Mesir. Peradaban itu dilanda banjir ketika Atlantis tenggelam ke dalam lautan dan Mediterania mulai terisi dengan air.

Kerajaan Rama berkembang pesat pada periode yang sama, menurut tradisi esoterik, kemudian memudar dalam milenium sesudah kehancuran benua Atlantis.

Seperti disebutkan di atas, epik India kuno menggambarkan serangkaian perang mengerikan – perang-perang yang mungkin terjadi antara India kuno melawan Atlantis, atau mungkin pihak ketiga di wilayah Gobi, China barat. Mahabharata dan Drona Parva berbicara tentang perang dan senjata-senjata yang digunakan: bola api besar yang bisa menghancurkan seluruh kota; “Kilasan Kapila“, yang bisa membakar 50.000 orang menjadi abu dalam hitungan detik; dan tombak-tombak terbang yang bisa menghancurkan seluruh “kota penuh benteng”.

Menurut arkeolog, Kerajaan Rama didirikan oleh Naga (Naacal) yang datang ke India dari Burma dan akhirnya dari “Tanah Air menuju ke timur”. Setelah menetap di Dataran Tinggi Deccan di India utara, mereka mendirikan ibu kotanya di kota kuno Deccan, di mana kota modern Nagpur berdiri hari ini.

Kerajaan Naga tampaknya mulai meluas ke seluruh India utara termasuk kota-kota Harappa, Mohenjo-Daro dan Kot Diji (sekarang di Pakistan), serta Lothal, Kalibanga, Mathura dan mungkin kota-kota lain seperti Benares, Ayodha dan Pataliputra.

Kota-kota ini dipimpin oleh “Guru-guru Besar” atau “Tuan/Master” yang adalah para aristokrat dari peradaban Rama. Sekarang ini mereka umumnya disebut “Pendeta-Raja” dari peradaban Lembah Indus, dan sejumlah patung-patung dari dewa-dewa ini telah ditemukan. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kekuatan mental dan paranormal yang luar biasa. Pada puncak kekuasaan Kerajaan Rama dan Atlantis, diduga terjadi perang, yang tampaknya karena Atlantis berusaha menaklukkan Kerajaan Rama.

Salah satu kisah pertempuran, dikatakan oleh Persaudaraan Lemuria, menceritakan bagaimana para Pendeta-Raja Kerajaan Rama mengalahkan pasukan Atlantis. Dilengkapi dengan kekuatan yang tangguh dan “serangkaian senjata fantastis”, pasukan Atlantis mendaratkan pesawat-pesawat Vailixi (Vimana/UFO purbakala) mereka di luar salah satu kota-kota Kerajaan Rama, mengatur pasukan mereka dan mengirim pesan kepada Pendeta-Raja yang berkuasa di kota bahwa ia harus menyerah. Pendeta-Raja mengirim pesan kembali kepada Jenderal Atlantean:

Kami dari India tidak bertikai dengan Anda Atlantis. Kami hanya meminta diizinkan untuk mengikuti jalan hidup kami sendiri.

Menganggap permintaan sang penguasa ini sebagai pengakuan kelemahan dan mengharapkan kemenangan mudah – karena Kerajaan Rama tidak memiliki teknologi perang atau agresivitas pasukan Atlantis – Jenderal Atlantean mengirim pesan lain:

Kami tidak akan menghancurkan negeri Anda dengan senjata-senjata perkasa oleh perintah kami, asalkan Anda membayar upeti yang cukup dan menerima kekuasaan Atlantis.

Saat fajar, tentara Atlantis mulai berbaris di kota. Dari tempat yang tinggi, Pendeta-Raja menyaksikan pasukan bergerak maju. Lalu ia mengangkat tangannya ke langit, dan menggunakan teknik paranormal khusus dia menyebabkan Jenderal dan setiap perwira dalam urutan pangkat mereka jatuh mati di tengah jalan. Dalam kepanikan, dan tanpa pemimpin, pasukan Atlantis yang tersisa melarikan diri ke pesawat Vailixi mereka yang sedang menunggu dan mundur ketakutan kembali ke Atlantis. Dari Kota Rama yang dikepung, tidak satu pun orang yang hilang.

Meskipun kisah ini mungkin kedengaran aneh, epik-epik India melanjutkan kisah kelanjutannya yang mengerikan, dan terjadi hal-hal menakutkan bagi Kerajaan Rama. Dengan asumsi cerita di atas benar, Atlantis tidak senang dengan kekalahan memalukan ini dan karena itu menggunakan senjata pamungkas yang paling kuat dan destruktif – sangat mungkin jenis senjata atom!

Perhatikan ayat-ayat berikut ini dari Kitab Mahabharata kuno:

“Sebuah proyektil tunggal berisi semua kekuatan di alam semesta … Kolom asap pijar dan api seterang 10.000 matahari, muncul dalam segala kemegahannya … Itu senjata yang tidak dikenal, sebuah halilintar besi, utusan raksasa kematian yang memusnahkan menjadi abu seluruh ras Vrishnis dan Andhakas. Mayat-mayat itu terbakar hebat sehingga tak bisa dikenali. Rambut dan kuku-kuku mereka berjatuhan, tembikar pecah tanpa penyebab yang jelas, dan burung-burung berubah menjadi putih. Setelah beberapa jam, semua bahan makanan tercemar. Untuk menyelamatkan diri dari api ini, para prajurit menceburkan diri ke dalam sungai.”

Steinhauser (1975), menceritakan episode lain dari kisah Ramayana:

“… ketika dewa Rama terancam oleh ‘pasukan  kera’ ia melepaskan ‘panah ajaib’-nya untuk bertindak. Ini menghasilkan kilatan halilintar yang ‘lebih kuat dari panas dari seratus ribu matahari’, mengubah segalanya menjadi debu. Rambut dari para korban selamat berjatuhan, kuku-kuku mereka hancur. Kita tahu senjata ajaib seperti demikian dari Sodom dan Gomora, dan dari Hiroshima dan Nagasaki.”

“(Itu senjata yang) begitu hebat
sehingga itu bisa menghancurkan bumi dalam sekejap–
Suara besar yang dahsyat membumbung dalam asap dan nyala api–
Dan di atasnya duduk kematian …” – Ramayana

Di Mohenjo-Daro dan Harappa, Pakistan, David Davenport (1996), yang menghabiskan 12 tahun mempelajari kitab-kitab Hindu kuno dan bukti-bukti di situs kuno Mohenjo-Daro, menyatakan pada tahun 1996 bahwa kota itu hancur secara tiba-tiba sekitar 2000 tahun SM. Reruntuhan kota itu mengungkapkan episentrum ledakan yang berukuran lebar 50 yard. Di lokasi itu semuanya mengkristal, melebur atau meleleh. Enam puluh yard dari pusat, batu bata mencair di satu sisi yang mengindikasikan terjadinya sebuah ledakan … peristiwa misterius yang mengerikan 4000 tahun yang lalu ini tercatat dalam Mahabharata.

Menurut teks Mahabharata,

“Asap putih panas yang seribu kali lebih terang daripada matahari terbit dalam kecemerlangan yang tak terbatas memusnahkan kota menjadi abu. Air mendidih … kuda-kuda dan kereta-kereta perang yang terbakar jumlahnya ribuan … mayat-mayat mereka yang jatuh termutilasi oleh panas yang mengerikan sehingga mereka tidak lagi tampak seperti manusia …”

Dari salah satu sejarah tertua India … Kitab Dzyan:

“Perpisahan tidak mendatangkan perdamaian kepada orang-orang ini dan akhirnya kemarahan mereka mencapai titik di mana penguasa kota yang sebenarnya membawa bersamanya sejumlah kecil prajurit dan mereka naik ke udara di dalam sebuah kapal logam besar yang mengkilat. Sementara mereka berjarak beberapa mil dari kota musuh-musuh mereka, mereka meluncurkan tombak besar bersinar yang menunggangi seberkas cahaya. Itu meledak berkeping-keping di kota musuh-musuh mereka dengan bola api besar yang menjulang sampai ke langit-langit, hampir mencapai bintang-bintang. Semua orang yang ada di kota itu terbakar mengerikan dan bahkan mereka yang tidak berada di dalam kota – tapi di dekatnya – terbakar juga.

Mereka yang memandang kepada tombak dan bola api itu menjadi buta selamanya sesudahnya. Mereka yang memasuki kota itu dengan berjalan kaki menjadi sakit dan mati. Bahkan debu kota itu beracun, demikian juga sungai-sungai yang mengalir melewatinya. Orang-orang tidak berani pergi mendekatinya, dan secara bertahap itu hancur menjadi debu dan dilupakan orang. Ketika pemimpin melihat apa yang telah dilakukannya kepada orang-orangnya sendiri, ia mengundurkan diri ke istananya dan menolak untuk menemui siapa pun. Kemudian dia mengumpulkan sisa-sisa prajuritnya yang masih ada, dan istri-istri dan anak-anak mereka, dan mereka memasuki kapal-kapal mereka dan naik satu per satu ke langit dan berlayar pergi. Mereka juga tidak kembali.”

David Hatcher Childress (1999) juga menyajikan sketsa Benteng Mohenjo-Daro dan diskusi tentang kehancurannya karena ledakan nuklir. Harappa dan Mohenjo-Daro merupakan kota-kota utama dari “Kebudayaan Harappa” di Lembah Indus, peradaban perkotaan yang luar biasa maju dan seragam, yang ada antara 2500 dan 1500 SM, yang permulaannya tetap tidak diketahui.

Tentang Parshaspur di dekat Srinagar, Kashmir, David Childress (2000) menyatakan,

“Ini adalah pemandangan kehancuran total; blok-blok batu besar berserakan di wilayah yang luas memberikan kesan terjadinya ledakan pemusnahan.”

Zecharia Sitchin (1985) menulis sebuah bab yang mendiskusikan tentang perang nuklir di zaman purbakala di Mesopotamia dan Semenanjung Sinai. Dalam bukunya ia menuliskan pendapat tentang kehancuran “fasilitas ruang angkasa” Sinai karena senjata nuklir. Dia menunjukkan sebagai bukti:

“… rongga besar di tengah-tengah Sinai dan garis-garis patahan yang dihasilkan (lihat gambar), area datar yang sangat luas yang mengitarinya tertutup dengan batu-batu menghitam, jejak-jejak radiasi di selatan Laut Mati, perluasan dan bentuk baru Laut Mati – masih ada di sana, empat ribu tahun kemudian”.

Dia berpendapat bahwa guguran radioaktif dari operasi tersebut memusnahkan daerah sekitar Sumer selama jangka waktu 70 tahun, sampai tahun 1953 SM.

Sinai-Peninsula
Sinai Peninsula

Ditemukan pada tahun 2002, sebuah artefak dari Mesopotamia di Babel kuno ini memuat gambar sesuatu yang menyerupai Bom Atom seperti yang dijatuhkan di Hiroshima Jepang, tahun 1945. Gambar berikutnya adalah awan debu ledakan senjata perang yang menyebar ke segala arah disertai dengan delapan bintang Ishtar, Dewi Perang. Ini menyerupai awan jamur yang dihasilkan Bom Atom 1945 ketika meledak di atas kota Jepang.

Artefak dari silinder Babel kuno ini memberikan kepada kita 3 kemungkinan:

  1. Kebetulan
  2. Indikasi terjadinya perang nuklir purbakala
  3. Indikasi adanya ramalan Babel kuno tentang perang nuklir yang akan terjadi di kemudian hari

Beberapa kutipan Alkitab yang menubuatkan perang nuklir:

Mazmur 21:10 (ILT) Engkau akan membuat mereka seperti tungku api pada saat murka-Mu; YAHWEH akan menelan mereka dalam murka-Nya, dan api akan melalap mereka.

Mazmur 97:3 (ILT) Nyala api berjalan di hadapan-Nya dan membakar hangus semua musuh di sekeliling-Nya.

Yesaya 29:5-6 (ILT) Dan pasukan lawanmu akan menjadi seperti debu halus, dan pasukan yang mengerikan akan berlalu seperti jerami, dan hal itu akan terjadi dengan tiba-tiba, seketika. 6. Engkau akan dilawat oleh YAHWEH Tsebaot dengan kilat dan gempa bumi dan suara gemuruh, puting beliung dan badai, dan kobaran api yang menghanguskan.

Kawah Raksasa Misterius di Dekat Bombay

Tanda misterius lainnya dari perang nuklir purbakala di India adalah kawah raksasa di dekat Bombay. Kawah Lonar yang hampir melingkar berdiameter 2.154 meter, terletak 400 kilometer sebelah timur laut Bombay dan memiliki usia penanggalan karbon kurang dari 50.000 tahun, mungkin berhubungan dengan perang nuklir purbakala.

mohenjodaro-12-crater

Tidak ada sisa-sisa material tabrakan meteorit dan sebagainya yang ditemukan di situs tersebut atau di sekitarnya, dan ini adalah satu-satunya kawah basalt yang dikenal dunia. Indikasi terjadinya guncangan besar (dari tekanan yang melebihi 600.000 atmosfer) dan intens, panas tiba-tiba (ditunjukkan oleh kaca basalt bulat) dapat ditemukan di situs tersebut. Arkeolog David Hatcher Childress menulis dalam Nexus Magazine:

“Kawah ini terbentuk pada batuan basalt dengan ketebalan 600-700m. Batuan ini terbentuk dari banyak lapisan-lapisan atau aliran-aliran yang diletakkan oleh aktivitas vulkanik dari berbagai masa, lima dari aliran-aliran tersebut tersingkap pada bibir kawah. Ketebalan dari aliran-aliran ini berkisar antara 5 sampai 30 m.”

“Kawah ini dalamnya sekitar 150 m dan memiliki diameter rata-rata 1.830 m. Ketinggian pinggirannya terdiri dari 25 m batuan dasar dan 5 m material muntahan di atasnya. Selimut muntahan ini tersebar kira-kira 1,350 m dari bibir kawah dengan kemiringan lereng 2-6°. Bagian muntahan paling atas berisi deposit material yang tercairkan karena tumbukan”.

mohenjodaro-11-crater
Foto udara Kawah Lonar

Kawah Lonar merupakan area samar-samar, terutama karena merupakan satu-satunya kawah ‘meteorit’ yang terbentuk di permukaan basaltik. Ia masih relatif utuh karena rendahnya tingkat erosi oleh kondisi-kondisi lingkungan, menjadikannya sebagai model yang sangat baik untuk studi. Namun, beberapa hal-hal aneh terjadi di sini:

  1. Danau ini memiliki dua wilayah berbeda yang tidak pernah bercampur – bagian luar dengan pH netral (pH7) dan bagian dalam dengan pH alkali (pH11), masing-masing dengan flora dan faunanya sendiri-sendiri.
  2. Ada aliran abadi yang mengaliri danau dengan air, tetapi tampaknya tidak ada outlet jelas tempat keluarnya air danau. Juga merupakan misteri besar yang belum terpecahkan dari mana aliran air abadi berasal, di daerah yang relatif kering seperti Buldhana. Bahkan dalam bulan-bulan paling kering Mei dan Juni, aliran sungai terus-menerus mengalir.

Legenda dari Lembah Kematian di Siberia, Russia

Jauh di jantung Siberia terletak sebuah lembah yang aneh di mana penduduk setempat takut untuk menginjaknya karena orang-orang yang pergi ke sana memiliki kecenderungan tidak kembali lagi. Memang, bahkan beberapa penjelajah modern berjatuhan dan mengalami sakit parah ketika menjelajahi daerah ini (dekat Tunguska, situs ledakan besar seukuran bom nuklir sekitar seratus tahun yang lalu, jauh sebelum Perang Dunia II). Penduduk setempat menyebutnya Lembah Kematian.

Tapi bagian yang aneh adalah bahwa penduduk setempat juga memiliki legenda yang berhubungan dengan lembah itu. Mereka menceritakan tentang perang purbakala yang terjadi antara ras yang sangat maju, menggunakan senjata-senjata besar yang berlokasi di sini yang tampaknya sanggup menembak jatuh ancaman-ancaman dari udara (termasuk ancaman antarplanet – menurut History Channel).

Dan nampaknya ada relik-relik teknologi canggih dan reruntuhan purbakala yang ditemukan di area tersebut, yang belum digali lebih lanjut.

Lautan Kaca

Di setiap benua, ada daerah-daerah di mana dapat ditemukan atau telah ditemukan apa yang oleh sebagian orang dijuluki “Lautan Kaca,” baik di permukaan, atau terkubur di bawah tanah selama berabad-abad, di mana pasir dan/atau kotoran telah benar-benar melebur karena panas yang hebat menjadi kaca. Warna dari lautan-lautan kaca ini bervariasi sesuai dengan kandungan mineral yang ada di dalamnya, tetapi keberadaan mereka ada di mana-mana. Dan lautan kaca ini identik dengan yang diciptakan oleh Pemerintah AS di gurun Nevada ketika mereka pertama kali menguji coba bom atom modern.

Uji coba bom atom di gurun Nevada menghasilkan ‘lautan kaca’ yang unik atau material-maerial yang melebur di bawahnya.

Penjelasan umum untuk semua fenomena ini adalah karena ledakan “meteorit”, tetapi semua pola-pola yang ada tidak sesuai. Misalnya, bagi meteor untuk dapat menghasilkan panas semacam itu membutuhkan terjadinya peristiwa tabrakan. Namun “Lautan-latuan Kaca” ini umumnya tidak memiliki kawah tabrakan meteorit tersebut…

Kutipan berikut ini muncul di New York Herald Tribune pada tanggal 16 Februari 1947 (dan dipublikasikan kembali oleh Ivan T. Sanderson pada edisi majalah Pursuit, bulan Januari 1970):

Ketika bom atom pertama meledak di New Mexico, pasir di gurun berubah menjadi leburan material kaca hijau. Fakta ini, menurut majalah Free World, telah membuat beberapa arkeolog tertentu berubah pikiran. Mereka telah menggali di lembah Efrat kuno dan telah menemukan lapisan kebudayaan agraris berusia 8.000 tahun, dan lapisan kebudayaan penggembala yang jauh lebih tua, dan kebudayaan manusia gua yang lebih tua lagi. Baru-baru ini, mereka mencapai lapisan kaca hijau yang melebur.

Telah diketahui bahwa ledakan atom pada atau di atas gurun pasir akan mencairkan silikon di dalam pasir dan mengubah permukaan Bumi menjadi lembaran kaca. Tetapi jika lembaran-lembaran kaca gurun purbakala dapat ditemukan di berbagai belahan dunia, apakah itu berarti bahwa perang atom telah terjadi di masa purbakala atau, setidaknya, bahwa uji coba ledakan atom pernah terjadi di dalam zaman-zaman sejarah yang sangat lampau?

Lapisan Kaca Misterius di Gurun Sahara

Salah satu misteri paling aneh Mesir kuno adalah lembaran-lembaran kaca besar yang hanya ditemukan pada tahun 1932. Pada bulan Desember tahun itu, Patrick Clayton, seorang surveyor untuk Geological Survey Mesir, mengemudi di antara bukit-bukit pasir dari Lautan Pasir Besar di dekat Dataran Tinggi Saad di daerah yang hampir tak berpenghuni di sudut utara barat daya Mesir, ketika ia mendengar ban mobilnya menginjak sesuatu yang bukan pasir. Ternyata itu adalah potongan-potongan besar kaca kuning-hijau yang sangat jernih.

Desert-glass

Bahkan, ini bukan sembarang kaca biasa, tapi kaca ultra-murni yang menakjubkan dengan kadar silika 98%. Clayton bukan orang pertama yang melintasi padang kaca ini, karena berbagai pemburu dan pengembara ‘prasejarah’ juga telah menemukan apa yang kini dikenal sebagai Gurun Kaca Libya (LDG: Libyan Desert Glass). Kaca ini telah digunakan di masa lalu untuk membuat pisau dan peralatan-peralatan bertepian tajam serta benda-benda lainnya. Sebuah scarab (kumbang) yang diukir dari LDG ini bahkan ditemukan di makam Tutankhamen, yang menunjukkan bahwa kaca itu kadang-kadang digunakan sebagai perhiasan.

Tutankhamun_pendant_with_Wa
Tutup dada Tutankhamun memiliki kumbang scarab yang terukir dari kaca gurun.

Mungkinkah gurun yang mengalami vitrifikasi (menjadi kaca) ini merupakan akibat dari perang atom pada zaman purbakala?

Sahara-Crater
Foto udara kawah yang terbentuk oleh ledakan udara

Reruntuhan Reaktor Nuklir Purbakala

Di pertambangan Oklo di Gabon, Afrika Barat, pada tahun 1972, sebuah perusahaan Perancis mencari Uranium untuk bahan bakar pembangkit listrik tenaga nuklir mereka. Di daerah geologi yang stabil, mereka menemukan sejumlah deposit, yang anehnya semuanya berada dalam baris lurus, dan kemudian mereka menambangnya.

Masalah terjadi ketika mereka mengirim Uranium ini untuk diolah menjadi bahan bakar nuklir.

Deposit Uranium itu ternyata sudah diproses, dan sudah digunakan, sehingga tidak ada gunanya lagi sebagai bahan bakar nuklir baru. Itu tidak dapat digunakan untuk menghasilkan tenaga. Persentase isotop semuanya tidak sesuai. Mereka tidak konsisten dengan Uranium mentah yang ada di alam. Namun Uranium ini konsisten dengan bahan bakar yang sudah digunakan, jenis yang sudah ditarik keluar dari reaktor nuklir sesudah digunakan!

Persentasenya tidak konsisten dengan Uranium mentah mana pun yang sudah dikenal sebelumnya.

Namun misteri terbesarnya adalah ini: Tercampur di dalam masing-masing deposit kecil Uranium ini terdeteksi sejumlah elemen Plutonium, bahan utama sebagian besar bom-bom atom modern.

Dan Plutonium bukanlah unsur alami. Ia hanya terbentuk di dalam reaktor nuklir kelas senjata, nuklir yang telah diproses. Reaktor harus dirancang secara khusus untuk menghasilkan Plutonium. Ini tidak terbentuk dengan sendirinya atau secara alami.

Kesimpulan?

Ada kemungkinan ini merupakan reaktor nuklir purbakala yang digunakan untuk memproduksi senjata, yang kini sudah ditinggalkan …

Ada “sekelompok orang” yang memiliki kemampuan untuk memproduksi, dan memang memproduksi, Plutonium kelas senjata nuklir, pada zaman purbakala…

Reruntuhan yang Mengalami Vitrifikasi

Di berbagai tempat di seluruh dunia, banyak reruntuhan kuno yang memiliki jejak-jejak vitrifikasi (menjadi kaca) yang sangat konsisten.

Pada satu sisi dari semua reruntuhan, semuanya menghadap ke arah yang terpusat di setiap situs, telah melebur menjadi gelas karena panas yang intens (vitrifikasi). Ini hal umum. Ditemukan reruntuhan di ujung utara Death Valley, California, yang menyimpan karakteristik ini. Ada reruntuhan di Amerika Tengah yang membawa karakteristik ini. Skotlandia dipenuhi dengan reruntuhan semacam ini. Ada reruntuhan di mana-mana yang menyimpan tanda-tanda ini.

Reruntuhan vitrifikasi juga ditemukan di Perancis, Turki, dan Timur Tengah.

Dan mereka semuanya konsisten dengan efek paparan panas yang intens, seperti yang dihasilkan oleh ledakan udara bom nuklir. Sebagai pembanding: reruntuhan di Hiroshima dan Nagasaki juga memiliki karakteristik semacam ini sebelum akhirnya dibangun kembali. Tembok-tembok yang menghadap ledakan nuklir akan melebur menjadi gelas karena panas.

Benteng-benteng Vitrifikasi Skotlandia

Salah satu misteri besar arkeologi klasik adalah ditemukannya banyak benteng-benteng vitrifikasi di Skotlandia. Apakah mereka ini merupakan bukti perang atom purbakala?

Ada setidaknya 60 benteng-benteng semacam itu di seluruh Skotlandia. Di antara yang paling terkenal adalah Tap o’Noth, Dunnideer, Craig Phadraig (dekat Inverness), Abernathy (dekat Perth), Dun Lagaidh (di Ross), Cromarty, Arka-Unskel, Eilean na Goar, dan Bute-Dunagoil di Pulau Sound of Bute off Arran. Benteng vitrifikasi terkenal lainnya adalah benteng bukit Cauadale di Argyll, Skotlandia Barat.

Salah satu contoh terbaik dari benteng vitrifikasi adalah Tap o’Noth, yang berada di dekat desa Rhynie di timur laut Skotlandia. Benteng prasejarah besar-besaran ini berada di puncak gunung dengan nama yang sama yang berketinggian 560 meter, memberikan pemandangan mengesankan dari pedesaan Aberdeenshire. Pada pandangan pertama tampaknya dinding-dinding itu terbuat dari puing-puing batu, tetapi bila dilihat lebih dekat nampak jelas bahwa mereka tidak terbuat dari batu-batu kering, tapi batu-batu meleleh! Susunan batu-batu yang dulunya individual ini sekarang menghitam dengan kerak arang, meleleh bersama-sama oleh panas yang begitu kuat sehingga sungai batuan cair dulunya pernah meleleh menuruni dinding.

Dalam proses vitrifikasi ini, blok-blok batu besar telah menyatu dengan puing-puing yang lebih kecil membentuk massa kaca yang keras.

Reruntuhan Vitrifikasi di Lembah Kematian California: Bukti Perang Nuklir?

Dalam buku “Secrets of the Lost Races,” Rene Noorbergen membahas bukti-bukti terjadinya perang dahsyat di zaman purbakala yang sangat lampau, termasuk penggunaan pesawat-pesawat angkasa dan senjata-senjata yang memvitrifikasi kota-kota batu.

Sisa-sisa vitrifikasi paling banyak di Dunia Baru berlokasi di Amerika Serikat bagian barat. Pada tahun 1850 penjelajah Amerika Captain Ives William Walker adalah yang pertama yang melihat beberapa reruntuhan ini, yang terletak di Lembah Kematian (Death Valley). Ia menemukan sebuah kota yang panjangnya sekitar satu mil, dengan garis-garis jalan-jalan dan posisi-posisi bangunan masih terlihat. Di pusatnya ia menemukan sebuah batu besar, antara 20 sampai 30 kaki, dengan sisa-sisa struktur besar di atasnya. Sisi selatan kedua batu dan bangunan itu meleleh dan mengalami vitrifikasi. Walker berasumsi bahwa gunung berapi telah menyebabkan fenomena ini, tetapi tidak ada gunung berapi di daerah tersebut. Selain itu, panas tektonik tidak bisa menyebabkan pencairan pada permukaan batu.

Rekan Captain Walker yang melanjutkan eksplorasi awalnya berkomentar, “Seluruh wilayah antara sungai Gila dan San Juan ditutupi dengan sisa-sisa reruntuhan. Reruntuhan kota-kota masih harus ditemukan di sana, yang paling luas, dan mereka terbakar dan mengalami vitrifikasi sebagian, penuh dengan batu-batu yang meleleh dan kawah-kawah yang disebabkan oleh kebakaran yang cukup panas untuk mencairkan batu atau logam. Ada batu-batu paving dan rumah-rumah yang koyak dengan rekahan mengerikan [seolah-olah mereka] telah diserang oleh bajak api raksasa.”

Reruntuhan vitrifikasi di Lembah Kematian ini terdengar menarik? Tentu saja ada bukti peradaban purbakala di daerah tersebut. Di Ngarai Titus, petroglyph dan inskripsi-inskripsi telah digoreskan ke dinding-dinding oleh tangan-tangan prasejarah yang tidak dikenal. Beberapa ahli berpikir grafiti ini mungkin dibuat oleh orang-orang yang tinggal di sini jauh sebelum orang-orang Indian yang kita kenal, karena orang-orang Indian tidak tahu apa-apa tentang mesin terbang dan bahkan, menganggap mereka ini legenda yang menakjubkan.

Radiologi, Beryllium-10 dan Penanggalan Radio Karbon-14

Para peneliti terbaik semuanya akan memberitahu bahwa metode penanggalan radio Carbon-14 tidak benar-benar akurat bila melewati periode lebih dari 4.000 tahun yang lalu. Bahkan metode penanggalan radiologi reguler Beryllium-10 seringkali menghasilkan umur liar yang fantastis yang tidak sesuai dengan faktor-faktor penanggalan lain.

Apa penyebabnya?

Jika dunia mengalami perang nuklir global, yang menghasilkan cukup radioaktivitas untuk mengurangi separuh umur manusia, itu juga menghasilkan cukup Carbon-14 dan Beryllium-10 untuk sepenuhnya menggeser setiap periode waktu penanggalan evolusi atau arkeologi yang tidak memperhitungkan arus besar Carbon-14, Beryllium-10, dan radioaktivitas lainnya. Perang nuklir dan radioaktivitasnya menghasilkan begitu banyak Carbon-14, Beryllium-10 (dan radiasi lainnya) ke dalam sistem alam yang meracuni kehidupan, dan benar-benar mengubah keseimbangan produksi alam dan penyusutan isotop Carbon-14 dan Beryllium-10 di Bumi. Apa pun yang hidup sebelum terjadinya perang nuklir ini akan kelihatan menjadi jauh lebih tua daripada sesungguhnya, karena kadar Carbon-14 yang jauh lebih rendah dibandingkan tingkat yang ditemukan di dalam materi organik/hidup lainnya sesudah perang nuklir. Begitu juga dengan Beryllium-10 di dalam tingkatan batu dan bahan anorganik lainnya. Sehingga seluruh metode penanggalan radio Carbon-14 sebelum tahun 2000 SM akan bergeser…

Frederick Soddy, seorang ahli fisika terkenal dari sekitar pergantian abad-20, berkata pada tahun 1909,

“Saya percaya bahwa ada peradaban-peradaban di masa lalu yang akrab dengan energi atom, dan karena menyalahgunakan itu, mereka benar-benar hancur total.”

Kitab-kitab Ibrani Kuno Tentang Peperangan Dewa-dewa

Kejadian 6:4 (TB) Pada waktu itu orang-orang raksasa (Ibrani: Nephilim) ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Elohim (Ibrani: benei ha’Elohim; para malaikat) menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan.

Satu ayat dalam Kitab Kejadian 6 ini mewakili periode ribuan tahun ketika Nephilim, keturunan “dewa-dewa” yang turun dari langit, berkuasa di Bumi.

Henokh mengatakan, para malaikat yang turun ke Bumi ini mengajar anak-anak manusia cara membuat senjata-senjata perang, baju zirah, seni berperang, dan bahkan semua senjata-senjata kematian:

Henokh 8:1 Dan Azâzêl mengajari manusia membuat pedang dan pisau dan perisai dan baju zirah, dan memperkenalkan logam-logam di bumi dan mengajari mereka seni melakukan pekerjaan logam…

Henokh 69:6 Dan [malaikat] yang ketiga disebut Gâdreêl; dia adalah yang mengajarkan anak-anak manusia semua pukulan yang mematikan, dan yang menyesatkan Hawa, dan yang menunjukkan kepada anak-anak manusia senjata-senjata yang mematikan, baju zirah dan perisai dan pedang untuk berperang, dan semua senjata-senjata kematian kepada anak-anak manusia.

Kitab Henokh dan Kitab Yobel mencatat peristiwa ketika YAHWEH Elohim akhirnya menghukum para raksasa, Nephilim, anak-anak keturunan malaikat pengawas yang jatuh ini dengan mengirimkan pedang ke antara mereka, sehingga mereka saling menghancurkan dan saling membunuh satu sama lain hingga musnah, dalam kurun waktu 500 tahun sesudah mereka dilahirkan:

Kitab Henokh 10:9-15

  1. Dan Elohim berfirman kepada Gabriel, “Pergilah kepada anak-anak haram dan kepada para buangan dan kepada anak-anak percabulan, dan hancurkan anak-anak percabulan dan anak-anak para malaikat pengawas dari antara manusia; kirimkan mereka keluar, dan biarkan mereka saling menghancurkan dan saling membunuh; karena hari-hari mereka tidak akan lama.
  2. Dan mereka semua akan memohon kepadamu, tetapi ayah mereka  tidak akan mendapat apa-apa  bagi mereka, meskipun mereka mengharapkan hidup yang kekal, tetapi masing-masing dari mereka akan hidup lima ratus tahun.”
  3. Dan Elohim berkata kepada Mikhael, “Umumkan kepada Semjâzâ dan yang ada bersamanya, yang telah mengikatkan diri dengan perempuan, akan dihancurkan bersama mereka dalam semua kecemaran mereka.
  4. Setelah semua anak-anak mereka saling membunuh satu sama lain, dan mereka melihat kehancuran orang-orang yang dikasihinya, ikat mereka di bawah bukit bumi untuk tujuh puluh generasi, sampai hari penghakiman mereka dan akhir kesudahan mereka, sampai penghakiman yang terakhir telah dilaksanakan untuk selama-lamanya.
  5. Dan pada hari-hari itu mereka akan dibawa ke dalam jurang api, dalam siksaan dan penjara, mereka akan terkunci selama-lamanya.
  6. Dan dia akan terbakar dan dimusnahkan; mereka akan dibakar bersama-sama dari sekarang sampai akhir dari semua generasi.
  7. Dan hancurkan semua roh-roh hawa nafsu dan anak-anak dari para malaikat penjaga, karena mereka telah menindas umat manusia.
  8. Hancurkan semua penindasan dari muka bumi, dan semua perbuatan fasik akan berhenti, tanaman keadilan dan kebenaran akan muncul, dan perbuatan baik akan menjadi berkat: keadilan dan kebenaran akan ditanam dalam sukacita selamanya.

Kitab Yobel 5:6-11

  1. Dan terhadap para malaikat yang telah Dia utus ke bumi, Dia amat sangat murka, dan Dia memberi perintah untuk mencabut mereka dari semua wilayah kekuasaan mereka. Dan Dia memerintahkan kami mengikat mereka di dalam kedalaman-kedalaman bumi. Dan lihatlah, mereka diikat di tengah-tengahnya, dan dipisahkan.
  2. Dan terhadap anak-anak mereka, keluarlah suatu perintah dari hadapan-Nya supaya mereka dipukul dengan pedang, dan disingkirkan dari bawah surga.
  3. Dan Dia berfirman, “Roh-Ku tidak akan selamanya tinggal di dalam manusia, karena mereka juga adalah daging dan umur mereka hanya akan seratus dua puluh tahun saja.”
  4. Dan Dia mengirimkan pedang-Nya ke tengah-tengah mereka supaya masing-masing membunuh sesamanya, dan mereka mulai membunuh satu sama lain sampai mereka semuanya mati oleh pedang dan dihancurkan dari bumi.
  5. Dan ayah-ayah mereka menyaksikan (kehancuran mereka), dan sesudah itu mereka diikat di dalam kedalaman-kedalaman bumi untuk selamanya, sampai hari penghukuman besar, ketika penghakiman dilaksanakan terhadap mereka semua yang rusak jalan-jalannya dan perbuatan-perbuatannya di hadapan YAHWEH.
  6. Dan Dia menghancurkan semuanya dari tempat mereka, dan tidak ada satu pun yang tersisa dari mereka yang Dia hakimi sesuai dengan segala kejahatan mereka.

Kitab Henokh mencatat, para malaikat yang jatuh ini bertindak sebagai dewa-dewa pada zaman purbakala.

Kitab Henokh 68:4. Dan saat dia berdiri di hadapan TUHAN segala Roh, Mikhael yang kudus berbicara kepada Raphael, “Aku tidak akan mengambil bagian atas mereka (Malaikat yang Jatuh) di hadapan mata Tuhan, karena TUHAN segala Roh murka kepada mereka, karena mereka bertindak seolah-olah mereka adalah dewa-dewa.

Penghakiman YAHWEH Elohim kepada anak-anak Elohim (para malaikat), seperti yang tercatat dalam Kitab Henokh dan Kitab Yobel ini juga digemakan kembali dalam tulisan Asaf di dalam Kitab Mazmur.

Mazmur 82:1-8

  1. Mazmur Asaf. Elohim berdiri di tengah-tengah jemaah Elohim (Ibrani: ‘el); Dia menghakimi di tengah para ilah (Ibrani: ‘elohim; para malaikat, dewa-dewa).
  2. Berapa lama lagi engkau mengadili dengan tidak adil, dan mengangkat wajah orang-orang fasik? Sela.
  3. Mereka tidak mengetahui ataupun memahami, mereka berjalan dalam kegelapan, seluruh dasar bumi terguncang.
  4. Aku telah berfirman, “Kamu adalah elohim (Ibrani: ‘elohim), dan kamu semua adalah anak-anak Yang Mahatinggi (Ibrani: benei ‘Elyon).
  5. Namun kamu akan mati sebagai manusia (Ibrani: adam), dan sebagai salah seorang pembesar, kamu akan tewas (Ibrani: naphal).
  6. Bangkitlah ya Elohim, hakimilah bumi, karena Engkau akan memiliki seluruh bangsa.

Dalam Kitab Henokh dan Kitab Yobel di atas sudah disebutkan bahwa penghakiman YAHWEH Elohim adalah dengan mengirimkan pedang ke tengah-tengah mereka ini, sehingga saling membunuh dan memusnahkan satu sama lain. Dalam Alkitab, pedang merupakan simbol peperangan, yang juga dinubuatkan rasul Yohanes dalam Kitab Wahyu:

Wahyu 6:4 (ILT) Dan keluarlah kuda yang lain berwarna merah api. Dan kepada dia yang menunggang di atasnya telah dikaruniakan kepadanya untuk mengambil damai dari bumi, juga agar mereka saling membunuh seorang terhadap yang lain, dan kepadanya telah diberikan pedang yang besar.

Jadi, apakah para dewa-dewa zaman purbakala ini memang benar-benar sampai menggunakan senjata nuklir dalam perselisihan mereka dan melawan manusia?

Salah satu alasan mengapa para ahli ‘mainstream’ tidak mau mengakui terjadinya perang nuklir purbakala adalah, karena itu benar-benar akan menggugurkan semua teori-teori evolusi mengenai umur Bumi dan penduduknya – dan ironisnya, sekali lagi akan mendukung kebenaran catatan sejarah Alkitab …

Baca:

Senjata Hari Kiamat: Efek 300 Kiloton Bom Nuklir Bila Diledakkan di Atas Kota Anda

Jejak Kaki Raksasa Yang Ditemukan di Seluruh Dunia

Kembalinya Nephilim | Serbuan Malaikat Secara Bertubi-tubi?

Literatur:

Kitab Henokh, Kitab Yobel, Kitab Yashar

Referensi:

Father of the Atomic Bomb Quotes Hindu Scripture After First Nuclear Detonation

Ancient Atomic Warfare

8,000 Year Old Indian City Irradiated by Atomic Blast

Ancient Nuclear Warfare

The Evidence For Ancient Atomic Warfare

NUCLEAR CATASTROPHE 2024 BC

Physical Evidence of Ancient Atomic Wars can Be Found World-Wide

An Atomic Bomb went off on Earth 12000 years ago?

Researchers discover a 2 billion year old Nuclear Reactor in Africa

Oklo – Ancient African Nuclear Reactor

THE MOUNT SINAI-KADESH SPACE FACILITIES DESTROYED

Iklan