Seperti yang dilakukan para Malaikat Pengawas pada zaman purbakala, kini para ilmuwan meneliti “imortalitas” dengan mengutak-atik DNA, kloning dan obat-obatan.

Seperti dilaporkan oleh website New Yorker, keinginan manusia untuk hidup selamanya seperti hari-hari ini adalah hal umum seperti yang dahulu pernah terjadi di dunia purbakala, ketika raksasa Gilgamesh berusaha meraih rahasia keabadian dari para dewa.

Para peneliti di seluruh negeri dan di seluruh dunia saat ini tengah mencoba memecahkan masalah penuaan dan penyakit kronis – dan kematian – melalui berbagai teknik dan teknologi. Lebih jauh, dalam usaha untuk memperoleh hidup kekal, manusia mungkin sudah lebih dekat dengan tujuan mereka daripada sebelumnya.

Beberapa peneliti masih berharap dapat menolong diri mereka sendiri dan orang-orang lain untuk hidup kekal dengan memanipulasi DNA – terlepas dari kekecewaan yang dialami menyusul antusiasme awal dalam metode pendekatan ini. Ya, telomeres (struktur senyawa yang ada di ujung-ujung kromosom) yang dulunya pernah digembar-gemborkan seharusnya bisa membuat tubuh manusia memperbaiki kerusakan sel-selnya sendiri, ternyata menemui jalan buntu – tidak seperti yang dimaksudkan.

Namun, peneliti terus berharap penelitian DNA setidaknya bisa berkontribusi untuk solusi parsial terhadap masalah kematian. Yang pasti, menurunnya kemampuan sel-sel tubuh manusia untuk mereplikasi dirinya sendiri dan memperbaiki kerusakan tubuh merupakan karakteristik utama ketidakmampuan tubuh manusia untuk hidup abadi.

Aubrey de Gray adalah salah satu peneliti terkemuka di bidang memperpanjang umur dan sangat berharap bisa menemukan jalan supaya manusia bisa hidup abadi – kecuali mengalami kecelakaan seperti jatuh dari atap atau ditabrak mobil. Menurut de Gray, alih-alih mencari solusi tunggal genetik saat berusaha hidup abadi, kita perlu mencari perbaikan-perbaikan tambahan.

Ini berarti memecahkan masalah-masalah yang menyebabkan kematian individual pada tingkat yang begitu cepat sehingga kurva umur panjang melampaui tingkat kematian. Intinya, manusia akan menemukan cara-cara baru untuk hidup abadi lebih cepat daripada bagaimana kematian bisa menemukan cara untuk membunuh manusia.

Ketika manusia berusaha untuk hidup abadi, sebagian lagi menyarankan solusi teknologi yang lebih tinggi untuk mengatasi masalah ini. Beberapa milyarder Amerika merasa bahwa umat manusia pada akhirnya perlu menggabungkan diri mereka dengan mesin-mesin atau mengalihkan kesadaran mereka ke dalam mesin-mesin sehingga mereka bisa hidup abadi.

Seperti diberitakan oleh Fortune, milyarder Elon Musk sendiri berinvestasi di sebuah perusahaan bernama Neuralink yang memiliki tujuan untuk menciptakan penghubung syaraf antara komputer dengan manusia. Ini akan memiliki keuntungan yang memungkinkan manusia untuk memperluas kapasitas mental mereka – dan dengan demikian dapat bertahan menghadapi serangan pemberontakan hipotesis dari android-android futuristik.

Tapi menghubungkan pikiran manusia dengan komputer melalui cara ini bisa menjadi langkah awal dalam memungkinkan transfer kesadaran manusia dari beberapa kilogram daging organik otak manusia di dalam tengkorak ke suatu struktur mekanik yang jauh lebih kokoh dan tahan lama di mana manusia mungkin bisa hidup abadi.

Cara lain dimana manusia bisa hidup abadi adalah melalui kloning. Meskipun mungkin kita berpikir ini artinya manusia akan mengkloning sebuah tubuh yang sama sekali baru dan memindahkan otak kita ke dalamnya, operasi semacam itu mungkin tidak bisa dilakukan. Para peneliti sebaliknya mencari cara mengkloning sel-sel dari individu untuk menumbuhkan organ-organ baru di dalam kondisi-kondisi laboratorium yang kemudian bisa ditransplantasikan ke dalam orang tersebut.

Sudah jelas, jika manusia bisa tiba-tiba hidup selamanya, implikasinya bagi umat manusia akan sangat luas dan mendalam. Segala sesuatu mulai dari agama hingga proses pensiun akan mulai berubah.

Selain itu, tentu saja mereka perlu menerapkan kontrol ketat kelahiran di seluruh dunia, karena reproduksi tak terkendali dikombinasikan dengan keabadian virtual dengan cepat akan menghabiskan keterbatasan sumber daya planet bumi.

Dan berbicara tentang sumber daya, bagaimana manusia memutuskan siapa yang boleh hidup selamanya? Apapun teknologi yang dikembangkan yang memungkinkan untuk memperpanjang umur hidup secara signifikan, mungkin akan mahal – setidaknya permulaannya – dan tidak tersedia untuk semua orang. Jadi siapa yang bisa mendapatkannya?

Sementara teknologi terus berkembang dalam tingkat eksponensial, para ilmuwan percaya umat manusia pada akhirnya akan menjadi “masyarakat pasca-manusia” di mana segala jenis penyakit, kelemahan tubuh, kemiskinan dan perang akan dimusnahkan. Mereka percaya kita sedang ada di ambang pintu mencapai keabadian dan mengubah planet ini menjadi utopia teknologi yang akan menjadi sempurna dalam segala hal.

Dengan kata lain, mereka percaya manusia tidak lagi membutuhkan “Elohim” karena kita sendiri akan menjadi “elohim” (dewa-dewa) bagi diri kita sendiri.

Hari-hari Zaman Nuh

Dalam Kitab Henokh kita membaca bahwa Nephilimketurunan Malaikat yang Jatuh – berusaha mendapatkan hidup yang kekal atau imortalitas, seperti dewa-dewa dalam mitologi yang ada di seluruh dunia. Namun Elohim menghukum mereka dengan mengirimkan “pedang” sehingga mereka saling membunuh satu sama lain, dan hanya berumur lima ratus tahun saja.

Henokh 10:9-10. Dan Elohim berfirman kepada Gabriel, “Pergilah kepada anak-anak haram dan kepada para buangan dan kepada anak-anak percabulan, dan hancurkan anak-anak percabulan dan anak-anak para malaikat pengawas (Nephilim) dari antara manusia; kirimkan mereka keluar, dan biarkan mereka saling menghancurkan dan saling membunuh; karena hari-hari mereka tidak akan lama. 10. Dan mereka semua akan memohon kepadamu, tetapi ayah mereka (Malaikat Pengawas) tidak akan mendapat apa-apa bagi mereka, meskipun mereka mengharapkan hidup yang kekal (imortalitas), tetapi masing-masing dari mereka (Nephilim) akan hidup lima ratus tahun.”

Keinginan mereka untuk memperoleh hidup yang kekal berakhir tragis dengan kebinasaan mereka semuanya.

Di dalam Kitab Wahyu kita membaca hal yang sebaliknya, tentang orang-orang yang putus asa dan berusaha untuk bunuh diri, tetapi tidak dapat, karena “kematian lari meninggalkan mereka.”

Wahyu 9:6 (ILT) Dan pada hari-hari itu, manusia akan mencari kematian, tetapi mereka tidak akan menemukannya. Dan mereka ingin mati, tetapi kematian akan lari dari mereka.

Mungkinkah ayat ini sebenarnya memberi petunjuk tentang orang-orang yang telah mencapai imortalitas? Mungkinkah ini adalah hukuman Elohim pada Akhir Zaman bagi manusia-manusia yang berusaha memperoleh hidup yang kekal dengan usaha mereka sendiri?

Pernahkah Anda berpikir kenapa Anti-Kristus pada akhirnya harus dilemparkan “hidup-hidup” ke dalam lautan api?

Wahyu 19:20 (TB) Maka tertangkaplah Binatang itu dan bersama-sama dengan dia nabi palsu, yang telah mengadakan tanda-tanda di depan matanya, dan dengan demikian ia menyesatkan mereka yang telah menerima tanda dari Binatang itu dan yang telah menyembah patungnya. Keduanya dilemparkan hidup-hidup (Yunani: zao) ke dalam lautan api yang menyala-nyala oleh belerang.

Kata “hidup-hidup” dalam ayat di atas menggunakan bahasa Ibrani “zao” (G2198), yang memiliki arti: hidup, bernafas, di antara yang hidup; secara metafora: masih segar, bertenaga penuh, kuat, aktif.

Mungkinkah bahwa Binatang itu sesungguhnya adalah “makhluk imortal” yang tidak dapat dibunuh, sama seperti dewa-dewa zaman purbakala yang disembah umat manusia, seperti yang tersirat dalam ayat berikut ini:

Wahyu 13:4 (TB) … Dan mereka menyembah Binatang itu, sambil berkata: “Siapakah yang sama seperti Binatang ini? Dan siapakah yang dapat berperang melawan dia?”

Baca:

Kebangkitan Abaddon | Menghidupkan Kembali Ras Rephaim dan Raja Jurang Maut, Abaddon

Era Hybrid Manusia-Binatang Telah Dimulai

Bangkitnya Babel | Yang Pertama Akan Menjadi Yang Terakhir, Kebangkitan Kembali Anti-Kristus

Peperangan Dewa-Dewa: Sisa-sisa Perang Nuklir Purbakala Ditemukan di Seluruh Dunia

Referensi:

SILICON VALLEY’S QUEST TO LIVE FOREVER

LIVE FOREVER: SCIENTISTS RESEARCH IMMORTALITY WITH CYBERNETICS, DNA TINKERING, NEW DRUGS AND CLONING

SCIENTISTS BELIEVE THE FIRST IMMORTAL HUMANS HAVE ALREADY BEEN BORN: ‘AGING IS A DISEASE AND CAN BE CURED’

Elon Musk’s New Startup Wants to Merge Human Brains With Computers

HUMAN CLONING: HOW FAR AWAY ARE WE? IS IT ETHICAL?

Iklan