Melalui pengamatan dan pembelajaran Kitab Suci, kita bisa melihat bahwa setan-setan (atau roh-roh jahat) itu adalah makhluk-makhluk yang berbeda dari Malaikat yang Jatuh.

Pemahaman ini nampaknya agak membingungkan bagi sebagian orang. Ini juga menantang pandangan tradisional yang dipegang secara luas, tetapi juga secara jelas kontradiktif terhadap ajaran Alkitab. Nah, pemahaman bahwa setan-setan bukanlah Malaikat yang Jatuh pasti bertentangan dengan tradisi. Tapi ini sama sekali tidak bertentangan dengan Kitab Suci.

Alkitab berbicara tentang setan-setan (atau roh-roh jahat), dan juga berbicara tentang jatuhnya Lucifer dan pemberontakan sepertiga dari para malaikat, namun tidak ada ayat-ayat yang benar-benar menghubungkan keduanya dan mendefinisikan bahwa setan-setan adalah Malaikat yang Jatuh. Pemahaman bahwa setan-setan adalah Malaikat yang Jatuh hanyalah tradisi yang sudah lama dipegang. Alkitab sesungguhnya memberikan tiga perbedaan-perbedaan yang hampir tak kentara, antara setan-setan (atau roh-roh jahat) dengan Malaikat yang Jatuh. Berikut akan kita lihat di sini.

Setan-setan Membutuhkan Tubuh

Setan-setan (atau roh-roh jahat) berusaha untuk merasuki tubuh dan tampak tidak nyaman jika berada di luarnya. Ambil contoh kisah seorang laki-laki di Gadara yang dirasuki oleh seluruh legion setan-setan. Satu legion Romawi didefinisikan sebagai pasukan prajurit berjumlah 6.826 orang. Saat diusir, setan-setan dalam cerita itu memohon kepada Yeshua supaya mengirim mereka ke dalam kawanan babi:

Lukas 8:30 (ILT) Dan YESHUA menanyainya dengan berkata, “Siapakah namamu?” Dan dia berkata, “Legion,” sebab banyak roh jahat merasuk kepadanya. 31 Dan mereka memohon kepada-Nya supaya Dia jangan memerintahkan kepada mereka untuk pergi ke abyssos. 32 Dan di sana ada sekawanan babi yang cukup banyak, yang sedang diberi makan di lereng gunung. Dan mereka meminta kepada-Nya agar Dia mengizinkan mereka masuk ke dalam babi-babi itu, dan Dia mengizinkannya.

Namun, Malaikat yang Jatuh, bisa menampakkan diri dalam bentuk fisik dan bahkan berinteraksi dengan umat manusia. Dalam Kejadian 6, Malaikat yang Jatuh bahkan kawin-mengawin dengan para wanita. Prokreasi aneh ini menghasilkan lahirnya para raksasa.

Kejadian 6:4 (ILT) Pada hari-hari itu, para raksasa telah ada di bumi, bahkan juga sesudahnya, ketika anak-anak Elohim menghampiri anak-anak perempuan manusia dan mereka telah melahirkan baginya; mereka adalah orang-orang perkasa yang ada sejak lama, orang-orang yang ternama.

Karena percabulan itu, Elohim menghukum “anak-anak Elohim” dengan mengikat mereka dalam “rantai-rantai kekekalan” sampai Hari Besar Penghakiman (Yudas 6).

Yudas 1:6 (ILT) Juga para malaikat, mereka yang tidak menjaga asal-usul mereka sendiri, malah telah meninggalkan kediamannya sendiri, Dia telah menahan mereka dengan belenggu abadi di bawah kekelaman, sampai pada penghakiman pada hari yang besar.

Perlu dipahami bahwa setiap rujukan tentang “anak-anak Elohim” dalam Perjanjian Lama adalah referensi kepada makhluk-makhluk supernatural atau para malaikat. Hanya di dalam Perjanjian Baru, “anak-anak Elohim” merujuk kepada anak-anak Elohim yang telah ditebus oleh darah Yeshua. Jadi kita tahu bahwa anak-anak Elohim itu bukan manusia biasa, seperti yang dijelaskan oleh beberapa pengajar Alkitab, yang mengawini “anak-anak perempuan manusia”. Salah satu alasan yang jelas: Jika anak-anak Elohim yang disebutkan dalam Kejadian 6:4 itu hanyalah manusia biasa, tidak ada alasan untuk menjelaskan kenapa perkawinan mereka menghasilkan ras raksasa.

Beberapa orang juga berpendapat bahwa kemungkinan “anak-anak Elohim” ini merujuk kepada sekelompok orang-orang pilihan (yakni keturunan Set) yang dilarang untuk berkembang biak dengan kelompok-kelompok manusia lainnya. Tetap saja, itu tidak akan menjelaskan mengapa perkawinan mereka menghasilkan para raksasa, atau mengapa Elohim menghukum perbuatan-perbuatan mereka dengan sangat keras.

Beberapa orang lainnya berkeyakinan bahwa para malaikat tidak dapat berkembang biak, mengutip perkataan Yeshua,

Matius 22:30 (ILT) Sebab, pada waktu kebangkitan, mereka tidak kawin maupun dikawini, tetapi menjadi seperti malaikat-malaikat Elohim di surga.

Tapi ayat ini hanya mengatakan bahwa malaikat-malaikat tidak kawin, bukan tidak bisa kawin. Malaikat masih bisa memiliki jenis kelamin dan menampakkan diri kepada manusia dalam tubuh lahiriah. Kitab Ibrani mengatakan kepada kita bahwa para malaikat bahkan dapat berjalan-jalan di antara kita tanpa diketahui.

Ibrani 13:2 (ILT) Janganlah lupa memberi tumpangan, sebab melalui hal itu beberapa orang tanpa sadar telah menjamu para malaikat.

Perhatikan juga malaikat-malaikat yang menjaga kuburan Kristus yang kosong.

Lukas 24:4 (ILT) Dan terjadilah, sementara mereka kebingungan mengenai hal itu, maka tampaklah dua orang (Yunani: aner) berdiri di dekat mereka dengan pakaian yang berkilau-kilauan.

Kata “orang” di sini menggunakan kata Yunani “aner” (G435) yang merujuk kepada jenis kelamin laki-laki.

Juga, para laki-laki Sodom yang ingin berhubungan seks dengan para malaikat yang menampakkan diri kepada Lot. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi, kecuali dua orang malaikat itu memiliki tubuh lahiriah dan tampak seperti manusia?

Kejadian 19:1 (ILT) Dan kedua malaikat itu datang ke Sodom pada waktu petang. Dan Lot sedang duduk di pintu gerbang Sodom. Dan Lot melihat, dan bangunlah dia untuk menyongsong mereka, dan dia bersujud dengan mukanya ke tanah, 4 Dan, sebelum mereka duduk makan, pria-pria dari kota itu, yaitu pria-pria Sodom, mulai dari yang muda sampai yang tua, bahkan seluruhnya tanpa terkecuali, mengepung rumah itu. 5 Dan mereka berseru kepada Lot dan berkata kepadanya, “Di manakah orang-orang (Ibrani: ‘iysh) yang datang kepadamu malam ini? Bawalah mereka keluar kepada kami, supaya kami dapat menggauli mereka.”

Kata “orang-orang” dalam ayat 5 di atas menggunakan kata Ibrani “‘iysh” (H376) yang juga merujuk kepada jenis kelamin laki-laki. Kata Ibrani “‘iysh” artinya: orang laki-laki, pria (lawan jenis dari wanita, perempuan), suami, manusia, umat manusia.

Dari Kitab Suci, kita melihat bahwa baik Malaikat yang Jatuh dan Malaikat Kudus sama-sama memiliki tubuh. Sebaliknya, setan-setan (atau roh-roh jahat) sangat menginginkan tubuh karena mereka tidak memilikinya. Setan-setan adalah makhluk-makhluk roh yang melekat, melarat, marah, tersiksa. Ini adalah perbedaan pertama antara Malaikat yang Jatuh dan setan-setan.

Setan-setan Mengembara di Bumi

Setan-setan dikutuk untuk mengembara di bumi, sementara Malaikat yang Jatuh masih memiliki kemampuan untuk berdiri di hadapan Elohim di ruang-ruang surgawi. Meskipun mereka diusir dari surga, Malaikat-malaikat yang Jatuh masih memberikan pertanggungjawaban atas perbuatan-perbuatan mereka.

Ayub 1:6 (ILT) Pada suatu hari, ketika anak-anak Elohim datang menghadap YAHWEH, dan Satan pun datang di antara mereka. 7 Dan YAHWEH bertanya kepada Satan, “Dari mana engkau datang?” Dan Satan menjawab YAHWEH serta berkata, “Dari menjelajahi bumi dan berjalan ke sana kemari di atasnya.”

Beberapa alasan untuk mempercayai bahwa Malaikat yang Jatuh, dan bukan hanya Malaikat Surgawi, termasuk di antara anak-anak Elohim yang berdiri di hadapan Elohim dalam kisah yang tercatat dalam Kitab Ayub:

  1. Pertama, Ayub merujuk kepadanya sebagai “Satan.”
  2. Kedua, kita juga tahu bahwa Satan sudah ada dalam keadaan jatuh, karena kemudian dalam kisah Ayub, ia berusaha mencuri, membunuh dan membinasakan Ayub. Seperti kata Yeshua, “Pencuri tidak datang kecuali untuk mencuri, dan membunuh, dan membinasakan.” Yohanes 10:10 (ILT)
  3. Ketiga, kita tahu dari ayat berikut bahwa kisah Ayub terjadi setelah Banjir Besar, yang berarti bahwa peristiwa itu pasti terjadi setelah kejatuhan manusia dan Satan.

Ayub 22:15 (AYT) Apakah kamu akan tetap melakukan cara lama, yang dilakukan oleh orang-orang jahat? 16 Mereka dicabut sebelum waktunya, dan banjir menghanyutkan dasar-dasar mereka.

Jadi jika Satan dalam keadaannya yang sudah jatuh ada di antara para malaikat yang harus memberikan pertanggungjawaban di Kitab Ayub, adalah konsisten untuk percaya bahwa Malaikat-malaikat yang Jatuh lainnya juga menghadap. Malaikat yang Jatuh bisa muncul di tempat-tempat surgawi. Oleh karena itu, Malaikat yang Jatuh tidak sepenuhnya terikat pada bumi. Namun, setan-setan, terikat pada bumi dan hanya bisa mengembara di bumi atau tinggal di dalam tubuh, seperti yang dijelaskan Yeshua:

Matius 12:43 (ILT) “Dan ketika roh najis keluar dari seseorang, ia melintas melalui tempat-tempat yang tandus sambil mencari perhentian, tetapi tidak menemukannya.

Tidak ada disebutkan di dalam keseluruhan Kitab Suci, bahwa setan-setan bergerak dari bumi dan tampil ke hadirat Elohim. Catatan-catatan Alkitab tersebut selalu mengacu kepada Malaikat yang Jatuh.

Setan-setan Disebut ‘Iblis-iblis’, ‘Roh-roh Najis’, ‘Roh-roh Jahat’

Bila mengacu pada Malaikat yang Jatuh, kitab suci Perjanjian Baru tidak pernah menggunakan istilah setan-setan, iblis-iblis, roh-roh jahat atau roh-roh najis. Sebaliknya, Alkitab membuat rujukan kepada Malaikat yang Jatuh dengan hanya menggunakan deskripsi atau konteks negatif. Misalnya, ayat-ayat ini dengan jelas menggambarkan Malaikat yang Jatuh:

2Petrus 2:4 (ILT) Sebab, jika Elohim tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang telah berdosa, sebaliknya, Dia telah menyerahkan ke dalam belenggu-belenggu kegelapan dengan melemparkannya ke dalam tartarus untuk ditahan sampai penghakiman;

Yudas 1:6 (ILT) Juga para malaikat, mereka yang tidak menjaga asal-usul mereka sendiri, malah telah meninggalkan kediamannya sendiri, Dia telah menahan mereka dengan belenggu abadi di bawah kekelaman, sampai pada penghakiman pada hari yang besar.

Matius 25:41 (ILT) Lalu, Dia akan berkata pula kepada mereka yang di sebelah kiri: Enyahlah dari-Ku ke dalam api kekal yang sudah disediakan bagi si iblis dan para malaikatnya, hai orang-orang yang terkutuk!

Dalam ayat-ayat ini tidak disebutkan tentang setan-setan. Sebaliknya, untuk membedakan antara Malaikat Kudus Elohim dan Malaikat yang Jatuh, Perjanjian Baru hanya menyebut mereka malaikat “yang berdosa” atau “yang tidak menjaga asal-usul awal mereka.”

Terlepas dari penggunaan deskripsi-deskripsi negatif sederhana, Perjanjian Baru juga menggunakan konteks untuk menarik perbedaan antara Malaikat yang Jatuh dan Malaikat Kudus. Contoh dari hal ini adalah ketika, dalam Matius 25:41, neraka digambarkan sebagai tempat yang disiapkan bagi Iblis dan malaikat-malaikatnya. Para malaikat dalam ayat tersebut dikatakan milik Iblis, jadi jelas bahwa mereka telah jatuh.

Demikian juga dalam konteks Akhir Zaman Wahyu 12,

Wahyu 12:7 (ILT) Dan terjadilah peperangan di surga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu. Dan naga itu berperang, juga para malaikatnya, 8 tetapi mereka tidak mempunyai kekuatan, bahkan tidak ada lagi tempat mereka masih ditemukan di surga. 9 Dan naga besar itu dilemparkan ke luar, yaitu si ular tua yang disebut si Iblis dan Satan, yang menyesatkan seluruh dunia; dia telah dilemparkan ke bumi, dan para malaikatnya telah dilemparkan bersama dia.

Selanjutnya, dalam ayat berikut, sambil menekankan poin penting tentang perlunya menghindari Injil palsu, Rasul Paulus menyebutkan malaikat-malaikat “dari surga.”

Galatia 1:8 (IMB) Namun, jika kami atau malaikat dari surga memberitakan injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, biarlah ia terkutuk!

Tentu saja, jelas sekali bahwa seseorang harus menolak Injil dari Malaikat yang Jatuh, tapi mungkin tidak begitu jelas bagi orang-orang Galatia bahwa mereka harus menolak Injil yang berbeda yang mungkin bahkan berasal dari Malaikat Kudus sekalipun. Untuk mengemukakan maksudnya, Paulus pada dasarnya memperingatkan, “Bahkan jika salah satu malaikat dari surga memberitakan kepadamu Injil lain, jangan tertipu.” Dengan kata lain, “Jangan terpengaruh bahkan jika salah satu dari orang-orang baik mulai memberitakan Injil yang berbeda.”

Peringatan Paulus adalah contoh bagaimana Perjanjian Baru membedakan Malaikat-malaikat yang Jatuh dan Malaikat Kudus. Tidak ada istilah khusus yang digunakan untuk menggambarkan Malaikat yang Jatuh; mereka hanya digambarkan dengan cara yang negatif dan/atau ditempatkan dalam konteks negatif. Setan-setan, di sisi lain, disebut sebagai “iblis-iblis,” “roh-roh najis,” “roh-roh jahat” dan “setan-setan.”

Next:

Kitab Henokh: Asal-usul Roh-roh Jahat

Kontroversi Teks Kejadian 6: Perkawinan Malaikat Pemberontak atau Keturunan Seth yang Saleh?

Referensi:

Letters On Demonology and Witchcraft

What Are Demons?

What Are Demons According To The Bible

What Does The Bible Say About Demons?

Fallen Angels vs. Demons

Demons In The Bible

Demons: What Are They?

Origin of Demons

Are Demons Real?

Demonology: List of Names

Demonology

Study of Demons

Demonology, Demon Possession, and Exorcism

Study of Fallen Angels and Demons

Study of Demons

Catholic Demonology

Demons, Exoticism, and The Academy

The Demonologist

Meet The Demons

Demonology From A Catholic Perspective

History of Belief In Demons

Demonology In Criminology

The Doctrine of Demonology

Demons and Demonology

The 13 Most Wicked Demons

Demons In The Bible: The Complete Guide To Evil and Unclean Spirits

3 Subtle Distinctions Between Demons and Fallen Angels

Is there a difference between fallen angels and demons?

Iklan