Era modern ini telah menyaksikan lonjakan luar biasa dalam popularitas segala bentuk media mengenai mitologi Mesopotamia kuno. Pemicu tren yang terus berkembang ini adalah tulisan-tulisan sejumlah peneliti yang mengusulkan hubungan antara beberapa siklus mitologi Sumeria dengan teori bahwa ras manusia merupakan hasil rekayasa atau diciptakan oleh sekelompok makhluk-makhluk luar angkasa. Dikenal sebagai Teori Astronot Purbakala, keyakinan ini sangat bergantung pada terjemahan tablet-tablet cuneiform (huruf paku) yang dibuat oleh Zecharia Sitchin, yang serangkaian bukunya berjudul Earth Chronicles (Riwayat Bumi) membentuk fondasi di mana kepercayaan modern dewa-dewa alien telah dibangun.

Zecharia-Sitchin
Zecharia Sitchin

Inti dari cerita Sitchin adalah sekelompok makhluk-makhluk mitologi yang dikenal sebagai Anunnaki, yang dia klaim menyilangkan DNA mereka sendiri dengan Homo Erectus untuk menciptakan manusia – dengan tujuan menggunakan ras manusia sebagai budak-budak untuk menambang emas dan mineral-mineral lainnya.

Sekarang ini, Anunnaki sering digambarkan setara dengan Elohim Pencipta dalam Perjanjian Lama.

Tapi apa sesungguhnya yang disebutkan dalam koleksi tablet-tablet huruf paku tentang Anunnaki dan makhluk-makhluk mitologi lainnya? Bagaimana makhluk-makhluk dan aktivitas mereka ini disajikan dalam versi teori Astronot Purbakala, dibandingkan dengan bagaimana mereka ini benar-benar sungguh nyata di dunia purbakala?

Interpretasi Sitchin

Sebelum masuk lebih jauh, berikut ini kutipan dari interpretasi Zecharia Sitchin tentang kosmologi Sumeria:

Ada sebuah planet hipotetis yang bergerak dalam orbit elips panjang, mencapai tata surya bagian dalam kira-kira setiap 3.600 tahun.

Planet ini disebut Nibiru (planet yang berhubungan dengan Marduk dalam kosmologi Babel).

Nibiru bertabrakan dengan Tiamat, planet hipotetis lain yang berada di antara Mars dan Yupiter.

Tabrakan tersebut membentuk planet Bumi, sabuk asteroid, dan komet-komet.

Tiamat, sebagaimana diuraikan dalam tablet Enûma Elish (Epik Penciptaan), adalah seorang dewi. Namun, menurut Sitchin, Tiamat mungkin adalah apa yang kita sekarang kenal sebagai Bumi. Saat ditabrak oleh salah satu bulan planet Nibiru, Tiamat terbelah dua.

Pada perlintasan kedua kalinya, Nibiru sendiri menabrak bongkahan-bongkahan ini dan separuh dari Tiamat menjadi sabuk asteroid. Separuh lainnya, ditabrak lagi oleh salah satu bulan Nibiru, terdorong ke orbit baru dan menjadi planet Bumi sekarang ini. Skenario ini secara ilmiah diperdebatkan.

Namun, para pendukung Sitchin mempertahankannya, dengan arguman itu akan menjelaskan geografi mula-mula Bumi yang aneh, karena membelah akibat tumbukan benda langit – yaitu, benua padat di satu sisi dan samudra raksasa di sisi lain – dan juga akan menjelaskan mengapa Bumi dilapisi sedimen-sedimen.

Menurut Sitchin, Nibiru adalah planet tempat kediaman ras makhluk luar angkasa yang maju seperti manusia, disebut Anunnaki dalam mitologi Sumeria.

Dia mengklaim bahwa mereka pertama kali tiba di Bumi kemungkinan 450.000 tahun yang lalu, mencari mineral, terutama emas, yang mereka temukan dan ditambang di Afrika. “Dewa-dewa” Anunnaki ini adalah kelompok dan para pekerja dari ekspedisi kolonial ke Bumi dari planet Nibiru.

Sitchin percaya bahwa Anunnaki secara genetik merekayasa Homo Sapiens sebagai makhluk-makhluk budak untuk bekerja di tambang emas mereka dengan menyilangkan gen luar angkasa mereka dengan spesies Homo Erectus.

Sitchin mengklaim prasasti-prasasti kuno mencatat bahwa peradaban manusia di Sumeria Mesopotamia didirikan di bawah bimbingan “dewa-dewa” ini, dan kerajaan manusia diresmikan untuk dijadikan perantara antara Anunnaki dan umat manusia. Sitchin percaya bahwa guguran senjata nuklir yang digunakan selama perang antara faksi-faksi makhluk luar angkasa adalah “angin jahat” yang menghancurkan Ur sekitar tahun 2000 SM (Sitchin sendiri mengklaim tahun yang tepat adalah tahun 2024 SM), seperti yang tercatat dalam prasasti Ratapan untuk Ur.

Darah Pangeran

Terjemahan yang benar dari arti Anunnaki adalah “darah pangeran” atau “benih Anu”, bukan “mereka yang turun” atau “mereka yang datang dari surga ke bumi”, seperti yang diklaim oleh sebagian besar para ahli modern. Anunnaki adalah “dewa-dewa Sumeria pada zaman purbakala lama;” pantheon dewa-dewa yang merupakan anak-anak keturunan dewa langit, Anu, dan saudarinya, Ki. Secara signifikan, beberapa ahli telah menyadari bahwa Anunnaki seharusnya lebih tepat dianggap sebagai demigod atau makhluk-makhluk separuh ilahi atau setengah dewa. Rupanya, saudari Anu, Ki, awalnya tidak dianggap sebagai dewa, dan belakangan baru dianggap sebagai dewi di dalam sejarah siklus mitologi.

Akkadian-cylinder
Meterai silinder Akkadia yang berasal dari sekitar tahun 2300 SM menggambarkan dewa-dewa Inanna, Utu, dan Enki, tiga anggota Anunnaki.

Seperti yang dijelaskan oleh William Klauser:

“Beberapa ahli mempertanyakan apakah Ki dapat dianggap sebagai dewa, karena tidak ada bukti adanya sekte dan namanya hanya muncul dalam sedikit teks-teks Penciptaan Sumeria kuno. Samuel Noah Kramer mengidentifikasi Ki sebagai dewi ibu Sumeria, Ninhursag, dan mengklaim bahwa mereka pada awalnya adalah sosok yang sama. Dia kemudian berkembang menjadi Antu, dewi Babel dan Akkadia, permaisuri dewa Anu (dari Sumerian An). “

Intinya, ini berarti bahwa Anunnaki dilahirkan dari perkawinan antara dewa langit dan perempuan manusia biasa, yang kemudian didewakan dalam tradisi-tradisi mitologi.

Four-copper-alloy-statuettes
Empat patung tembaga tuangan berasal dari penanggalan sekitar 2130 SM, menggambarkan empat dewa Mesopotamia kuno, memakai mahkota bertanduk. (Osama Shukir Muhammad Amin/CC BY-SA 3.0)

Dari Tanah Kembali Kepada Tanah

Lebih jauh, “Ki” adalah simbol Sumeria untuk “bumi”, dan permaisuri Anu terkadang dianggap sebagai personifikasi bumi itu sendiri. Ini mirip dengan tradisi Alkitab, di mana manusia diciptakan dari debu tanah (Kejadian 2:7). Konsep sekelompok makhluk setengah dewa yang lahir dari perempuan manusia sangat mirip dengan tradisi Nephilim dalam Alkitab dan teks-teks luar Alkitab. Salah satu teks kuno yang menggambarkan Nephilim yang paling banyak direferensikan adalah kitab luar Alkitab 1 Henokh, yang dikaitkan dengan Henokh, anak Yared dan ayah dari Metusalah. Kitab 1 Henokh dianggap sebagai teks apokripha (tersembunyi) sampai hari ini, dan ditolak oleh sebagian besar otoritas theologia mainstream, namun pada mulanya itu tidak demikian. Banyak Bapa-bapa Gereja mula-mula, seperti Athenagoras, Clement dari Alexandria, Irenaeus, dan Tertulianus menerima kitab itu sebagai kitab suci, dan fragmen-fragmen dari 10 salinan kitab 1 Henokh dalam bahasa Aram telah ditemukan di antara Gulungan-gulungan Kitab Laut Mati. Kitab 1 Henokh juga dikutip dalam Kitab Yudas, dan diperkirakan ada beberapa ratus referensi lagi di seluruh Perjanjian Baru sendiri.

Anak-anak Elohim, Anak-anak Perempuan Manusia

Bagian yang paling terkenal dari kitab 1 Henokh menunjukkan penjabaran beberapa peristiwa khusus yang terjadi sebelum air bah yang dicatat dalam Alkitab (khususnya Kejadian pasal 6, ayat 1-4). Menurut 1 Henokh, sekelompok 200 malaikat yang jatuh yang dikenal sebagai Malaikat Pengawas (Aram: ‘iyr), dipimpin oleh seorang individu bernama Semyaza (atau Semjaza) turun ke atas Gunung Hermon, di mana mereka bersumpah untuk menjadi bapak dari keturunan hasil perkawinan dengan perempuan manusia. Mereka masing-masing “mengambil istri-istri bagi mereka, dan masing-masing memilih bagi dirinya sendiri, dan mereka mulai menghampiri mereka dan mencemarkan dirinya dengan mereka”, sebuah penyatuan yang menghasilkan kelahiran “raksasa-raksasa besar”. Raksasa-raksasa ini akhirnya “menghabiskan semua jerih payah manusia”, dan, “ketika manusia tidak dapat lagi menopang mereka, raksasa-raksasa ini berbalik melawan mereka dan memakan umat manusia.” (1 Henokh, pasal 6-7) Aktivitas-aktivitas ini memprovokasi tindakan Elohim, yang mengutuk para raksasa ini sehingga mereka saling berperang melawan satu sama lain “supaya mereka bisa saling menghancurkan dalam peperangan”, dan mengirimkan penghulu-penghulu malaikat untuk mengikat pemimpin Malaikat Pengawas “di dalam lembah-lembah di bumi”. (1 Henokh 10) Seperti yang diketahui sekarang, teks Ibrani mengacu kepada makhluk-makhluk perkasa yang lahir dari Malaikat Pengawas, yang disebut Nephilim.

Lokasi Tempat Sakral Anunnaki

Para ahli telah menemukan kesamaan mendasar antara mitologi Anunnaki dan Nephilim. Pada tahun 1971, Edward Lipinski menerbitkan sebuah analisis ilmiah dari beberapa teks kuno, termasuk versi Babel Kuno dari Epik Gilgamesh, yang semuanya menampilkan detail-detail penting yang mengungkapkan lokasi sebenarnya dari tempat sakral Anunnaki dalam pemikiran dan kosmologi Timur Kuno. Lipinski menemukan bahwa: “Sebenarnya, versi Babel Kuno [dari Epik Gilgamesh] mengidentifikasi Gunung Hermon dan Lebanon sebagai tempat tinggal Anunnaki”. Dia menekankan baris 12-21 dari Gilgamesh Babel Kuno, yang menceritakan tentang penghancuran Humbaba, penjaga tempat tinggal para dewa di tangan teman Gilgamesh, Enkidu, di mana teksnya menyatakan kemudian bahwa keduanya “menembus ke dalam hutan, membuka tempat tinggal rahasia Anunnaki.” Sementara mitologi-mitologi yang belakangan menyatakan lokasi alternatif untuk tempat tinggal Anunnaki, Lipinski menjelaskan bahwa teks-teks tertua dari Mesopotamia dan Timur Jauh Kanaan, mengarah kepada hutan pohon aras di Gunung Hermon:

“… jejak-jejak tradisi yang lebih kuno dapat ditemukan dalam penyebutan gunung yang merupakan tempat tinggal para dewa, dan yang aksesnya disembunyikan oleh Hutan Aras yang penjaganya adalah Humbaba. Gunung ini adalah, kami percayai, adalah pegunungan Anti-Lebanon-Hermon … Oleh karena itu, rangkaian selatan dari pegunungan Anti-Lebanon kemungkinan adalah gunung yang di dalamnya berdiam Anunnaki, menurut Epik Gilgamesh versi Babel Kuno. Pada zaman Babel Kuno, Anunnaki masih menjadi dewa-dewa pada umumnya … Karena itu, Gunung Hermon harus diidentifikasi sebagai tempat kediaman dewa-dewa.”

Snowy-Mount-Hermon
Puncak Bersalju Gunung Hermon

Surga dan Bumi Bergabung

Lipinski juga menunjukkan fakta bahwa Gunung Hermon dianggap sebagai penjaga perjanjian-perjanjian internasional di dunia kuno, dan menghubungkan tradisi ini dengan sumpah yang diucapkan oleh para Malaikat Pengawas dalam 1 Henokh. Menggabungkan teks-teks apokripha seperti kitab Kesaksian Dua Belas Bapa Leluhur dan kitab 1 Henokh ke dalam penelitiannya, Lipinski menyimpulkan:

“Gunung Hermon adalah gunung kosmik yang menghubungkan bumi dengan surga paling bawah. Konsepsi yang sama ada di balik episode anak-anak Elohim dalam Kitab Henokh. Makhluk-makhluk angkasa berkumpul di puncak Gunung Hermon karena ini adalah gunung para dewa, Olympus Kanaan.”

Gunung Hermon terletak di ujung selatan rangkaian pegunungan Anti-Lebanon, mengangkangi perbatasan Syria dan Lebanon. Puncak tertinggi Hermon mencapai 9.232 kaki (2.814 meter). Wilayah yang dipenuhi dengan altar-altar kuno sejak ribuan tahun, dan masih menjadi tempat kuil-kuil dan ritual-ritual terkini, seperti pada zaman Konstantin Agung. Yang lebih penting lagi adalah fakta bahwa Gilgamesh terkenal di dunia kuno karena memperoleh pengetahuan dari dunia pra-banjir besar (atau “antediluvian”), seperti yang dinyatakan oleh Epik Gilgamesh dari Ugarit (baris 5-9):

“Dia menjelajahi setiap tempat-tempat kekuasaan, dia mengetahui keseluruhan hikmat tentang segala hal. Dia yang menempuh perjalanan jauh ke Utter-napisti, yang melintasi lautan, laut yang luas, sampai sejauh matahari terbit: dia membawa kembali kabar dari zaman antediluvian.”

Bagian-bagian ini membawa kita sampai pada kesimpulan interpretasi Lipinski mengenai Epik Gilgamesh versi Babel Kuno, di mana raja kuno itu menjelajah ke Gunung Hermon – tempat kediaman Anunnaki …

Marduk
Penggambaran dewa Babel, Marduk, yang disebutkan sebagai salah seorang anggota utama Anunnaki

Gilgamesh, si Raksasa

Konsep pengetahuan kuno dari dunia pra-banjir besar sebenarnya melekat pada banyak tradisi Timur. Misalnya, ada cerita serupa dalam Kitab Apokripha apokrif tentang Kainam, anak dari Arphaksad dalam Alkitab:

Dan anak itu bertumbuh besar, dan ayahnya mengajar dia menulis, dan dia pergi untuk mencari baginya suatu tempat di mana dia dapat menguasai bagi dirinya sebuah kota. Dan dia menemukan suatu tulisan yang oleh (generasi-generasi) sebelumnya diukir di batu. Dan dia membaca apa yang ada di atasnya, dan dia menyalinnya dan berdosa karena hal itu. Karena itu mengandung ajaran para Malaikat Pengawas yang dengannya mereka biasa mengamati pertanda-pertanda matahari dan bulan dan bintang-bintang di dalam semua tanda-tanda langit. Dan dia menuliskannya dan tidak mengatakan apa-apa tentang hal itu, karena dia takut berbicara kepada Noach mengenai itu, supaya jangan dia marah kepadanya karena hal tersebut. Kitab Yobel 8:2-4

Menariknya, ada beberapa sumber kuno, yang menunjukkan bahwa Gilgamesh sendiri adalah demigod, makhluk setengah dewa, atau makhluk semi-ilahi yang bertubuh raksasa. Menurut prasasti Daftar Raja-raja Sumeria, Gilgamesh adalah raja ke-5 Uruk, yang memerintah sekitar tahun 2800 dan 2600 SM. Sementara ada tradisi yang mempertimbangkan bahwa ayah Gilgames adalah raja Lugalbanda, Daftar Raja-raja Sumeria menyatakan bahwa bapaknya yang sesungguhnya adalah “roh lillu, imam besar Kulaba”, dan Gilgamesh digambarkan di dalam epik sebagai “dua pertiga dewa”.

gilgamesh
Patung Gilgamesh (Gwil5083/CC BY-SA 4.0)

Gilgamesh juga dikenal sebagai Pemburu Perkasa, sama seperti Nimrod dalam Alkitab. Kutipan di bagian Tablet no. 1 dari Epik Gilgamesh, berbunyi:

Siapakah yang bisa dibandingkan dengan dia sebagai raja?
Siapakah yang bisa berkata seperti Gilgamesh: “Aku adalah Raja!”?
Yang namanya, sejak hari kelahirannya, disebut “Gilgamesh”?
Dua pertiganya adalah dewa, sepertiganya adalah manusia.

Gilgamesh diyakini telah memperoleh kemenangan atas raja-raja Kish, memusatkan kekuasaan Uruk, dan tradisi mengatakan dia memperluas kota Uruk, termasuk daerah kuil dan tembok-temboknya. Dalam beberapa fragmen-fragmen salinan Epik Gilgamesh abad ke-12 yang ditemukan di Ugarit kuno, Gilgamesh digambarkan “Melampaui semua raja-raja (lainnya!), terkenal karena ukuran badannya” (baris 16) dan lagi, “Gilgamesh, terkenal dengan ukuran badannya, pahlawan yang lahir di Uruk, menghajar banteng liar!” (baris 18-19). Baris 34-36 dari Gilgamesh Ugarit menawarkan detail-detail spesifik tentang ukuran Gilgamesh: “Sebelas hasta tingginya, empat hasta lebar dadanya. Tiga hasta telapak kakinya dan setinggi buluh tungkai-tungkai kakinya”. Menurut ukuran ini, Gilgamesh memiliki tinggi badan antara 16 dan 18 kaki (4,8 sampai 5,4 meter). Berhubungan dengan raksasa Gilgamesh, fragmen-fragmen Kitab Para Raksasa dari Gulungan-gulungan Laut Mati menyebutkan beberapa raksasa Nephilim seperti Ohya, Mahway, Hahya, dan Gilgamesh.

Kutipan dari fragmen Kitab Para Raksasa:

Gilgamesh berkata, “Aku seorang raksasa, dan dengan kekuatan lenganku yang perkasa, aku dapat mengalahkan makhluk apapun yang fana. Aku telah berperang melawan mereka di masa lalu, tapi aku tidak dapat berdiri melawan musuh-musuhku yang tinggal di Surga, dan berdiam di tempat-tempat kudus. Dan tidak hanya ini, tapi mereka sesungguhnya lebih kuat dari aku. Hari kebuasan binatang-binatang liar sudah tiba dan seperti manusia liar [itulah aku dikenal]. Lalu Ohya berkata kepadanya, “Aku dipaksa mendapatkan sebuah mimpi… Tidur dari mataku telah lenyap sehingga aku dapat melihat suatu penglihatan. [Sekarang aku tahu bahwa di atas padang peperangan, kita tidak dapat menang.”] Gilgamesh mencatat. (Ohya menggambarkan mimpinya, “Aku melihat sebuah pohon tercabut kecuali tiga dari akar-akarnya. Sementara aku seperti sedang menyaksikan, [beberapa makhluk (malaikat-malaikat baik?)] memindahkan semua akar-akar itu ke taman ini [kecuali tiga akar itu”]. “Penglihatan mimpi ini mengenai kematian jiwa-jiwa kita,” kata Ohya, “dan Gilgamesh dan semua rekan-rekannya.”

Gilgamesh-the-king-hero
Gilgamesh, raja-pahlawan dari kota Uruk, berperang melawan ‘banteng langit’ (0045269/CC BY-SA 4.0)

Raksasa yang Memerintah di Gunung Hermon

Kembali ke subjek Gunung Hermon, Gilgamesh bukan satu-satunya raksasa purba yang berhubungan langsung dengan lokasi yang terkemuka ini. Beberapa kitab Perjanjian Lama (Kitab Bilangan, Ulangan, dan Kitab Yosua) mencatat peperangan Musa dan bangsa Israel melawan Og, raja Amori dari Bashan. Dalam Ulangan 3:11, Og digambarkan sebagai “sisa-sisa raksasa” (ras Rephaim), dan tempat tidurnya berukuran sembilan hasta panjangnya dan lebar empat hasta, yang berarti bahwa Og sendiri mungkin tingginya 12 atau 13 kaki (sekitar empat meter).

Dalam Yosua 4:5, diungkapkan bahwa Og “memerintah di Gunung Hermon, dan di Selkah, dan di seluruh Bashan”, sebuah wilayah yang mencakup lereng Gunung Hermon dan Dataran Tinggi Golan.

Entitas-entitas Dunia Bawah Bumi

Masih ada faktor lain yang menghubungkan Anunnaki dengan kisah Malaikat Pengawas dan keturunan mereka, adalah status mereka sebagai makhluk-makhluk dunia bawah bumi. Dalam mitologi Mesopotamia, Anunnaki sering digambarkan sebagai “takdir” atau para hakim dari orang-orang mati yang mendiami dunia bawah bumi atau berkedudukan sebagai “roh-roh bumi”. Dalam tablet-tablet yang ditemukan di Nippur dari sekitar tahun 2000 SM, Anunnaki adalah “tujuh hakim”, entitas-entitas dunia bawah bumi yang menyertai Ereshkigal, ratu dimensi bawah bumi. Ketika dewi Ishtar turun dan dibawa ke hadapan majelis hakim, mereka menajamkan “mata kematian” mereka kepadanya, menyebabkan dia binasa.

early-nineteenth-century-drawing
Lukisan patung Hecate awal abad kesembilan belas, yang dengannya Ereshkigal disinkretisasikan.

Dicampakkan ke Neraka

Gunung tempat kediaman dewa Kanaan, El, juga sering dikaitkan dengan rahasia atau sumber-sumber mata air tersembunyi dan sungai-sungai bawah tanah. Lipinski menghubungkan konotasi-konotasi ini dengan sumber air Sungai Yordan, yang salah satunya adalah mata air Banias, yang berasal dari kaki Gunung Hermon. Dia kemudian menguraikan bahwa gunung tersebut dianggap pada zaman kuno, menutupi “salah satu pintu keluar Jurang Kedalaman atau Samudera yang dari padanya berasal air bah… sebuah letusan samudera bawah tanah, yang di atasnya dipercayai tempat bumi ditempatkan.”

Dalam 1 Henokh, Elohim memerintahkan penghulu malaikat Mikhael untuk “Pergi, ikat Semjaza dan kawan-kawannya yang telah menyatukan diri mereka dengan kaum perempuan … ikat mereka untuk tujuh puluh generasi di lembah-lembah di bumi …” (1 Henokh 10:11-12), sementara Raphael diperintahkan, “Ikat tangan dan kaki Azazel, dan campakkan dia ke dalam kegelapan: buatlah jurang di padang gurun, yang ada di Dudael, dan campakkan dia ke dalamnya.” (1 Henokh 10:4)

Mitologi Hittite kuno mengidentifikasi Anunnaki sebagai dewa-dewa generasi tertua, yang digulingkan dari kedudukannya dan dibuang ke dunia bawah bumi oleh dewa-dewa yang lebih muda.

Ancient-Hittite-relief-carving
Relief Hittite kuno yang diukir dari Yazılıkaya, sebuah tempat suci di Hattusa, yang menggambarkan dua belas dewa dunia bawah bumi, yang diidentifikasi orang Het sebagai Anunnaki Mesopotamia. (Klaus-Peter Simon/CC BY 3.0)

Ada juga referensi tentang nasib para Malaikat Pengawas dalam kitab-kitab Perjanjian Baru, termasuk 2 Petrus, yang menyatakan, “… Elohim tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang telah berdosa, sebaliknya, Dia telah menyerahkan ke dalam belenggu-belenggu kegelapan dengan melemparkannya ke dalam neraka untuk ditahan sampai penghakiman…” (2 Petrus, 2:4). Kata yang diterjemahkan sebagai “neraka” dalam ayat ini sebenarnya adalah bahasa Yunani Tartarus, yang merujuk pada dunia bawah tanah yang paling bawah, dalam mitologi Yunani – penjara para Titan.

Tidak hanya Titan itu raksasa, tapi seperti Anunnaki, mereka adalah anak-anak keturunan dewi bumi (Gaia) dan dewa langit (Uranus). Beberapa ahli menganggap kemungkinan mitologi Yunani sebagian besar didasarkan pada Mitologi Timur yang lebih tua. Konsep yang sama diulangi lagi di dalam Kitab Yudas, ayat 6, yang menyebutkan, “para malaikat yang tidak menjaga asal-usul mereka sendiri, namun telah meninggalkan tempat kediamannya sendiri, Dia telah menahan mereka dengan belenggu abadi di bawah kegelapan, sampai pada penghakiman pada hari yang besar”.

One-of-the-giant-Titans
Salah satu raksasa Titan, Atlas, yang dihukum untuk memikul langit di bahunya untuk selamanya.

Identitas Sesungguhnya Anunnaki

Sudah dikenal luas bahwa pola dasar tradisi siklus mitologi Mesopotamia dan Timur Dekat memiliki asal usul yang sama, dan bahwa pokok-pokok dari siklus ini juga muncul dalam teks Alkitab dan luar Alkitab. Tujuan dari artikel ini adalah untuk mengidentifikasi konsep mitologi spesifik di belakang Anunnaki di dunia purbakala.

Bertentangan dengan sebagian besar literatur populer dan media lainnya saat ini, bukti-bukti yang dicatat oleh penelitian akademis para ahli dan studi perbandingan tentang tablet cuneiform aktual dan teks-teks kuno lainnya menunjukkan bahwa identitas sesungguhnya Anunnaki dapat ditemukan dalam tradisi Timur, dari sekelompok makhluk-makhluk setengah dewa, yang dilahirkan dari perkawinan campuran antara makhluk-makhluk ilahi dan perempuan manusia fana, di Gunung Hermon di pegunungan Anti-Lebanon. Makhluk-makhluk ini sering dikaitkan dengan hikmat pengetahuan dari dunia sebelum terjadinya air bah, dan kemudian diberikan peranan di dimensi dunia bawah bumi. Ini menunjukkan bahwa ketimbang menyebut Anunnaki setara dengan “Elohim” yang menciptakan manusia dalam Kitab Kejadian; mereka lebih tepat dibandingkan dengan Nephilim dan malaikat-malaikat yang jatuh yang dijelaskan dalam Kejadian pasal 6, 1 Henokh, dan teks-teks ekstra-Alkitab lainnya.

Referensi:

Kitab Henokh

Kitab Yobel

Kitab Para Raksasa

Bangkitnya Babel: Manusia Dengan Banyak Nama

Geografi Paranormal Tanah Israel: Pusat Peperangan Gelap Melawan Terang

Kebangkitan Abaddon: Menghidupkan Kembali Ras Rephaim dan Raja Jurang Maut, Abaddon

Peperangan Dewa-Dewa: Sisa-sisa Perang Nuklir Purbakala Ditemukan di Seluruh Dunia

Sejarah Rahasia Satan, Peradaban Pra-Adam dan Monumen Mars

Anunnaki Revealed: Finding the Nephilim in Myth, Giants Among Men– Part II

Anunnaki Revealed: Who Were These Beings of Ancient Astronaut Theory? What Do the Ancient Texts Say? – Part I

Sumerian King List

The Sumerian King List still puzzles historians after more than a century of research

The Translation of the Sumerian King List: When Gods ruled the Earth

Anunnaki

THE ANNUNAKI IN THE BIBLE

The Anunnaki

ENUMA ELISH, THE EPIC OF CREATION

The Epic of Gilgamish

Inanna

David Leeming, The Oxford Companion to World Mythology, Oxford University Press, Oxford, N.Y., 2005.

William Klauser, The Esoteric Codex: Deities of the Underworld, lulu.com, 2015.

Compare Jude 1: 14-15 (KJV) with 1 Enoch 1:9.

Edward Lipinski, “El’s Abobe: Mythological Traditions Related to Mount Hermon and to the Mountains of Armenia”, in Orientalia Lovaniensa Periodica 2, Leuvan, 1971, pp. 13-69.

Maureen Gallery Kovacs “Introduction”, The Epic of Gilgamesh, Stanford University Press, California, 1989.

Andrew R. George, “The Gilgames epic at Ugarit”, Aula Orientalis 25, 2007, pp. 237-254.

Alexander Heidel, The Gilgamesh Epic and Old Testament Parallels, University of Chicago Press, Chicago & London, 1946

Iklan