Suatu raungan akan menggema sampai ke ujung-ujung bumi, karena YAHWEH akan menuntut bangsa-bangsa, Dia akan masuk ke dalam penghakiman dengan semua manusia. Dia akan menyerahkan orang-orang fasik kepada pedang,” firman YAHWEH. Beginilah firman YAHWEH Tsebaot, YAHWEH Semesta Alam, “Lihatlah malapetaka sedang menjalar dari bangsa ke bangsa, dan suatu badai besar akan digerakkan dari ujung-ujung bumi. Dan penumpasan oleh YAHWEH akan terjadi pada hari itu dari ujung bumi yang satu ke ujung bumi yang lain, mereka yang mati tidak akan diratapi, tidak juga dikumpulkan maupun dikuburkan, mereka akan menjadi seperti kotoran di atas permukaan tanah. Yirmeyahu 25:31-33

Immanuel Velikovsky (1895 – 1979) adalah seorang psikiater Rusia-Yahudi dan peneliti independen, yang sangat dikenal sebagai pengarang sejumlah buku kontroversial yang menafsirkan peristiwa-peristiwa sejarah zaman dahulu. Sebagai seorang psikiater dan ahli psikoanalisis, Velikovsky juga memainkan peranan dalam mendirikan Hebrew University di Yerusalem, Israel.

Pada tahun 1950 Velikovsky mempublikasikan bukunya “World in Collision”, dan itu menjadi best seller di seluruh dunia meskipun penuh kontroversi. Di dalamnya Velikovsky berpendapat bahwa sebuah planet komet berukuran raksasa melintas, dan berinteraksi, dengan planet Bumi pada masa-masa lampau.

Velikovsky membuktikan bahwa di balik banyaknya mitos-mitos dan tradisi-tradisi lisan orang-orang kuno di seluruh dunia, terdapat kisah-kisah dan pengalaman-pengalaman nyata tentang malapetaka global dalam skala Alkitab. Dia menguraikan catatan-catatan sejarah, mitologi-mitologi dan Alkitab, dan mengklaim bahwa sebuah planet-komet berukuran raksasa pernah lewat di dekat Bumi.

Buku-buku Velikovsky termasuk di antara buku-buku yang paling dicemooh dan dicerca pada saat itu oleh para ilmuwan “mainstream”, namun sumber-sumber kuno Velikovsky bergema dengan lantang, dan dia adalah seorang peneliti dan penulis terkenal, yang dikenal dekat dengan Albert Einstein selama ini. Hari-hari ini karyanya telah terlupakan oleh para ahli “mainstream”, dan ia telah dibuang ke tempat sampah sains pinggiran dan meskipun mereka tidak dapat menyangkal teori-teorinya, namun mereka tetap berusaha menindas pemikiran-pemikirannya. Hanya baru-baru ini saja relevansi “World in Collision” sedang mendapatkan perhatian.

Velikovsky, yang pada usia 50 tahun mandiri secara intelektual, berpikiran terbuka dan mampu mempelajari sejarah-sejarah mitologi dari setiap penjuru bumi tanpa prasangka politik. Dia mendambakan kebenaran dan tidak tabu mengungkap topik-topik malapetaka dan mitologi. Melalui Velikovsky, kita menemukan referensi-referensi dan penelitian-penelitian modern terbaik secara mendalam tentang peristiwa-peristiwa besar dan mengerikan yang dialami orang-orang kuno, ketika sebuah planet komet raksasa lewat di dekat bumi. Pertimbangkan juga bahwa laporan-laporan tentang bencana global ini mungkin telah berlangsung pada sekitar tahun 1600 SM. Itu adalah 3600 tahun yang lalu. Pada saat itulah, peradaban di seluruh dunia dilanda serangkaian peristiwa-peristiwa bencana. “World in Collision” adalah kumpulan mitologi-mitologi dan kisah-kisah sakral dari saksi-saksi kuno tentang sebuah komet berukuran planet yang mengguncangkan bumi.

Velikovsky menyelidiki istilah-istilah umum dari peristiwa-peristiwa dalam catatan literatur kuno, dan dalam Papirus Ipuwer, dia menemukan sebuah catatan Mesir kontemporer tentang Tulah-tulah Mesir. Lebih jauh, ia membandingkan kedua catatan tersebut sebagai deskripsi-deskripsi tentang malapetaka alam yang hebat. Velikovsky menyelidiki penyebab fisika dari kejadian-kejadian ini, dan membandingkannya ke belakang dan ke depan di dalam sejarah, melakukan perbandingan silang dengan catatan-catatan tertulis maupun mitologi-mitologi kuno dari setiap kebudayaan di setiap benua yang dihuni manusia, dan menggunakannya untuk melakukan sinkronisasi catatan-catatan sejarah, menghasilkan apa yang dia yakini sebagai malapetaka alam periodik selanjutnya yang berskala global.

Dia sampai kepada sebuah pemahaman-pemahaman radikal lintas ilmu pengetahuan, yang dapat diringkas sebagai berikut:

  • Planet Bumi telah mengalami bencana-bencana alam dalam skala global, baik sebelum maupun di dalam catatan sejarah umat manusia.
  • Ada bukti dari bencana-bencana ini di dalam catatan geologi dan catatan arkeologi. Kepunahan berbagai spesies-spesies di bumi terjadi secara drastis dan tiba-tiba, bukan secara bertahap seperti teori Darwin.
  • Bencana-bencana yang terjadi di dalam ingatan umat manusia dicatat di dalam mitologi-mitologi, legenda-legenda dan sejarah tertulis dari seluruh kebudayaan dan peradaban kuno di dunia. Velikovsky menunjukkan daftar laporan-laporan dari berbagai kebudayaan di dunia, dan mengungkapkan bahwa itu mengacu kepada kejadian nyata yang sama. Sebagai contoh, ingatan akan bencana air bah dicatat dalam Alkitab Ibrani, dalam legenda Deucalion di Yunani, dan dalam legenda Manu di India. Velikovsky mengemukakan psikoanalitik tentang bagaimana “Budaya Amnesia” menyebabkan catatan-catatan literal malapetaka global ini dianggap hanya sebagai mitos-mitos dan legenda-legenda belaka.
  • Penyebab dari malapetaka-malapetaka alam ini adalah interaksi pertemuan jarak dekat antara planet Bumi dengan benda-benda angkasa lain di dalam tata surya – bukan sekedar apa yang sekarang dikenal manusia sebagai planet Saturnus, Yupiter, Venus, dan Mars. Benda-benda angkasa ini bergerak pada orbit yang berbeda pada zaman lampau yang terekam dalam ingatan umat manusia purbakala.
  • Untuk menjelaskan fakta bahwa perubahan konfigurasi tata surya ini berlawanan dengan beberapa hukum fisika yang diyakini para ahli, Velikovsky mengemukakan peranan gaya-gaya elektromagnetik yang saling berinteraksi dengan gravitasi dan mekanika orbital, antara planet Bumi dengan benda-benda angkasa yang datang mendekat.

Albert Einstein telah bekerjasama dengan Velikovsky selama 2 tahun terakhir hidupnya, dan sedang merencanakan program penelitian untuk membuktikan teori-teori Velikovsky.

Einstein yang ketika meninggal didapati buku Velikovsky “World in Collision” masih terbuka di meja belajarnya, mengatakan kepada para pengkritiknya, “Jiwa yang besar selalu mendapat tentangan hebat dari orang-orang yang berpikiran sedang-sedang saja.”

“Semua yang besar dan sangat menginspirasi, diciptakan oleh individu yang bekerja dalam kebebasan” – Albert Einstein.

Velikovsky sampai kepada dalil-dalil malapetaka khusus, yang dia simpulkan sebagai berikut:

  • Teori bahwa Bumi pernah menjadi satelit dari planet “proto-Saturnus”, sebelum mengorbit matahari pada saat ini.
  • Bahwa Banjir Nuh disebabkan oleh proto-Saturnus memasuki fase nova, dan melontarkan sebagian besar massanya ke luar angkasa.
  • Teori bahwa planet Merkurius terlibat dalam bencana Menara Babel.
  • Yupiter adalah penyebab utama dalam malapetaka penghancuran Sodom dan Gomora.
  • Kontak jarak dekat secara periodik dengan “komet Venus” (yang telah terlontar dari Yupiter) menyebabkan terjadinya peristiwa-peristiwa Eksodus (sekitar 1500 SM) dan selanjutnya insiden Yoshua memerintahkan “matahari dan bulan untuk diam berdiri” (Yosua 10:12 dan 13).
  • Interaksi kontak jarak dekat periodik dengan Mars telah menyebabkan bencana global pada abad ke-8 dan 7 SM.

Meskipun dalil-dalil yang dikemukakan Velikovsky masih sangat diperdebatkan, apakah Velikovsky sesungguhnya menemukan bukti-bukti dari apa yang biasa disebut Planet X di dalam berbagai catatan-catatan sejarah kuno? Dia mungkin keliru mengidentifikasinya sebagai planet komet “Venus” dan “Mars”, namun data-data yang berhasil dihimpunnya dari catatan-catatan kuno tidak terbantahkan.

Catatan-catatan dari peradaban-peradaban kuno lain menyebutnya Nibiru, Hercolubus, Phaeton, Typhon, Frightener, Naga Merah. Alkitab dalam kitab Keluaran menyebutnya “Shachath” (si Penghancur), dan kitab Wahyu menyebutnya Apsintus.

Dalam penyelidikannya terhadap literatur-literatur kebudayaan kuno, Velikovsky menemukan bahwa interpretasi kata “matahari” dalam beberapa catatan peristiwa kuno merupakan sebuah kekeliruan. Dalam dunia kuno, kata “matahari” dapat memiliki arti “benda angkasa bercahaya”, yang memberikan kepada kita empat pilihan: Matahari, Bulan, bintang atau planet-planet.

Beberapa tulisan kuno mencatat tentang keberadaan benda angkasa yang terbit di sebelah Barat, dan terbenam di sebelah Timur, yang digambarkan dalam banyak manuskrip kuno sebagai “Matahari Barat”.

Sangat mungkin bahwa Velikovsky menemukan, melalui pengumpulan mitologi-mitologi global, bahwa Planet X melewati Bumi dalam catatan sejarah dunia kuno.

12 Tahapan Kedatangan “Planet Komet” menurut Velikovsky

Debu Merah, Hujan Kerikil, Hujan Batu

“Salah satu tanda-tanda awal yang terlihat dari pertemuan [antara Bumi dengan planet komet] ini adalah memerahnya permukaan Bumi oleh debu halus pigmen karat. Di lautan, di danau dan sungai-sungai, pigmen ini memberi warna darah kepada air.” (hal. 64) “Planet kita masuk lebih dalam ke ekor komet. Debu ini adalah pendahulu dari kerikil.” (hal. 67)

Hujan Semacam Nafta

Hujan minyak mentah, cairan mudah terbakar, napalm. “Turunnya cairan lengket menuju ke bumi dan berkobar dengan asap tebal diceritakan dalam tradisi-tradisi lisan penduduk dari kedua belahan Bumi.” (hal. 70)

“Untuk suatu rentang waktu sesudah cairan terbakar dicurahkan ke bumi, itu mungkin telah mengapung-apung di atas permukaan lautan, merendam permukaan daratan, dan terbakar lagi dan lagi.” (hal. 71)

Angin dan Kegelapan

“Angin yang sangat kuat bertahan selama tujuh hari. Sepanjang waktu itu daratan diselimuti kegelapan.” (hal. 74)

Gempa Bumi

“Bumi, dipaksa keluar dari pergerakan regulernya, bereaksi terhadap mendekatnya komet: suatu guncangan besar mengguncang-guncang litosfer, dan wilayah gempa adalah seluruh dunia.” (hal. 78)

Angin Badai Hebat, Terganggunya Rotasi Bumi

“Pergeseran cepat atmosfer karena dampak semburan bagian gas-gas dari komet, pergerakan aliran udara yang ditarik oleh badan komet, dan dorongan atmosfer yang diakibatkan oleh inersia pada waktu Bumi berhenti berotasi atau bergeser pada kutub-kutubnya, semuanya memberi kontribusi terhadap terbentuknya banyak hurricane (angin badai) dengan kecepatan dan kekuatan yang luar biasa dan dalam skala dimensi seluruh dunia.” (hal. 82)

Gelombang Pasang, Tsunami

“Perlambatan atau berhentinya Bumi dari rotasinya akan menyebabkan menyusutnya air lautan menuju ke kutub-kutub, tetapi benda angkasa di langit yang berada di dekat Bumi ini akan mengganggu proses penyusutan, menarik air ke arah dirinya sendiri. Tradisi-tradisi dari banyak bangsa bersikeras bahwa lautan-lautan terbelah dan airnya bertumpuk tinggi dan dihempaskan ke atas benua-benua.” (hal. 85)

Kilatan-kilatan Listrik

“Pada malam gempa raksasa mengguncang dunia ini, menurut literatur rabbinik, hari menjadi seterang hari pada titik balik matahari musim panas. Karena kedekatannya terhadap bumi, komet ini meninggalkan orbitnya sendiri dan untuk sementara waktu mengikuti orbit bumi. Bola besar komet itu kemudian undur, lalu kembali mendekati Bumi, diselubungi kolom asap gelap yang kelihatan seperti tiang asap di siang hari dan tiang api di malam hari. Tahapan ini disertai dengan pelepasan kilatan-kilatan listrik yang hebat dan tak henti-hentinya antara atmosfer dari ekor komet dan atmosfer dari daratan Bumi.” (hal. 91)

Puing-puing dan Meteor

“Kepala komet tidak menabrak Bumi, tetapi saling bertukar muatan kilatan-kilatan listrik besar bersamanya. Suatu percikan kilatan listrik yang luar biasa muncul pada saat komet berada pada titik terdekat dengan Bumi, ketika air bertumpuk pada ketinggian tertinggi di atas permukaan Bumi dan sebelum mereka runtuh, disusul oleh hujan puing-puing angkasa yang terkoyak dari badan komet.” (hal. 100)

“Hujan meteorit dan api dari angkasa, awan debu dari angkasa yang melayang rendah, dan pergeseran bagian-bagian dunia ini menciptakan kesan bahwa langit telah runtuh.” (hal. 103)

Temperatur Ekstrem

“Bagian dalam dari Bumi ini terdorong ke arah luar. Bumi, yang terganggu dalam rotasinya, menghasilkan panas. Daratan menjadi panas … banyak orang menggambarkan mencairnya permukaan Bumi dan mendidihnya lautan.” (hal. 105)

Suara Gemuruh dan Sangkakala

“Gempa bumi seringkali disertai suara gemuruh yang berasal dari perut bumi.” (hal. 110)

“Saling mendekatnya dua planet bermuatan satu sama lain juga bisa menghasilkan suara-suara seperti sangkakala, bervariasi menurut jarak di antara keduanya, meningkat atau berkurang.” (hal. 111)

Pergeseran Kutub, Pembalikan Magnetik

“Ada kesaksian dari seluruh penjuru dunia bahwa sisi yang sekarang ini menghadap petang, dulunya menghadap pagi hari.” (hal. 118)

“Bola dunia ini merupakan magnet raksasa. Sebuah hubungan pendek antara Bumi dengan benda angkasa lainnya bisa mengakibatkan kutub magnet utara dan selatan bertukar tempat.” (hal. 127)

Erupsi dan Awan Panas

“Gunung berapi memuntahkan asap dan juga bara api. Efek pemanasan dari kontak Bumi dengan komet pasti telah mengakibatkan penguapan besar-besaran dari permukaan lautan dan sungai-sungai. Dua jenis asap awan – uap air dan debu – terbentuk. Awan menyelubungi langit, dan melayang sangat rendah, tergantung seperti kabut. Selubung yang disisakan oleh jejak gas dari bintang penghancur dan asap gunung berapi menyebabkan kegelapan, tidak sepenuhnya, tetapi sangat pekat.” (hal. 139)

Korelasi dengan Masa Tribulasi dan Penghukuman Elohim

Penghakiman 7 Sangkakala dimulai dengan guntur, halilintar, dan gempa bumi.

7 Sangkakala – Wahyu 8

  1. Hujan batu dan api bercampur dengan darah dilemparkan ke bumi. 1/3 pepohonan dan semua rumput hijau terbakar. Istilah darah bisa bersifat literal atau metafora, dalam arti metafora itu mengacu pada sesuatu yang menyerupai darah … seperti apa yang menyebabkan gelombang merah, invasi perkembangbiakan alga merah, atau juga bisa debu halus pigmen karat dari semburan ekor komet.
  2. Gunung besar yang terbakar dengan api (asteroid) menabrak lautan, dan 1/3 dari lautan menjadi darah, membunuh 1/3 dari makhluk hidup di lautan dan menghancurkan 1/3 kapal-kapal.
  3. Bintang besar jatuh dari angkasa seperti obor, sebuah komet, dan jatuh menimpa 1/3 sungai-sungai dan mata air. Dan nama bintang itu disebut Apsinthos, dan 1/3 air menjadi apsintus, pahit, dan membunuh banyak orang.
  4. 1/3 bagian matahari terpukul, dan 1/3 bagian bulan, dan 1/3 bagian bintang-bintang, 1/3-nya menjadi gelap. 1/3 siang menjadi tidak terang, dan 1/3 cahaya bulan dan bintang-bintang menjadi gelap di waktu malam.

7 Cawan Murka Elohim – Wahyu 15

  1. Borok yang busuk dan menyakitkan pada orang-orang yang memiliki tanda binatang itu, dan atas orang-orang yang menyembah citranya.
  2. Malaikat kedua menumpahkan cawannya ke atas laut dan itu menjadi seperti darah orang mati, dan setiap nyawa yang hidup di dalam lautan pun mati.
  3. Sungai-sungai dan mata-mata air semuanya menjadi darah.
  4. Matahari diberikan kuasa kepadanya untuk membakar orang-orang dengan api … mereka dihanguskan oleh panas yang luar biasa …
  5. Kegelapan pekat meliputi takhta binatang itu dan kerajaannya, dan mereka mengunyah lidah mereka karena kesakitan, dan karena borok-borok mereka.

60 Referensi Historis Dampak Kedatangan “Planet Komet” oleh Velikovsky

Berikut ini 60 poin referensi historis dari catatan-catatan peradaban kuno tentang benda angkasa ini:

  1. Suku asli Borneo Utara (Serawak-Malaysia), bahkan hari ini, menyatakan bahwa langit sebelumnya lebih rendah, dan enam ”matahari” telah musnah, dan dunia yang sekarang ini diterangi oleh matahari ketujuh.
  2. Lalu Yosua berbicara kepada YHWH pada hari YHWH menyerahkan orang Amori itu kepada orang Israel; ia berkata di hadapan orang Israel: “Matahari, berhentilah di atas Gibeon dan engkau, bulan, di atas lembah Ayalon!” Maka berhentilah matahari dan bulanpun tidak bergerak, sampai bangsa itu membalaskan dendamnya kepada musuhnya. Bukankah hal itu telah tertulis dalam Sepher haYashar (Kitab Orang Jujur)? Matahari tidak bergerak di tengah langit dan lambat-lambat terbenam kira-kira sehari penuh. Yosua 10:12-13
  3. Kutipan di Alkitab dari Kitab Yashar ini sangat singkat dan memberikan kesan bahwa fenomena matahari dan bulan tidak bergerak ini bersifat lokal, yang hanya terlihat di Palestina antara lembah Ayalon dan Gibeon saja. Tetapi sesungguhnya sifat kosmis dari peristiwa ini digambarkan dalam ucapan syukur yang berasal dari Yosua, “Matahari dan bulan tetap diam di angkasa.”

Dan ketika mereka sedang memukul, hari telah menjelang petang. Yehoshua berseru di depan mata seluruh umat, “Matahari, tetaplah diam di atas Gibon, dan engkau bulan di lembah Ayalon,” hingga bangsa itu membalaskan dirinya atas musuh-musuhnya. Dan YAHWEH mendengarkan seruan Yehoshua. Matahari tetap diam di tengah-tengah angkasa, dan itu diam selama tiga puluh enam jam, dan bulan juga diam berdiri dan berlambat-lambat turun sepanjang hari. Tidak ada hari seperti itu, sebelum itu atau sesudahnya, bahwa YAHWEH mendengarkan seruan seorang manusia, karena YAHWEH berperang bagi Yisrael. Yashar 88:63-65

Matahari dan bulan tetap diam di langit, dan Engkau berdiri dalam murka-Mu terhadap para penindas kami dan memerintahkan penghakiman-Mu atas mereka. Yashar 89:8

  1. Dalam sejarah Mexico disebutkan bahwa dunia kehilangan terang, dan matahari tidak muncul kembali selama 4 malam.
  2. Sahagun, seorang terpelajar dari Spanyol yang datang ke Amerika satu generasi setelah Columbus dan mengumpulkan tradisi-tradisi suku asli, menuliskan bahwa pada waktu terjadi suatu bencana kosmis, matahari hanya terbit sebentar di atas horizon dan tetap berada di situ tanpa bergerak, bulan juga tidak bergerak.
  3. Dalam manuskrip-manuskip Avila dan Molina, yang berisi kumpulan tradisi-tradisi suku Indian dari Dunia Baru, diceritakan bahwa matahari tidak muncul selama 5 hari, suatu tabrakan kosmis bintang-bintang (hujan asteroid) mendahului malapetaka ini. Orang-orang dan binatang berusaha menyelamatkan diri ke gua-gua di pegunungan. Hampir mustahil mereka mencapainya, ketika air lautan, meninggalkan batasan-batasannya menyusul guncangan yang dahsyat, memulai tsunami pantai Pasifik. Namun seiring naiknya air lautan, yang memenuhi lembah-lembah dan dataran-dataran di sekitarnya, pegunungan Ancasmarca juga ikut naik, seperti kapal di atas ombak. Selama 5 hari bencana ini berlangsung, matahari tidak menampakkan wajahnya dan bumi berada dalam kegelapan.
  4. Menurut cerita kosmologi Lapland… Tuhan yang marah berkata, “Aku akan membalikkan dunia, Aku akan membuat sungai-sungai mengalir ke atas. Aku akan menjadikan lautan berkumpul menjadi tembok yang tinggi dan akan Aku timpakan ke atas anak-anak bumimu yang jahat, yang akan menghancurkan mereka dan semua kehidupan … (Jubmel) dengan satu pergolakan dahsyat, menjadikan semua daratan bumi berjungkir balik.”
  5. Orang-orang Finlandia menceritakan dalam Kalevala (puisi epik) mereka, bahwa penyangga-penyangga langit runtuh dan sebuah percikan api menyalakan Matahari baru dan Bulan baru.
  6. Tradisi Cashina, orang-orang suku asli di barat Brazil, menceritakan seperti ini: “Kilat menyambar-nyambar dan guntur mengguntur dengan mengerikan dan semuanya ketakutan. Kemudian langit meledak dan puing-puing (hujan asteroid) berjatuhan dan membinasakan segala sesuatu dan membunuh setiap orang. Langit dan bumi berpindah tempat. Tidak ada satu pun yang bernyawa tersisa di atas bumi.”
  7. Menurut legenda Indian dari Dunia Baru, permukaan daratan berubah dalam suatu bencana, lembah-lembah yang baru terbentuk, punggung-punggung pegunungan terkoyak, teluk-teluk yang baru terbelah, bukit-bukit purbakala dijungkir-balikkan dan bukit-bukit yang baru bermunculan. Sedikit yang selamat dari dunia yang hancur, diselimuti kegelapan, “matahari tidak ada lagi.”
  8. China: Pada zaman keajaiban-keajaiban, dikatakan bahwa terjadi matahari tidak terbenam selama sepuluh hari, hutan-hutan terbakar, dan sejumlah besar serangga-serangga menjijikkan bermunculan. “Pada zaman Kaisar Yaou (Yahou) matahari tidak terbenam selama sepuluh hari penuh dan seluruh daratan banjir.”
  9. Karena itu Kaisar Yaou (Yahou) memerintahkan Hi dan Ho, dengan melihat langit yang sangat luas, untuk menghitung dan menggambarkan pergerakan dan kemunculan Matahari, Bulan, bintang-bintang, dan rasi-rasi bintang. Dan untuk menyampaikan penjelasan tentang musim-musim kepada rakyat.
  10. Herodotus (484-425 SM), sejarawan Yunani: “Tidak ada pergantian terbit dan terbenamnya matahari yang terjadi dalam periode Sothis (bintang Sirius).”
  11. Pomponius Mela, seorang pengarang Latin abad pertama, menulis, “Orang-orang Mesir membanggakan diri mereka sendiri karena menjadi kaum yang paling kuno di dunia. Dalam sejarah resmi mereka … salah satunya dapat dibaca, sejak mereka ada, lintasan bintang-bintang telah berganti arah sebanyak empat kali, dan matahari telah terbenam dua kali di bagian langit di mana matahari terbit sekarang ini.”
  12. Wasiat Papirus Harris (Mesir kuno) berbicara mengenai bencana kosmis api (hujan asteroid) dan air (air bah) ketika “selatan menjadi utara, dan bumi dijungkirbalikkan.”
  13. Dalam Papirus Ipuwer (Mesir kuno) juga dikatakan hal yang sama bahwa “daratan dibalikkan seperti roda tukang periuk,” dan “bumi dijungkirbalikkan.”
Papirus Ipuwer

Papirus Ipuwer sangat menarik. Isinya mendeskripsikan bencana-bencana di Mesir yang sangat mirip kata per kata dengan Kitab Keluaran. Manuskrip ini sendiri ditemukan di Memphis, Mesir, dan diperkirakan berasal dari abad ke-13 sebelum Masehi, atau sekitar 1 abad lebih setelah peristiwa bencana-bencana yang mendahului peristiwa Eksodus bangsa Israel dari Mesir:

Bencana darah yang disebutkan di Keluaran 7:14-25.

  • Ipuwer 2:3 Wabah sampar ada di seluruh negeri, darah ada di mana-mana.
  • Ipuwer 2:9 Sungai (Nil) menjadi darah. Manusia jumlahnya menyusut… dan kehausan akan air.

Bencana wabah ternak Mesir seperti disebutkan di Keluaran 9:1-7.

  • Ipuwer 5:5 Semua binatang, menangis. Ternak-ternak mengerang.

Bencana hujan batu meteor dan api seperti disebutkan dalam Keluaran 9:22-26.

  • Ipuwer 9:23 Api menjalar di seluruh dataran. Ada hujan batu, dan api bercampur dengan hujan batu.
  • Ipuwer 2:10 Sungguh, pintu-pintu gerbang, pilar-pilar, dan dinding-dinding terbakar dengan api.

Bencana belalang-belalang seperti disebutkan di Keluaran 10:1-20 (kemungkinan kiasan).

  • Ipuwer 6:1 Tidak ada buah-buahan dan tumbuh-tumbuhan dapat ditemukan. Oh, sekiranya bumi berhenti dari suara ribut, dan suara hingar-bingar tidak ada lagi.
  • Ipuwer 4:14 Pohon-pohon hancur dan dahan-dahannya patah.

Bencana kegelapan seperti disebutkan di Keluaran 10:21-29.

  • Ipuwer 9:11 Seluruh negeri tiada cahaya.

Bencana kematian anak-anak sulung di Keluaran 12.

  • Ipuwer 2:13 Mereka yang menguburkan saudaranya di tanah ada di mana-mana.
  • Ipuwer 3:14 Erangan ada di seluruh negeri, bercampur dengan ratapan.
  • Ipuwer 4:3 Sungguh, anak-anak pangeran dihempaskan ke dinding-dinding.
  • Ipuwer 6:12 Sungguh, anak-anak pangeran dicampakkan ke jalan-jalan.

Pembebasan budak-budak dan penjarahan Mesir seperti di Keluaran 12:31-36.

  • Ipuwer 1: Penjarah ada di mana-mana, dan budak-budak mengambil apa yang mereka temukan.
  • Ipuwer 2: Sungguh, orang-orang miskin telah menjadi kaya.
  • Ipuwer 3: Emas, perak dan perhiasan-perhiasan dikenakan di leher budak-budak perempuan.
  • Ipuwer 5: Budak-budak (yang kini telah bebas) ada di seluruh negeri.
  • Ipuwer 10: Gudang penyimpanan raja kini telah menjadi milik umum.
  1. Dalam Papirus Ermitage (Leningrad, 1116b recto) juga berisi referensi mengenai suatu bencana yang menjadikan “daratan berjungkir balik; terjadi apa yang tidak (belum) pernah terjadi.” Diperkirakan pada waktu itu dalam milenium kedua, orang-orang tidak menyadari rotasi harian bumi, dan mempercayai bahwa langit dan benda-benda penerangnya mengitari bumi. Karena itu ungkapan “bumi berjungkir balik,” tidak merujuk kepada rotasi harian bola bumi. Penggambaran dalam Papirus Leiden dan Leningrad juga tidak menimbulkan keraguan mengenai penjelasan kalimat ini, khususnya jika kita mempertimbangkan teks pada Papirus Harris – bumi berjungkir balik dibarengi dengan pergantian kutub selatan dengan kutub utara.
  2. Harakhte adalah nama yang diberikan orang-orang Mesir kepada “Matahari barat.” Seharusnya, karena tidak ada matahari lain di langit, diperkirakan “Harakhte” artinya matahari pada saat terbenam. Tapi mengapa matahari pada saat terbenam dianggap sebagai dewa yang berbeda dengan matahari terbit? Identitas dari matahari terbit dan matahari terbenam dapat dilihat oleh semua orang. Teks pada prasasti itu tidak menimbulkan keraguan sama sekali: “Harakhte, dia yang terbit dari barat.”
  3. Teks yang ditemukan dalam piramida mengatakan bahwa benda-benda penerang “berhenti menyala di sebelah barat, dan yang baru, bersinar di sebelah timur.” Setelah terjadinya pembalikan arah, kapan pun itu terjadi, kata ‘barat’ dan ‘timur’ tidak dipakai lagi, dan perlu untuk memperjelas maksud dengan menambahkan kata-kata: “barat adalah tempat terbenamnya matahari.” Ini bukan penjelasan kata yang tidak berguna, seperti yang dipikir oleh para penerjemah teks di piramida.
  4. Di dalam makam Senmut, arsitek Ratu Hatshepsut (Mesir), panel dinding atapnya menunjukkan kubah langit dengan “orientasi yang terbalik” atau menghadap ke “langit sebelah selatan”. Akhir dari Kerajaan Tengah mendahului zaman Ratu Hatshepsut kira-kira beberapa abad. Panel dinding atap dengan gambar astronomis yang menunjukkan orientasi terbalik pasti merupakan skema peta yang sangat dihargai, menjadikannya kuno beberapa abad sebelumnya. Karakteristik dari dinding atap Senmut adalah orientasi astronomis tak terbantahkan dari langit selatan.

senmutsceiling

Bagian tengah dari panel ini ditempati rasi Orion – Sirius, di mana Orion muncul di barat Sirius, bukannya di timur. “Orientasi panel selatan sedemikian rupa sehingga seseorang di dalam makam yang melihatnya harus mendongakkan kepalanya ke atas dan menghadap utara, bukan ke selatan.” “Dengan pembalikan orientasi panel selatan, Orion, konstelasi yang paling jelas di langit selatan, kelihatan bergerak ke timur, yang merupakan arah yang salah.”

  1. Arti sebenarnya dari “orientasi tidak masuk akal dari panel selatan” dan “posisi terbalik dari Orion” nampaknya adalah seperti ini: panel selatan menunjukkan langit di Mesir pada saat sebelum kubah langit berbalik posisi utara dan selatan, timur dan barat. Panel utara menunjukkan langit Mesir pada saat malam hari dalam tahun-tahun masa hidup Senmut.

denderaupsidedown

  1. Plato menulis dalam dialognya, The Statesman (Politicus), “Maksudku perubahan dalam terbitnya dan terbenamnya matahari dan benda-benda langit lainnya, bagaimana pada zaman itu mereka biasa terbenam di bagian di mana mereka sekarang terbit, dan mereka biasanya terbit di mana mereka sekarang terbenam…”
  2. Menurut fragmen pendek dari drama historis oleh Sophocles (Atreus), matahari terbit dari timur hanya sejak lintasannya dibalik. “Zeus … mengubah lintasan matahari, menjadikannya terbit dari timur dan bukan dari barat.”
  3. Seneca (4 SM-65 M), filsuf Romawi, tahu lebih banyak daripada rekan sezamannya yang lebih tua, Strabo. Dalam dramanya, Thyestes, dia menggambarkan dengan jelas apa yang terjadi ketika matahari bergerak mundur pada suatu pagi, yang mengungkapkan pemahaman lebih jelas mengenai terjadinya suatu fenomena alam. Ketika matahari berbalik arahnya dan menghapus hari dalam Olympus tengah (siang hari), dan matahari terbenam memandang Aurora, dan orang-orang yang ditimpa ketakutan bertanya, “Apakah kami semua umat manusia telah dianggap layak bahwa langit, kutub-kutubnya dibalik, dan mengguncangkan kami, pada masa kami akhir zaman tiba?”
  4. Caius Julis Solinus, seorang pengarang Latin abad ke-3 pada masa kini, menulis tentang orang-orang yang hidup di perbatasan selatan Mesir, “Penduduk negeri ini berkata bahwa mereka menerimanya dari leluhur mereka bahwa matahari yang sekarang ini terbenam di tempat di mana sebelumnya dia terbit.”
  5. Di kota Ugarit (Ras Shamra) Syria ditemukan puisi yang dipersembahkan kepada dewi planet Anat, yang “membantai penduduk Timur Tengah,” dan yang “mempertukarkan ‘dua fajar’ dan posisi bintang-bintang.”
  6. Pembalikan timur dan barat, jika dikombinasikan dengan pembalikan utara dan selatan, akan mengubah konstelasi bintang-bintang di utara menjadi konstelasi di selatan, dan menunjukkan mereka dalam susunan yang terbalik, seperti skema langit selatan di panel atap makam Senmut. Bintang-bintang di sebelah utara akan menjadi bintang-bintang di sebelah selatan. Ini nampaknya merupakan apa yang digambarkan oleh orang-orang Mexico sebagai “menghalau empat ratus bintang-bintang selatan.”
  7. Orang-orang Eskimo di Greenland mengatakan kepada para misionaris bahwa pada zaman purbakala bumi berbalik dan orang-orang yang hidup kemudian menjadi berlawanan letaknya.
  8. Dalam Traktat Sanhedrin dari Talmud dikatakan, “Tujuh hari sebelum Air Bah, Yang Maha Kudus mengubah tatanan purbakala dan matahari terbit dari barat dan terbenam di timur.”
  9. Hai Gaon, seorang rabbi, theolog dan ilmuwan terkemuka yang hidup antara tahun 939-1038 M, dalam tulisannya merujuk kepada perubahan kosmis di mana matahari terbit dari barat dan terbenam di timur.
  10. Dalam Voluspa (Puisi Edda) dari orang-orang Islandia, kita membaca:

“Tidak diketahui di mana dia (matahari) seharusnya rumahnya berada,
Bulan tidak tahu di mana dia sebelumnya,
Bintang-bintang tidak tahu di mana tempat mereka berada.”
Lalu dewa-dewa menetapkan aturan di antara benda-benda langit.

  1. Orang-orang Aztec menceritakan, “Matahari tidak muncul selama bertahun-tahun … [Para tetua] mulai mengamati di dalam kegelapan ke segala arah untuk menantikan pemandangan yang diharapkan, dan bertaruh dari bagian langit yang mana [matahari] akan pertama kali muncul … namun ketika matahari terbit, mereka semuanya terbukti salah, karena tidak satu pun dari mereka melihat ke timur.”
  2. Legenda suku Maya juga menceritakan bahwa “tidak diketahui dari sebelah mana matahari yang baru akan muncul.” Mereka memandang ke semua arah, namun mereka tidak dapat mengatakan dari sebelah mana matahari akan terbit. Beberapa di antaranya berpikir itu mungkin akan terjadi di utara dan pandangan mereka diarahkan ke sana. Yang lain berpikir itu akan terjadi di selatan. Bahkan, tebakan mereka mencakup semua arah karena fajar menyinari semua arah. Beberapa orang, akhirnya, memusatkan perhatian mereka ke sebelah timur, dan tetap yakin bahwa matahari akan muncul dari sana. Pendapat mereka ternyata terbukti benar.
  3. Di Kepulauan Andaman, para penduduk asli takut bahwa bencana alam akan menyebabkan dunia berjungkir balik.
  4. Di Greenland, orang-orang Eskimo juga takut bahwa bumi akan berjungkir balik.
  5. “Di Menin (Flander, Belgia) para petani akan berkata, bila melihat komet, “Langit akan runtuh. Bumi akan berjungkir balik!”
  6. Dalam Papirus Mesir yang dikenal sebagai Papirus Anastasi IV terdapat keluhan tentang kegelapan dan ketidakhadiran sinar Matahari. Juga dikatakan, “Musim salju datang sebagai [pengganti] musim panas, bulan-bulan dibalikkan dan jam-jam menjadi kacau-balau.”
  7. “Nafas surgawi sudah tidak harmoni … Empat musim tidak muncul pada waktu yang seharusnya,” terdapat dalam tulisan Teks Taoisme.
  8. Dalam catatan sejarah Se-Ma Ts’ien, seperti dalam sejarah Shu King dikatakan bahwa Kaisar Yahou mengirimkan para astronom ke Lembah Ketidakpastian dan ke Tempat Tinggal Kesuraman untuk mengamati pergerakan yang baru dari Matahari dan Bulan dan konjungsi titik orbit, juga untuk menyelidiki dan mengumumkan kepada rakyat tentang urutan musim-musim.
  9. Juga disebutkan bahwa Kaisar Yahou memperkenalkan perubahan kalender: dia membuat musim-musim disesuaikan dengan pengamatan. Dia juga melakukannya dengan bulan-bulan, dan dia “mengoreksi hari-hari.”
  10. “Para astronom dan geolog yang sangat memberikan perhatian pada semua ini … harus menilai penyebab yang dapat mempengaruhi dampak kekacauan terhadap hari dan yang menyelubungi bumi dengan kegelapan,” demikian tulisan seorang pendeta yang menghabiskan tahun-tahunnya di Mexico dan di perpustakaan-perpustakaan Dunia Purba yang menyimpan manuskrip-manuskrip kuno dari suku Maya dan tulisan awal Indian dan pengarang Spanyol mengenai hal tersebut.
  11. Kalender harus diatur yang baru. Angka-angka astronomis dari tahun dan hari tidak dapat sama lagi sebelum dan sesudah pergolakan kosmis, yang karenanya bulan-bulan dibalikkan dan “jam-jam menjadi tidak teratur,” seperti dikutip Papirus Anastasi IV.
  12. Faktanya, lima belas abad hingga delapan abad sebelum masa kini (Masehi), tahun astonomikal berjumlah 360 hari. Itu tidak terjadi sebelum abad kelima belas, tidak juga terjadi sesudah abad kedelapan, tahun dengan panjang seperti ini.
  13. Dalam Manuskrip Quiche, juga diceritakan bahwa “hanya ada sedikit cahaya di permukaan bumi … wajah matahari dan bulan diselubungi dengan kabut.”
  14. Dalam Papirus Ermitage di Leningrad terdapat ratapan mengenai malapetaka dahsyat, ketika langit dan bumi berjungkir balik. “Aku tunjukkan kepadamu daratan berjungkir balik. Terjadi apa yang tidak pernah terjadi.” Setelah bencana ini, kegelapan menutupi bumi. “Matahari diselubungi dan tidak bersinar di hadapan mata manusia. Tidak ada yang dapat hidup ketika Matahari diselubungi kabut. …Tidak ada yang mengetahui bahwa siang hari telah tiba. Bayangan tidak dapat dibedakan. Tidak menyilaukan untuk dilihat ketika dia [matahari] dipandang. Dia ada di langit seperti Bulan.”
  15. Dalam Papirus Anastasi IV tahun-tahun kesengsaraan digambarkan dan dikatakan “Matahari, terjadilah bahwa dia tidak terbit.”
  16. Dalam Kalevala, kisah epik orang Finlandia yang berasal dari zaman yang sangat lampau, pada waktu Matahari dan Bulan menghilang dari langit, dan bayangan yang menakutkan menutupi bumi, digambarkan dalam kata-kata sebagai berikut:

“Bahkan burung-burung menjadi sakit dan musnah,
Laki-laki dan perempuan, pingsan dan kelaparan, binasa dalam dingin dan kegelapan,
Karena ketiadaan sinar matahari… karena ketiadaan cahaya bulan…
Namun orang-orang bijaksana dari Negeri Utara tidak dapat mengetahui fajar pagi,
Karena bulan tidak bercahaya pada waktunya, juga tidak muncul matahari di tengah hari,
dari tempat mereka di kubah langit.”

  1. Orang Yunani seperti juga orang Caria dan orang-orang lain di tepi pantai Laut Aegea menceritakan tentang suatu masa ketika Matahari dihalau dari jalurnya dan menghilang selama seharian…
  2. Gangguan pergerakan Matahari diikuti oleh periode sepanjang satu hari, ketika Matahari tidak muncul sama sekali. Ovid, penyair Romawi, mengatakan, “Jika kita hendak mempercayai laporan ini, satu hari penuh tanpa matahari. Namun dunia yang terbakar memancarkan terang” (hujan asteroid).
  3. Plato, filsuf Yunani, mencatat kisah yang didengar dua generasi sebelum Solon, penguasa yang bijaksana dari Athena. “… Kisahnya, seperti dikatakan, menyerupai sebuah legenda, namun kebenarannya adalah terjadi pergeseran benda-benda di angkasa yang bergerak mengelilingi bumi, dan kehancuran yang terjadi di bumi oleh api yang dahsyat (hujan asteroid), yang berulang dalam interval yang panjang.”
  4. “Thyestes dan saudaranya Atreus adalah … Penguasa tiran Argive. Hidup pada abad kedelapan SM, mereka pasti menyaksikan suatu bencana kosmis pada zaman nabi Yesaya. Tradisi Yunani menegaskan bahwa suatu bencana kosmis terjadi pada zaman para penguasa tiran ini. Matahari berubah jalurnya dan malam hari tiba sebelum waktunya.”
  5. Seneca menggambarkan perubahan posisi dari masing-masing konstelasi – Aries, Taurus, Gemini, Leo, Virgo, Libra, Scorpio, Capricorn, Beruang Besar. Rasi Biduk, yang tidak pernah turun ke lautan, akan tercebur masuk ke dalam ombak lautan.

Polaris-starok

  1. Seorang komentator yang keheranan akan gambaran posisi Beruang Besar, menuliskan sebagai berikut, “Tidak ada alasan mitologis mengapa rasi Biduk, yang juga dikenal sebagai Beruang Besar harus turun ke lautan.” Namun Seneca menggambarkan hal yang aneh ini dengan tepat, “Beruang Besar – yang satu dari bintang-bintangnya – tidak pernah terbenam di bawah horizon, dan sekaligus merupakan bintang kutub yang ada di antara bintang-bintang pada zaman itu, berakhir pada zaman penguasa tiran Argive.” Seneca juga mengatakan secara jelas bahwa kutub-kutub terkoyakkan dalam bencana ini.

polaris_ok

  1. Dalam dongeng orang Indian Ute Selatan, kelinci adalah binatang yang berhubungan dengan gangguan pergerakan Matahari. Ada contoh lainnya dalam cerita orang Indian mengenai Matahari yang terganggu pada jalur peredarannya yang mengakibatkan kebakaran besar dunia. Sebelum bencana ini terjadi, “Matahari bergerak mengelilingi bumi dekat dengan tanah.” Tujuan serangan kepada matahari adalah untuk membuat Matahari bersinar lebih lama, karena hari-hari berlangsung terlalu singkat. Setelah bencana itu, hari-hari menjadi lebih lama.
  2. Menurut Seneca, rasi Beruang Besar merupakan konstelasi kutub. Setelah terjadinya pergolakan kosmis yang menggeser langit, sebuah bintang dari rasi Beruang Kecil menjadi bintang kutub. Tabel astronomi Hindu yang disusun oleh para Brahmana dalam paruh pertama milenium sebelum zaman ini, menunjukkan deviasi seragam dari posisi yang diprediksi dari bintang-bintang pada saat observasi. Para sarjana modern kagum akan hal ini, dalam pendapat mereka ini kesalahan yang tidak dapat dipahami. Menurut metode geometris yang digunakan oleh para astonom Hindu dan metode perhitungan detailnya, suatu kesalahan dalam pengamatan, bahkan dalam pecahan satu derajat akan sulit untuk diperhitungkan. Dalam Jaiminiya-Upanisad-Brahmana tertulis bahwa pusat langit, atau titik perputaran di mana langit berputar, adalah Beruang Besar. Ini pernyataan yang sama yang kita temui dalam Thyestes dari Seneca.
  3. Hari ketika bayangan terpendek siang hari terjadi pada titik balik matahari musim panas (summer solstice), sedangkan bayangan terpanjang siang hari terjadi pada titik balik matahari musim dingin (winter solstice). Metode penentuan musim dengan mengukur panjang bayangan dilakukan di China kuno, demikian juga di negara-negara lainnya. “Kami memiliki catatan orang-orang China tentang bayangan terpanjang dan bayangan terpendek pada siang hari. Catatan ini berasal dari tahun –1100. Namun, catatan bayangan terpanjang dan terpendek ini tidak mewakili panjang yang sebenarnya pada masa kini.” Catatan diagram China kuno mengenai durasi hari terpanjang tidak mewakili lokasi lintang geografis menurut pengamatan mereka, dan karenanya, angka-angka ini sepertinya ditulis oleh mereka yang berada di Babel, yang dipinjam oleh orang China, sebuah dugaan yang agak aneh.
  4. [Kugler] “Lamanya hari terpanjang di dalam suatu tahun tergantung dari garis lintang, atau jarak dari kutub, dan itu berbeda-beda untuk setiap lokasi. Gnomon atau bayangan jam matahari dapat dibuat dengan ketepatan yang sangat akurat. Tablet astronomi Babe; dari abad ke-8 SM menyediakan data-data yang akurat. Menurut tabel itu, hari terpanjang di Babel lamanya 14 jam 24 menit, sedangkan hasil penentuan modern 14 jam 10 menit 54 detik. Perbedaan antara kedua angka ini terlalu besar untuk dianggap sebagai pecahan, yang menjadikan matahari masih terlihat di horizon setelah itu terbenam. Sekaligus, lebih lamanya panjang hari ini menunjukkan posisi garis lintang 34 derajat 57 menit, dan mengarah kepada lokasi 21 derajat lebih jauh ke utara. Ini pendapat kami menjawab teka-teki aneh ini [vor einem merkwurdgien Ratsel].” Pihak lain mencoba untuk memutuskan: apakah tablet System II tidak berasal dari Babel (meskipun merujuk kepada Babel) atau kota ini sebenarnya berada lebih jauh ke utara, kira-kira 35 derajat dari garis khatulistiwa. [Kugler, Die Babylonische Mondrechnung: Zwei Systeme der Chaldäer über den Lauf des Mondes und der Sonne (1900), halaman 80].
  1. Claudius Ptolemy, dalam bukunya Almagest, membuat perhitungan mengenai Babel kuno dan Babel yang sezaman dengannya, sampai pada dua kesimpulan yang berbeda mengenai lamanya hari terpanjang di kota itu, yang oleh karenanya ada perbedaan lokasi garis lintang. Salah satunya, perhitungannya secara praktis sama nilainya dengan masa kini, dan perhitungan lainnya menunjukkan angka yang sama dengan tabel Babel kuno, 14 jam 24 menit.

Arzachel, sarjana Arab abad pertengahan, menghitung dari manuskrip kuno, bahwa pada zaman yang lebih kuno, Babel terletak pada garis lintang 35 derajat 0 menit dari khatulistiwa, sedangkan pada waktu yang terkemudian, bergeser pada posisi lebih ke selatan. Johannes Kepler menarik perhatiannya kepada perhitungan Arzachel dan kepada fakta, bahwa antara Babel kuno dan Babel modern telah terjadi perbedaan garis lintang.

  1. Sekaligus Ptolemy, seperti halnya Arzachel, menghitung bahwa pada zaman lampau, Babel berada pada garis lintang 35. Para sarjana modern sampai pada kesimpulan yang sama dengan dasar perhitungan Babel kuno. Karena itu, dipastikan: tabel kita [System II dan I], yang disebutkan para astronom juga, menunjuk kepada lokasi kira-kira 35 garis lintang utara. Mungkinkah mereka keliru antara 2-21 derajat? Ini hampir tidak mungkin terjadi [Kugler, halaman 81].
  2. Beberapa dari pengarang kuno mengetahui bahwa bumi berubah posisinya dan bergeser mengarah ke selatan. Tidak semua dari mereka, sepertinya, yang menyadari penyebab sesungguhnya dari gangguan ini. Diogenes Laertius mengulang pengajaran Leucippus, “Bumi miring ke arah selatan karena daerah utara semakin padat dan kaku karena salju dan cuaca dingin yang terus berlangsung.” Pendapat yang sama ini dikemukakan juga oleh Plutarch, yang mengutip pengajaran Democritus, “Daerah utara beriklim buruk, tapi daerah selatan iklimnya bagus. Karena itu selatan menjadi berkembang biak, menjadi banyak, dan karena kelebihan beban, itu melampaui kekuatan dan bergeser miring semuanya ke situ.” Empedocles, dikutip oleh Plutarch, yang mengajarkan bahwa utara bergeser dari posisi awalnya, di mana daerah utara naik ke atas dan daerah selatan turun ke bawah. Anaxagoras mengajarkan bahwa kutub mengalami pembalikan dan bahwa bumi menjadi miring ke arah selatan.

Dalam kisah tentang Nuh di dalam Kitab Henokh, kita juga membaca bahwa bumi menjadi miring sebelum datangnya air bah:

Henokh 65:1. Dan pada hari-hari itu Nuh melihat bahwa bumi bergeser menjadi miring, dan bahwa kehancurannya sudah dekat. 2. Dan dia segera angkat kaki dari sana, dan pergi ke ujung bumi, dan memanggil kakeknya Henokh ; dan Nuh berseru dengan suara getir, “Dengarkan aku! Dengarkan aku! Dengarkan aku!” tiga kali. 3. Dan dia berkata kepadanya, “Katakan kepadaku apa yang terjadi pada bumi, mengapa bumi ini begitu menderita dan terguncang? Mungkin aku akan binasa bersamanya!” 4. Dan setelah itu ada keguncangan besar di bumi, dan terdengar suara dari surga, dan aku jatuh tersungkur.

Terkait:

Planet X – Nibiru

Planet X

Papyrus Ipuwer: Tulisan Mesir Kuno tentang Peristiwa Tulah-tulah Eksodus

Tulah-tulah Mesir dan Masa Tribulasi

Kebenaran Peristiwa Eksodus Diteguhkan oleh Dokumen Historis Mesir Kuno

Planet X: Siklus Bencana Atlantis, Banjir Besar, Tulah-tulah Eksodus, Naga Merah dan Penggenapan Kitab Wahyu

Kedatangan Planet X dan Permulaan Tribulasi: 2/3 Penduduk Bumi akan Musnah?

Planet X: Nibiru, Bintang Messias di Dalam Bible Code dan Zohar

Sejarah Rahasia Satan, Peradaban Pra-Adam dan Monumen Mars

Referensi Kitab Suci

Setelah membaca dan membandingkan catatan-catatan kuno yang dikumpulkan Velikovsky, kita mungkin akan mempunyai perspektif baru dalam memahami ayat-ayat Kitab Suci di bawah ini.

Mazmur 97:5 Gunung-gunung meleleh seperti lilin di dalam hadirat YAHWEH, dalam hadirat Tuhan atas seluruh bumi.

Mikha 1:4 Gunung-gunung akan diluluhkan di bawah kaki-Nya, dan lembah-lembah akan meleleh sendiri seperti lilin di depan api, seperti air yang dialirkan ke sebuah lereng.

Yesaya 24:1 Lihatlah, YAHWEH menjadikan bumi kosong, dan menjadikannya musnah, dan menjungkirbalikkannya, dan menyerakkan penghuninya.

Yesaya 24:19-20 Bumi hancur lebur, bumi terbelah-belah, bumi berguncang hebat. Bumi bergulung kesana kemari seperti orang mabuk, dan berguncang-guncang seperti gubuk; dan pelanggarannya berat atasnya, dan dia akan jatuh, dan tidak akan bangkit lagi.

Yesaya 13:5 Mereka datang dari negeri yang jauh, dari ujung langit, YAHWEH dan senjata kegeraman-Nya, untuk menghancurkan seluruh bumi.

Yesaya 13:13 Oleh karena itu Aku akan mengguncangkan langit, dan bumi berguncang keluar dari tempatnya, dalam amarah YAHWEH Tsebaot, dan pada hari murka-Nya yang menyala-nyala.

Zefanya 1:1-2,14-16 “Aku akan memusnahkan segala sesuatu dari atas muka bumi,” firman YAHWEH. “Aku akan memusnahkan manusia dan binatang. Aku akan memusnahkan burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut. Aku akan membuat orang-orang fasik tersandung jatuh dan Aku akan melenyapkan manusia dari atas bumi,” firman YAHWEH. Sudah dekat hari YAHWEH yang besar itu, sudah dekat dan datang dengan cepat sekali! Suara hari YAHWEH adalah pahit, orang perkasa pun akan menangis dengan suara keras. Hari itu adalah hari kemurkaan, yaitu hari kesukaran yang penuh bahaya dan penderitaan yang berat, suatu hari keruntuhan dan penghancuran, suatu hari kegelapan dan kesuraman, hari mendung dan berkabut. Hari sangkakala dan pekik perang terhadap kota-kota yang berkubu dan terhadap menara-menara yang tinggi.

Matius 24:29 Dan segera sesudah tribulasi pada hari-hari itu, matahari akan dijadikan gelap dan bulan tidak akan memberi cahayanya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan diguncangkan.

Lukas 21:25 Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut.

Wahyu 6:13-14 Dan bintang-bintang langit berjatuhan ke bumi seperti pohon ara menggugurkan buah mentahnya karena diguncang oleh angin kencang. Dan langit terkoyak seperti gulungan kitab yang digulung, dan semua gunung dan pulau bergeser dari tempatnya.

Wahyu 16:18,20 Dan terjadilah gemuruh dan guntur dan kilat, dan terjadilah gempa bumi yang dahsyat sebagaimana yang belum pernah terjadi sejak manusia ada di muka bumi, suatu gempa bumi yang sangat hebat dan dahsyat. Dan setiap pulau hilang lenyap, dan gunung-gunung tidak ada lagi.

Referensi

World in Collision, Immanuel Velikovsky

Earth in Upheaval, Immanuel Velikovsky

The Earth Turned Upside Down

EGYPTIAN EVIDENCE FOR THE EXODUS

Immanuel Velikovsky

Comparative mythology

The 12 Stages of Planet X Passover, According to Velikovsky’s Worlds in Collision

NASA spacecraft missions have proven that Mars, Saturn, Jupiter and Venus have all suffered “climate change” … without any human activity whatsoever

Signs and Wonders

Iklan