Bahasa Ibrani adalah bahasa perjanjian antara Tuhan YHVH dengan umat manusia, yang diberikan YHVH Elohim dari surga kepada bangsa Israel di Sinai, melalui Musa.

Perjanjian itu kemudian dituliskan dalam huruf-huruf Ibrani oleh Musa dalam kitab-kitab yang kita kenal sebagai Torah. Torah artinya ajaran, hukum, petunjuk, instruksi.

Kitab-kitab ini kemudian dibukukan dan menjadi bagian dari Tanakh (Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani), yang kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk Indonesia.

Membaca Alkitab dalam bahasa Indonesia yang sudah kita kenal tentu terasa lebih enak dan nyaman, namun seringkali kita merasa ada sesuatu yang kurang. Ingin membaca Alkitab dalam bahasa aslinya, tapi tidak paham bahasa dan huruf-huruf Ibrani, sehingga akhirnya kita hanya bisa pasrah menerima saja terjemahan-terjemahan yang sudah ada dan percaya saja dengan apa isinya.

Berbeda dengan huruf-huruf buatan manusia (alphabet), yang hanya bersifat konvensional, alephbet (abjad huruf-huruf) Ibrani dianggap telah diberikan oleh Elohim sendiri, dan mewakili kekuatan spiritual yang mendalam – dalam istilah modern, energi-energi yang berbeda yang mengalir melalui setiap huruf, sehingga bahasa Ibrani dianggap orang-orang Yahudi sebagai bahasa kudus (lashon haqodesh), bahasa surgawi itu sendiri. Bahkan 2 orang ilmuwan Yahudi telah menemukan melalui metode komputasi yang menampilkan sinyal-sinyal pada layar osiloskop bahwa bentuk visual gelombang suara huruf-huruf Ibrani ini luar biasa mirip dengan huruf “tulisan Ashuri”, yang adalah tulisan huruf-huruf Ibrani yang digunakan saat ini. Dan fenomena ini hanya ditemukan pada bahasa Ibrani.

Teks Ibrani sendiri menyimpan rahasia mendalam di dalam susunan huruf-hurufnya, yang dapat ditemukan di dalam fenomena Torah Code, sandi-sandi Ibrani yang misterius berupa pesan tersembunyi yang ada di antara interval-interval huruf Ibrani dari Torah YHVH.

Para ilmuwan menemukan bahwa banyak dari kata-kata yang disandikan dalam Torah berbicara tentang kejadian-kejadian yang akan datang dan tokoh-tokoh yang pernah hidup dalam sejarah manusia dari zaman purbakala hingga sekarang.

Dalam Kejadian 1:1, para ilmuwan menemukan bahwa menghitung maju 50 huruf dari huruf pertama (ת) “tav” dari kata (בְּרֵאשִׁ֖ית) “bereshit” (dalam permulaan), mereka menemukan huruf kedua dari kata (תורה) “Torah“. Setelah melompat maju 50 huruf berikutnya, mereka menemukan huruf ketiga dari kata (תורה) “Torah“. Secara menakjubkan, kata (תורה) “Torah” dapat dieja dengan menggunakan setiap huruf ke-50 dari teks itu.

Selanjutnya, mereka menemukan bahwa ternyata ayat pembukaan kitab ke-2 dari Torah, Kitab Keluaran (שמות Shemot), juga mengandung kata (תורה) “Torah” yang dapat dieja pada interval 50 huruf, dimulai dengan huruf (ת) “tav” pertama yang ditemukan pada permulaan ayat pertama pada kata (וְאֵ֗לֶּה שְׁמוֹת֙) “Ve’eleh shemot” (inilah nama-nama).

Namun ketika memeriksa ayat-ayat pembukaan kitab ke-3 dari Torah, Kitab Imamat (ויקרא Vayikra), mereka tidak menemukan kata (תורה) “Torah” disandikan di dalamnya. Tapi mereka menemukan kata (יהוה) “YHVH” dapat dieja jika mereka melompat setiap huruf ke-8, dimulai dari huruf (י) “yod” pertama yang ditemukan dalam ayat pertama Kitab Imamat, dalam kata (וַיִּקְרָ֖א אֶל־ מֹשֶׁ֑ה) “‘vaiyikRa ‘el Mosheh” (dan dia memanggil kepada Musa). Dengan melompati setiap 8 huruf, dapat dieja (יהוה) “YHVH”.

Ketika memeriksa ayat-ayat pertama dari kitab ke-4 dan ke-5 dari Torah, yakni Kitab Bilangan (במדבר Bamidbar) dan Kitab Ulangan (דברים Devarim), para ilmuwan kembali menemukan kata (תורה) “Torah” disandikan. Dalam Kitab Bilangan, kata (תורה) “Torah” dieja dalam urutan huruf terbalik dengan menggunakan interval 50 huruf. Dalam Kitab Ulangan, kata (תורה) “Torah” juga ditemukan, dieja dalam urutan terbalik, huruf-huruf tersebut muncul dalam interval 49 huruf yang dimulai pada ayat ke-5 dari kitab tersebut.

Menurut perhitungan ahli matematika, kemungkinan kata (תורה) “Torah” disandikan secara kebetulan belaka dalam ayat-ayat pembukaan kelima kitab pertama Alkitab adalah 1 banding 3 juta.

Demikian juga, nama (ישוע) “Yeshua” ditemukan pertama kali di dalam Kitab Kejadian 1:1 dimulai pada huruf kelima dari kata (בראשית) “bereshit“, yakni huruf (י) “yod” bila kita menghitung maju pada interval 521 huruf, dapat terbaca huruf-huruf dari frase kata Ibrani “Yeshua Yakhol“, yang artinya “Yeshua Sanggup.”

Fenomena-fenomena ini memberikan indikasi yang kuat bahwa setiap huruf yang tertulis dalam Torah Ibrani, berasal dari surga dan diinspirasi oleh YHVH Elohim sendiri. Tuhan Yeshua (Yesus) berkata, “Janganlah mengira bahwa Aku datang untuk membatalkan Torah atau Kitab Para Nabi. Aku datang tidak untuk membatalkan, melainkan untuk menggenapinya. Sebab, sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sampai langit dan bumi berlalu, satu iota atau satu keraia pun dari Torah sekali-kali tidak akan lenyap, sampai segala sesuatu terjadi. Oleh karena itu, siapa pun yang mengabaikan satu dari perintah-perintah yang terkecil ini dan mengajar orang-orang secara demikian, dia akan disebut yang terkecil di dalam kerajaan surga. Namun, siapa yang dapat melakukan dan mengajarkannya, dia akan disebut besar di dalam kerajaan surga. Matius 5:17-19

Mengenal Alephbet Ibrani

Alephbet Ibrani hanya terdiri dari konsonan, ditulis dari kanan ke kiri, memiliki 22 huruf, dengan 5 huruf menggunakan bentuk berbeda bila berada di akhir sebuah kata.

Konsonan

א

Aleph” adalah huruf pertama dari alephbet Ibrani. Konsonan ini diam/senyap.

ב

Bet” diucapkan dengan dua cara berbeda. Jika huruf muncul dengan “dagesh” di tengah-tengah huruf (בּ), itu diucapkan “b” seperti dalam bola (Bentuk huruf ini disebut “beyt”). Jika huruf ini muncul tanpa “dagesh” (ב), itu diucapkan “v” seperti dalam visi (Bentuk huruf ini disebut “veyt”). Jika “beyt” ditempatkan sebagai awalan (prefix) kepada sebuah kata, itu artinya “dalam” atau “dengan.”

ג

Gimel” diucapkan “g” seperti dalam gerombolan.

ד

Dalet” dilafalkan “d” seperti pada dorong.

ה

Hey” dilafalkan “h” seperti dalam hari. Biasanya, kata yang diakhiri dengan huruf “hey” adalah kata feminin. Huruf ini juga digunakan sebagai awalan (prefix) untuk kata-kata yang artinya “the” (definite article).

ו

Vav” diucapkan “v” seperti dalam visi. Ketika vav ditambahkan sebagai awalan sebuah kata, itu artinya “dan”.

ז

Zayin” dilafalkan “z” seperti dalam zebra.

ח

Chet” diucapkan “ch” seperti dalam nama Jerman Bach.

ט

Tet” diucapkan “t” seperti dalam tanah.

י

Yod” diucapkan “y” seperti pada Yerusalem. Ketika yod ditambahkan sebagai akhiran (suffix) dari sebuah kata, itu artinya “dari aku” atau “milikku”.

כ

Kaf” diucapkan dengan dua cara berbeda. Jika huruf ini muncul dengan “dagesh” di tengah-tengah huruf (כּ), itu diucapkan “k” seperti dalam kerudung (Bentuk huruf ini disebut “kaf”). Jika huruf ini muncul tanpa “dagesh” (כ), itu diucapkan “kh” seperti “ch” dalam nama Jerman Bach (Bentuk huruf ini disebut “khaf”). Ketika kaf ditambahkan sebagai awalan (prefix) dari sebuah kata, itu artinya “seperti”.

ך

Khaf final” memiliki pelafalan yang sama dengan “kaf” dan mungkin atau mungkin tidak memiliki dagesh. Khaf final akan selalu menyertakan vokal penunjuk dan akan ditempatkan di dalam huruf ketimbang di bawahnya.

ל

Lamed” dilafalkan “l” seperti lama. Ketika lamed ditambahkan sebagai awalan (prefix) dari sebuah kata, itu berarti “kepada” atau “untuk”.

מ

Mem” diucapkan “m” seperti pada makan. Ketika mem ditambahkan sebagai awalan (prefix) dari sebuah kata, itu artinya “dari”.

ם

Mem final” adalah huruf yang sama seperti di atas, tetapi merupakan bentuk huruf yang digunakan ketika muncul di akhir kata. Pelafalannya sama dengan “mem” di atas.

נ

Nun” diucapkan “n” seperti dalam nomor.

ן

Nun final” adalah bentuk huruf yang digunakan ketika di akhir kata. Pelafalannya sama seperti “nun” di atas.

ס

Samech” dilafalkan “s” seperti pada saudara.

ע

Ayin” adalah konsonan diam/senyap.

פ

Pey” diucapkan dengan dua cara berbeda. Jika huruf ini muncul dengan “dagesh” di tengah-tengah huruf (פּ), itu diucapkan “p” seperti dalam potong (Bentuk huruf ini disebut “pey”). Jika huruf itu muncul tanpa “dagesh” (פ), itu diucapkan “ph” seperti dalam kata Inggris phone (Bentuk huruf ini disebut “phey”).

ף

Pey final” tidak akan pernah menyertakan dagesh dalam huruf itu dan dengan demikian akan diucapkan “ph” seperti pada phone.

צ

Tsade” dilafalkan “ts” seperti dalam kata Inggris pots.

ץ

Tsade final” adalah bentuk yang digunakan ketika huruf ini muncul di akhir kata dan juga diucapkan “ts”.

ק

Qof” dilafalkan “q” seperti dalam kata Inggris quiet.

ר

Resh” dilafalkan “r” seperti dalam rusa.

ש

Shin” diucapkan dengan dua cara berbeda. Jika huruf ini muncul dengan “titik” di atas dan ke sisi kanan (שׁ), itu diucapkan “sh” seperti dalam kata Inggris sharp (Bentuk huruf ini disebut “shin”). Jika huruf ini muncul dengan “titik” di atas dan ke sisi kiri (שׂ), itu diucapkan “s” seperti dalam surat  (Bentuk huruf ini disebut “sin”).

ת

Tav” diucapkan “t” seperti dalam tunai. Dagesh mungkin muncul dalam huruf ini tetapi tidak akan mengubah bunyi huruf ini.

kitab-kejadian-print-9

Vokal

אָ

Qamets. Vokal ini, yang ditempatkan di bawah konsonan, dilafalkan “a” panjang seperti pada aman. (Catatan: Aleph di sini bukan bagian dari vokal, ia hanya digunakan di sini untuk menunjukkan penempatan vokal saja)

אַ

Patach. Vokal ini juga diucapkan “a” pendek seperti pada asuh.

אִ

Chireq. Vokal ini dilafalkan “i” seperti pada mesin.

אֵ

Tsere. Vokal ini dilafalkan “e” panjang seperti pada kata Inggris they atau grey.

אְ

Sheva. Vokal ini biasanya digunakan sebagai pemutus suku kata dan diam/senyap, tetapi ketika ia tidak digunakan sebagai pemutus suku kata, ia diucapkan “e” pendek seperti pada kata Inggris elephant. Sheva akan dibahas secara mendetail di bagian akhir.

אֶ

Segol. Vokal ini dilafalkan “e” pendek seperti pada kata Inggris elephant.

Cholem Vav. Titik di atas “vav” diucapkan “o” seperti pada kata Inggris open. “Vav” menjadi diam/senyap. Ketika “vav” ini ditempatkan sebagai akhiran (suffix) pada sebuah kata, itu berarti “kepadanya” atau “miliknya”.

וּ

Shureq. Titik pada “vav” dilafalkan “u” seperti pada tulis. “Vav” tidak disuarakan atau senyap.

אֱ

Chateph Segol. Vokal ini adalah kombinasi dari vokal Segol dan Sheva. Vokal ini dilafalkan “e” seperti pada kata Inggris elephant atau they, tetapi dilafalkan dengan sangat lembut.

אֹ

Cholem. Vokal ini adalah sebuah titik yang muncul di bagian atas dan tepat di sebelah kiri huruf, bukan di bawahnya dan diucapkan “o” panjang seperti pada kata Inggris open.

אֲ

Chateph Patach. Ini adalah kombinasi dari Sheva dan Patach. Vokal ini bekerja sama seperti “patach” dengan pelafalan “a” seperti pada bapa, tetapi dilafalkan dengan sangat lembut.

אֻ

Qibbuts. Vokal ini dilafalkan “u” pendek seperti pada kata Inggris blue atau tune.

אֳ

Chateph Qamets. Vokal ini bekerja sama seperti “cholem” dengan pelafalan “o” seperti pada kata Inggris yellow, tetapi dilafalkan dengan sangat lembut.

אָ

Qamets Chatuph. Satu vokal yang mungkin menimbulkan sedikit masalah adalah “Qamets Chatuph,” yang nampak identik dengan Qamets (vokal “a” panjang). Vokal ini dilafalkan “o” pendek seperti pada kata Inggris yellow. Qamets Chatuph akan dibahas secara mendetail di bagian akhir.

kitab-kejadian-print-11

Dua Aturan Pembagian Suku Kata Ibrani

Untuk mengucapkan kata-kata Ibrani dengan benar, Anda harus memahami bagaimana kata tersebut dibagi menjadi suku-suku kata (yaitu, unit-unit suara yang berbeda). Ada dua aturan dasar untuk membagi kata Ibrani menjadi suku-suku kata, seperti yang dijelaskan di bawah ini.

  • §  Aturan 1: Jumlah Suku kata = Jumlah Vokal

Suku kata selalu dimulai dengan konsonan (kecuali ketika sebuah kata dimulai dengan Vav, yang merupakan bentuk konjungsi) dan dapat diakhiri baik oleh konsonan atau vokal. Karena ada satu vokal per suku kata, jumlah suku kata dalam sebuah kata adalah sama dengan jumlah vokal:

tabel-01

  • §  Aturan 2: Suku kata bisa “Terbuka” atau “Tertutup”

Suku kata terbuka diakhiri dengan bunyi vokal dan suku kata tertutup diakhiri dengan huruf tanpa vokal:

tabel-02

Aturan umum: Vokal biasanya panjang dalam suku kata terbuka (misal: ba, be, bo) dan pendek dalam suku kata tertutup (ab, eb, ob).

Suku Kata Terbuka atau Tertutup

Suku kata disebut “terbuka” jika tidak diakhiri dengan suara “berhenti”; jika sebaliknya, maka itu “tertutup” (dengan demikian “ma” adalah suku kata terbuka, dan “mat” adalah suku kata tertutup).

Huruf-huruf Bertitik (Dageshim)

Setiap huruf Ibrani (kecuali huruf-huruf tekak) dapat memiliki titik di tengah-tengahnya yang disebut “tanda dagesh” (dagesh artinya “tekanan”). Pada dasarnya ada dua jenis dageshim yang perlu Anda ketahui: dagesh lene (kal) dan dagesh forte (chazak).

  • Dagesh Lene (Kal)

Enam huruf Ibrani yang telah Anda pelajari, yaitu, Bet, Gimel, Dalet, Kaph, Pey, dan Tav dapat muncul dengan atau tanpa titik yang ditempatkan di dalamnya. Titik ini disebut “Dagesh Lene.” Jika salah satu dari enam huruf ini memiliki tanda Dagesh Lene, mereka akan memiliki pelafalan yang keras, jika tidak ia memiliki pelafalan yang lebih lembut.

Secara kolektif huruf-huruf ini sering disebut “huruf-huruf Begedkephat” sebagai akronim untuk nama-nama huruf-huruf ini:

בּ גּ דּ כּ פּ תּ

  • Dagesh Forte (Chazak)

Semua huruf Ibrani (kecuali huruf-huruf tekak) – termasuk huruf-huruf Begedkephat – dapat memperoleh titik yang kelihatan persis sama seperti Dagesh Lene, tetapi ia disebut Dagesh Forte. Dagesh forte dapat muncul dalam huruf konsonan Ibrani apa pun, kecuali huruf tekak: Aleph, Hey, Chet, Ayin, dan Resh.

tabel-03

Tujuan Dagesh Forte

Dagesh forte “menekankan” sebuah huruf dan dengan demikian mempengaruhi silabifikasi kata dengan menggandakan nilai dari konsonan. Sebuah huruf dengan dagesh forte selalu menyebabkan suku kata sebelumnya (jika ada) tertutup dan sekaligus “membagi” suku kata pada huruf itu:

נִסִּי

Dalam contoh di atas, pertama-tama kita perhatikan bahwa kata tersebut memiliki dagesh forte pada huruf Samekh. Nilai dari huruf ini “digandakan,” dan dengan demikian kita menghitung “s” pertama sebagai bunyi penutup dari suku kata sebelumnya (yakni: nis) dan “s” kedua sebagai bunyi pertama dari suku kata berikutnya (yakni: si). Kita akan mentransliterasikan kata tersebut sebagai: nis·si.

Lene atau Forte?

Seperti yang dapat Anda lihat dalam daftar huruf di atas, huruf-huruf Begedkephat dapat mengambil dagesh lene atau dagesh forte. Karena titik-titik tersebut terlihat identik dalam huruf-huruf itu, bagaimana kita dapat mengetahui apakah huruf-huruf Begedkephat memiliki dagesh lene atau forte?

Aturannya seperti ini: dagesh dalam huruf Begedkephat adalah forte hanya jika didahului oleh vokal (sebaliknya, itu lene).

שַׁבָּת

Pada contoh di atas, perhatikan terlebih dahulu bahwa kata tersebut memiliki dagesh pada huruf Bet. Lalu, apakah ini dagesh lene atau forte?

Karena didahului oleh vokal (yaitu Patach dari suku kata pertama), maka Bet harus memiliki dagesh forte.

Jadi kita membagi kata itu menjadi dua suku kata tertutup dan mentransliterasikannya sebagai: shab·bat (perhatikan bahwa jika suatu huruf Begedkephat memiliki dagesh forte, ia dilafalkan persis sama seperti jika ia memiliki dagesh lene: keberadaan forte hanya “menggandakan” nilai huruf itu).

Aturan Umum

Jika ada “titik” di dalam huruf, “gandakan” nilainya; tetapi jika itu adalah huruf Begedkephat, gandakan nilainya hanya jika itu didahului oleh vokal.

tabel-04

Sheva Vokal

Seperti sudah disinggung di atas, vokal Sheva biasanya digunakan sebagai pemutus suku kata dan senyap, namun sebaliknya jika tidak, ia diucapkan sebagai “e” pendek.

Memahami Sheva Na

Ada empat kasus dimana Sheva menjadi vokal (yaitu, membuka suku kata):

  1. Jika ia mengawali sebuah kata:

בְּרָכָה

Transliterasi: be•ra•khah

  1. Jika ia yang kedua dari dua Sheva berurutan:

מִשְׁפְּטֵי

Transliterasi: mish•pe•tei

  1. Jika ia di bawah huruf dengan Dagesh Forte:

הַמְּלָנִימ

Transliterasi: ham•me•la•nim

  1. Jika ia mengikuti sebuah vokal panjang:

כֹּתְבִימ

Transliterasi: ko•te•vim

Contoh:

  1. Pada awal sebuah kata:

tabel-05

  1. Yang kedua dari dua Sheva berurutan:

tabel-06

  1. Di bawah huruf Dagesh Forte:

tabel-07

  1. Mengikuti sebuah vokal panjang:

tabel-08

Ada kasus lain di mana Anda akan mengucapkan sheva sebagai vokal, yaitu saat ia mendahului huruf Ibrani yang sama (atau huruf yang bersuara mirip) dalam sebuah kata. Contoh:

הַלְלוּיָהּ

Transliterasi: ha•le•lu•yah

Sheva Diam (Senyap)

Memahami Sheva Nach

Sebaliknya, ada empat kasus ketika Sheva adalah diam atau senyap:

  1. Jika ia mengakhiri sebuah kata:

מֶלֶךְ

Transliterasi: me•lekh

  1. Jika ia yang pertama dari dua Sheva berurutan:

מִשְׁפְּטֵי

Transliterasi: mish•pe•tei

  1. Jika ia menutup sebuah suku kata:

מַלְכָּה

Transliterasi: mal•kah

  1. Jika ia mengikuti sebuah vokal pendek:

פַּרְעֹה

Transliterasi: par•oh

Contoh:

  1. Pada akhir sebuah kata:

tabel-09

  1. Yang pertama dari dua Sheva berurutan:

tabel-10

  1. Menutup sebuah suku kata:

tabel-11

  1. Mengikuti sebuah vokal pendek:

tabel-12

Patach Tersembunyi

Biasanya, Anda mengucapkan sebuah suku kata dengan terlebih dahulu melafalkan suara huruf dan kemudian menambahkan vokal suara. Namun, ada pengecualian untuk aturan ini: ketika sebuah kata berakhir dengan Chet, Ayin, atau Hey bertitik (mappiq) dan memiliki tanda vokal Patach, pertama-tama Anda melafalkan bunyi vokal dan kemudian menambahkan suara huruf. Jadi:

רוּחַ

Transliterasi: ru•ach (bukan ru•cha)

יֵשׁוּעַ

Transliterasi: ye•shu•a’

Ketika sebuah Patach tersembunyi muncul di bawah Chet, Ayin, atau Hey bertitik (mappiq), aksen akan jatuh pada suku kata sebelumnya (yaitu: RU-ach, ye-SHU-a).

tabel-13

Memahami Huruf Diam Ibrani

Huruf-huruf Aleph, Hey, Vav, dan Yod kadang-kadang bisa “diam,” yaitu, senyap pada kondisi-kondisi tertentu:

tabel-14

רֵאשְׁהוֹן

Aleph dalam kata di atas adalah senyap. Kata ini akan ditransliterasikan: re•she•hon (Sheva menjadi vokal karena Tsere panjang).

בְּרֹאשׁ

Sekali lagi, Aleph dalam kata di atas juga senyap. Kata ini akan ditransliterasikan: be•rosh atau b’•rosh.

אֱלֹהָיו

Huruf Yod dalam kata di atas juga senyap. Kata ini akan ditransliterasi: e•lo•hav.

Dari sudut pandang silabifikasi, huruf diam menjadi tergabung sebagai bagian dari suku kata vokal yang mendahuluinya.

Maqqef (Tanda Hubung)

Kata Maqqef artinya “pengikat,” dan fungsinya sangat mirip dengan tanda hubung dalam bahasa Indonesia atau Inggris. Artinya, dua kata dari satu pasangan kata bergabung bersama untuk membentuk kata baru, dan perubahan dalam vokalisasi unit kata seringkali terjadi.

Jika sebuah kata memiliki Maqqef (tanda hubung), tekanan bergeser dari kata sebelumnya dan beralih ke kata yang mengikutinya.

בֵּן אָדָם    ←    בֶּן־אָדָם

Dalam contoh di atas, dua kata ben dan adam bersama-sama artinya “anak manusia.” Dengan Maqqef, tekanan bergeser dari kata ben menuju kata adam, menghasilkan suku kata yang tertutup dan tidak beraksen untuk bagian pertama dari kata (bertanda hubung). Karena suku kata yang tertutup dan tidak beraksen harus mengambil vokal pendek, maka vokal dalam ben berubah dari Tsere (panjang) menjadi Segol (pendek).

כֹּל  עַם   ←   כָּל־עַם

Demikian juga dalam contoh di atas, kol am artinya “seluruh umat”. Namun saat Maqqef digunakan, aksen bergeser dari kol ke kata am, dan karena suku kata pertama sekarang menjadi suku kata yang tertutup, tanpa aksen, Cholem di bawah Kaph harus berubah menjadi Qamets Chatuph.

Jika Anda baru mempelajari bahasa Ibrani, jangan terlalu khawatir dengan informasi ini. Tujuan Anda adalah untuk mendapatkan sedikit kecakapan dalam membaca dan mengucapkan kata-kata yang Anda lihat. Ingatlah bahwa ketika Anda melihat Maqqef, vokal yang Anda harapkan dalam kata yang muncul mungkin berubah.

Qamets Chatuph

Satu vokal yang mungkin menyebabkan sedikit kebingungan adalah “Qamets Chatuph,” vokal tipe “o” pendek yang kelihatan identik dengan vokal Qamets biasa (tipe “a” panjang).

tabel-15

Qamets Chatuph muncul berulang kali dalam Tanakh (Alkitab Ibrani) dan hanya terjadi pada suku kata tertutup, tanpa aksen:

כָּל

Transliterasi: kol

Qamets atau Qamets Chatuph?

Jika Anda melihat Qamets, Anda mesti bertanya 1) apa itu ada dalam sebuah suku kata tertutup? (yaitu, suku kata yang berakhir dengan suara berhenti) dan 2) apakah suku katanya tanpa aksen? (sebagian besar kata-kata Ibrani mendapatkan aksen pada suku kata terakhir). Jika dua syarat ini terpenuhi, Qamets itu adalah Chatuph dan harus dilafalkan “o”. Contohnya:

וַיָּקָם

Transliterasi: vai•ya•qom

Pada contoh di atas, suku kata terakhir tertutup (berakhir dalam Mem) dan tidak beraksen, dan dengan demikian vokalnya adalah Qamets Chatuph: qom.

Secara umum, setiap kali Anda melihat tanda vokal Qamets, Anda harus menganggap bahwa itu diucapkan “a.” Dalam kasus-kasus yang ambigu, kadang-kadang tanda vertikal kecil (disebut tanda Meteg) muncul tepat di sebelah kiri Qamets untuk menunjukkan bahwa itu adalah suku kata terbuka dan harus diucapkan “a” dan bukan “o”. Dalam contoh di bawah, tanda aksen Meteg nampak di bawah huruf Resh dengan vokal Qamets:

tabel-16

Tanda-tanda Aksen Ibrani

Sebagian besar kata-kata Ibrani umumnya memiliki aksen pada suku kata terakhir dari kata itu:

tabel-17

Klasifikasi Suku Kata (Fonetik)

Sebagian tata bahasa Ibrani mengidentifikasi suku kata berdasarkan skema berikut:

tabel-18

Suku kata “tonik” adalah suku kata yang menerima tekanan atau aksen; suku kata “pretonik” adalah suku kata sebelum suku kata tonik, dan suku kata “propretonik” adalah suku kata sebelum pretonik. Jangan biarkan nomenklatur ini mengintimidasi Anda: dalam Alkitab, suku kata beraksen biasanya diidentifikasi dengan satu atau lebih tanda aksen (lihat di bawah).

Masoret dan Teks Masoret

Antara abad ke-7 dan ke-9 M, sekelompok juru tulis Yahudi yang disebut Masoret menambahkan tanda-tanda vokal (nikkudot), simbol kantilasi (nyanyian) dan tanda-tanda aksen (ta’amim) kepada teks. Proses ini kemudian dikenal sebagai Masorah (tradisi). Teks yang ditandai ini disebut Teks Masoret dan menjadi teks standar bagi orang-orang Yahudi di seluruh dunia.

Aksen Teks Masoret

Setiap kata dalam Tanakh (kecuali yang digabungkan dengan tanda hubung atau maqqef) membawa tanda aksen pada suku kata “tonik” (yaitu, suku kata yang menerima tekanan). Di dalam Biblia Hebraica Stuttgartensia ada 27 tanda prosa dan 21 tanda aksen puisi yang digunakan di dalam teks. Tanda-tanda ini (seperti tanda vokal) dapat muncul di atas atau di bawah kata tersebut.

Tiga Tanda Aksen Utama

Sebagian besar tanda aksen dapat diklasifikasikan menurut apakah mereka disjungtif (jeda) atau konjungtif (penghubung).

  •  Aksen Disjungtif (Jeda)

Aksen disjungtif menandai jeda atau sela dalam pembacaan teks, dan berfungsi seperti koma, titik koma, dan titik dua dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Ada 18 tanda aksen disjungtif yang mungkin Anda lihat dalam teks Masoretik, tetapi dua yang paling penting adalah:

tabel-19

  • Atnach – Ditempatkan di bawah kata terakhir dari paruh pertama sebuah ayat.
  • Silluq – Ditempatkan di bawah kata terakhir dari paruh kedua sebuah ayat.
  • Aksen Konjungtif (Penghubung)

Aksen konjungtif menghubungkan dua kata dalam teks. Ada 9 tanda aksen konjungtif yang mungkin Anda lihat dalam teks Masoret, tetapi yang paling penting adalah:

tabel-20

  • Munach – Ditempatkan di bawah kata yang berhubungan dengan kata yang mengikutinya.

Berikut ini memperlihatkan Kejadian 1:1 seperti yang mungkin Anda lihat dalam teks Masoretik pada umumnya:

tabel-21

Catatan: Anda tidak perlu menghafal nama-nama tanda aksen ini; namun, ketika Anda melihat salah satunya dalam bacaan Tanakh Anda, berilah aksen (tekanan) pada suku kata di mana tanda itu muncul (misalnya, silluq pada kata terakhir dari pasuk (ayat) memberitahu kita untuk memberi aksen pada suku kata pretonik: ha•a•rets).

Tanda pada akhir pasuk (:) disebut Sof Pasuk, dan itu hanya menunjukkan akhir dari ayat tersebut (seperti titik pada akhir kalimat dalam penulisan bahasa Indonesia modern).

Secara umum, kecuali diindikasikan lain oleh semacam tanda aksen, asumsikan bahwa kata Ibrani yang Anda lihat memilki aksen pada suku kata terakhir.

Aturan umum: Vokal biasanya panjang dalam suku kata terbuka (misal: ba, be, bo) dan pendek dalam suku kata tertutup (ab, eb, ob).

Praktek Belajar Membaca

Nah, setelah mempelajari dasar-dasar membaca teks Ibrani di atas, Anda bisa langsung mempraktekkannya dengan membaca kitab pertama Torah YHVH, yakni Bereshit atau Kejadian.

Tidak ada buku lain yang lebih baik untuk memulai belajar membaca teks Ibrani selain kitab-kitab YHVH, karena setiap huruf-huruf yang tertulis di dalamnya, diwahyukan oleh Dia sendiri.

Oleh karena itu, kami menerbitkan Kitab Kejadian Ibrani – Inggris – Indonesia – Interlinear, dengan sistem penuntun: mudah dibaca dan dipahami oleh rata-rata orang yang tidak punya pengetahuan tentang bahasa Ibrani, dan sangat berguna sebagai alat bagi orang-orang yang belajar membaca Alkitab Ibrani. Semua pelajaran di atas dapat Anda temukan dalam buku ini.

Kitab Kejadian Ibrani - Inggris - Indonesia - Interlinear
Order di sini: Alkitab Interlinear: Kitab Kejadian – Ibrani – Inggris – Indonesia

Teks Ibrani yang digunakan berasal dari manuskrip Masoret yang paling tua yang masih ada, yakni Leningrad Codex, dengan vokal dan kantilasi, yang berasal dari tahun 1009 M. Leningrad Codex ini menjadi teks standar untuk Kitab Suci Ibrani di seluruh dunia.

Fitur buku:

  • Terjemahan dalam bahasa Ibrani – Inggris – Indonesia (Interlinear)
  • Dilengkapi pelafalan dan aksen untuk teks Ibrani
  • Terjemahan kata per kata sesuai teks aslinya
  • Mempertahankan nama-nama asli sesuai teks Ibrani
  • Dengan sistem penuntun: mudah dibaca dan dipahami oleh rata-rata orang yang tidak punya pengetahuan tentang bahasa Ibrani, dan sangat berguna sebagai alat bagi orang-orang yang belajar membaca Alkitab Ibrani.

Buku ini dilengkapi dengan petunjuk pelafalan teks Alkitab Ibrani, pengantar sejarah naskah Alkitab Ibrani, pengenalan konsonan Ibrani, pengenalan tanda baca dan vokal bahasa Ibrani, pelajaran membaca teks Alkitab Ibrani.

Terjemahan buku ini juga mempertahankan notasi את “aleph tav” yang muncul lebih dari 7300 kali di dalam teks Ibrani, namun tidak diterjemahkan di dalam terjemahan Alkitab manapun.

Pada terjemahan Alkitab bahasa Inggris, kita sering melihat huruf italic atau huruf miring, yang merupakan kata-kata yang tidak muncul dalam teks aslinya, dan merupakan tambahan dari penerjemah, untuk membuat ayat tersebut dapat dipahami oleh pembaca. Terjemahan bahasa Indonesia dalam buku ini juga mempertahankan tradisi tersebut, dengan menggunakan huruf miring atau italic untuk setiap kata yang tidak ada dalam ayat teks asli.

Spesifikasi fisik buku:

  • 602 halaman, ukuran A4 (21 x 30 cm), kertas HVS 70 gram
  • Isi halaman: teks hitam putih
  • Hard cover warna dengan laminasi dof + pita pembatas
  • Tebal 4 cm
  • Berat 1,7 kg

Order di sini.

kitab-kejadian-print-25

kitab-kejadian-print-26