Tahukah Anda bahwa situs-situs purbakala seperti Pulau Easter, Nazca, Ollantaytambo, Paratoari, Tassili n’Ajjer dan Piramid Giza semuanya sejajar dalam satu garis lingkaran besar? Ada hubungan-hubungan menakjubkan di antara struktur-stuktur purbakala yang mengindikasikan makna yang jauh lebih besar daripada yang kita sadari.

Banyak reruntuhan-reruntuhan purbakala mendemonstrasikan kepada kita bahwa manusia zaman lampau yang mendirikan mereka tidak hanya memberikan penghormatan khusus kepada benda-benda angkasa (matahari, bulan dan bintang-bintang) dan matematika, namun juga titik lokasi yang sangat akurat. Dari Mesir sampai Mexico, tidak diragukan bahwa peradaban purbakala ini melibatkan perhitungan benda-benda angkasa yang kompleks, perhitungan matematika dan arsitektur yang rumit. Meskipun banyak ahli sejarah dan arkeolog memperdebatkan apa maksud dan tujuan peradaban ini sesungguhnya, dan apakah mereka melakukannya hanya secara kebetulan belaka. Berikut ini beberapa contoh bagaimana arsitektur-arsitektur purbakala diciptakan dengan menggunakan matematika geometri dan pemahaman kosmos.

Ada banyak teori bahwa bangunan-bangunan purbakala di seluruh bumi ditempatkan secara khusus oleh para pendirinya ribuan tahun lalu. Salah satu contoh terbaik adalah Piramid Besar Giza dan letak posisinya di Bumi. Bagi yang belum tahu, Piramid Besar Giza adalah bangunan purbakala yang kesejajarannya paling akurat yang pernah ada di bumi dan menghadap arah utara sebenarnya hanya dengan tingkat kesalahan 3/60 derajat. Lebih jauh, berat piramid ini diperkirakan 5.9655.000 ton. Dikalikan 10ˆ8 akan menghasilkan perkiraan massa bumi.

Penulis dan theolog, Dr. Joseph Seiss mendemonstrasikan pada tahun 1877 bahwa Piramid Besar Giza berlokasi tepat di persilangan Garis Bujur Terpanjang dan Garis Lintang Terpanjang – dengan kata lain, berada tepat di pusat massa seluruh planet Bumi. Seperti Anda lihat, struktur-struktur purbakala dibangun dengan presisi yang menakjubkan.

Namun dataran tinggi Piramid Giza bukanlah satu-satunya di Bumi. Bahkan, ada situs-situs purbakala lain yang tak terhitung banyaknya yang entah bagaimana nampak saling berhubungan satu sama lainnya. Jika Anda perhatikan situs-situs purbakala seperti Nazca Lines (Garis-garis Nazca di Peru), Machu Picchu, Pulau Easter, Mohenjo Daro, dan Tassili n’Ajjer serta lain-lain dan menggambar posisi mereka di peta, Anda akan melihat hubungan yang mungkin menunjukkan “kode rahasia” purbakala yang dimasukkan para pendirinya dalam struktur-struktur ini.

Seperti ditulis dalam world-mysteries.com, situs-situs purbakala seperti Giza, Siwa, Tassili n’Ajjer, Paratoari, Ollantaytambo, Machu Picchu, Nazca, Pulau Easter, Pulau Aneityum, Preah Vihear, Sukhothai, Pyay, Khajuraho, Mohenjo Daro, Persepolis, Ur, Petra ditunjukkan berlawanan arah jarum jam mulai dari Giza dengan proyeksi azimuth yang sama. Proyeksi ini berpusat pada titik axis di tenggara Alaska. Jarak ke setiap lokasi dari pusat proyeksi azimuth memiliki skala yang sama. Karena seluruh situs-situs purbakala yang berada pada garis lingkaran ini sama jaraknya dari titik axis, yakni seperempat lingkaran bumi, kesejajaran ini membentuk setengah lingkaran sempurna antara pusat dan tepian proyeksi terluar.

Lihat gambar di bawah ini untuk memahami kompleksitas kesejajaran misterius ini.

globe-ancient-sites

Jim Alison menjelaskan lebih lanjut dalam tabel yang sangat menarik:

Tabel berikut berisi jarak masing-masing situs dari lingkaran besar dan jarak masing-masing situs dari titik axis utara. Ada sedikit variasi dalam jarak dari titik axis ke lingkaran besar tergantung pada apakah rute dari titik axis ke lokasi berbeda di sepanjang lingkaran besar melintasi Equator atau Daerah Kutub. Jarak rata-rata dari titik axis ke lingkaran besar adalah 6.218 mil.

Lintang

Bujur

Ke Lingkaran Besar:

Ke Titik Axis:

Giza

29° 59′ N 31° 09′ E 0 mil 6.219 mil

Siwa

29° 14′ N

25° 31′ E

10 mil

6,231 mil

Tassili n’Ajjer

26° 32′ N

9° 50′ E

0 mil

6,218 mil

Paratoari

12° 48′ S

71° 25′ W

0 mil

6,219 mil

Ollantaytambo

13° 15′ S

72° 16′ W

0 mil

6,220 mil

Machupicchu

13° 06′ S

72° 35′ W

15 mil

6,206 mil

Nazca

14° 42′ S

75° 06′ W

0 mil

6,221 mil

Easter Island

27° 06′ S

109° 20′ W

0 mil

6,221 mil

Aneityum Island

20° 10′ S

169° 48′ E

8 mil

6,230 mil

Preah Vihear

14° 24′ N

104° 40′ E

25 mil

6,241 mil

Sukhothai

17° 01′ N

99° 42′ E

5 mil

6,226 mil

Pyay

19° 15′ N

95° 05′ E

5 mil

6,213 mil

Khajuraho

24° 51′ N

79° 56′ E

12 mil

6,206 mil

Mohenjo Daro

27° 15′ N

68° 17′ E

20 mil

6,243 mil

Persepolis

29° 56′ N

52° 55′ E

5 mil

6,215 mil

Ur

30° 57′ N

46° 07′ E

40 mil

6,173 mil

Petra 30° 19′ N 35° 28′ E 6 mil

6,213 mil

Pulau Easter, Nazca, Ollantaytambo, Paratoari, Tassili n’Ajjer dan Giza semuanya sejajar pada satu lingkaran besar. Situs-situs lain yang berlokasi dalam sepersepuluh dari satu derajat dari lingkaran besar ini meliputi Petra, Perseopolis, Khajuraho, Pyay, Sukothai dan Pulau Anatom.

Di dekat Ollantaytambo, Machu Picchu dan Cuzco ada dalam seperempat derajat. Oracle di Siwa di barat gurun Mesir ada dalam seperempat derajat. Lembah Indus, Mohenjo Daro dan Ganweriwala ada dalam seperempat derajat. Kota Sumeria kuno tempat asal Abraham, Ur, dan kuil-kuil Angkor di Kamboja dan Thailand ada dalam satu derajat dari lingkaran besar. Kuil Angkor di Preah Vihear ada dalam seperempat derajat.

Lingkaran ini melintasi sumber dan mulut Sungai Amazon, membagi antara Mesir atas dan bawah, mulut Sungai Tigris-Efrat, Sungai Indus dan Teluk Bengal di dekat mulut Sungai Gangga. Lingkaran besar ini juga melintasi sejumlah wilayah-wilayah dunia yang secara luas belum dijelajahi, termasuk Gurun Sahara, Hutan Hujan Brazil, dataran tinggi New Guinea, dan wilayah bawah laut Samudera Atlantik Utara, Samudera Pasifik Selatan dan Laut China Selatan.

Kesejajaran situs-situs ini lebih mudah diamati pada bola globe Bumi dengan cincin horizon. Jika Anda menghubungkan dua dari situs-situs ini pada cincin horizon, keseluruhan situs-situs akan berada pada cincin horizon tersebut.

Dimulai dari Equator, di mulut Sungai Amazon, pada 49° 17′ Bujur Barat; menuju ke 30° 18′ Lintang Utara, 40° 43′ Bujur Timur, di Timur Tengah, yakni lintang terjauh yang dilewati garis lingkaran besar; kemudian menuju ke Equator pada 130° 43′ Lintang Timur, di dekat ujung barat laut New Guinea; kemudian ke 30° 18′ Lintang Selatan, 139° 17′ Bujur Barat, di Pasifik Selatan; dan kemudian kembali ke 49° 17′ Bujur Barat, di Equator.

Seperti dapat Anda lihat, nampak ada hubungan di antara seluruh struktur-struktur purbakala di atas, yang membentuk suatu lingkaran besar yang melewati seluruh situs-situs arkeologi besar di planet Bumi. Bagaimana ini bisa terjadi, masih menjadi teka-teki besar bagi para ahli arkeologi.

Sekarang perhatikan lokasi situs-situs purbakala ini:

alignment-1

Jika Anda menghubungkan titik Pusat Axis dengan Giza dan Nazca, itu akan membentuk segitiga yang persis sama dengan segitiga yang membentuk Piramid Besar Giza.

alignment-2

Jarak antara Giza – Teotihuacan = jarak antara Giza – Nazca.

alignment-3

Jarak antara Angkor Wat – Nazca = jarak antara Mohenjo Daro – Pulau Easter.

alignment-4

Jarak Pulau Easter ke Giza = 10.000 x Phi (Golden number; 1,618).

alignment-6

Jarak antara Angkor Wat ke Giza x Phi (Golden number; 1,618) = jarak antara Giza ke Nazca.

alignment-5

Jarak antara Giza ke Nazca x Phi (Golden number; 1,618) = jarak antara Nazca ke Angkor Wat.

“Golden number” atau “Golden ratio” adalah angka khusus yang diperoleh dengan membagi suatu garis menjadi dua bagian, sehingga bagian yang lebih panjang jika dibagi dengan bagian yang lebih pendek juga sama dengan keseluruhan panjang dibagi dengan bagian yang lebih panjang.

golden-ratio

Itu seringkali disimbolkan dengan huruf φ (phi), huruf ke-21 alfabet Yunani. Dalam bentuk persamaan, nampak seperti ini:

a/b = (a+b)/a = 1.6180339887498948420 …

Sama seperti pi (rasio keliling lingkaran terhadap diameternya; 3,14), bilangannya ini terus-menerus berlanjut, secara teoritis hingga mencapai jumlah tak terbatas. Phi biasanya dibulatkan menjadi 1,618. Bilangan ini telah ditemukan dan ditemukan lagi berkali-kali, dan itu sebabnya punya banyak nama – Golden mean, Golden section, proporsi ilahi, dan sebagainya. Secara historis, bilangan ini dapat ditemukan pada arsitektur-arsitektur purbakala, seperti yang telah kita lihat di atas.

Sekitar tahun 1200, matematikawan Leonardo Fibonacci menemukan sifat-sifat unik “Deret Fibonacci.”

Deret Fibonacci adalah serangkaian angka dimana suatu angka diperoleh dengan menambahkan dua angka yang ada sebelumnya. Dimulai dengan 0 dan 1, deretnya menjadi seperti ini: 0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, dan seterusnya.

Deret ini berhubungan erat dengan “Golden ratio” karena jika Anda mengambil dua angka berturutan Fibonacci, rasionya sangat dekat dengan Golden Ratio. Semakin tinggi angkanya, rasionya semakin dekat dengan 1,618. Contohnya: rasio antara 3 dengan 5 adalah 1,666. Namun rasio antara 13 dengan 21 adalah 1,625. Semakin tinggi angkanya, rasio 144 dengan 233 adalah 1,618. Semua angka-angka ini ada dalam Deret Fibonacci.

Golden ratio ini muncul dalam segala bentuk-bentuk di alam dan ilmu pengetahuan. Beberapa di antaranya: kelopak bunga, biji bunga, biji pohon pinus, ranting pohon, kerang-kerangan, galaksi spiral, angin topan “hurricane,” jari-jari, tubuh binatang, molekul DNA.

Bagaimana menurut pendapat Anda? Apakah manusia purbakala yang hidup pada masa pra-Banjir Besar ini hendak memberi pesan-pesan kepada generasi masa kini atau semacamnya? Atau, mungkinkah hubungan yang menakjubkan ini tidak lebih dari sekedar kebetulan yang biasa saja?

Baca:

Arsitektur Cyclopean | Bangunan Peninggalan Raksasa Nephilim Pra-Banjir Besar

Kitab Henokh: Kisah Nyata Malaikat dan Asal-usul Setan

100 Bukti Raksasa Nephilim Ada di Bumi

Peninggalan Nephilim: 10 Bukti Puma Punku Dibangun oleh Peradaban Canggih Purbakala

Peninggalan Nephilim: Bukti Teknologi Canggih di Peru Purbakala?

Reference:

Astronomical Alignments of Ancient Structures

THE PREHISTORIC ALIGNMENT OF WORLD WONDERS

There is an alignment between Ancient Sites that will blow your mind

What is the Golden Ratio?

The Golden Ratio: Phi, 1.618

What is the Fibonacci Sequence?

Iklan